Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
63.J&J part 5 (Teman Masa Kecil)


__ADS_3

"Ck! Tidak ada konspirasi apa-apa Kak! Kami menikah karena Kak James menyetujui perjodohanku dengannya," ucap Jessie tersipu malu.


"Apa! Perjodohan?" seru Barrack dan Shafa bersamaan.


Mereka tidak menyangka jika Papa mereka akan menjodohkan Jessie dan James.


"Secepat itu James menerima perjodohan ini?" tanya Barrack masih tidak percaya.


"Cepat apanya, aku saja harus menunggu satu tahun sampai dia benar-benar mau menerima perjodohan ini," keluh Jessica.


"Hah? Satu tahun? Coba jelaskan secara detail padaku, bagaimana sebenarnya hubungan kalian?" tanya Barrack masih curiga.


"Kakak kenapa sih! Kayak nggak percaya padaku! Apa aku ini terlalu buruk buat Kak James?" kata Jessie yang tiba-tiba pergi dan merajuk.


"Barra, sudahlah jangan menggoda adikmu! Yang terpenting James dan Jessie menyetujui perjodohan ini tanpa paksaan. Doakan saja adikmu bahagia," ujar Jason.


"Baik Pa, maaf! Aku hanya sedikit terkejut saja." kata Barrack merasa bersalah.


Setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan soal acara pernikahan Jessie lagi, Myra dan Bu Farida tampak antusias memilihkan konsep pernikahan Jessie dan Jason lebih memilih menemani cucunya bermain.


Sedangkan Shafa dan Barrack masih terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.


***


Kita akan flashback ke masa lalu, tepatnya satu tahun sebelum James menerima perjodohannya dengan Jessie.


Satu tahun lalu,


Mansion Keluarga James,


"Ma, tolong beri aku waktu satu tahun kalau aku tidak bisa menemukan calon pengantinku, aku akan setuju menikah dengan Jessie," ucap James lalu menghela nafasnya panjang.


"Baiklah sayang, aku harap satu tahun ini kamu bisa pendekatan dengan gadis cantik itu. Dia adalah gadis muda yang baik hati," puji Bu Nadia pada Jessie.


"Cihh.. Baik hati! Dasar gadis licik! Lihat saja aku akan membuatmu membatalkan perjodohan ini sendiri!" ucap James dalam hati.


Keesokan harinya, saat jam istirahat tiba, James pergi dari kantornya. Dia ingin bicara dan menemui Jessica di kampusnya.


Seperti biasa, James selalu tampan dan mempesona. Setiap gadis yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan memandangnya dengan tatapan nakal mereka.


James mengambil ponselnya didalam saku dan menghubungi Jessica.


📞 "Assalamualaikum Kak James! Tumben nelpon aku?" tanya Jessie dari seberang telpon.


"Nggak usah basa-basi! Kamu lagi dimana?"


"Lagi di kampus," jawab Jessie.


"Tepatnya dimana?" tanya James lagi.


📞"Di kantin lagi makan siang,"


"Tut!"


Belum Jessie bertanya kenapa, James sudah memutuskan sambungan teleponnya.


"Dihh dasar cowok aneh! Menyebalkan!" umpat Jessie memarahi James didepan ponselnya.

__ADS_1


"Siapa yang aneh dan menyebalkan!" tanya James memicingkan matanya.


"Ya Ampun! Bikin kaget aja Kak James nih!" Jessie memegang dadanya karena terkejut melihat James ada dibelakangnya.


"Aku ingin bicara sama kamu! Ayo ikut aku!" James menarik tangan Jessie dan berjalan didepannya.


"Eh tapi aku belum bayar kak! Mie ayamku juga masih aku makan dua sendok kak!"


"Ck!"


James menghentikan langkahnya dan berbalik ke meja tempat Jessie makan tadi lalu menaruh uang selembar seratus ribuan dan dia kembali menarik tangan Jessie agar ikut bersamanya.


Sedangkan teman-teman Jessie hanya bisa iri melihat keromantisan mereka, padahal yang sebenarnya James sedang sangat marah pada Jessie dan Jessie menyadari itu. Dan terdengar beberapa dari mereka berkata jika Jessie dan James sangat serasi.


Tanpa banyak bicara lagi, Jessie menurut untuk ikut bersama James. Perasaannya tidak enak, dia tahu jika dia akan kembali sakit hati, tapi dia sudah tidak peduli lagi. Apapun akan dia lakukan demi mendapatkan pria idamannya.


Selang 45 menit berlalu akhirnya mereka tiba di sebuah taman bunga yang sedikit jauh dari pusat kota.


Jessie masih mengikuti James yang berjalan didepannya hingga James berhenti dan duduk disalah satu bangku yang ada di taman itu. Dan kini James dan Jessie duduk bersebelahan di bangku taman.


"Apa maksudmu menyuruh orang tua kita membuat perjodohan konyol ini?" tanya James tanpa basa-basi.


"Kak James kan tahu aku menyukai kakak, aku ingin kakak jadi suamiku,"


"Hah jadi suamimu! Gadis manja dan kekanak-kanakan seperti kamu! Aku sendiri tidak yakin, gadis seperti kamu kamu bisa menjadi istri yang baik," cibir James.


Ucapan James sangat melukai hatinya tapi dia coba tahan agar airmatanya tidak terjatuh.


"Kamu tahu Jessie! Sampai kapanpun aku tidak akan menyukaimu! Selamanya aku hanya cinta sama Renata kekasihku, kamu ingat itu!" ucap James dengan kesal.


"Aku nggak peduli! Bagaimanapun caranya, aku akan buat Kak James menjadi milikku," ucap Jessie penuh yakin.


"Aku bisa tahan dengan perlakuan buruk Kak James, aku yakin bisa membuat kakak mencintaiku!"


"Cihh! Percaya diri sekali kamu! Aku sangat membencimu saat ini dan aku akan gagalkan perjodohan ini,"


"Oke, aku juga tidak akan menyerah begitu cepat." ucap Jessie tak peduli.


"Terserah!"


James beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Jessie yang masih duduk sembari menerawang dengan tatapan kosongnya.


Dia meneteskan airmatanya tanpa sadar, mengingat masa kecilnya saat pertama kali bertemu James. Dulu rumah mereka berdekatan, Jessie menjadi tetangga baru James.


*Flashback On


Pada suatu hari Jessie berjalan-jalan disekitar kompleks rumahnya, dia mencoba akrab dengan teman-teman sebayanya. Tapi bukannya menyambut baik Jessie yang ingin berkenalan mereka malah membully Jessie karena iri dengan kecantikan Jessie kecil.


Mereka mendorong-dorong tubuh Jessie kecil agar tidak lagi mendekat pada mereka hingga Jessie jatuh ke tanah.


James yang baru pulang sekolah dasar, tak sengaja melihat kejadian itu dan disitulah James kecil membelanya dan mengantarkan Jessie pulang.


Sejak kejadian itu, Jessie selalu mencuri-curi pandang James saat tak sengaja berpapasan dengannya. Bahkan satu bulan setelahnya, Jessie kecil sudah berani menunggu James di jalanan yang selalu James lewati saat pulang sekolah hanya untuk sekedar menyapa James kecil.


"Kak!" panggil Jessie saat James pulang dari sekolahnya.


"Iya, ada apa ya?" tanya James dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Apa kakak lupa denganku?" tanya Jessie balik dengan malu-malu.


"Mana mungkin aku lupa dengan gadis manis sepertimu," puji James dengan santainya dan Jessie malah tersipu malu dan hatinya semakin berbunga-bunga.


James memuji bukan karena memiliki perhatian lebih pada Jessie, tapi dia memang mengakui jika Jessie, bocah kecil bermata coklat yang cantik dan manis karena wajahnya yang blasteran.


"Terimakasih sudah menolongku waktu itu kak. Maaf aku baru sempat mengucapkan terimakasih, kenalkan namaku Jessica," ucap Jessie mengulurkan tangannya.


"Tidak masalah! Aku hanya tidak suka dengan perundungan, dan kebetulan saja aku lewat saat itu. Oia, namaku James," ucap James menerima uluran tangannya.


Dan sejak itulah mereka menjadi akrab, dan saling menyapa saat tak sengaja bertemu di sekitar kompleks mereka. James kecil memang jarang keluar rumah, sehingga Jessie susah untuk mendekat pada bocah laki-laki itu.


Hingga saat tiga bulan berlalu, Papa Jessie mengajak Jessie dan Mamanya untuk pindah dari sana dan membeli mansion baru di tengah kota. Barrack yang sebelumnya tinggal bersama kakeknya di luar negeri pun juga pindah ke mansion baru mereka.


Sebelum Jessie pergi meninggalkan rumah lamanya, dia memberanikan diri untuk menemui James kecil dirumahnya.


Bu Nadia, ibu James, awalnya terkejut melihat bocah perempuan ingin bertemu putranya, karena selama ini James adalah tipe bocah pendiam. Bu Nadia tahu Jessie, karena sering melihat Jessie yang bermain dan sering mondar-mandir di depan jalanan kompleks mereka, dia hanya tidak menyangka jika putranya dan bocah perempuan itu saling mengenal.


Dan pada akhirnya Bu Nadia memanggilkan James yang sedang bermain didalam rumah dan mempersilahkan Jessie duduk di teras rumahnya.


James berjalan mendekati Jessie yang sedang duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


"Hai Jessie, ada apa mencariku?" tanya James.


"Hai Kak James, aku datang untuk berpamitan pada kakak karena aku akan pindah dari sini sebentar lagi."


"Wah sayang sekali kita tidak bisa bertemu lagi," ucap James dan Jessie mengangguk, "Semoga kamu bahagia di rumah baru kamu ya Jess, ingat jangan sampai di-bully lagi, jika kamu disakiti anak lain lebih baik kamu lari pulang," pesan James.


"Baik Kak James terimakasih banyak, sebentar lagi tidak ada yang akan membelaku saat aku di-bully anak lain," ucap Jessie sedih.


"Jangan sedih pasti suatu saat ada orang lain yang akan membelamu kelak!"


Jessie mengangguk, "Kak James jangan melupakanku ya! Kak James adalah pahlawanku," ucap Jessie malu-malu.


"Tidak, aku tidak akan melupakanmu. Jika kita tidak sengaja bertemu lagi, aku akan selalu melindungimu dari siapapun yang menyakitimu," ucap James tersenyum manis, baginya Jessie susah seperti adiknya sendiri.


"Terimakasih Kak James, aku pamit pergi ya!" pamit Jessie yang menyalami James sebagai tanda perpisahan mereka.


Dan sejak itu, selama bertahun-tahun, Jessie dan James tidak pernah bertemu, tapi Jessie tidak pernah melupakan sosok James yang dewasa dan baik hati.


Hingga mereka bertemu lagi saat Barrack kakaknya dan James sekolah di SMA yang sama dan menjadi sahabat baik. Jessie sangat bahagia bisa bertemu dengan James, berharap bisa berteman lagi seperti dulu, tapi saat James membelanya lagi dari mantan pacarnya David waktu lalu, Jessie malah jatuh cinta pada James.


*Flashback Off


"Jess!" panggilan James membuyarkan lamunannya.


Dengan cepat Jessie menyeka airmatanya, dan menoleh ke arah James.


"Iya kak!"


"Sudah hampir 15 menit aku nunggu kamu diparkirkan, kamu malah asik benggong disini. Ayo balik, pekerjaanku di kantor masih banyak," ucap James yang menarik tangan Jessie lagi.


Jessie menghela nafasnya, entah kenapa dia sangat mencintai pria menyebalkan didepannya itu. James sudah tidak menganggapnya sebagai adik maupun teman tapi sekarang dia dianggap rival oleh pria itu.


"Tapi kita belum makan siang kak! Gara-gara kakak makan siangku di kantin jadi gagal," Jessie mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah kita nanti mampir ke Drive Thru sebentar,"

__ADS_1


Kemudian mereka pergi dari taman itu dan kembali menuju tempat mereka sebelumnya.


__ADS_2