Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
34.Penyesalan Barrack


__ADS_3

"Ahhh iya nona, saya dengar, maaf sebelumnya kalau baru memberi kabar anda, saya dan Tuan Muda sedang bertemu klien di luar kota dan karena sudah malam dan sangat lelah, kami terpaksa harus menginap di Hotel satu malam,"


Belum Tomy menyelesaikan bicaranya Shafa sudah memotong pembicaraan Tomy.


"Apa? Malam-malam begini bertemu klien? Klien macam apa yang kalian temui? Apalagi sampai Barrack tidak mengangkat telfonku!" Shafa terlihat kesal.


"Maaf nona kami bertemu klien pukul 07.00 malam tadi, kami bertemu klien mendadak karena ada hal penting yang harus kami bahas, untuk ponsel Tuan muda kenapa tidak mengangkatnya saya kurang tahu, mungkin karena terlalu lelah Tuan muda ketiduran, maafkan saya nona saya tidak mengabari anda lebih awal, saya kira anda sudah dikabari Tuan Muda,"


"Apa benar yang kamu katakan Tom? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Shafa menyelidik.


"Benar nona, saya berkata sebenarnya, kalau nona tidak percaya biar saya telfonkan klien yang kami temui tadi," ucap Tomy berusaha untuk tidak gugup.


Dia tau Nonanya itu adalah wanita yang cerdas dan mudah menganalisa seseorang dengan suara, berbohong atau tidak dengan mudah Shafa mengetahuinya.


"Sudah tidak usah Tom, aku percaya padamu, mungkin benar katamu mungkin suamiku ketiduran karena kelelahan, baiklah terimakasih Tom," ucap Shafa lalu menutup telfonnya.


Akhirnya Tomy bisa bernafas dengan lega, Nona mudanya tidak curiga dengan kebohongannya. Dia tinggal membereskan urusan Tuan Mudanya yang tak tahu entah berada dimana dengan mantan kekasihnya itu.


"Tuan Muda selalu saja membuat masalah dan menyeretku kedalam masalahnya, ahhh s*al sekali hidupku!" ucap Tomy mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia mencoba menghubungi Barrack berkali-kali tapi tetap saja tidak ada jawaban. Lalu dia mengirimkan satu pesan pada Barrack kalau Istrinya tadi menelpon dan mencarinya.


Sedangkan Shafa menepis pikiran buruk yang masih ada di otaknya, dia mencoba memberikan sugesti positif pada otaknya. Terus-menerus berkata dalam hatinya bahwa suaminya saat ini memang sedang bekerja dan tidak mungkin berbuat macam-macam, tidak seharusnya dia meragukan suaminya.


***


Pagi telah menjelang, Barrack membuka matanya dan melihat ruangan disekelilingnya yang tampak asing baginya. Lalu mengedarkan pandangannya kesamping, dan alangkah terkejutnya dia melihat Jenny tidur tanpa busana yang hanya ditutupi selimut sampai dadanya dan masih tertidur.


Kemudian melihat dirinya sendiri ternyata dia juga hanya memakai d***man dan tubuhnya tertutup selimut yang sama dengan Jenny.


"Apa yang terjadi ini?! S*al! S*al! Apa yang aku lakukan semalam, ini tidak benar! Kenapa jadi begini?! Br***sek! Kau br***sek sekali Barrack!" Barrack terus mengumpat dan mulai memakai bajunya yang berserakan dilantai, lalu mulai mencari ponselnya.


Jenny mulai membuka matanya karena mendengar suara Barrack yang berisik.


"Sudah bangun sayang? Kamu terlihat tampan sekali walaupun bangun tidur," ucap Jenny dengan senyum menggodanya.


Sontak Barrack kaget mendengar ucapan Jenny dan menoleh ke arah Jenny.

__ADS_1


"Jenny, apakah kita semalam melakukannya?" Barrack bertanya sedikit ragu-ragu.


"Iya sayang, Apa kamu tidak ingat memintanya sampai tiga kali?" ucap Jenny dengan tersenyum malu-malu.


"Jangan bercanda Jenny! Ini tidak benar! Kita tidak seharusnya melakukan ini! Aku sudah memiliki istri Jen!" ucap Barrack mengusap kasar wajahnya penuh frustasi.


"Sayang, kita saling mencintai! Sudah sewajarnya kita melakukan ini! Bahkan aku sangat rela jika hanya menjadi simpananmu!" ujar Jenny.


"Cukup!! Aku tidak mencintaimu lagi Jenny, kita hanya teman saja sekarang! Dan aku tidak akan menduakan istriku, ini adalah kesalahan! Lupakan yang kita lakukan kemarin malam! Aku akan mengganti rugi semuanya, berapapun yang kamu minta aku akan berikan!" ucap Barrack menahan amarahnya.


Dia benar-benar tidak ingat dengan apa yang dia lakukan semalam. Dia sudah mencoba berkali-kali mengingatnya tapi semuanya sia-sia.


"Memang kamu pikir aku wanita apa Barrack! Setelah kau men*duri ku dan mengambil kep*rawananku sekarang kau membuangku dan menilaiku seperti wanita j****g! Kamu sungguh jahat Barrack!" ucap Jenny yang mulai terisak.


"Apa?! Apa benar kau masih v*rgin Jenny?" tanya Barrack dengan serius.


Lalu Jenny mengangguk pasrah dan menunjukkan spray putih dengan noda darah dibawah tempat dia tidur.


"S14l! Maafkan aku Jenny aku tidak bermaksud men*daimu, kita hanya melakukan kesalahan saja, kita sama-sama tidak sadar," ucap Barrack yang semakin frustasi.


Dia mengingat wajah istrinya dan sangat merasa bersalah sudah mengkhianati istrinya.


"Lihat saja Pelayan rendahan! Sebentar lagi suamimu akan menjadi milikku dan menangislah meratapi nasibmu sampai kau mati! Dasar wanita kampung! Selamanya kau tidak akan pernah pantas bersanding dengan laki-laki seperti Barrack!" gumam Jenny dalam hati penuh dengan kemenangan.


Barrack bingung tidak tahu harus berbuat apa, dia memutuskan pergi dan berfikir mencari alasan tepat kepada istrinya.


"Jenny, Tolong jangan hubungi aku sementara waktu, aku butuh waktu untuk memutuskan semua ini dan aku mohon jangan berharap lebih, karena ini hanya kesalahan!"


"Baiklah sementara waktu aku tidak akan menggangumu sayang tapi asal kamu tahu, aku tidak akan rela jika kamu pergi dariku," ucap Jenny berpura-pura kecewa.


"Terserah!" ucap Barrack dan berlalu pergi meninggalkan Jenny.


***


Barrack telah berada di mobilnya, dia membuka ponselnya dan benar saja puluhan panggilan masuk dari istrinya dan asistennya. Lalu melihat pesan dari Tomy asistennya.


"Sebaiknya aku hubungi Tomy dulu,"

__ADS_1


"Tut.. Tuttt.. Tuttt.. "


"Hallo boss.. Anda dimana boss, saya mencari anda seperti orang gila boss,"


"Diam kau Tom! Apa yang kau katakan pada Istriku semalam? Jangan bilang kau mengatakan aku bertemu Jenny?!"


"Itu tidak mungkin boss, tidak mungkin saya menggali kubur anda, bisa-bisa saya duluan yang anda kubur," ucap Tomy sedikit kesal.


Lalu Tomy menceritakan alasan yang dia lontarkan saat Shafa menghubungi nya semalam dan Shafa menerima alasan itu.


"Bagus kamu Tom, Bonusmu nanti biar ditransfer sekretarisku," ucap Barrack sedikit lega dan membuat Tomy melotot tidak percaya.


"Terimakasih banyak boss, anda baik sekali! Nona Shafa dari pagi sudah menelfon saya tapi tidak saya angkat boss, saya tidak tahu harus beralasan apalagi,"


"Iya tenang saja, biar aku hubungi dia dulu, untung aku tadi terbangun pagi-pagi,"


"Memangnya apa yang telah Tuan Muda lakukan semalam?" tanya Tomy menyelidik.


"Sudah jangan banyak tanya kau Tom! Banyak tanya bonusmu hangus!" Ucap Barrack lalu menutup telfonnya. Dan Tomy hanya menghela nafasnya panjang melihat kelakuan Boss mudanya yang labil itu.


Barrack mencoba menghubungi istrinya dan Shafa yang telah menunggu telpon dari suaminya langsung mengangkat telponnya.


"Iya Barra, semalam kamu kemana saja? Aku sangat mencemaskanmu Barra! Apa kamu baik-baik saja?" ucap Shafa yang membrondong pertanyaan pada suaminya.


"Maaf sayang semalam aku tidak sempat mengabarimu kalau akan bertemu klien diluar kota, saat semuanya sudah selesai baterai ponselku malah habis, tadinya aku mau charge sebentar lalu menghubungimu tapi karena aku sangat lelah dan capek aku malah ketiduran, bahkan aku belum mandi dan memakai baju kerjaku saat aku tertidur semalam," kata Barrack yang berbohong dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa sayang, yang penting kamu baik-baik saja itu sudah membuatku lega, aku hanya khawatir terjadi apa-apa padamu, apakah kamu pulang hari ini sayang?" ucap Shafa penuh kelembutan.


Kata-kata Shafa membuat Barrack terharu, bahkan istrinya itu sangat mengkhawatirkan dirinya sedangkan dia malah tidur dengan wanita lain.


Dia berfikir bagaimana jika Shafa tahu kenyataannya, apakah istrinya itu mau memaafkannya? Dia sangat menyesali yang dia perbuat semalam.


"Ada apa sayang? Kenapa malah diam saja?" Shafa membuyarkan lamunan Barrack.


"Ahhh iya sayang, mungkin satu jam lagi aku akan pulang, aku mau bersiap-siap dan mandi dulu ya sayang, tunggu aku dirumah baby! Love you so much baby,"


"Hati-hati dijalan sayang, Love you too my prince,"

__ADS_1


Kemudian mereka mengakhiri sambungan telepon mereka. Barrack mengumpati kebodohannya lagi dan memaki-maki dirinya, dia mencoba mengingat lagi kejadian tadi malam tapi tetap tidak bisa, dia terus memukul-mukulkan kepalanya ke stir mobilnya berharap otaknya bisa mengingat tapi sia-sia.


"Arrrrrrrrggghhhhh s14l! Br***sek!" Erang Barrack penuh frustasi di dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju apartemen Tomy.


__ADS_2