
"Ahhh maaf tuan, bukannya saya.. "
"Sudahlah jangan merasa sungkan, aku juga sudah berhutang nyawa padamu dan kakakmu, sudah saatnya saya membalas kebaikan kalian, jadi apa yang bisa aku bantu untuk kalian?" Tuan Henry berbicara terang-terangan.
"Apakah anda bisa membawa kami pergi dari negara kami, tanpa jejak dan keluarga Hansel tidak bisa melacak keberadaan kami Tuan? Dan sebagai gantinya saya siap menerima tawaran anda sebagai asisten anda," ucapan Zain membuat Tuan Henry tersenyum cerah dan bersemangat.
Tuan Henry bukannya tidak memiliki asisten pribadi, dia sudah memiliki asisten pribadi tapi asistennya sudah meminta berhenti karena telah memiliki anak dan istri. Dia ingin lebih fokus pada keluarganya. Tuan Henry tidak mudah percaya pada orang asing, tapi saat melihat Zain menyelamatkannya dia langsung menyukai dan percaya pada Zain. Apalagi saat diselidiki Zain tidak memiliki catatan kriminal dan Zain dikenal sebagai pemuda yang cerdas, tidak pernah neko-neko dan lebih pentingnya dia memiliki kemampuan bela diri diatas rata-rata. Dia mengijinkan asistennya berhenti saat Tuan Henry memiliki asisten baru yang bisa dia percaya.
"Permintaanmu sangat mudah Zain, persiapkan saya dirimu dan keluargamu aku akan mengirimkan pengawal bersama jet pribadiku,"
"Baiklah, Terimakasih banyak atas kebaikan anda Tuan, selamat beristirahat, good night sir!"
"Hhmmm.. No problem Zain, Good night," kemudian Tuan Henry menutup telponnya.
Saat Zain pulang ke rumah usai kuliahnya selesai, Dia melihat ibunya duduk termenung di dapur sembari menangis.
"Ah.. Pantas saja ibu tidak mendengar salamku, ternyata ibu masih bersedih," ucap Zain dalam hati kemudian menghampiri ibunya.
"Ibu, apa ibu baik-baik saja?" tanya Zain yang memeluk ibunya dari samping tiba-tiba.
Sontak Bu Farida tersadar dan menghapus airmatanya dengan cepat.
"Zain, Sejak kapan kamu pulang nak? Maaf Ibu tidak mendengar salam darimu nak,"
"Ibu jangan seperti ini terus, nanti ibu akan sakit, kakak sudah dewasa Bu, dia bisa menghadapi masalahnya sendiri! Dia saja lebih memilih kembali kesana dan disakiti suaminya lagi, ibu jangan terus menyiksa diri ibu dengan kesedihan, kita doakan saja supaya hati kakak lebih kuat," Zain tidak tega melihat ibunya terus-terusan bersedih.
"Kakakmu sedang hamil Zain," ucap Bu Farida.
"Apa? Kakak hamil?" Zain kaget mendengar ucapan ibunya.
"Apa suaminya yang br***sek itu tahu Bu?" Zain sedikit emosi.
"Suaminya belum tahu Zain, ibu hanya khawatir disaat kondisi kakakmu yang sedang hamil muda begini dia malah bersedih terus, hati dan pikirannya sedang tidak stabil, ibu takut akan berdampak untuk perkembangan bayinya," ucap Bu Farida penuh khawatir.
"Sudah ibu jangan khawatir, aku akan bujuk kakak agar dia pulang saja kesini," Zain menyakinkan ibunya. Dan Bu Farida hanya mengangguk pasrah.
Zain menghubungi kakaknya,
"Assalamu'alaikum.. Ada apa Zain?"
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Kakak, kenapa kakak tidak cerita kalau kakak sedang hamil?" Zain terlihat tidak sabar.
"Zain, kakak tidak apa-apa, jangan khawatirkan kakak!"
__ADS_1
"Kakak jangan berusaha kuat jika tidak mampu lagi, mari kita pergi jauh dari sini, menjauh dari laki-laki yang sudah menyakiti kakak! Apa kakak ingin terus-terusan disakiti dia? Sampai sejauh mana kakak bisa bertahan? Apa harus menunggu sampai kakak benar-benar tidak berdaya lalu jatuh?"
"Zain, kakak mencintainya," Shafa mulai meneteskan airmatanya lagi.
"Aku tahu kak, tapi kakak harus sadar laki-laki yang sangat kakak cintai telah membagi hatinya untuk orang lain, cinta sejati itu tidak untuk dibagi kak dan tidak menyakiti! Aku tidak bisa diam saja melihat kakak terluka!"
"Kakak tidak sanggup membayangkan dia tidur bersama wanita lain Zain, kakak tidak bisa, rasanya kakak ingin menyerah," Shafa semakin terisak dan tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya didepan Adiknya.
Dan hati Zain semakin hancur, sangat hancur. Bagaimana bisa selama ini kakak yang sangat disayanginya menanggungnya sendiri.
"Baiklah, kakak harus percaya padaku, besok pagi pulanglah kerumah dan aku akan membawa kakak dan ibu pergi sejauh mungkin, jauh dari jangkauan mereka!" Zain meyakinkan kakaknya.
"Baiklah Zain, Terimakasih adikku sayang," Kemudian Shafa menutup telpon dari Zain.
Beberapa saat telah berlalu, Barrack telah tiba dan memasuki kamarnya. Shafa meminta ijin untuk pulang kerumah ibunya, awalnya mereka berdebat tapi pada akhirnya Barrack memberinya ijin. Kemudian Shafa mengirim pesan pada Zain.
"Zain, Kakak sudah siap untuk pergi besok pagi, kakak percaya padamu," ucap Shafa.
"Baik kakak, bawalah barang-barang yang penting saja dan selamat beristirahat!" balas Zain.
Kemudian terlihat Zain menghubungi Tuan Henry dan Tuan Henry menyiapkan segala yang dibutuhkan Zain.
Kemudian keesokan harinya saat Shafa selesai menunaikan kewajibannya dia sudah mempersiapkan tas ransel kecilnya. Dia membawa barang-barang penting sebelum dia meninggalkan Mansion. Dia pergi pagi-pagi sebelum suaminya terbangun, Dia tahu kebiasaan Barrack yang selalu bangun kesiangan, saat Barrack terburu-buru dia tidak akan begitu curiga kalau Shafa sudah pergi. Dan Shafa juga tidak ingin bertemu Mama Myra dan Jessica. Akan susah buatnya meninggalkan Mansion jika Myra dan Jessie tahu. Lalu dia melajukan mobil putihnya menuju rumah ibunya. Lalu beberapa saat kemudian pengawal Tuan Henry membawa mereka untuk menaiki Jet pribadi mereka menuju ke kota London.
Barrack telah sampai lagi di Mansionnya, dia menemui papanya.
"Papa, Shafa tidak ada dirumah Ibu Farida, sepertinya Shafa dan semua keluarganya sudah pergi jauh," kata Barrack dengan ragu.
"Apa??!! Ini semua karena ulahmu! Dasar anak kurang ajar!"
"Plaakkkk...!!!"
Jason menampar putranya dengan keras dan penuh emosi. Myra dan Jessie sontak kaget dan memegangi tangan papanya.
"Papa, sudah papa.. Kita akan segera menemukannya pa, memukuli putramu hanya sia-sia saja, kasian dia. Dia juga korban! Dia cuma dijebak pa," Myra memeluk suaminya, menenangkan suaminya agar tidak bertindak diluar batas.
"Jenny menjebaknya karena ada kesempatan, Barrack sendiri yang memberinya kesempatan!" ujar Jason.
Barrack hanya menunduk penuh penyesalan mendengar ucapan papanya.
"Kamu selalu saja membela anak kesayanganmu itu! Pantas saja pemikirannya tidak pernah dewasa!" Jason pergi meninggalkan mereka untuk meredam emosinya, walaupun dia sangat marah dengan putranya tapi dia tidak ingin menyakiti hati istri yang dicintainya.
Terlihat Jason menghubungi asistennya.
__ADS_1
"Sam, cari keberadaan Shafa dan keluarganya dimanapun berada, aku mau mereka ketemu lebih cepat, cari di semua bandara, stasiun atau manapun yang memungkinkan untuk mereka datangi. Suruh mark meng-hack nomor Shafa dan keluarganya, cari informasi detail siapa yang terakhir mereka hubungi, lakukan yang terbaik seperti biasanya! Aku percaya padamu Sam!" ucap Jason dengan gusar.
"Baiklah Tuan Besar, saya akan lakukan dengan maksimal," jawab Sam kemudian Jason menutup telponnya.
***
Barrack pergi ke kamarnya, Hatinya hancur, hampa, separuh jiwanya telah pergi. Dia mengerahkan asistennya Tomy dan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan istrinya tapi hasilnya masih nihil.
Dia sadar dirinya adalah laki-laki yang terlalu b*doh, mudah dibodohi wanita lain. Dia merutuki dan menyesali kebodohannya berkali-kali.
Beberapa saat setelah dia sibuk dengan kegalauannya, dia memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan berendam di bathup. Tak sengaja kakinya menendang tong sampah yang berada di kamar mandi. Dia melihat beberapa bungkus berwarna biru bertuliskan "s*ensitif" terlempar dari tong sampah. Dia mencoba membaca keterangan dari bungkus berwarna biru itu.
Dan alangkah terkejutnya dia melihat keterangan dalam bungkus itu yang ternyata adalah alat tes kehamilan.
"Kenapa Shafa membeli alat ini? ada 3 bungkus pula, lalu kemana isinya? Apakah Shafa hamil? Atau dia hanya ingin mencoba tes saja?" Barrack terus bertanya-tanya sembari membalik-balikkan bungkus yang dia pegang.
Dia keluar kamar mandi dan memakai baju santainya. Dia membuka laci kamarnya dan mencari sesuatu untuk mengobati rasa penasarannya. Dan benar saja dia menemukan sebuah amplop putih bertuliskan sebuah rumah sakit dan dibawah amplop itu dia melihat sebuah kotak hitam berukuran 5X5 Centimeter.
Dia membuka amplop itu terlebih dulu, melihat seperti foto kecil berwarna hitam putih dipojok kiri disebuah lembar kertas putih. Dia seperti pernah melihat foto seperti itu di media sosial. Yang dia pernah dia baca adalah sebuah foto hasil USG. Matanya mulai memanas antara percaya dan tidak, dia memastikan isi kertas itu. Dan benar saja nama istrinya tertera di kertas itu dan hasilnya tertulis positif. Disitu juga menuliskan usia kandungan Shafa yang sudah memasuki 6 minggu.
Dia luruh ke lantai bersujud syukur dan tidak bisa lagi menahan airmatanya merasakan kebahagiaan yang bercampur kesedihan. Dia sangat bahagia akhirnya dikaruniai anugrah terindah dalam hidupnya. Tapi dia sedih, bahkan sampai saat ini dia tidak tahu keberadaan istrinya.
Dia membuka kotak hitam itu ternyata isinya adalah testpack dengan dua garis merah berjumlah 3 buah. Terlihat di kotak itu terdapat sebuah ucapan kecil pada sebuah kartu berwarna pink.
"Hallo daddy sayang.. Akhirnya Allah titipkan aku di perut mommy-ku, apakah daddy senang aku datang di tengah-tengah kalian? Doakan aku selalu sehat didalam perut mommy ya dad, Aku sudah tidak sabar bertemu daddy-ku yang tampan, Love you daddy💋" Isi dari kartu ucapan itu.
Sontak membuat dada Barrack bergetar dan semakin bergemuruh tak karuan. Rasa bersalah dalam hatinya semakin besar.
Sebenarnya kartu itu Shafa tulis saat dia akan memberikan Barrack kejutan untuk memberitahukan kehamilannya, tapi semua yang telah dia rencanakan telah gagal.
***
Sementara Jessie dan Myra menghampiri Barrack yang berada di kamar, dia khawatir dengan Barrack karena dia tidak turun untuk makan malam.
"Barra.. Ayo kita makan! Jangan mengurung diri terus!" Myra datang dan membuka pintu sedangkan Jessie mengekor dibelakang mamanya.
"Cekleekkk!!"
"Barra.. Sayang! Kamu kenapa?" Myra terpekik kaget melihat Barrack yang terduduk di lantai dengan kepala menunduk, dia terlihat berantakan dan frustasi.
Jessie pun tak kalah panik, pandangannya menuju ke meja yang berada disisi Barrack. Dia melihat hasil USG itu dan melihat hasil testpack Kakak iparnya, dan alangkah bahagianya dia mengetahui kakak iparnya mengandung.
"Mama.. Mama lihat ini!" Jessie tidak sabar untuk memperlihatkan pada mamanya, "Mama.. Kakak ipar hamil, mama dan papa akan memiliki cucu," Jessie berkata dengan antusias.
__ADS_1