Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
46.Mendapat Bantuan


__ADS_3

Adrian berlutut dihadapan Jason memohon ampun atas perbuatan putrinya. Dia tahu putrinya melakukan kesalahan fatal, tapi dia tidak akan sampai hati membiarkan putri satu-satunya terluka atau bahkan kehilangan nyawanya. Sungguh dia tidak bisa membayangkannya seperti apa rasanya.


"Saya mohon ampuni kami Tuan Jason, saya tahu putri saya melakukan kesalahan yang sangat fatal, saya akan melakukan apapun agar anda bisa memberi pengampunan pada putri saya,"


"Maafkan saya Tuan Jason.. Barrack, saya dibutakan oleh cinta sampai-sampai saya melakukan hal-hal kotor, aku mohon ampuni saya," Jenny terisak dan ikut berlutut disebelah ayahnya. Dan mama Jenny pun ikut berlutut.


"Apa cinta?! Yang kamu lakukan bukan karena cinta Jenny tapi itu obsesi! Kalau kamu tulus mencintaiku kamu tidak akan berhubungan dengan laki-laki lain di belakangku!" Barrack menggeram penuh emosi.


Bodohnya Barrack dia baru menyadari jika Jenny telah menghianatinya semenjak Barrack belum menikah. Karena rasa cintanya yang begitu besar pada Jenny dulu dia selalu berpikiran positif pada mantan pacarnya itu. Dan Saat ini dia menyesal pernah mencintai wanita yang salah dan mengabaikan berlian yang papanya berikan. Dan seketika itu dia teringat istrinya, ingin sekali rasanya dia berlari dan memeluk erat istri kesayangannya itu.


"Drrrtttt.. Drrrttttt.. Drrrttttt.. "


Suara ponsel Adrian berbunyi tapi dia tidak berani mengangkatnya.


"Angkatlah panggilan di ponselmu! Seperti ada kabar baik untukmu!" ucap Jason yang seolah tahu siapa yang menghubungi Adrian.


Dengan gemetaran dan ragu-ragu Adrian mengangkat telponnya.


"Ha.. Hallo.. Ada apa bim?" Adrian menjawab panggilan dari Bima Asisten pribadinya.


"Maaf boss, ini Gawat.. Berita skandal putri Anda yang hamil diluar nikah lalu menjebak Tuan Muda Barrack Hansel sudah muncul di beberapa media online, semua orang menghujat dan menyalahkan anda sekeluarga, dan berdampak pada nilai saham Perusahaan anda yang tiba-tiba turun drastis, sehingga para investor bersikeras menarik semua modal beserta profit yang telah disepakati. Kalau mereka tidak bisa mendapatkan dalam tiga hari ini, mereka akan menuntut anda Tuan," ucap Bima dengan nada panik.


Dan seketika Adrian dan keluarganya semakin hancur. Ternyata pembalasan Jason, dia dapatkan lebih cepat dari yang dia kira. Siapa lagi yang bisa melakukan ini semua kalau bukan keluarga berpengaruh seperti keluarga Hansel.


"Tuan Jason.." Adrian mencoba meminta pengampunan lagi agar Jason memulihkan keadaan Perusahaannya yang sedang diambang kehancuran.


"Pergi kalian semua dari sini! Sakit yang kalian rasakan saat ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami menantu kesayanganku! Kalau aku tidak memandang putrimu yang sedang hamil itu, mungkin aku akan memb*nuhnya dengan tanganku sendiri!" teriak Jason penuh amarah.


Kemudian Adrian beserta anak istrinya meninggalkan Mansion keluarga Hansel.


"Tom.. Bawa laki-laki br***sek ini ke markas kita! Biar Barrack yang akan bertindak selanjutnya," ucap Jason kepada Tomy.


"Baik tuan besar," Tomy menjawab dengan patuh sembari mengiring Emir keluar Mansion bersama beberapa bodyguard keluarga Hansel.


Saat Jason melangkahkan kakinya untuk mencari menantunya. Barrack memeluk kaki papanya dan meminta maaf.


"Papa, maafkan kebodohanku papa.. Maafkan aku jika mengecewakan papa lagi," ucap Barrack dengan nada menyesal.


"Sudah bangunlah! Aku akan memaafkan kamu jika istrimu juga memaafkanmu! Dan sekarang carilah dia! Aku ingin bicara dengannya, aku tunggu kalian di ruang kerja," ucap Jason dengan tegas. Dan berjalan menuju ruang kerja dan diikuti oleh Jessica dan Myra.


Kemudian Barrack naik ke kamarnya atas dan mencari keberadaan istrinya tapi hasilnya nihil. Dia bertanya dengan beberapa pelayan tapi semua juga tidak tahu karena hari ini mereka disibukkan dengan acara pernikahan Barrack yang telah gagal.

__ADS_1


Barrack menuju gerbang dan bertanya pada para penjaga diluar.


"Apa kalian melihat istriku?" tanya Barrack pada beberapa penjaga gerbangnya.


"Tadi pagi sekitar pukul 07.00 pagi, nona Shafa pergi membawa mobilnya tuan, kami menanyai nona dan nona berkata akan pergi kerumah ibunya," jawab penjaga gerbang itu.


"Baiklah terimakasih!" ucap Barrack dan para penjaga mengangguk patuh.


Kemudian Barrack bergegas melajukan mobilnya ke rumah ibu mertuanya.


Saat telah sampai di kediaman Bu Farida, Barrack melihat rumah itu tampak sepi. Barrack berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban. Barrack terus memanggil-manggil istrinya dengan perasaan gelisah.


"Baby.. Bukakan pintunya! Baby! Aku menjemputmu sayang, Ibu.. Tolong bukakan pintu, ibu.. Baby.. " Barrack terus memanggil sembari mengetuk pintu.


Ada perasaan yang tidak enak dihatinya. Seperti sesuatu akan terjadi, tapi dia masih berpikir positif.


Mendengar kegaduhan dari rumah Bu Farida, tetangga depan rumahnya keluar dan menghampiri Barrack.


"Permisi mas, Apa mas sedang mencari Bu Farida?" tanya sang tetangga.


Sontak Barrack menoleh ke sumber suara.


"Iya Tante, saya sedang mencari Ibu mertua saya," jawab Barrack.


"Bawa koper? Mobil hitam?" Barrack bergumam pelan tapi masih bisa didengar. Dia sedikit syok mendengar istrinya pergi tanpa memberitahunya.


"Iya benar anak muda, sepertinya mereka akan pergi jauh," ucap sang tetangga dengan yakin. Sebenarnya dia ingin bertanya lebih banyak pada Barrack tapi saat dia melihat penampilan Barrack yang tampan dan terlihat seperti eksekutif muda, dia menjaga mulutnya untuk tidak ikut campur.


"Baik, Terimakasih tante atas informasi anda, saya pamit pulang dulu!" Barrack pamit sembari memberi tiga lembar uang seratus ribuan kepada si tetangga Ibu mertuanya.


"Waduuhhh Terimakasih banyak anak muda, kok malah repot-repot ngasih saya tips," ucap Ibu itu berbinar dan tersenyum malu-malu.


"Tidak masalah tante, saya permisi pulang dulu," ucap Barrack yang tersenyum dan berlalu pergi.


"Waduhhh lumayan ini, bisa buat beli skincare, kebetulan skincare mamak lagi habis. Duhhh.. Mimpi apa aku semalam ya, udah ketemu orang ganteng dapet rejekin nomplok pula," Ibu tetangga itu bergumam sembari senyum-senyum sendiri.


***


Di Tempat yang berbeda, kini Shafa, Zain dan Bu Farida naik Jet pribadi milik Tuan Henry.


"Zain, Bagaimana bisa Tuan Henry sebaik ini pada kita? Ayo ceritakan pada kakak, sejauh apa hubungan antara kamu dan Tuan Henry?" Tanya Shafa penuh penasaran. Dan Bu Farida hanya menyimak karena dia juga sangat penasaran dengan sosok laki-laki yang bersedia menolong keluarganya.

__ADS_1


"Katakan dulu padaku! Apa kakak lega bisa terlepas dari mereka? Aku berharap kedepannya kita bisa hidup lebih bahagia kak," kata Zain ingin memastikan.


"Entahlah.. Perasaan kakak rasanya campur aduk saat ini," ucap Shafa yang menerawang memikirkan suaminya.


Tidak bisa dipungkiri bahwa perasaannya tidak berkurang sedikitpun kepada Barrack, tapi dia lebih memilih pergi daripada sakit hati melihat suaminya bersama wanita lain.


"Aku dan Tuan Henry masih sering berkomunikasi kak, dia ingin menjadikanku asisten pribadinya setelah kita menyelamatkannya dulu, dia ingin aku pindah ke Inggris dan akan membiayai semua kuliahku, tapi aku masih mempertimbangkan semuanya, aku tidak ingin meninggalkan ibu dan kakak, aku berjanji pada diriku sendiri akan selalu disamping kalian dan menjaga kalian," Ucapan Zain membuat Shafa dan Bu Farida terharu, Zain memiliki pemikiran yang dewasa di usianya yang masih sangat muda lalu Zain meneruskan ceritanya,


"Dan saat kakak menceritakan kejadian yang menimpa kakak saat pagi kemarin, aku menghubungi Tuan Henry lagi hanya untuk berjaga-jaga jika memang kita membutuhkan bantuannya," Zain menerawang mengingat kejadian kemarin pagi.


*Flashback on


Setelah Zain mendengarkan cerita kakaknya dengan penuh emosi, dia berangkat ke kampusnya agar dia tidak melihat kesedihan Kakak dan ibunya. Ingin sekali dia menghajar suami kakaknya itu, mematahkan tulang-tulangnya karena sudah menyakiti kakaknya. Tapi apalah daya, mereka hanya orang kecil, akan mudah bagi keluarga Hansel untuk menghancurkannya kembali, dan malah membuat ibu dan kakaknya semakin susah.


Zain menghubungi kembali nomor pribadi Tuan Henry di ponselnya.


"Good night sir! Bagaimana kabar anda? Apakah anda tidak merindukan suasana disini?" Zain menulis chat basa-basi kepada Tuan Henry.


Berharap saat pagi menjelang Tuan Henry membalas chatnya. Karena dia tahu saat ini di Inggris masih pukul 02.00 pagi. Sebenarnya dia sangat tidak sopan menghubungi Tuan Henry saat itu, tapi dia sudah tidak sabar untuk menghubungi laki-laki paruh baya itu.


Bukanya membalas chat Zain, Tuan Henry malah menelponnya. Zain mengernyitkan dahinya, banyak pertanyaan muncul di benaknya.


"Hallo anak muda," ucap Tuan Hery dari seberang telpon.


"Tuan, saya tidak menyangka anda langsung menelpon saya, apa Tuan belum tidur? Saya rasa ditempat anda masih dini hari," ucap Zain yang terlihat tersenyum cerah.


"Kebetulan hari ini pekerjaan saya sangat banyak Zain, saya baru saja menyelesaikannya lalu mengecek ponsel saya, dari sekian banyak chat yang masuk hanya chat kamu yang menarik perhatian saya,"


"Ahh Tuan bisa saja, saya malah mengira saya sudah mengganggu tidur anda tuan,"


"Tidak sama sekali, sudah lama saya menunggu kamu menghubungiku, apakah kamu sudah berubah pikiran? Apa kamu ingin menyusulku ke Inggris?" tanya Tuan Henry.


Zain hanya menghela nafasnya panjang dan mimik wajahnya kembali muram.


"Sepertinya ada masalah berat yang menimpamu anak muda?" tebakan Tuan Henry sangat tepat.


"Bukan saya Tuan, tapi kakak saya,"


"Masalah kakakmu tentunya menjadi masalahmu kan Zain? Benar begitu? Aku tahu kamu sangat menyayangi keluargamu,"


Lalu Zain menceritakan detail masalah yang Shafa hadapi dan Tuan Henry merasa sangat iba dengan Shafa.

__ADS_1


"Maaf kalau saya malah curhat sama anda Tuan, seharusnya saya tidak menganggu istirahat anda," ucap Zain sedikit menyesal.


"Tidak masalah Zain, saat kamu mau bercerita masalahmu padaku itu artinya kamu memberi kepercayaan padaku, aku senang akhirnya kamu menganggapku sebagai teman yang sebenarnya," ucapan Tuan Henry membuat Zain semakin tidak enak.


__ADS_2