
Barack berjalan kembali ke ruangan dia dirawat, dua bodyguard mengikutinya dari belakang salah satu dari mereka mengatakan kalau mamanya tadi mencarinya.
"Tuan muda, tadi nyonya besar kesini mencari anda, tapi kami bilang anda sedang bersama nona muda, lalu nyonya besar pergi lagi," kata salah satu bodyguard itu kemudian Barrack hanya menggangguk.
"Salah satu dari kalian pergilah ke ruangan administrasi, aku mau pulang hari ini," ucap Barrack pada mereka.
"Baik tuan muda.. "
Setelah semua selesai Barrack diantar kedua bodyguardnya kembali ke Mansion.
Saat dia memasuki pintu utama dia melihat Jessie yang sudah rapi dan bersiap pergi. Jessie berteriak senang melihat kakaknya sudah berada dirumah.
"Kakak.. " panggil Jessie tersenyum kemudian memeluk Barrack.
"Apa kakak baik-baik saja? Kenapa kakak sudah pulang? Lalu bagaimana keadaan kakak ipar?aku sangat khawatir keadaan kalian, aku sudah akan bersiap pergi menjenguk kalian," kata Jessie berbicara tiada henti kepada Barrack yang baru datang.
Barrack hanya tersenyum lalu mengacak-acak rambut adik kesayangannya itu dengan gemas.
"Aku tidak apa-apa Jessie, hanya luka kecil, Shafa juga sudah sadar, besok saja kalau ingin menjenguk Shafa, dia harus banyak istirahat dulu,"
Jessie mengerucutkan bibirnya, bagaimana bisa kakaknya melarangnya pergi padahal dia sudah rapi dan cantik.
Dia juga sangat merindukan kakak iparnya, ingin segera bertemu kakak iparnya. Tapi dia memilih mengalah dan menemani Barrack dirumah, dia tidak mau menganggu istirahat kakak iparnya.
Barrack kembali ke kamar dan merebahkan badannya di ranjang. Sesekali Jessie menghampirinya dan menanyakan apa yang dibutuhkan kakaknya.
Saat Myra pulang ke Mansion dia menghampiri Barrack ke kamarnya tapi laki-laki tampan itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Ada rasa bersalah dihati Myra saat melihat putra kesayangannya terlelap, dia sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk kebahagiaan putranya.
***
Keesokan paginya mereka sudah berada di meja makan, sejak menikah Barrack terbiasa ditemani dan dilayani Shafa setiap sarapan dan makan malam, ini kali pertama Barrack sarapan sendiri tanpa ditemani istrinya, ada perasaan aneh menyelimuti hatinya. Seperti kosong Dan hambar.
Setelah menyelesaikan ritual sarapannya mereka menjalankan aktivitas mereka masing-masing.
Mobil sport Barrack melesat menuju kampus nya dan dia bertemu ketiga sahabatnya di kampus.
"Hai bro.. " Barrack menyapa mereka yang sedang berada didepan kelas.
Sontak ketiganya menoleh dan memperhatikan Barrack dengan teliti, mereka melihat wajah Barrack lebam dan luka-luka dibeberapa tubuh lainnya. Mereka melihat Barrack dengan tatapan bertanya.
"Ahhh ini.. Hanya luka kecil, kemarin aku mabuk berat dan menganggu empat preman di depan club, " ucap Barrack dengan entengnya.
"Apaaa?!" Ketiga sahabatnya berteriak tidak percaya.
"Apa kamu sudah gila mengantarkan nyawamu pada empat preman itu?!" kata James.
"Lalu bagaimana bisa kamu dalam keadaan mabuk berat bisa melawan keempat preman itu?" ucap Ken penasaran.
"Shafa yang membantuku menghajar empat preman itu," ujar Barrack tersenyum senang.
"Apaaa?!" Ketiga sahabatnya berteriak tak percaya lagi, bagaimana bisa gadis mungil yang cantik itu memiliki nyali yang besar menghadapi empat preman.
Kemudian Barrack menceritakan semua kronologi kejadiannya dari awal dia bersama Jenny sampai di rumah sakit. Ketiga sahabatnya hanya mengangguk-angguk mendengarkan dan sesekali menanggapinya dengan lelucon.
Setelah mendengarkan cerita Barrack, Gery semakin kagum dengan sosok Shafa, dia benar-benar ingin mendapatkan wanita cantik itu.
__ADS_1
"Barrack.. Aku benar-benar tidak salah pilih dengan wanita yang aku sukai, dia benar-benar luar biasa, dia wanita yang tangguh dan sabar, bagaimana bisa kamu melewatkan wanita seperti itu? Aku sudah tidak sabar menantikanmu menceraikannya!" ucap Gery antusias.
Sontak ketiga pasang mata dihadapannya melotot dan melayangkan tamparan bertubi-tubi lagi.
"Plakkk.. "
"Plakkk.. "
"Plakkk.. "
"Salah apa lagi aku!! Barrack memberinya banyak luka, aku hanya ingin membahagiakan Shafa saja, daripada Shafa dibahagiakan laki-laki lain!" ucap Gery menjulurkan lidahnya.
Kemudian Barrack masuk kelas dengan kesal, dia tau yang dikatakan Gery benar tapi entah kenapa tiba-tiba dia tidak rela Shafa bersama laki-laki lain walaupun itu sahabatnya sendiri.
***
Di ruangan Shafa dirawat terlihat Shafa, Bu Farida dan Zain bercengkrama. Mereka ngobrol ringan dan bercanda.
"Kakak.. Bagaimana bisa kamu begitu berani menghadapi mereka sedangkan beladirimu belum terlalu mahir?" kata Zain sedikit meremehkan kakaknya.
"Sepertinya kakak harus berlatih beladiri lebih giat sepertimu Zain, waktu itu kakak tidak begitu memikirkan resikonya menghadapi empat preman sekaligus, hanya ada dorongan kuat ingin membantu, tapi benar firasat kakak ternyata itu suami kakak," kata Shafa mengingat kejadian itu.
"Kakak tidak bisa bertindak gegabah, mereka bisa saja membunuh kakak, harusnya kakak menunggu sampai bantuan datang,"
"Tapi Barrack sudah tidak berdaya, dia terlihat mabuk dan meracau sana sini, kakak tidak tega membiarkannya terus dipukul walaupun awalnya kakak tidak tau dia Barrack,"
"Kakak bersyukur bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkannya, seperti ketidaksengajaan yang sudah digariskan,"
"Bagaimana kakak tidak tau kalau suami kakak pergi ke club dan mabuk-mabukan? Seperti apa sebenarnya hubungan kalian?" Zain bertanya menyelidik dan Bu Farida mendengarkan agar rasa penasarannya juga terjawab.
"Mmm.. Zain.. Kau tau aku dan Barrack tidak sepadan, kami menikah karena paksaan papa Jason, hubungan kami belum seperti pasangan lainnya," ucap Shafa terlihat sedih.
"Apa dia menyakiti kakak? Kalau kakak tidak bahagia, kakak berpisah saja dengannya, aku akan bekerja untuk ibu dan kakak, aku yakin bisa melindungi dan membahagiakan kalian," ucap Zain dengan yakin dan memegang tangan kakaknya.
"Hah berpisah? Tidak Zain, kakak tidak ingin berpisah, kakak bahagia dengan kehidupan kakak, walaupun Barrack belum menganggap kakak istrinya tapi dia baik dengan kakak, hanya menunggu waktu saja Zain, suatu saat Barrack akan mencintai kakak,"
"Lagipula kakak ingin kamu kuliah dan menjadi orang sukses, pandai beladiri dan karate saja tidak cukup, kamu harus memiliki pendidikan tinggi untuk bisa masuk perusahaan-perusahaan besar," Shafa menyentuh pipi adiknya penuh sayang.
"Apakah kakak mau berjanji padaku? Berkatalah jujur padaku jika laki-laki itu menyakitimu lagi, aku tidak segan-segan lagi mematahkan tulang-tulangnya, aku tidak peduli walaupun keluarganya orang berkuasa," kata Zain penuh ketegasan, sifat Zain terlihat dewasa dari usianya.
"Baiklah adikku yang jagoan, kakak janji," Shafa mengacak rambut Zain dengan gemas.
Bu Farida tersenyum bahagia melihat kedua putra putrinya saling menyayangi. Ada perasaan lega akhirnya Shafa mau jujur dengan keadaan rumah tangganya. Bu Farida berdoa dalam hati semoga hati Barrack yang membeku akan mencair untuk putrinya dan kelak Barrack mencintai Shafa sepenuh hati.
"Zain.. Bagaimana kalau kakak sudah sembuh ajak kakak latihan beladiri lagi, kakak akan mengajakmu latihan menembak,"
"Aku rasa akan menyenangkan jika kakak menjadi wanita tangguh dan ikut bertarung mengalahkan musuh-musuh suami kakak, sangat keren seperti di film-film action," kata Shafa sambil membayangkan.
Zain memutar bolanya malas melihat kakaknya mulai menghalu. Dan Bu Farida hanya tersenyum geli.
"Sudah kakak jangan kebanyakan halu, harus nya laki-laki tak berguna itu yang melindungi kakak bukannya kakak yang pasang badan untuknya."
"Zain!" seru Bu Farida dan Shafa bersamaan.
"Zain.. Bagaimanapun Barrack dia tetap suami kakakmu dan sekarang kita keluarga, sudah kewajiban kita saling menghormati dan melindungi, lagipula Tuan Jason sangat baik pada kita," ucap Bu Farida penuh bijak.
"Iya bu, aku akan pertimbangan kata-kata ibu, kalau dia tidak menyakiti kakak lagi aku akan menganggapnya kakak ipar," kata Zain dengan datar.
__ADS_1
Bu Farida dan Shafa hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Zain yang keras kepala, mereka tau tidak mudah membujuk laki-laki kesayangannya itu.
Zain tau pasti kakaknya sering sakit hati karena Barrack tapi kakaknya menutupi darinya dan Bu Farida, Karena saat Zain berada di mall dengan teman-temannya tak sengaja dia melihat Barrack bersama wanita. Wanita itu bergelayut manja pada Barrack tapi Barrack tak melihat Zain, Zain marah tapi dia hanya bisa memendamnya. Zain tau pernikahan mereka memang dipaksakan jadi Zain tidak bisa mengambil keputusan atau menghakimi siapapun.
"Ibu, kakak.. Zain masih Ada latihan di arena, akan ada kompetisi lagi pekan depan, Zain pamit pergi dulu," pamit Zain.
Shafa Dan Bu Farida tersenyum sembari menerima uluran tangan Zain. Shafa mengacak rambut adiknya dan Menyemangatinya.
"Semoga juara lagi ya jagoan kecilku!"
"Kakak.. Aku sudah besar, sebentar lagi aku lulus SMA, Jangan menganggapku anak kecil terus!" ucap Zain sambil cemberut kemudian berlalu meninggalkan Ibu dan kakaknya yang tersenyum bahagia.
***
Sorepun menjelang, Bu Farida dan Shafa terlihat ngobrol membahas banyak hal dan sesekali mereka tertawa bersama. Lalu obrolan mereka terhenti karena ketukan pintu dari luar.
"Tok.. Tok.. Tokk... "
"Selamat sore bu, Shafa.. Sesuai janji saya, saya datang kesini untuk menggantikan ibu menjaga Shafa," kata Barrack.
Bu farida tersenyum dan mengangguk.
"Apa nak Barrack tidak lelah? Atau mungkin Ada yang masih sakit? Biar ibu saja yang menjaga Shafa," kata Bu Farida dengan lembut.
"Ahh tidak ibu, saya sudah lebih baik dan saya sama sekali tidak lelah, menjaga Shafa adalah tugas saya bu, ibu bisa pulang untuk beristirahat, di bawah sudah ada supir yang akan mengantarkan ibu pulang," ucap Barrack.
"Terimakasih nak Barra.. Shafa.. Ibu pulang dulu ya, biar suamimu yang menjagamu," pamit Bu Farida.
"Hati-hati dijalan bu!"
Kemudian ibu pamit kepada Barrack juga dan meninggalkan ruangan Shafa.
Shafa tidak menyangka pria dingin dan arogan itu menepati janjinya. Ada rasa bahagia menyelimuti hatinya, tapi dia tidak berani berharap lebih.
"Shafa.. " kata Barrack memecah lamunannya.
"Iya Barra.. "
"Aku sudah membawakanmu pizza, ayo kita makan sama-sama, pasti kamu sudah merindukan makanan favoritmu ini kan?"
"Bagaimana kamu tau pizza itu makanan favoritku barra?" ucap Shafa heran.
"Jessie yang mengatakannya, dia bilang setiap kalian jalan kamu pasti mengajaknya mampir di kedai pizza," ucap Barrack tersenyum smirk.
"Terimakasih Barra sudah membawakan untukku.. Baiklah aku tidak akan sungkan lagi.. Mari kita habiskan!" ucap Shafa tersenyum Lucu dan bersemangat.
Diam-diam Barrack memperhatikan senyuman Shafa yang ceria, dia baru menyadari istri kecilnya itu sangat manis dan imut saat tersenyum.
"Pantas saja Gery tergila-gila padanya, dia benar-benar manis sekali, terlihat polos dan apa adanya, " gumamnya dalam hati.
Shafa menyenggol bahu Barrack dengan bahunya, karena kedua tangan dan mulutnya penuh dengan pizza.
"Barrack ayolah makan, apa kamu tidak takut aku menghabiskan semuanya?" ucap Shafa tersenyum nyengir.
Barrack merasa lucu dan menggeleng-gelengkan kepalanya, dia heran bagaimana bisa gadis bertubuh kecil itu ternyata banyak makan.
"Kalau makanmu setiap hari banyak begini, aku rasa sebentar lagi aku harus puasa untuk membeli mobil sport lagi," ucap Barrack pura-pura sedih.
__ADS_1
"Hah?" Shafa kaget dan sontak meletakkan pizza yang ada ditangannya.