Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
57.Jangan Ganggu Lagi


__ADS_3

Shafa, Bu Hana dan Reyhan berada di mobil menuju hotel tempatnya menginap, Rey tak berhenti berceloteh dan bertanya apapun yang baru dia lihat di jalanan, tapi di tengah perjalanan Robert menghubunginya.


"Fa! Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu di Indonesia? Harusnya kamu menghubungiku biar aku bisa menjemputmu di Bandara, kalian harus tinggal di Mansionku selama disini!" ucap Robert dari seberang telpon.


"Tidak usah kak, kami bisa menginap di hotel, aku nggak mau ngerepotin kakak lagi. Pasti kakak juga sibuk banget dengan pekerjaan, lagipula kakak udah banyak membantuku,"


"Ck! Kamu ngomong apa sih Fa! Katakan kamu sekarang dimana? Biar aku menjemputmu!" ujar Robert.


"Tapi Kak.."


"Udah jangan membantah, sekarang kamu tunggu aja di Bintaro Jaya, aku akan jemput kamu disana!" pinta Robert.


"Baik kak," Shafa menutup sambungan teleponnya.


Shafa tidak bisa menolak permintaan sahabat sekaligus Bossnya itu, sedangkan Bu Farida bertanya siapa yang sudah menghubunginya dan Shafa menjelaskan jika Robert meminta mereka tinggal di mansionnya selama di Indonesia.


Mendengar itu, Bu Farida malah senang karena mereka akan selalu aman bersama Robert.


Setelah beberapa menit berlalu dan menunggu ditempat yang sudah Robert minta, akhirnya mereka bertemu di tempat itu.


"Uncle obe!" panggil Rey berbinar bahagia saat Robert mendekat ke arahnya.


Robert pun tak kalah bahagianya saat bertemu bocah laki-laki tampan yang sudah dianggapnya putranya sendiri itu.


"Hallo jagoan! Bagaimana kabarmu?" tanya Robert yang menggendong Rey lalu menciumi seluruh wajah bocah berusia hampir Dua setengah tahun itu.


Rey tertawa tergelak mendapat ciuman dari sahabat mommy-nya karena merasa bahagia sekaligus geli luar biasa.


"Aku baik uncle, apa aku akan bobo dilumah uncle nanti?" tanya Rey memandang wajah Robert.


"Iya donk! Kamu harus bobo sama uncle ya, uncle kangen banget sama kamu. Nanti uncle janji akan bacakan buku cerita untukmu,"


"Cius uncle?" tanya Rey berbinar.


"Serius jagoan!"


"Holee!! Maacih uncle!" Rey menciumi pipi Robert bertubi-tubi.


"Sama-sama sayang!" Robert membalas menciuman bocah laki-laki tampan itu.


"Kak, kok kami ngerasa nggak kelihatan ya kalo Kak Robert lagi bersama Rey," Risty berpura-pura kesal.


"Ya Tuhan, maaf aku sampai melupakan kalian!" Robert menyalami Bu Farida dan Risty.


"Maaf sudah mengabaikan ibu, bagaimana kabar ibu?"


"Alhamdulillah ibu baik nak, tidak masalah Nak Robert, ibu bisa ngerti kok kalo Nak Robert merindukan Rey," jawab Bu Farida tersenyum lembut dan Robert membalas senyuman Bu Farida.


"Selamat ya Shafa atas boomingnya lagu kamu, semoga kedepannya popularitas kamu semakin naik," ucap Robert dengan tulus.


"Amin, Terimakasih banyak atas doamu Kak! Ini semua juga berkat bantuan kakak,"


"Tidak usah berterimakasih terus! Ya udah ayo kita pulang sekarang, pasti Rey juga capek kan udah duduk berjam-jam di pesawat. Kalo dari awal aku tahu kalian akan kembali ke Indonesia aku pasti menjemput kalian dengan jet pribadiku,"


"Kak sudah, jangan terlalu memanjakan kami! Kami udah biasa seperti ini! Kak Robert jangan membuat kami semakin banyak berhutang budi donk!"


"Jangan bicara seperti itu lagi Fa! Nggak ada yang namanya hutang budi, aku tulus ikhlas membantu kalian. Apalagi kamu adalah sahabatku dan kuanggap seperti saudara sekarang, ayo kita jalan!" ajak Robert yang berjalan sembari menggendong Rey dan kedua wanita itu mengikuti dibelakangnya.

__ADS_1


***


Setelah melewati penerbangan selama berjam-jam dengan pesawat pribadinya, akhirnya Barrack dan Tomy serta anak buahnya telah sampai di Kota London, Inggris.


Selama dua jam perjalanan mencari kediaman baru Shafa, akhirnya mereka telah sampai di tujuan.


"Ting.. Tong! Ting.. Tong!"


Barrack menekan bel rumah Risty dengan perasaan gugupnya, dia benar-benar bahagia sebentar lagi akan bertemu dengan putra dan istrinya.


"Kau yakin ini rumah Shafa, Tom?" Barrack memastikan.


"Yakin Boss! Apa kau meragukan kemampuan Mark, Boss! Ini sudah sesuai dengan alamat yang Mark kirimkan,"


"Tapi kenapa keliatan sepi ya? Nggak ada bukain pintu pagar ini, coba deh kamu manjat, liat apa ada seseorang di dalam?"


"Suruh Edi sajalah Boss! Masa sudah ganteng dan rapi begini aku disuruh cosplay jadi maling! Turunlah nanti reputasiku Boss!"


Edi adalah salah satu anak buah Barrack.


"Halah gaya bener kamu Tom! Jomblo aja banyak gaya!" cibir Barrack.


"Nggak usah ngebully deh Boss!" Tomy memutar malas bola matanya.


Tak disangka sebuah mobil sport mewah berwarna hitam tiba-tiba datang ke arah mereka. Dia ingin masuk ke rumahnya tapi terhalang oleh beberapa orang berjas hitam dan tiga mobil mewah di depan rumahnya.


Laki-laki itu keluar mobilnya dan berjalan ke arah Barrack, dia sempat terkejut ternyata orang yang ada didepan rumahnya adalah Barrack, sang kakak ipar.


"Mau apa kalian kesini!" tanya Zain yang mendekat dari arah belakang Barrack.


Semua orang sontak menoleh kearah sumber suara tak terkecuali Barrack dan Tomy. Barrack lega akhirnya bertemu dengan adik iparnya.


"Tidak usah basa-basi Tuan Muda Hansel yang terhormat! Apa keperluanmu datang kesini?" Zain menatap tajam kearah Barrack.


"Tentu aku ingin bertemu denqgan istri dan putraku, sudah lama sekali aku mencari kalian, aku sangat bahagia akhirnya menemukan kalian,"


"Ceklek!"


"Sreeetttt!"


Zain membuka pintu pagarnya dan berjalan masuk.


"Masuklah!"


"Terimakasih Zain,"


Barrack, Tomy dan anak buahnya masuk mengikutinya Zain.


Saat berada di halaman rumahnya, Zain menghentikan langkahnya.


"Tidak usah masuk sampai ke dalam! Aku hanya ingin bicara denganmu antar sesama laki-laki disini! Dulu aku sangat menghormatimu, tapi setelah aku tahu kamu menyakiti kakakku, aku sangat membencimu sampai sekarang. Aku tidak akan bersikap baik lagi padamu, jadi pergilah dan jangan ganggu kakakku lagi!" seru Zain yang menatap tajam arah Barrack.


"Zain, kamu salah paham! Aku tidak menyakiti kakakmu, tolong beri aku kesempatan untuk bicara dengan istriku!"


Barrack mencoba menekan segala ego dan emosinya, dia tahu jika dia berada diposisi Zain dia juga pasti akan melakukan hal yang sama.


"SUDAH KU BILANG PERGI DAN JANGAN GANGGU KAKAKKU! APA KAU TULI! DASAR LAKI-LAKI BR***GSEK!" teriak Zain yang tersulut amarahnya karena sudah memendam kemarahan dan rasa sakit yang luar biasa pada suami kakaknya selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Karena Barrack kakaknya menangis setiap malam, Rey bersedih karena selalu menanyakan kabar ayah kandungnya. Mereka disini memang terlihat bahagia, tapi nyatanya hati mereka rapuh. Dia juga tahu jika selama ini Barrack mempersulit kakaknya untuk terlepas dari sang suami, dia semakin kesal dan marah jika mengingat status kakaknya yang digantung sampai sekarang.


"BUGGHHH!"


Dan detik berikutnya Zain melayangkan bogem mentah pada sang kakak ipar, sedangkan Tomy dan anak buahnya terlihat terkejut dan panik melihat Bossnya dipukul didepan mata mereka. Saat mereka akan bersiap melerai keduanya, Barrack memberikan kode agar mereka tidak mendekat padanya. Dia hanya ingin menebus segala sakit hati yang sudah ditimbulkan olehnya, mungkin dengan begini rasa bersalahnya bisa sedikit berkurang.


"BUGGHH!"


Zain memukul kakak iparnya untuk yang kedua kali, hingga sudut bibir Barrack mulai mengeluarkan darah.


"AYO BALAS AKU JANGAN DIAM SAJA! DASAR PENGECUT!" teriak Zain yang masih dikuasai amarahnya.


"BUGGHH!!"


Zain memukulnya untuk yang ketiga kali, sehingga membuat Tomy dan lainnya semakin panik.


"Boss kau bisa mati jika hanya diam saja!" seru Tomy yang panik.


Sedangkan Barrack masih saja diam dan hanya memberikan kode agar Tomy dan anak buahnya tidak mendekat.


"DUGHHH!"


"Arrrrghhhh!"


Dan untuk yang keempat kalinya, Zain menendang perut Barrack dengan kencang hingga Barrack tersungkur di tanah dan semuanya menjadi tegang melihat Barrack yang kesakitan.


"SUDAH KU BILANG PERGI DAN JANGAN GANGGU KAKAKKU LAGI!"


"Zain aku mohon berikan aku waktu sebentar saja untuk bertemu istri dan putraku, aku janji jika mereka tidak menginginkanku lagi, aku akan pergi dari hidup kalian," Barrack berlutut dan memohon pada Zain.


"Berdirilah Tuan Muda Hansel yang terhormat, tidak pantas kau berlutut dihadapan orang biasa sepertiku! Apa kau tidak malu harga dirimu jatuh didepan anak buahmu!"


"Aku tidak peduli, yang terpenting bagiku saat ini hanyalah bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi. Apapun aku lakukan agar aku bisa bertemu dengan mereka,"


Zain mendadak iba melihat Barrack yang sudah babak belur karena ulahnya, dia melihat ada kesungguhan disorot mata kakak iparnya itu.


"Kakakku sedang ada di Indonesia sekarang!" ucap Zain dengan entengnya.


"APA!?" teriak Barrack dan Tomy bersamaan.


Barrack merasa usahanya sia-sia saja hari ini, dia sudah babak belur dan merendahkan harga dirinya demi bertemu putra dan istrinya tapi nyatanya dia masih saja belum bisa bertemu mereka. Sedangkan Tomy merasa miris melihat nasib Bossnya yang begitu tragis.


"Masuklah kedalam! Aku akan membuat kan kopi untukmu!" Zain masuk kedalam rumahnya tanpa rasa bersalah.


Sedangkan Barrack hanya menghela nafasnya panjang, mengikuti Zain dari belakang dan dengan diikuti Tomy.


Barrack dan Tomy duduk di sofa empuk yang ada disitu memandang seluruh ruangan yang ada, kediaman baru Shafa terlihat rapi dan bersih tidak terlalu sempit dan tidak juga terlalu luas. Ada beberapa foto terpajang di dinding-dinding berwarna putih itu, banyak foto Rey sewaktu bayi. Foto Shafa bersama putra, adik dan ibunya, dicetak sangat besar dengan senyuman yang ceria. Melihat foto-foto itu membuat Barrack berkaca-kaca, dia semakin rindu pada istri dan putranya.


Dan mainan mobil-mobilan kecil serta sepeda roda tiga milik Rey yang ada dilantai membuat hatinya semakin mendung, dia sedih tidak bisa melihat tumbuh kembang putranya selama ini.


Dan selang tak berapa lama, Zain sudah datang membawa tiga cangkir kopi yang dia taruh di nampan dan kotak P3K, juga sebuah baskom berwarna putih yang isinya handuk kecil dan air es.


"Obati dulu lukamu! Lalu ceritakan semuanya, agar aku yakin bisa menerima kehadiranmu kembali kedalam kehidupan kami!" ucap Zain dengan datar sedangkan Barrack hanya membalas dengan anggukan.


Dia hanya ingin segera mengobati lukanya karena semakin lama luka itu terasa nyeri sekali baginya.


Kemudian Tomy membantu Barrack untuk mengompres luka dan memar yang ada diwajah tampan Barrack. Seperti biasa kedua orang itu seperti anjing dan kucing, tidak ada habisnya berdebat dalam kondisi apapun.

__ADS_1


"Arrrrghhhh! Pelan-pelan bre***sek!" keluh Barrack saat Tomy mulai mengompres lukanya dan sedikit menekannya.


__ADS_2