
"Ahh Kak Robert terlalu memuji, padahal banyak penyanyi yang lebih bagus dariku," kata Shafa tersenyum.
"Aku sangat serius girl! Kamu memang berbeda, suaramu dan aura bintangmu itu sangat menarik. Ayo bergabunglah denganku!" ucap Robert meyakinkan.
"Bagaimana sayang apa kamu mau menerima tawaran Tuan Robert? Aku dan mamaku pasti akan selalu membimbing dan mendukungmu, ini kesempatan yang sangat langka sayang." ucap Kak Anggie menyemangati.
"Tapi aku belum siap Kak Robert, aku akan benar-benar terjun di dunia entertainment kalau kuliahku sudah selesai, aku ingin membuat keluargaku bangga dengan gelar sarjanaku. Kalau aku terjun ke dunia entertainment sekarang aku takut aktivitas kuliahku terganggu, aku minta maaf harus menolaknya untuk saat ini, tapi suatu saat aku pasti menerima tawaran emas ini kak," tolak Shafa halus.
"Baiklah girl, aku tidak akan memaksa, tapi berjanjilah, saat nanti kamu sudah siap untuk go publik, kamu harus segera menghubungiku!" pinta Robert.
"Baiklah Kak Robert! Jangan khawatir, tidak ada satu orang pun yang rela melewatkan kesempatan emas dari kakak."
Kemudian Robert pamit untuk pergi pada Shafa dan kakak angkatnya. setelah kepergian Robert mereka saling bertukar cerita dan bercanda berdua.
***
Beberapa minggu telah berlalu semakin lama hubungan Barrack dan Shafa semakin harmonis, dan sering kali Shafa datang ke kantor Barrack untuk membawakan makan siangnya.
Awalnya pegawai kantor di perusahaan Barrack merasa heran saat Shafa mengaku istri Barrack karena yang mereka tahu Barrack masih melajang, tapi Asisten Tomy mengumumkan kepada semua pegawai bahwa Shafa adalah istri boss muda mereka.
Banyak karyawan wanita perusahaan Barrack yang menangis dan patah hati, karena beberapa wanita disana sering kali mencuri pandang dan mencari perhatian boss mudanya tapi sikap Barrack kepada mereka tetap angkuh dan dingin.
Malam itu Shafa nonton drakor dilaptopnya sendirian di kamar, biasanya dia tidak pernah absen menonton drakor dengan adik iparnya tapi adik iparnya itu tidak tahu sedang berada dimana. Kemudian aktivitasnya terhenti karena ponselnya berbunyi.
"Kling.. Klingg.. Klingg..."
Satu chat masuk di whatsappnya.
"Kakak ipar, tolong jemput aku! Aku takut, aku berada di DF Night Club , jangan bilang mama dan Kak Barrack,"
Jessica mengirim pesan kepada kakaknya.
Shafa membulatkan matanya melihat pesan dari adik iparnya, dia mencoba menelpon adiknya tapi tidak ada jawaban. Dia benar-benar binggung dan takut terjadi sesuatu pada adik iparnya.
Shafa tidak tahu dimana letak klub malam itu karena seumur hidupnya dia tidak pernah menginjakkan kaki ditempat seperti itu.
Dia bergegas melajukan mobilnya, tak lupa dia membawa pistol Kecil miliknya hadiah dari Barrack, pistol itu dipesan khusus untuk keluarga Hansel Group. Shafa memakai hoodie hitam dan celana jeans panjangnya.
Dia menyusuri jalan menuju klub malam itu dengan bantuan GPS, setelah dua kali bertanya akhirnya dia menemukan klub malam itu.
Dia masuk dan mencari keberadaan Jessica, setelah beberapa menit berlalu akhirnya dia bisa menemukan adik iparnya. Terlihat dia bersama 5 orang laki-laki dan 5 orang wanita.
Salah satu laki-laki itu adalah David kekasih yang selalu bersamanya, terlihat laki-laki itu memaksa Jessica untuk meminum vodka.
Dengan Amarah yang berada diubun-ubun, Shafa berjalan cepat dan menghampiri mereka. Dia mengambil gelas yang berisi vodka itu dan melemparnya kesembarang arah.
"Prankkkkk! "
Seketika semua kaget dan menoleh melihat ke arah Shafa.
__ADS_1
"Hei B*****h kau! Apa yang kau lakukan pada adikku!" teriak Shafa penuh Amarah.
"Apa kau bosan hidup?! Hah! Jessie, ayo pergi!"
Shafa menarik tangan Jessica dan David tak mau kalah malah menariknya kembali.
"Malam kakak iparku sayang.. Jangan terburu-buru pulang, ayo kita bersenang-senang bersama, ini masih pukul 08.00 kak, bergabunglah dengan kami!" ucap David yang menantang dengan keadaan setengah mabuk.
"Diam kau b******n! Kau jangan mencoba batas kesabaranku!" Shafa memperingatkan.
"Kenapa kau kasar sekali kak?! Tidak pantas wajahmu yang cantik itu berkata kasar, aku bisa mem*askan kalian berdua dalam satu malam," ucap David tersenyum devil.
"Br*******kkk kau!"
"Plaakkkkkk! "
Shafa men*mpar David dengan keras dan menarik tangan Jessica dengan kuat, Jessica menahan tangisnya. Dia sangat kecewa dengan laki-laki yang dicintainya itu. Dia baru tahu sisi gelap dari seorang David.
Terlihat David berubah sangat marah dan sontak menarik rambut Shafa dengan kuat.
"Dasar J*l***g kurang ajar! Beraninya kau menamparku!" umpat David.
Shafa menendang bagian lutut dan s*l*kangan David dengan kencang, David jatuh tersungkur, teman-teman David mulai mendekat dan mengeroyok Shafa secara bersamaan. Shafa menangkis pukulan dari keempat pemuda itu, kekuatan mereka tidak sebanding dengan Shafa yang jago beladiri.
Shafa menendang, memukul dan melumpuhkan mereka Satu persatu sampai mereka jatuh tersungkur pula. Mengalahkan anak-anak manja seperti mereka adalah hal yang sangat mudah untuk Shafa.
Jessie hanya berdiri dipojokan dengan tubuh gemetaran, melihat kakak iparnya menghajar pacar dan teman-temannya.
Tak sengaja salah satu petugas keamanan lewat dan melihat kejadian di private room itu. Dia memanggil teman-temannya untuk membereskan kekacauan yang David dan Shafa buat.
"Ada apa ini? Apa kalian cari mati membuat keributan disini!" teriak salah satu Petugas keamanan disitu.
"Tanyakan saja pada b*j****n ini! Dia yang memaksa adikku untuk minum disini," ujar Shafa sambil menunjuk David yang masih terkapar tak berdaya.
"Aku tidak peduli dengan urusan kalian! Siapa kalian berani membuat kekacauan disini!" teriak petugas itu.
"Oohhh kalian ingin tau! Kami putri dari pemilik Hansel group! Jangan macam-macam kalian dengan kami! Atau besok papaku akan meratakan klub malam kalian," ancam Shafa dengan berani.
"Hahahaha.. Hahahaha!"
Sontak ketiga petugas itu tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Shafa.
"Jangan bermimpi nona! Ini masih belum terlalu malam, lucu sekali kau mengaku-ngaku putri orang kaya itu, Hahahaha!" ejek petugas itu.
"Kalian tau symbol "HSL" Di pistol ini?"
terlihat Shafa mengeluarkan pistolnya dari dalam saku celananya.
Seketika petugas itu diam mendengar ucapan Shafa. Mereka tidak begitu mengerti yang dimaksud Shafa.
__ADS_1
"Hanya pistol kecil begitu, kami juga punya nona, Hahahaha!" Petugas itu kembali tertawa.
Kemudian seseorang berjas hitam masuk melihat keributan itu,
"Ada apa ini? kenapa kacau sekali ruangan ini?" tanya orang berjas hitam itu.
"Ini Pak Manager, gadis ini dan kelima laki-laki ini membuat keributan disini,"
"Iya pak, malah gadis ini mengaku putri dari Hansel Group,"
Manager Club itu mendekati Shafa dan melihat simbol yang ada dipistol yang dia bawa. Manager club itu kaget dan menunduk dihadapan Shafa. Dia tau betul tidak sembarang orang memiliki simbol itu apalagi di dalam sebuah Senjata api.
"Maaf nona muda, maafkan kami kalau orang-orang kami kurang ajar kepada anda, saya akan memecat mereka jika anda menginginkan," ucap Manager itu dengan sedikit bergetar.
Sontak ketiga petugas itu menunduk malu dan merasa bersalah, mereka tidak berani bersuara ataupun menatap wajah Shafa.
"Bagus kalau kau sudah tau siapa aku, aku tidak perlu repot-repot menelfon papaku untuk membereskan kalian!" ucap Shafa dengan sombong.
"Aku mohon nona, jangan memberitahu Tuan Besar kejadian ini, saya minta maaf atas kelakuan anak buah saya, tolong ampuni kami nona!" ucap Manager itu.
"Baiklah kali ini aku Mengampuni kalian, tapi sebagai balasannya, lemparkan kelima b*****h ini kejalanan!" pinta Shafa.
"Baik nona, terimakasih banyak," kata Sang manager.
"Hei Kau b*****h! Jangan sampai aku melihat kau mendekati adikku lagi, kalau kau masih berani mendekat, aku tidak segan-segan m*lubangi k*palamu itu dengan p*stolku!" teriak Shafa kepada David.
Kemudian Shafa menggandeng Jessica yang masih gemetaran dan membawanya ke mobil.
**
Saat mereka sudah di dalam mobil, Jessica menangis sejadi-jadinya. Shafa memeluknya dengan erat dan menenangkan hati adik iparnya.
"Jangan menangis sayang! Sudah tenanglah kakak disini, semua sudah berakhir, tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi,"
Jessica semakin menangis dipelukan kakak iparnya, dia menyesal mempercayai laki-laki seperti David.
"Aku tahu kamu pasti sangat sedih melihat kelakuan David, tapi itu lebih baik untukmu, dia memberikan pengaruh buruk untukmu sayang. Dia tidak pantas untukmu, relakan dia dan yakinlah suatu saat kamu akan menemukan laki-laki yang tepat," ucap Shafa yang memberikan nasehat.
Jessica menatap wajah kakak iparnya dan menggangguk, Shafa menghapus airmata adik iparnya dan membetulkan riasan Jessie yang acak-acakan karena airmatanya.
"Ayo tersenyumlah! Kamu tidak ingin orang rumah curiga kan? Sepertinya tadi kakakmu berkali-kali menelfonku, aku akan menghubunginya dulu, agar dia tidak cemas,"
Kemudian Shafa menelfon Barrack, dia beralasan kalau sedang menonton bersama Jessie dan tidak begitu memperhatikan ponselnya, Barrack yang berada diseberang telfon merasa lega karena istrinya sudah memberi kabar padanya.
Beberapa menit berlalu akhirnya Shafa dan Jessica sampai di Mansion keluarga Hansel. Shafa menyuruh Jessica langsung ke kamarnya agar dia bisa beristirahat dan menenangkan pikirannya.
Dia memasuki kamarnya dan melihat Barrack yang memangku laptop nya.
"Darimana saja kamu? Tumben sekali kamu tidak ijin padaku kalau pergi dengan Jessie, dihubungi malah tidak dijawab, buat khawatir saja!" ucap Barrack sedikit kesal.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang aku tidak sempat menghubungimu, kami tadi terburu-buru pergi ke bioskop takut ketinggalan filmnya, kami sangat fokus melihat film itu sampai-sampai tidak mendengar telfon darimu. Jangan marah ya sayang, maafkan aku!" rayu Shafa.
Barrack diam dan berpura-pura merajuk.