Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
43.Kasih Sayang Sang Ibu


__ADS_3

Awalnya Barrack ragu menyentuh perut Jenny, tapi Barrack juga merasa penasaran. Jenny memegang lembut tangan Barrack.


"Ini calon bayi kita sayang, coba mendekatlah dan berbicara padanya, aku rasa dia ingin mendengar suara papanya," Jenny tersenyum lembut.


Sementara di belakang mereka, airmata Shafa tidak bisa berhenti. Hatinya terasa sangat sakit, remuk dan hancur berkeping-keping. Rasanya dia tidak sanggup, baru seperti ini saja sakitnya sungguh luar biasa. Lalu seperti apalagi rasanya jika membayangkan Barrack dan Jenny nantinya akan tidur bersama. Apa hatinya bisa lebih kuat dari ini? Dia bertahan demi Papa Jason-nya, Papa Barrack selama ini begitu baik pada keluarganya, begitu juga Myra dan Jessie yang sangat menyayanginya.


"Ya Allah.. Apa aku sanggup melewati ini? Apa hatiku bisa ikhlas menerima keadaan ini? Aku hanya ingin memiliki suamiku sendiri saja, apa aku sangat egois? Ya Allah.. Tolong kuatkan hati hamba," Shafa berdoa dalam hati dan semakin menangis.


Barrack tidak mengindahkan ucapan Jenny, dia menarik tangannya kembali. Hatinya tidak merasakan apapun saat memegang perut Jenny, tidak ada getaran, tidak ada perasaan bahagia. Dia berfikir apakah dirinya ini normal, dari yang dia dengar, seorang laki-laki akan sangat bahagia saat berinteraksi dengan calon bayinya, tapi Barrack tidak merasakan itu.


"Ayo kita masuk kedalam Jenny, udara malam tidak baik untukmu," ajak Barrack dan berjalan meninggalkan Jenny.


Walaupun Barrack tidak menuruti keinginannya, tapi dia bahagia Barrack sedikit mengkhawatirkan dirinya.


***


Setelah berdiskusi beberapa saat, akhinya mereka sepakat akan melangsungkan pernikahan Barrack dan Jenny secara sederhana dan tertutup di Mansion keluarga Hansel. Lalu Jenny dan keluarganya meninggalkan Mansion Keluarga Hansel dengan hati bahagia.


Berbeda dengan ketiga orang diruang tamu itu, mereka nampak sedih dan gelisah.


Mereka berjalan menuju ruang makan, dan ternyata Shafa sudah berada disana menunduk dan memainkan ponselnya.


"Sayang, maafkan kami membuatmu menunggu lama, harusnya tadi kamu makan dulu saja," ucap Myra penuh penyesalan. Myra berjalan ke arah Shafa memeluk dan mencium kepala menantunya.


"Ahh tidak masalah mama, lagipula aku belum terlalu lapar," Shafa mencoba tersenyum walaupun matanya terlihat sembab.


Myra, Jessica dan Barrack merasa sangat bersalah pada Shafa, dalam keadaan terpuruk pun dia masih bersikap lembut dan tersenyum pada mereka. Tatapan mereka berempat kosong, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Bukannya mereka bertiga tidak tahu Shafa habis menangis, tapi saat ini mereka hanya ingin membuat Shafa kembali tersenyum. Jessie mencoba memecah kecanggungan diantara mereka, mendekati Shafa dan akan mengambilkan makanan untuk kakak iparnya.


"Kakak, apa kakak tahu kalau semua ini Kak Barra yang memasak?" ucap Jessie dan Shafa pun mengangguk.


"Aku tadi mengira Kak Barra sudah terbentur tembok sampai lupa dengan jati dirinya, dan aku lihat makanan ini tidak begitu mengugah selera, lihat saja bentuknya berantakan begitu!" ujar Jessie mengejek.


"Terus.. Terus saja menghina masakanku! Belum juga mencoba sudah mengejek! Kalau kalian tahu bagaimana rasanya, pasti kalian akan Mengemis-ngemis minta aku masakan lagi dan sepertinya aku tertarik mengikuti acara Master Chef," ucap Barrack dengan percaya diri sembari mengelus dagunya.


"Ya Ampuunn kakak! Kalau kakak ikut acara master chef, bisa-bisa jurinya pada masuk rumah sakit semua gara-gara makanan gosong punya kakak! Hahaha!"


"Dasar adik kurang ajar!"


Myra dan Shafa hanya terkekeh melihat kakak adik itu bertengkar.

__ADS_1


"Ehh sudah-sudah, kalau kalian bertengkar terus kapan mama dan kakak iparmu akan makan! Eh Sebentar biar aku cicipi dulu biar menantu kesayangan mama tidak hilang nafsu makannya," ujar Myra.


"Ck,"


Barrack hanya berdecak mendengar ejekan terselubung dari mamanya.


"Hhhmmm.. Enak kok masakan Barra, coba saja sayang," Myra menyuapi menantunya dengan nasi goreng buatan Barrack. Shafa mengunyahnya perlahan dan merasakannya. Dia tersenyum dan memuji masakan suaminya.


"Waahh.. Ternyata suamiku bisa memasak juga ya, aku tidak menyangka kamu bisa melakukannya," ucap Shafa tersenyum kearah suaminya.


"Benarkah kamu menyukainya baby?" Barrack memastikan dengan binar bahagia dimatanya dan Shafa pun mengangguk.


"Terimakasih sudah memasakkan untukku Barra," ucapan Shafa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Dia hanya ingin terlihat baik-baik saja didepan Myra dan Jessie. Sehingga mereka tidak khawatir dan tidak ikut menanggung kesedihannya.


"Sama-sama baby, kalau perlu setiap hari aku akan memasakkan makanan untukmu sayang," Barrack mengecup pucuk kepala istrinya dan Shafa tersenyum mengangguk.


"Sudah kakak bekerja saja cari uang yang banyak biar kami lancar belanja dan ke salon, urusan masak biar Chef dan kami para wanita yang tangani,"


"Lagipula kalau kakak yang masak bisa-bisa kami pingsan duluan karena terlalu lama menahan lapar!" Jessie masih menggoda kakaknya.


"Iihhh.. Dasar tukang gombal!" Jessie memutar bola matanya dengan malas dan Barrack menjulurkan lidahnya ke arah Jessica.


Setelah selesai makan malam Shafa pamit naik ke kamarnya, dia ingin sekali berbaring dan mengistirahatkan hati dan pikirannya. Rasanya sangat lelah setelah seharian dia menangis. Dan ini kali pertama, dia tidak memuntahkan makanannya selama dia hamil.


"Hallo sayang, apa kamu menyukai masakan daddymu? Sepertinya kita harus meminta daddy memasak tiap hari ya untuk kita ya," ucap Shafa dalam hati sembari mengelus perutnya.


***


Diruang kerja Myra terlihat menelpon suaminya. Barrack dan Jessica duduk disamping kanan dan kiri mamanya sembari mendengarkan ucapan mama dan papanya.


Awalnya Myra sedikit basa-basi menanyakan kabar suaminya dan memberikan perhatian pada suaminya. Barrack terus menyenggol bahu mamanya, agar mamanya menceritakan semua keadaan yang terjadi. Barrack terlalu takut berkata kebenaran pada papanya, dia tahu dia melakukan kesalahan yang fatal. Bahkan jika papanya mengusirnya dia tidak keberatan untuk pergi dari Mansion.


"Papa, besok lusa Barrack dan Jenny akan menikah," ucap Myra dengan ragu-ragu.


"Apa!! Barrack menikahi Jenny?! Apa yang dilakukan putramu itu sampai berani menikahi Jenny tanpa persetujuanku?!" Jason kaget dan meninggikan suaranya.


Sontak Ketiga orang dari seberang telpon menjadi sangat tegang dan merasakan aura kemarahan dari seorang Jason.


"Aku kira Barrack dan Jenny sudah berakhir, ternyata ancamanku hanya kau anggap angin saja Barra!" Jason berteriak keras.

__ADS_1


Dia tahu Barrack berada disitu.


"Je.. Jenny telah hamil anak Barrack pa!" ucap Myra dengan terbata-bata.


"Apa Jenny Hamil? Dasar B******n! Anak kurang ajar! Berikan ponselmu pada Barrack!" Jason terus berteriak marah.


"Papa.. Maafkan aku, Maafkan kesalahanku pa.. " ucap Barrack dengan sangat menyesal.


"Siapa yang mengajarimu menjadi anak b******ek Barra! Laki-laki macam apa kau itu! Tega menyakiti istrimu terus-menerus dan malah tidur dengan wanita lain! Apa kamu masih tidak bisa melihat kebaikan istrimu Barra! Segala hal telah dia korbankan untuk keluarga kita! Buka matamu! Kemana hati nuranimu Barra!"


Jason sangat marah dan mengusap wajahnya yang dengan kasar.


"Ampuni aku papa, kejadiannya begitu cepat, aku sendiri tidak menyadari kalau kami telah melakukannya, tapi Jenny memiliki Foto saat kami sedang bersama,"


Seketika Jason merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Kau tahu konsekuensinya Barra! Aku tidak akan memberikan sepeserpun uang untukmu dan semua harta warisan dariku untukmu aku berikan pada Shafa! Jangan berharap Kau dan Jenny bisa tinggal di Mansion utama! Aku tidak akan main-main lagi dengan perkataanku! Sudah cukup aku bersabar dengan semua kelakuanmu!" ucap Jason lalu menutup telponnya. Ketiga orang diseberang telpon merasa lemas dan sedih.


Tiba-tiba Kondisi Jason memburuk dan tubuhnya melemah, seketika Asisten Samuel memapah Tuan besarnya dan mendudukan Tuannya dengan perlahan. Sam membantu Jason meminum obatnya.


"Tolong jangan terlalu memikirkan hal yang terlalu berat Tuan besar! Apa perlu saya memberitahu nyonya besar tentang kondisi anda?" Asisten Sam terlihat khawatir.


"Jangan sam! Aku tidak apa-apa, nanti setelah beristirahat pasti membaik lagi, jangan semakin memberi beban pikiran istriku! Saat ini mungkin dia sangat sedih dengan keadaan putra dan menantunya, aku ingin cepat pulang dan memeluknya dengan erat,"


"Baik Tuan besar, sebaiknya saya mengantar anda ke kamar untuk beristirahat," ucap Sam dan Jason mengangguk.


Di Mansion Myra terlihat memeluk putranya dan Jessie memeluk kakaknya dari belakang. Mereka hanya terdiam tak berbicara, tidak pula menangis karena mungkin airmata mereka telah kering dan mereka saling menguatkan hati dalam diam.


"Barra.. Masuklah ke kamarmu dan temani istrimu! Malang sekali nasib menantuku, bahkan aku seperti orang tidak berguna saat ini, tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya," Myra mengatakan dengan penuh penyesalan.


Barrack hanya mengangguk pasrah dan berjalan menemui istrinya, tapi ternyata istrinya sudah terlelap dalam tidurnya. Barrack merebahkan badannya disamping istrinya, dia ingin sekali memeluk erat istrinya, tapi dia tidak ingin menganggu tidur nyenyak sang istri.


***


Keesokan paginya Shafa telah tiba di rumah ibunya tapi sebelumnya dia sudah meminta ijin pada suaminya dan menyiapkan keperluan suaminya sebelum suaminya berangkat bekerja.


Bu Farida merasa heran melihat putrinya yang pagi-pagi bertandang ke rumahnya lagi. Dia bertanya dengan penuh kelembutan pada putri kesayangannya.


"Ada masalah apa sayang? Tumben dua hari berturut-turut kamu datang kerumah ibu? Coba ceritakan pada ibu nak, berbagilah pada ibu jika tidak mampu menanggungnya sendiri, ibu akan selalu kuat disampingmu," ucap Bu Farida memandang putrinya penuh sayang sembari menggenggam tangan putrinya.


Seketika Shafa menangis sejadi-jadinya mendengar ucapan ibunya, Bu Farida memeluknya dan ikut menangis pula. Shafa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya di hadapan ibunya. Sedangkan Zain yang masih berada di kamarnya mendengarkan tangisan kakak dan ibunya dengan perasaan sedih dan geram.

__ADS_1


__ADS_2