Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
18.Tenanglah sayang..


__ADS_3

Terlihat seseorang laki-laki berambut hitam, berwajah Asia, memakai jas hitam dan kacamata hitam muncul lalu berbicara dengan lantang untuk menyambut kedatangan Barrack.


"Selamat datang anak muda, nyalimu besar sekali datang kesini tanpa ayah dan ibumu yang b*ngsek itu, HAHAHA!" ucap laki-laki itu.


"Diamm!!! Siapa kau.. Berani sekali mengusik keluargaku! Lepaskan istriku!" ucap Barrack penuh amarah.


"Apa melepaskan kalian begitu mudah?! HAHAHA! Kau sudah tertangkap saja masih berlagak sombong seperti ayahmu, ucapkan salam perpisahan untuk ayahmu nanti bocah ingusan!"


"Cepat ikat bocah itu!" kata laki-laki itu pada beberapa pengawalnya.


"Byurrrrr... "


Anak buah dari laki-laki misterius itu menyiram air pada wajah Shafa agar dia terbangun.


"Bangunlah gadis manis.. Apa kau tidak ingin menyapa suami tercintamu?" ucap laki-laki itu.


Shafa terbangun dan mulai membuka mata perlahan, dia melihat sekelilingnya Ada banyak laki-laki berbaju hitam membawa senjata berada di dalam gedung yang besar.


Saat dia menoleh ke kiri ada seseorang yang dikenalnya dan sama diikat dengannya dan laki-laki itu memanggil namanya.


"Shafa.. Apa kau baik-baik saja?"


tanya Barrack penuh khawatir.


"Barrack.. Jangan khawatir! Aku tidak apa-apa," jawab Shafa.


"Tapi itu lukamu kenapa banyak darah?"


"Plok.. Plokk.. Plokk... "


Terdengar suara tepukan tangan laki-laki misterius itu, sontak keduanya menoleh kesumber suara.


"Wahh.. Wahhh.. Wahhh.. Kalian seperti adegan di film-film romantis, sangat menyentuh,"


"CUKUPP!!!" teriaknya.


"Ayo gadis manis ucapkan salam perpisahan pada suami tercintamu sebelum aku menghabisinya," ucap laki-laki itu.


Dia mengarahkan p*stolnya ke arah Barrack.


Tiba-tiba...


"Hentikan b*jingan!!!"


Terdengar suara laki-laki paruh baya datang bersama istrinya.


"Papa.." kata Barrack dan Shafa bersamaan.


"Selamat datang teman lamaku dan mantan istriku tercinta, apa kalian tidak merindukanku? " ucap laki-laki misterius itu.


Anak buah laki-laki itu langsung menodongkan s*njata kepada Jason dan istrinya.


"Ohhh ternyata kau Kevin, yang selama ini mengusik keluargaku, berani-beraninya kau!" teriak Jason penuh amarah.


"Kau lihat Jason.. Aku berkuasa sekarang, selama hampir 2 tahun terakhir kamu tidak bisa menemukanku!" kata pria bernama Kevin itu tersenyum sombong.


"Ciihhh.. Tapi selama itu pula kau gagal untuk membunuhku b*jingan!" cibir Jason.


" Diam kau tua b*ngka! Dan hari ini nasib baik ada ditanganku. Kau menyerahkan nyawamu sendiri kesini, aku akan membunuh kalian satu per satu, HAHAHAHA!!"

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Kevin, pasukan Barrack bersama Asisten Tomy dan pasukan Jason bersama Asisten Samuel menyerang markas itu diam-diam.


Mereka menghabisi anak buah Kevin satu per satu dari luar dan menyebar masuk ke dalam markas sembunyi-sembunyi untuk melumpuhkan musuh tanpa bersuara.


"Tidak semudah itu kau membunuhku b*jingan!! Aku akan menghancurkanmu Seperti sebelumnya!!" teriak Jason.


"HAHAHA..! Aku tidak takut dengan ancamanmu Jason, dulu kau mengambil istriku dan mempersulit hidupku, aku tak bisa diterima bekerja dimanapun karenamu! Dan sekarang aku akan menghancurkan kalian tak tersisa! "


Barrack dan Shafa yang mendengar penuturan laki-laki berwajah Asia itu sontak kaget, Barrack berfikir kenapa papanya merebut istri laki-laki lain. Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu sampai laki-laki itu memiliki dendam yang mendalam kepada papanya.


"CUKUPP KEVIN!!! AKU SUDAH MUAK DENGAN SIKAPMU YANG SELALU MERASA BENAR!" Teriak Myra dengan lantang.


"Kau laki-laki pemabuk dan tak bertanggungjawab, kau sering memukulku dan sering bermain wanita, jangan salahkan aku jika aku memilih meninggalkanmu untuk bersama Jason, kita sudah berakhir Kevin, pengadilan sudah memutuskan semua dengan adil."


"Tapi aku sangat mencintaimu, kau tau itu! Kau tidak memberiku kesempatan untuk berubah! Semua gara-gara Jason yang sok jadi pahlawan, harusnya sekarang kita masih bersama dan memiliki banyak anak Myra!"


ucap Kevin penuh amarah dan penyesalan.


"Pers*tan dengan mimpi bodohmu itu Kevin, berkali-kali aku memberimu kesempatan tapi kau tidak pernah berubah!"


"CUKUPP! DIAM KAU! sudah lama aku menantikan ini semua, jika aku tidak bisa memilikimu maka siapapun tak bisa memilikimu juga!"


Kevin menarik pelatuknya dan akan menembak Jason, Lalu tiba-tiba..


"Dorrrr..."


Tangan Kevin ditembak dari belakang oleh Tomy. Semua pasukan mereka membrondong peluru ke arah anak buah Kevin. Jason dan Myra lari mendekati Barrack dan Shafa, melepaskan ikatan anak dan menantu mereka.


Dalam hitungan menit pasukan Barrack dan Jason melumpuhkan mereka tak bersisa. Barrack mendekati Kevin yang akan berdiri mengambil senjata.


"Bruukkk... "


"Dughhhh.. "


Barrack menendang, memukul dada dan wajah Kevin dengan bringgas.


"Itu balasan untuk kesombonganmu.."


"Dugghhhh..."


"Duggghhh..."


"Itu balasan karenamu sudah menyakiti istriku! "


Laki-laki itu tak berdaya dan mengeluarkan d*rah disekujur tubuhnya.


"Sudah Barrack jangan mengotori tanganmu untuk b*jingan itu, aku akan membebaskan penderitaannya dengan tanganku," kata Jason.


"Dorr.. Dorrr.. "


Jason menembak tepat dijantung dan kepala Kevin, seketika Kevin jatuh dan tewas.


"Sam, Bereskan semua dan jangan ada jejak sedikitpun!" ucap Jason pada Samuel Asistennya.


"Baik Tuan besar.. " ucap Samuel dengan patuh.


Terlihat Shafa semakin melemah masih terduduk di kursi dan mengigil kedinginan Kemudian Barrack memakaikan jaketnya dan menggendong Shafa yang masih basah kuyup.


Asisten Tomy mengemudikan mobil Barrack untuk membawa Shafa ke Rumah sakit, Myra dan Barrack berada di belakang membantu Shafa. Lalu Jason berada disamping asisten Tomy, diikuti beberapa mobil anak buah mereka.

__ADS_1


"Shafa, kau tidak apa-apa? Apa rasanya sangat sakit, bertahanlah Shafa kita akan segera sampai," ucap Barrack penuh khawatir.


Shafa yang sudah lelah dan lemas hanya bisa tersenyum menatap Barrack dan menggangguk. Ada rasa hangat menyelimuti hatinya mendengar Barrack begitu perhatian dan khawatir padanya, rasanya ingin menangis dan memeluk laki-laki yang dicintainya. Tapi dia tidak seberani itu melakukannya, apalagi ada kedua mertuanya dan Asisten Tomy disitu.


"Barrack bisakah aku memiliki hatimu walau sedikit saja? Lihatlah aku, lihatlah hatiku Barrack.. Aku sangat mencintaimu dan rela mati untukmu!" gumam Shafa dalam hati.


Matanya memanas dan tenggorokannya terasa sakit menahan tangisnya. Dia sudah berusaha menghalau air matanya agar tak jatuh, tapi dia gagal. Air matanya mengalir begitu saja.


Saat Barrack melihat Shafa yang tiba-tiba menangis, dia langsung memeluk istrinya dengan erat dan menciumi kepalanya bertubi-tubi.


"Tenanglah sayang, semua sudah berakhir, jangan menangis aku disini," kata Barrack.


Shafa mengangguk dan semakin terisak dalam pelukan Barrack. Entah apa yang dirasakannya seperti sedih, bahagia, terharu dan semuanya bercampur aduk dalam hatinya saat mendengar Barrack memanggilnya dengan sayang.


Barrack melonggarkan pelukannya dan menghapus airmata Shafa kemudian memeluknya kembali dengan erat.


Myra sangat bahagia melihat pemandangan di depannya, dia bahagia dan terharu melihat anak dan menantunya. Tomy dan Jason merasakan hal yang sama dengan Myra.


Setelah beberapa menit mobil Barrack sampai di Rumah sakit, Tim Medis dan Bu Farida menunggu kedatangan mereka. Bu Farida tidak tidur semalaman menunggu putrinya datang, akhirnya dia bisa bernafas lega putrinya sampai dengan selamat.


Dokter membersihkan luka Shafa yang sedikit berdarah, memberikan suntikan anti nyeri dan obat-obatan lainnya.


Semua menunggu diluar ruangan dengan cemas, lalu dokter keluar ruangan setelah menangani Shafa. Barrack sontak mendekati dokter dan bertanya.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya? Apa lukanya mengalami pendarahan?" tanya Barrack.


"Tuan muda tidak usah khawatir, hanya ada sedikit pendarahan, lukanya tidak sampai terkena air, baju nona yang basah sudah kami ganti juga,"


"Terimakasih dokter, apa kami sudah bisa melihatnya sekarang?"


"Iya tuan muda, anda sudah bisa masuk ruangan tapi nona masih tertidur karena pengaruh obat."


"Kalau begitu saya pamit keruangan saya dulu Tuan muda.. Tuan besar.. Nanti kami akan kembali satu jam lagi untuk memantau keadaan nona, " kata dokter itu menunduk sopan kepada Barrack dan papanya.


Kemudian Barrack dan Jason membalas anggukan dokter itu dan masuk keruangan Shafa dirawat.


Semua mendekat ke ranjang Shafa, melihat Shafa yang berbaring lemah. Bu Farida menangis tersedu-sedu melihat keadaan putrinya. Dan Myra memeluk Bu Farida dan ikut menangis.


Setelah tangisan mereka reda, Jason mengajak mereka duduk di sofa. Myra menggengam tangan Bu farida dan berkata,


"Bu Farida, Kami minta maaf.. Shafa harus Seperti ini lagi karena kami, Kami menyesal Shafa terseret dalam masalah kami," ucapnya dengan airmata menetes lagi.


"Tidak Bu Myra, sudah jangan meminta maaf lagi, kita semua tidak tau kalau bahaya masih mengintai keluarga kita, kita hanya bisa berdoa semoga tidak Ada kejadian buruk lagi," ucap Bu Farida membalas genggaman Myra.


"Semua sudah berakhir Bu Farida, kami sudah membereskan akar permasalahnya, semua berkat Shafa," ucap Jason penuh yakin.


Kemudian mereka menceritakan kejadian dari awal mereka bertemu sampai akhir dan Barrack mendengarkan semua. Orangtuanya tidak seburuk perkataan p*njahat itu. Dia tau papanya sudah melakukan hal yang benar.


Jason dan Myra pergi meninggalkan Rumah sakit, Barrack dan Bu Farida yang tersisa disana.


"Apa tidak sebaiknya nak Barrack pulang?" Ucap Bu Farida.


"Tidak bu, aku akan menjaga istriku dengan tanganku, aku ingin saat dia membuka mata yang dilihatnya pertama kali adalah aku," kata Barrack terlihat lelah dan mengantuk.


Semalaman Barrack tidak tidur dan menghadapi musuhnya.


"Kalau begitu nak Barrack tidurlah dulu di sofa, ibu akan membelikan nak Barrack makanan di restoran depan,"


"Aahh.. tidak bu pasti ibu juga sangat lelah semalaman tidak tidur, sebaiknya ibu istirahat saja dulu, nanti saya bisa memesan makanan via online,"

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa nak, ibu tidak lelah.. Ibu semalam bisa tidur sebentar-sebentar, biar ibu belikan makanan dan tidurlah sebentar agar rasa lelah dan kantuknya bisa hilang."


Barrack menggangguk patuh dan membaringkan tubuhnya di sofa, lalu Bu Farida berlalu meninggalkan ruangan Shafa dirawat.


__ADS_2