Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
41.Kemarahan Shafa


__ADS_3

"APA HAMIL?! APA KAU GILA BARRACK! BAGAIMANA BISA HAMIL?!"


Teriakan Myra mengagetkan Shafa yang kebetulan lewat di ruangan kerja itu. Shafa menghentikan jalannya dan menajamkan pendengarannya. Gelisah, marah dan penasaran mulai menyelimuti dadanya.


"Aku tidak tahu mama, semuanya terjadi tiba-tiba saja! Ini sebuah kesalahan, ketidaksengajaan!" ucap Barrack dengan nada frustasi.


"Apa kakak masih menemui wanita itu? Kenapa kakak masih menemuinya?! Kakak tahu! Kakak sangat menyakiti kakak ipar sedangkan kami sangat menyayanginya, itu sama halnya kakak juga menyakiti kami!" Jessie berteriak penuh amarah pula.


Bukannya menjawab pertanyaan adiknya Barrack malah bersimpuh di kaki mamanya.


"Bagaimana aku bisa mengatakan ini semua pada istriku ma, aku tidak bisa menyakiti hatinya, aku sangat mencintainya!" ucap Barrack menahan tangisnya.


"Braaaaaaakkkkk!!!"


Terlihat Shafa membuka pintu dan mendorongnya dengan keras.


"Tidak perlu kau katakan lagi Barra! Aku sudah mendengarnya semua!" ucap Shafa penuh Amarah dengan nafas yang memburu.


"Baby.. "


"Kakak.. "


"Shafa.. "


Ucap ketiga orang itu bersamaan, mereka terkejut melihat Shafa yang tiba-tiba datang.


"Jadi.. Apa selingkuhanmu saat ini sedang hamil Barra? Kapan kau akan menikahinya?" kata-kata Shafa membuat hati sendiri seperti diremukkan tiba-tiba, sangat menyakitkan dari dalam. Dia mencoba menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat lemah dimata mereka.


"Ja.. Jangan.. Berbicara begitu baby, kami tidak berselingkuh dibelakangmu, ini hanya sebuah ketidaksengajaan," Barrack memandang mata istrinya penuh dengan penyesalan.


"Apa bertemu dan tidur dengannya adalah sebuah kebetulan Barra?! Ciihhh.. Kau kira aku ini anak TK yang masih bisa dibohongi Barra!" ucap Shafa penuh emosi.


Jessie dan Myra hanya diam tak bisa berkata-kata, mereka juga sangat kecewa dengan perbuatan Barrack.


"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikiran," Terlihat Barrack mulai mendekati istrinya. Dia ingin sekali memeluk istrinya tapi dia takut Shafa menolak pelukannya.


"Aku kira setelah semua perjalanan panjang yang kita lakukan bersama akan membuatmu tulus mencintaiku Barra, tapi ternyata AKU SALAH! AKU YANG TERLALU BERHARAP LEBIH!!"


"Sayang, maafkan aku.. Maafkan aku sangat menyakitimu! Maafkan aku sayang! Aku sangat mencintaimu baby,"


Barrack tidak tahu kata-kata apa yang tepat saat ini untuk istrinya, yang hanya bisa dia katakan hanya permintaan maaf saja.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Shafa dengan tegas.


"Papanya mendesakku untuk menikahinya besok lusa baby," ucap Barrack dengan ragu-ragu.


"Hhmmm.. " Shafa mengangguk singkat dan berlalu pergi ke kamarnya.


Shafa masuk ke kamar mandi, dia berteriak frustasi, melemparkan semua barang-barang didepannya untuk meluapkan amarahnya. Menyalakan Shower airnya dan berharap dinginnya air meredakan sakit hati dan kepalanya.


"Br*****k kau Barra! Kurang ajar! B******n!"


"Praankkk!! Prankkk!!"

__ADS_1


"Dasar b*******n! Aku membencimu! Aku sangat membencimu Barra!" Shafa berteriak penuh emosi dengan air matanya yang tak bisa berhenti.


Barrack yang menyusul Shafa ke kamar. Saat dia masuk, dia baru mendengar Shafa yang mengumpatinya sembari melempar barang-barang di kamar mandi. Dia menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba menenangkan istrinya.


"Baby.. Hentikan baby.. Itu akan menyakitimu, Maafkan aku baby.. Aku minta maaf," Barrack memeluk istrinya dan Shafa mencoba melepas pelukan suaminya.


"Kamu jahat Barra! Kamu sangat jahat! Kenapa kamu tega menyakitiku! Semuanya aku lakukan demi kamu! Tapi kamu membalasnya dengan luka! Kamu sungguh jahat! Aku membencimu br*****k!" Shafa berteriak menangis sembari memukuli dada suaminya dengan keras.


Barrack hanya diam dan membiarkan istrinya memukulinya. Bahkan jika Shafa menginginkan kematiannya saat ini Barrack rela mati agar istrinya bisa memaafkannya. Dia sangat menyesal tapi semuanya sudah terjadi, hati istrinya yang telah dia remukkan tidak bisa akan utuh dalam sekejap.


"Maafkan aku baby, maafkan aku.. Beri aku kesempatan baby, aku mohon!" Barrack memegang kedua tangan istrinya. Dia memeluk istrinya dan menggendong istrinya ke sofa. Dia mengusap lembut tubuh dan rambut istrinya yang basah dengan handuk.


Shafa hanya terdiam dengan tatapan kosongnya, dia sangat Shock dengan kejadian yang menimpanya. Dia tidak memiliki tenaga lagi untuk memarahi atau melawan perlakuan lembut suaminya. Dia sangat jijik jika mengingat suaminya telah disentuh wanita lain.


Barrack mulai melepaskan baju Shafa yang basah lalu Shafa tiba-tiba tersadar dari lamunannya.


"Hentikan Barra! Jangan menyentuhku lagi! Aku bisa melepas pakaianku sendiri! Aku tidak ingin disentuh oleh tangan yang telah menyentuh wanita lain!" ucap Shafa dengan tegas dan masuk ke dalam kamar mandi.


Barrack semakin frustasi dan mengacak rambutnya dengan kasar.


Setelah beberapa saat Shafa keluar dari kamar mandi. Barrack mencoba mendekatinya.


"Baby.. "


Shafa memberikan isyarat agar Barrack tak mendekatinya.


"Aku akan ke Cafe lagi dan lanjutkan saja pekerjaan kantormu!" ucap Shafa dengan nada dingin.


"Sudah tidak penting untuk pergi ke kantor baby, saat ini aku hanya ingin menjelaskan semua permasalah kita,"


"Tapi Baby.. "


"Sudah hentikan! Tolong berikan aku ruang!"


Barrack menghentikan langkahnya dan membiarkan istrinya pergi untuk menenangkan diri.


***


Shafa masuk ke dalam Cafe milik kakak angkatnya, dia mencoba menyembunyikan permasalahannya dan tersenyum ceria seperti sedia kala.


Dia menaiki tangga lantai atas, terlihat kakak angkat kesayangannya masih duduk sendirian disana sambil tersenyum sembari merangkai bunga.


"Kakak.." ucap Shafa dengan tersenyum seceria mungkin.


Kak Anggie menoleh ke arah adiknya dan melambaikan tangannya.


"Sini sayang, lihatnya sudah cantik belum rangkaian bunga kakak?" ucap Kak Anggie yang memandang rangkaian bunga buatannya.


"Sangat cantik sekali Kak, aku sangat menyukainya, tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa memberi kejutan pada suamiku dulu," ucap Shafa ragu-ragu.


"Apa? Kenapa sayang?" Sontak Kak Anggie menoleh ke arah Shafa.


Kak Anggie memandang wajah Shafa yang sedikit pucat dan terlihat mata wanita cantik itu terlihat sembab seperti habis menangis. Walaupun senyuman bibirnya terus mengembang tapi dia tidak bisa menyembunyikan matanya yang penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


"Suamiku ada pekerjaan penting di luar kota Kak, dia tidak bisa memenuhi ajakanku untuk makan malam hari ini, sepertinya lain hari saja aku memberi kejutan padanya,"


"Lalu kamu akan terus merahasiakan kehamilanmu dari suamimu? Sebaiknya suami harus segera tahu kehamilan istrinya karena itu adalah berita yang sangat membahagiakan!"


"Apa ada masalah sayang? Setahuku suamimu tidak mungkin mementingkan pekerjaannya daripada kamu, kamu selalu bercerita kalau suamimu sering mengirimkan asistennya saat berkerja diluar kota jika ada hal penting mengenai dirimu," tanya Kak Anggie menyelidik.


"Sepertinya memang sangat penting Kak, makanya dia harus berangkat langsung," ucap Shafa yang berpura-pura yakin.


"Katakan padaku apa yang diperbuat suamimu sampai kau menangis?!" celetuk Kak Anggie dan membuat Shafa terkejut.


"Aahh tidak Kak, kami tidak sedang ada masalah, aku menangis hanya karena tidak ingin ditinggal ke luar kota saja tadi," ucap Shafa mencari-cari alasan tak berani memandang kakak angkatnya itu.


"Jangan bohong sayang! Aku ini kakakmu! Walaupun kita tidak dilahirkan di rahim yang sama tapi hati kita ini selalu terhubung, aku bisa merasakan sakit yang ada didalam hatimu saat ini!" Kak Anggie masih belum percaya.


"Tidak kakak, aku baik-baik saja!"


Shafa menunduk pasrah, dia tidak bisa membendung rasa sedihnya. Dia mulai meneteskan airmata yang sedaritadi dia tahan.


"Sayang.. "


Kak Anggie melihat Shafa yang sudah menangis dan memeluknya dengan erat. Mengelus-elus punggung adiknya dengan sayang.


"Menangislah sayang.. Luapkan kesedihanmu! Luapkan semuanya! Kakak selalu bersamamu, kakak sangat menyayangimu!" ucap Kak Anggie penuh sayang dan Shafa semakin mengeraskan tangisannya.


Hesti naik ke atas dan heran melihat Shafa menangis dipelukan Bossnya itu.


Hesti memandang mata Bossnya dengan penuh tanya, dan Kak Anggie hanya menempelkan jarinya didepan mulutnya.


Kemudian Shafa menceritakan kejadian saat dia pulang ke Mansion tadi kepada Kak Anggie dan Hesti. Sontak kedua wanita dihadapannya itu terkejut tak percaya. Mereka ikut merasakan kesedihan yang Shafa alami, Mereka kembali menangis dan berpelukan bersama. Kak Anggie dan Hesti mencoba menghibur Shafa dan menenangkan hatinya dan Shafa pun sedikit lega bisa menceritakan kesedihannya pada mereka.


Shafa akan pamit pulang, dia akan pulang sementara ke rumah ibunya. Kak Anggie menawarkan untuk mengantarnya pulang tapi Shafa menolaknya dengan halus.


***


Shafa telah sampai dirumah ibunya. Dan mengetuk pintu rumah ibunya.


"Tokkk.. Tokkk.. Tokkk... "


"Assalamu'alaikum bu.. "


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. " jawab Bu Farida dari dalam rumah.


Bu Farida tersenyum bahagia melihat putrinya berkunjung ke rumahnya dan memeluk putrinya penuh dengan sayang.


"Bagaimana kabarmu sayang?"


"Alhamdulillah baik-baik saja bu.. Ibu ini bertanya seolah sudah lama tidak bertemu denganku padahal dua hari lalu kita bertemu, " Ucap Shafa menggoda ibunya.


"Aku hanya memastikan putri kesayangan ibu selalu baik-baik saja setiap saat," ucap Bu Farida memeluk putrinya lagi. Entah ada perasaan apa, tapi Bu Farida merasa telah terjadi sesuatu pada putrinya.


"Aku selalu baik-baik saja ibu, ibu tenang saja, apa ibu juga baik-baik saja?"


"Alhamdulillah.. Seperti yang kamu liat Ibu sehat Wal'afiat,"

__ADS_1


"Alhamdulillah.. "


Ibu Farida kemudian mengajak putrinya masuk ke kamarnya.


__ADS_2