
"Apa Kakak iparmu hamil?" seru Myra lalu memandang Jessie dengan raut bahagia dan Jessie mengangguk, "Barra.. Selamat atas kehamilan istrimu sayang!" Myra memeluk putranya yang masih terduduk di lantai dan Jessie pun ikut memeluk kakaknya.
"Tapi aku masih belum bisa menemukannya ma, apa aku bisa bertemu istriku nantinya? Aku ingin sekali meminta maaf padanya," Barrack putus asa.
"Berdoalah dan berusaha sayang, yakinlah kalau memang kalian masih ditakdirkan berjodoh, kalian pasti bertemu bagaimanapun caranya, kita harus lebih giat mencarinya pasti kita akan menemukan mereka," ucap Myra meyakinkan putranya.
***
Setelah beberapa jam di Jet pribadi milik Tuan Henry, Shafa dan keluarganya telah tiba di London Heathrow Airport, mereka dijemput oleh anak buah Tuan Henry. Memerlukan waktu sekitar satu jam untuk menuju Mansion Tuan Henry. Mansion itu lebih besar dari milik Barrack, terlihat mewah dan indah.
Zain berjalan masuk menuju Mansion, diikuti kakak dan ibunya dan ternyata Tuan Henry sudah berada disana untuk menyambut Zain dan keluarganya.
"Good evening sir! How are you today?" Zain menyapa calon Bossnya dan menyalaminya tapi Tuan Henry malah memeluknya sekilas.
"Wahhh kalian sudah datang ternyata, aku luar biasa baik dan begitu bersemangat Zain, karena menunggu kedatanganmu," Zain hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Tuan Henry, "Mari silahkan duduk!"
"Tuan, Terimakasih banyak karena sudah membantu kami keluar dari negara kami dan mengijinkan kami menginap di Mansion anda, saya sangat beruntung bertemu anda," Zain mengucapkan terimakasihnya dengan tulus.
"Sama-sama Zain, Aku juga beruntung bertemu denganmu, kalau aku tidak bertemu denganmu dan Shafa, mungkin aku sudah berbeda alam dengan kalian," Tuan Henry terkekeh dan ketiga orang didepannya pun ikut terkekeh.
"Anda bisa saja Tuan, oohh iya kenalnya ini ibu saya Tuan," Zain memperkenalkan ibunya kepada Tuan Henry. Kemudian mereka saling mengenalkan diri mereka masing-masing dan melempar senyuman.
"Terimakasih Tuan, anda sudah membantu kami, entah apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan anda," ucap Bu Farida pada Tuan Henry.
"Tidak Nyonya, saya yang seharusnya lebih berterimakasih, berkat pertolongan putra-putri anda, saya bisa terlepas dari maut, jadi anda tidak perlu sungkan," ujar Tuan Henry dan Bu Farida mengangguk tersenyum.
"Shafa, bagaimana kabarmu? Bagaimana menurutmu berada disini?" tanya Tuan Henry pada Shafa.
Sebenarnya Shafa daritadi hanya memperhatikan sebuah foto besar yang terpajang didinding, foto Tuan Henry bersama laki-laki yang tidak asing baginya. Dia tidak begitu memperhatikan ucapan laki-laki paruh baya didepannya, sampai Zain menyenggol bahunya dan menyadarkan lamunannya.
"Ahh iya.. Maaf Tuan saya tidak begitu memperhatikan, Alhamdulillah kabar saya baik dan saya rasa saya akan sangat betah berada di negara ini, sangat indah dan menakjubkan," ucap Shafa dengan mata berbinar.
"Maafkan saya Tuan kalau saya lancang menanyakan, kalau boleh tahu siapa laki-laki yang berada disebelah anda itu?" Shafa bertanya dengan ragu-ragu.
"Dia adalah putraku satu-satunya, Robert Cristian Stewart, dia menetap di negara kalian dan mengembangkan Perusahaan musik dan periklanan milikku. Dia sangat menyukai dunia intertainment jadi Dia yang meneruskan Perusahaan yang aku dan istriku rintis dulu, apa kamu mengenalnya Shafa?" Tuan Henry balik bertanya.
__ADS_1
"Ternyata benar kata pepatah "Dunia tak selebar daun kelor" Kami sudah mengenal sejak lama, walaupun kami tidak intens bertemu tapi kami sering berkomunikasi soal musik, dia orang yang terbuka dan menyenangkan, sungguh tak disangka dia adalah putra anda," Shafa tersenyum lucu.
"Waahhh bagus sekali, setidaknya dia tidak akan bosan berada disini saat mengetahui teman se-frekuensinya juga berada disini, pasti dia akan senang bertemu denganmu," kata Tuan Henry antusias dan Shafapun merasakan hal yang sama.
Shafa melihat Tuan Henry adalah orang yang menyenangkan sama seperti putranya. Kemudian mereka berbincang-bincang untuk lebih mengakrabkan diri mereka.
Setelah satu jam berlalu, Tuan Henry mempersilahkan mereka beristirahat di kamar yang telah disediakan dan menyuruh pelayanannya mengantarkan Shafa dan Bu Farida, sedangkan Zain diajak Tuan Henry ke ruang kerjanya.
"Zain, aku sudah mempersiapkan rumah ditengah perkampungan untuk kalian, kampungnya hanya berjarak 15 kilometer dari pusat kota, Aku berharap kamu dan keluargamu akan betah berada disana, pekerjaanmu bisa dimulai pada besok lusa, dan kuliahmu juga sudah aku daftarkan, semua yang aku berikan tidak akan berpengaruh pada gaji yang aku berikan padamu," ucap Tuan Henry dengan tenang.
"Tuan, apakah ini tidak terlalu berlebihan? Rencananya kami mau menyewa rumah yang murah saja agar tidak merepotkan anda lagi, saya rasa bantuan anda sudah sangat banyak kepada kami, saya tidak bisa menerima bantuan lebih banyak lagi Tuan, saya akan banyak berhutang budi pada anda," Zain menolak halus pemberian Bossnya.
"Aku tidak bisa ditolak Zain, lagi pula aku kan sudah berjanji padamu akan memberikan fasilitas terbaik untukmu dan keluargamu, yang aku berikan itu bukan apa-apa dibandingkan pertolonganmu dan kakakmu padaku, Nyawaku tidak bisa dibandingkan dengan materi Zain, jadi jangan menolak yang aku berikan, aku berharap kamu tidak akan pernah mengecewakanku dan aku percaya kemampuanmu," Tuan Henry akan beranjak dari duduknya.
"Tapi Tuan.. "
"Sudah.. Jangan pikirkan lagi! Beristirahatlah dulu dan simpan tenagamu, aku rasa kakak dan ibumu akan senang jika diajak berkeliling kota ini," Tuan Henry berjalan keluar dan menepuk bahu Zain sekilas.
"Baik Tuan," Zain mengikuti Tuan Henry dari belakang dan menuju kamar yang telah disediakan.
***
Di Mansion Keluarga Hansel, terlihat Barrack tidak bersemangat makan, dia melamun dan hanya mengaduk-aduk makanannya, dia sudah terbiasa ditemani dan dilayani istrinya saat makan. Semua hal yang berada didalam Mansionnya, hanya membuatnya teringat pada Shafa istrinya. Kemudian Barrack memutuskan pergi ke kantornya, dia berfikir mungkin dengan bekerja dia bisa sejenak melupakan rasa rindunya pada Shafa.
"Barra.. Kenapa kamu tidak menghabiskan makananmu?" tegur Myra.
"Aku sedang tidak berselera makan ma, nanti aku sarapan dikantor saja. Papa kemana ma? daritadi aku tidak melihatnya sarapan bersama kita? Apa papa masih sangat marah padaku, sampai tidak ingin melihatku?" tanya Barrack pada mamanya.
"Aahh iya, aku baru sadar papa kan juga di rumah, harusnya papa ikut sarapan bersama kita kan ma?" Jessica ikut bertanya.
Seperti perkiraan Barrack, papanya memang masih sangat marah padanya apalagi mendengar menantu kesayangannya sedang mengandung semakin membuatnya marah pada putranya. Jason terpaksa kembali ke luar negeri untuk meredam kemarahannya pada putranya karena permintaan Myra, dia hanya tidak ingin melukai hati istri tercintanya. Myra merasakan kalau Barrack juga sangat terpuruk dan menyesali kejadian ini, baginya sudah cukup penderitaan putranya, dia tidak ingin kemarahan suaminya membuat putranya semakin putus asa.
"Papamu sudah kembali ke Inggris kemarin malam sayang, ada beberapa pekerjaan yang belum dia selesaikan, sudahlah jangan pikirkan papamu nanti juga kemarahannya segera hilang! Yang terpenting kamu jangan mengecewakan papa lagi dan mulai fokuslah mencari istrimu," kata Myra menenangkan putranya dan Barrack pun mengangguk.
"Aku kan masih kangen sama papa ma! Aku masih ingin peluk papa, bobo bertiga sama papa dan mama," ucap Jessie mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Iya sayang, beberapa hari lagi papa kan pulang lagi, mungkin tinggal sedikit saja pekerjaannya akan selesai," ucap Myra mengelus pipi putrinya penuh sayang.
"Dasar putri manja!" Barrack mencibir dan mengacak gemas rambut adiknya.
"Biarin! Weekkk!" Jessie menepis tangan kakaknya sembari menjulurkan lidahnya.
"Baiklah ma, aku berangkat kerja dulu!" Pamit Barrack lalu mencium tangan mamanya dan berjalan pergi.
***
Di Perusahaan milik keluarga Hansel, Barrack sedang berada di depan laptopnya. Dan asisten Tomy menghampirinya.
"Boss, Bagaimana bagaimana kabar anda hari ini? Jangan terlalu larut dalam kesedihan Boss! Saya yakin Mark dan anak buah anda akan segera menemukan nona muda, ada seseorang yang harus anda urus dulu saat ini, atau aku saja yang menghabisinya Boss!" ucap Tomy yang berdiri didepan Barrack.
"Apa yang kamu maksud Emir?" Tanya Barrack dan Tomy pun mengangguk. "Tidak usah kamu memb*nuhnya Tom, aku akan beri pelajaran saja padanya, memb*nuhnya tidak akan membuat istriku pulang, aku juga tidak ingin berbuat diluar batas dan berdampak pada istri dan calon bayiku nantinya," kata Barrack dengan tatapan kosong.
"Calon bayi?" Tomy mengernyitkan dahinya, "Apa Nona muda sedang hamil Boss?" tanya Tomy penasaran.
"Iya Tom, bodohnya aku malah baru tahu istriku hamil, pantas dia sering muntah-muntah sehabis makan, aku tidak tahu kalau itu efek dari kehamilannya, aku kira hanya masuk angin biasa aku malah menyuruhnya minum obat anti masuk angin," kata Barrack tersenyum getir mengingat istrinya.
"Wahhh.. Ini berita bagus Boss, akhirnya nona mengandung calon bayi anda, selamat Tuan Muda saya ikut senang mendengarnya," Tomy berkata dengan berbinar, "Semoga nona muda dan bayi anda baik-baik saja dan anda segera menemukan mereka,"
"Amiiinnn.. Terimakasih doamu Tom, kita akan ke markas nanti sore," ujar Barrack dan Tomy pun mengangguk.
Saat sore menjelang Barrack dan Tomy sudah berada di Markas mereka. Barrack terlihat memukuli Emir sampai berdarah, wajah tampannya sudah tidak berbentuk lagi. Badannya memar-memar akibat hantaman bertubi-tubi dari Barrack.
"Dasar licik! Kamu kira bisa membuat istriku jatuh cinta! Hah?! Tidak semudah itu b*doh!!" Teriak Barrack sembari mencengkeram dagu Emir dengan kuat, "Setelah ini jangan mengusik keluargaku lagi, kalau kau masih berani aku tidak akan segan-segan menghabisimu!" ancam Barrack.
Emir sudah tidak berdaya, menjawab pun dia tidak mampu.
"Tom bereskan ba*****gan ini, hancurkan karirnya dan buat dia tidak bisa masuk lagi ke negara kita," seru Barrack kemudian berjalan pergi menuju Mark.
"Siap Boss, serahkan serangga kecil ini pada saya," Tomy tersenyum menyeringai.
"Bagaimana Mark?" tanya Barrack pada Mark.
__ADS_1