Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
50.Perubahan


__ADS_3

"Semua karena kesalahan saya Abah, saya tidak tahu harus mencarinya dimana lagi, tapi saya sadar semua yang menimpa saya saat ini adalah hukuman Allah untuk saya, pria seperti saya rasanya tidak pantas menjadi suami wanita baik seperti dirinya,"


"Dulu saya lalai untuk mengingat Allah saya selalu mengesampingkan ibadah saya, saya juga masih suka minum-minuman beralkohol saat bersama beberapa kolega saya, bahkan saya sering bertemu mantan pacar saya tanpa sepengetahuan istri saya," ucap Barrack dengan nada menyesal.


"Kalau kamu merasa ini adalah Hukuman Allah untukmu dan kamu sadar tidak pantas untuk istrimu yang baik itu, lalu apa yang masih kamu harapkan anak muda?,"


"Deggg.. "


Dada Barrack seperti ditusuk benda tak kasat mata, rasanya sangat sakit. Tubuhnya mulai menegang dan dingin yang menjalar keseluruh tubuhnya. Kata-kata Abah seolah menghujam jantungnya.


"Apa maksud Abah saya harus merelakan dia pergi?" Tanya Barrack dan Abah Ali hanya mengangguk. "Jujur saya sangat mencintai istri saya Abah, saya tidak bisa kehilangan dia," ucap Barrack yang tertunduk lesu.


"Hanya untuk sementara saja anak muda, relakan sementara waktu istrimu pergi, sampai kamu siap untuknya, siap menjadi Suami dan Ayah yang baik untuk Istri dan calon putramu, mulailah menjadi pribadi yang lebih baik. Mendekatlah pada Allah, cintai istrimu karena cintamu pada Allah. Serahkan semua pada Allah, jika kalian masih berjodoh pasti Allah akan mempertemukan kalian dengan cara yang indah," ucap Abah menasehati.


"Jika saya merindukannya apa yang bisa saya lakukan Abah, mungkin dulu jika saya sedang sedih atau memikirkan sesuatu yang berat, pelarian saya malah ke Club walaupun saya tahu semua itu tidak membuat perasaan saya lebih baik," kata-kata Barrack terdengar lemah dan dia menghela nafasnya panjang.


Abah tersenyum dan menepuk bahu Barrack sekilas, kemudian beliau berkata, "Jika rindu dan menanti itu berat bagimu, maka bersabarlah dalam doa, sebut namanya di sepertiga malammu, karena Allah Maha membolak-balikan hati manusia, memiliki pasangan itu bukan hanya tentang cinta dan kerinduan melainkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, perbaiki dirimu dan bersabarlah, Allah lebih tahu yang terbaik untukmu,"


Barrack mengangguk dan mendengar dengan khusuk nasehat dari Abah. Dia menganggap semua adalah hukuman sekaligus hidayah dari Allah untuknya, dia bersyukur Allah masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri.


"Terimakasih Abah, berkat anda suasana hati saya lebih tenang dan saya merasa lebih baik," ucap Barrack dengan tulus dan Abah Ali pun tersenyum mengangguk.


"Kebetulan besok saya libur kerja, bolehkah saya menginap disini untuk bantu-bantu Abah di pesantren?"


"Wahh.. Boleh sekali nak, Abah malah senang ada yang mau berkunjung ke pesantren kecil ini, pasti anak-anak sangat senang dengan kedatangan orang baru," Abah tersenyum berbinar dan Umi yang mendengar dari dapur ikut tersenyum pula.


"Terimakasih sudah mengijinkan saya menginap Bah, kalau boleh tahu sejak kapan Abah membangun pondok pesantren ini?"


"Pondok pesantren ini dibangun sekitar 45 tahun lalu oleh Abah saya, Pondok ini kami khususkan untuk anak-anak yang sudah tidak memiliki Ayah ataupun tidak memiliki ibu ataupun anak-anak yang masih memiliki orangtua tapi sudah tidak diperdulikan orang tuanya, banyak anak-anak jalanan yang memutuskan tinggal disini dan kami menyekolahkan mereka sampai tamat SMA. Setidaknya sebagai bekal dasar untuk mereka untuk melanjutkan kuliah ataupun bekerja, Alhamdulillah beberapa dari mereka menjadi anak-anak yang sukses dalam agama dan pekerjaan mereka, walaupun pekerjaan mereka padat tapi mereka selalu menyempatkan berkunjung untuk "adik-adik" mereka di Pondok yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang." Abah bercerita sembari menerawang.


"Jadi bisa disebut ini Pondok Pesantren untuk anak yatim piatu ya Bah?" tanya Barrack dan Abah Ali pun mengangguk.

__ADS_1


"Sungguh mulia hati Abah, memberikan kasih sayang dan segala kebutuhan mereka disini padahal Abah bukan siapa-siapa mereka, saya doakan Abah dan Umi sehat selalu dan dimudahkan dalam segala hal,"


"Amiinnn.. Ya Robbala'laminn.. " ucap Abah dan Umi bersamaan.


Umi Ida berjalan menghampiri mereka dan mempersilahkan kedua laki-laki didepannya untuk makan malam.


"Abah makan malam sudah siap, ajaklah nak Barrack makan bersama kita Bah," ucap Umi Ida penuh kelembutan dan Abah pun mengangguk.


"Mari nak, kita makan bersama, anggap saja dirumah sendiri, tidak usah sungkan," ucap Abah Ali pada Barrack.


"Baik Abah, terimakasih,"


Mereka bertiga pun makan satu meja bersama, walaupun hanya makan lauk tahu, tempe dan telur ceplok tak lupa sambal teri dengan lalapan daun ketela.


(Makanan terlezat versi Mamak Author nih say.. Hihihi😅)


Tapi membuat Barrack bersemangat makan. Awalnya Barrack makan menggunakan sendok, tapi Abah memberi tahu jika makan sambal dengan tangan itu rasanya sangat nikmat, dan yang terpenting merupakan salah satu sunah dari Baginda Rosulullah.


Barrack terlihat menikmati makanan sederhana itu, makan dengan lahap dan sedikit tergesa-gesa karena seharian dia tidak berselera makan. Makanan itu terasa sangat nikmat di lidahnya, dia hampir tidak pernah dia memakan menu sederhana seperti itu karena dia terbiasa makan dengan menu ala western.


"Ahhh iya maaf Umi, habis makanannya sangat enak, saya tidak pernah makan yang seperti ini, apakah saya boleh tambah lagi Umi?" tanya Barrack tersenyum nyengir, sedangkan Umi dan Abah tersenyum simpul.


"Umi kira tadi kamu tidak suka karena menu kami hanya menu seadanya, Silahkan Ambil saja nak, ini juga masih banyak," ujar Umi Ida.


"Makanlah sepuasnya nak, saya sudah berkata anggap saja dirumah sendiri," Abah menambahkan.


"Terimakasih Abah," kata Barrack kemudian melanjutkan makannya.


***


Beberapa hari telah berlalu kini Shafa dan keluarganya telah pindah di sebuah rumah pemberian Tuan Henry. Shafa menikmati masa kehamilannya, Bu Farida mulai belajar bahasa Inggris untuk berinteraksi dengan para tetangga dan Zain mulai bekerja di kantor Tuan Henry sebagai asisten pribadinya.

__ADS_1


Shafa mulai menerima kehidupan barunya tanpa suaminya, walaupun terkadang dia sangat merindukan suaminya tapi dicoba memendam segala kerinduan dan kesedihannya. Dia tidak ingin membuat ibu dan adiknya ikut bersedih.


Sedangkan Barrack selalu menyempatkan berkunjung ke pondok pesantren milik Abah Ali seminggu dua kali. Dia menemani anak-anak kecil yang tidak memiliki ayah dan ibu disana, mencurahkan kasih sayangnya pada anak-anak yang haus kasih sayang itu. Bersama mereka Barrack bisa sejenak tertawa lepas dan bahagia.


Barrack juga membangun play ground untuk anak-anak kecil disana, terkadang dia ikut bermain bola bersama anak-anak di lapangan yang berada di tengah pondok pesantren selepas dia pulang kerja, bahkan dia juga mengajak Tomy ikut bermain bola bersama mereka.


Tak jarang Barrack duduk melamun memikirkan kabar istri dan calon bayinya, dia berfikir bagaimana kabar istrinya? Apakah dia dan calon buah hatinya sehat? Apakah istrinya bahagia jauh darinya atau merasakan kesedihan yang sama dengannya? Semua pertanyaan itu terus berputar diotaknya.


Asisten Tomy, Abah dan Umi merasa kasian melihat Barrack yang seperti itu. Tapi berkat anak-anak di pondok Barrack sedikit melupakan kesedihannya.


Tomy merasakan perubahan Tuan mudanya, Barrack yang sekarang lebih dewasa, dia rajin beribadah dan dia tidak pernah pergi ke club lagi. Barrack lebih memilih menghabiskan waktunya bersama anak-anak kecil di pondok pesantren daripada melakukan hal-hal yang tidak berguna. Setiap hal selalu Tomy ceritakan pada Tuan besarnya dan tentu saja Jason sangat bahagia mendengar putranya benar-benar berubah.


***


Beberapa bulan pun berlalu tapi tetap saja Barrack tidak bisa menemukan keberadaan Shafa, seolah-olah jejaknya hilang ditelan bumi. Dia pasrah dan berserah diri pada Allah, dia meyakini jika memang masih berjodoh pasti suatu saat nanti akan bertemu juga.


Sore itu dia dan asistennya datang ke Pondok pesantren seperti biasanya. Sebelum dia masuk dari luar dia mendengar Abah sedang berdebat dengan seseorang. Terdengar dari suara Abah tenang dan sabar sedangkan lawan bicaranya berbicara dengan keras dan emosi.


"Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus mengembalikan tanah milik Abah saya itu, kalau tidak saya akan menuntut kamu, karena saya pemilik sah sertifikat tanah milik orang tua saya!" hardik laki-laki itu.


"Tapi bagaimana saya mengembalikannya Pak haji? sedangkan diatas tanah itu sudah berdiri bangunan asrama anak-anak." ucap Abah dengan tenang walaupun dalam hatinya sangat gelisah.


"Itu bukan urusanku, yang aku mau tanah itu harus kembali padaku, walaupun harus dengan cara menghancurkan bangunannya, aku tidak peduli!"


"Astaghfirullahalazim.." Abah dan umi beristighfar lirih.


"Pak Haji Hasan mohon anda pikiran baik-baik, apakah anda tidak kasihan melihat anak-anak di pondok pesantren ini? Mereka tidak memiliki tempat untuk tinggal, hanya disinilah mereka memiliki keluarga dan juga dulu mendiang Abah anda yang mewakafkan tanah itu untuk pondok kepada mendiang Abah saya,"


"Enak saja mewakafkan.. Semua harta warisan Abah saya adalah milik saya dan tidak untuk berikan pada orang lain, atau itu hanya alasanmu saja agar aku merelakan tanah itu!" ucap Haji Hasan dengan sinis.


"Astaghfirullah.. Kenapa anda berfikiran buruk pada saya Pak Haji? Saya hanya mengatakan hal yang sebenarnya seperti yang saya lihat, saya ingat waktu Abah anda mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan pondok. Memang hanya ada kami bertiga saja dan sayangnya tidak ada saksi lain, karena Abah saya awalnya hanya meminta pendapat Abah anda untuk pembangunan Pondok pesantren, saya ingat betul saat itu saya sudah duduk di bangku kelas 3 MTS,"

__ADS_1


"Omong kosong! Sudah jangan banyak alasan.. aku mau dalam 3 hari kedepan tanah itu sudah kembali rata seperti semula karena aku mau menjualnya! Kalau perlu aku bawakan buldozer untuk meratakan tanah itu! Kurang baik apalagi aku, bahkan aku tidak menuntut biaya sewa akan tanah yang sudah kalian pakai berpuluh-puluh tahun! Assalamualaikum!" ucap Haji Hasan kemudian berlalu pergi meninggalkan Abah dan Umi yang masih shock sembari beristighfar tanpa henti.


Barrack dan Tomy yang masih berdiri diluar rumah Abah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat Haji Hasan berjalan melewati mereka dengan amarahnya.


__ADS_2