Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
53.J&J part 3 (Obsesi)


__ADS_3

Pagi itu Robert datang ke rumah Shafa, Rey sangat senang dengan kedatangan Robert. Dia langsung memeluk dan meminta gendong pada Robert. Shafa dan Bu Farida tersenyum melihat sikap manja Rey. Robert menciumi seluruh wajah dan tubuh Rey bertubi-tubi, dia sangat menyayangi bayi laki-laki itu dan menganggap seperti putranya sendiri.


"Shafa.. semua karyawanku sudah aku beritahu jika besok ada CEO baru yang akan bertugas di Perusahaanku yang berada disini. Sudah setahun ini kamu belajar mengenai perusahaan dan beberapa test dariku menghadapi kendala-kendala perusahaan secara realistis, aku yakin kamu sudah siap terjun langsung di Perusahaan, semoga ini adalah awal kesuksesanmu!" ucap Robert menyemangati.


"Terimakasih Kak Robert sudah mempercayakan perusahaan kakak padaku, aku akan bekerja dengan baik dan memajukan perusahaan kakak dengan kemampuanku," ucap Shafa dengan tulus dan Bu Farida ikut bahagia.


"Sama-sama Shafa, selama ini aku pusing dan lelah bolak-balik Indonesia-Inggris untuk mengatur beberapa perusahaan sendirian karena aku tidak mudah percaya pada orang lain dan sekarang akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega memiliki orang kepercayaan disini,"


Shafa mengangguk tersenyum mendengar ucapan Robert dan mereka mulai berbincang membicarakan perusahaan, sedangkan Bu Farida mengambil Rey yang tertidur di pangkuan Robert dan akan menidurkan Rey di kamarnya.


"Lihatlah bayi kecilku sangat manis walaupun matanya sedang terpejam,"


"Sayang paman rindu terus padamu! Nanti kapan-kapan paman ajak ke negara asalmu untuk jalan-jalan ya, biar kamu melihat semua keindahan di negaramu!" Gumam Robert pada bayi tampan yang sedang tertidur itu. Robert menciumi pipi gembulnya lalu memberikannya pada Bu Farida.


***


Di sebuah Cafe Jessica tak sengaja bertemu James dan Renata kekasihnya, James terlihat sangat perhatian pada Renata, sesekali mencium tangan kekasihnya itu dan menyuapi Renata dengan mesra.


Jessica mengepalkan tangannya, dia sangat cemburu melihat James bersama kekasihnya, hatinya hancur melihat kemesraan pasangan itu didepan matanya. Dia jarang melihat James berada di tempat umum dengan kekasihnya itu, karena papa dan mamanya masih menolak hubungan James dan Renata sampai saat ini.


Sudah Dua tahun ini Jessica terus mendekati James, mendatangi James di Apartemennya dengan alasan yang remeh seperti mengajaknya mabar atau sekedar meminta diajari tentang mata kuliah yang Jessie pura-pura tidak mengerti, karena dulu James juga mengambil jurusan yang sama dengan Jessie, dan tentu saja semua itu membuat James sangat risih dan kesal karena terus Jessie mendekatinya dengan gigih. Tapi James juga tidak bisa menolak kedatangan Jessie karena Jessie adik sahabatnya.


Jessie juga sering kali menguntit kemanapun James pergi, mengawasi semua kegiatan James tanpa James mengetahuinya, Jessie begitu terobsesi untuk memiliki James, tak tanggung-tanggung Jessie sampai bertamu ke Mansion keluarga James untuk mengambil hati kedua orangtua dan kedua saudara James.


James adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamanya berumur 28 tahun, seorang wanita karir yang sukses dan cantik tapi dia belum menikah. Sedangkan adik laki-laki James terakhir seumuran dengan Jessie, adik laki-laki James tak kalah tampan dengan kakaknya tapi sifatnya sangat kekanak-kanakan dan slengek'an.


Entah kebetulan atau keberuntungan, tiba-tiba Nyonya Nadia, Mama James menelpon Jessie.


"Assalamualaikum Tante.."


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Jessie, apa kamu sibuk saat ini? Kamu berada dimana ini Jessie?" tanya Nyonya Nadia.


"Tidak tante, aku sedang senggang dan sekarang aku sedang di Emery Cafe di Mall XX, apa yang bisa saya bantu tante?" Jessie balik bertanya.


"Kebetulan aku juga berada di Mall XX sekarang, biar tante kesitu ya! Tante bosan jalan sendirian di Mall, semua teman tante pada sibuk,"


"Baiklah tante, aku tunggu!" ucap Jessie dengan bahagia.


Beberapa saat kemudian Nyonya Nadia masuk kedalam Cafe, pandangan matanya melihat seseorang yang sangat dikenalnya tapi melihat laki-laki itu dari samping. Tentu saja Nyonya Nadia sangat mengenali putranya walaupun dari samping ataupun dari belakang sekalipun.


"James, kamu disini?"


Nyonya Nadia menghampiri dan menepuk bahu James. Sontak membuat James dan Renata menjadi tegang dan gugup.

__ADS_1


"Ma.. Mama.. Dengan siapa mama kesini?" James bertanya sembari menoleh kanan kiri melihat sekitar.


Sedangkan Renata mencoba tersenyum mengangguk kepada Nyonya Nadia dan tentu saja Nyonya Nadia hanya mengacuhkannya.


"Mama sendirian saja kesini, kebetulan mama menelpon Jessie dan ternyata dia juga ada disini makanya mama mau nyamperin dia!"


"Jessie?" James mengerutkan dahinya dia binggung siapa Jessie yang mamanya maksud.


"Iya Jessica Hansel, Putri Tuan Jason,"


"Apa?! Bagaimana mama bisa mengenal bocah menyebalkan itu!" ucap James dengan nada kaget dan meledek.


Jessica yang masih bisa mendengar ucapan James hanya bisa memendam kemarahannya dalam hati, dia semakin mengepalkan tangannya dan memukul-mukulkan tangannya ke meja.


"Jaga ucapanmu James! Aku tidak suka kamu menyebut Jessie bocah menyebalkan! Dia sangat manis dan baik hati, mama sangat menyukainya!" ucap Nyonya Nadia dengan nada tinggi.


Jessie yang mendengar ucapan Nyonya Nadia seketika menjadi sangat senang, moodnya kembali baik, dia tidak menyangka Nyonya Nadia membelanya.


"Tapi ma.." James menyela.


"James! Kamu tidak perlu tahu bagaimana mama bertemu dan mengenal Jessie, yang mau mama tanyakan kenapa sampai saat ini kamu masih berhubungan dengan wanita itu!" ucapnya dengan menunjuk Renata. Dan Renata hanya menunduk malu dan menahan airmatanya.


"Mama! Aku sudah besar, aku tidak ingin mama dan papa terus mengaturku, aku berhak memilih calon istriku sendiri! Aku mencintainya ma, tolong restui hubungan kami," James memohon.


"Sekali tidak ya tidak, aku dan papamu tidak akan pernah setuju! Apa kamu mau jadi anak durhaka James! Siapa yang selama ini memberikanmu kemewahan dan kasih sayang berlimpah kalau bukan orangtua mu! Jangan hanya karena wanita seperti itu kamu jadi anak pembangkang!"


"Ma aku mohon kita bicarakan ini dirumah,"


"Sudahlah! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi! Mama mau pergi dan ingat! Jauhin perempuan itu! Atau Papamu sendiri yang akan turun tangan! Kamu pasti tahu seperti apa sifat papamu!" ucap Nyonya Nadia memperingatkan.


"Jessie.. " panggilnya lalu Jessie mendekat.


"Iya Tante.."


"Ayo kita pergi dari sini, Tante sudah tidak berselera makan disini,"


"Baik Tante.. "


Nyonya Nadia berjalan meninggalkan James, saat Jessie akan melangkah mengikuti Nyonya Nadia, James menarik kasar lengan Jessie.


"Hei Bocah! Dasar tukang ngadu! Awas saja kau! Aku akan bikin perhitungan denganmu!" ucap James menatapnya tajam.


"Apa! Aku tidak mengadukan Kak James! Enak saja menuduhku! Lepaskan!" Jessie mengelak dan menghempaskan tangan James dengan kasar lalu meninggalkan pria itu dengan kekesalannya.

__ADS_1


"S**l!" umpatnya dengan kesal.


"Sayang, tolong jangan dimasukkan hati ucapan mamaku ya! Sebenarnya mamaku adalah orang yang baik dan lembut, kita bisa memikirkan cara lain agar mereka menyetujui hubungan kita sayang," ucap James menenangkan kekasihnya.


"Mau sampai kapan sayang? Aku sudah sangat lelah dan terluka melihat sikap keluargamu, rasanya aku ingin menyerah saja! Aku sudah tidak sanggup lagi mendengar penolakan mereka James," ucap Renata sembari menangis lagi dan sontak James memeluk kekasihnya itu.


James sangat sedih melihat hubungan mereka yang selama bertahun-tahun tidak ada perubahan, dia ingin sekali membawa lari Renata pergi jauh dan menikahinya tanpa memperdulikan lagi keluarganya. Tapi apalah daya Renata tidak mungkin mau meninggalkan ayahnya, karena rasa trauma dia dan ayahnya yang telah ditinggalkan ibunya semasa dia kecil, dia berjanji akan selalu menuruti semua keinginan ayahnya dan selalu mendampingi ayahnya sampai kapanpun.


"Apa kita melakukan jalan pintas saja sayang?" ucap James ragu-ragu.


"Apa maksudmu sayang?" Renata balik bertanya dan menatap wajah James.


"Kamu harus hamil putraku, mungkin dengan itu kedua keluarga kita akan menyetujui pernikahan kita sayang!"


"Pemikiran macam apa itu James! Ayahku tidak suka aku berbuat melampaui batas! Belum tentu kalau aku hamil keluarga kita akan setuju! Bisa jadi hal yang lebih buruk bisa terjadi, aku tidak bisa membayangkan semua itu sayang,"


"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi sayang! Aku janji akan selalu menjaga dan melindungimu setiap saat, aku akan selalu disisimu!"


"Kita tidak akan tahu bagaimana akibat dari kemarahan orangtua kita sayang! Bisa jadi kita akan dipisahkan sangat jauh atau lebih buruknya lagi ayahku bisa terkena serangan jantung karena tindakan nekat kita, aku tidak mau kehilangan ayahku James,"


Ucapan Renata membuat James semakin frustasi dan dia mengacak rambutnya dengan kasar, dia tidak bisa berfikir lagi otaknya terasa buntu, setelah menyelesaikan obrolannya akhirnya James mengantar Renata pulang kerumahnya.


***


Malam pun tiba, seperti biasa Jessie dan keluarganya makan bersama dengan keluarganya. Sedangkan Barrack berada di Pondok pesantren milik Abah, karena dengan berada disana dia bisa sejenak melupakan kerinduannya akan istrinya.


Barrack memantau perkembangan Pondok pesantren yang semakin besar dan maju, para santri semakin banyak dan fasilitas pondokpun juga semakin lengkap.


"Nak Barrack.."


Abah Ali menghampiri Barrack yang sedang duduk melihat para santri sedang tadarus.


"Assalamualaikum Abah.." Barrack mengucapkan salam sembari mencium tangan Abah.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." Abah tersenyum dan mengusap kepala Barrack sekilas.


"Mari masuk ke rumahku, ayo kita makan bersama! Pasti nak Barrack belum makan kan?"


"Belum Bah.." Barrack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kemudian mengikuti Abah masuk kedalam rumahnya.


Sementara di Mansion keluarga Hansel, ketiga orang di meja itu telah menyelesaikan makan malamnya.


"Papa.. Aku ingin menikah," ucap Jessie dan membuat papanya tersedak dengan air putih yang sedang diminumnya dan Myra pun ikut terkejut.

__ADS_1


"Uhuukk.. uhukkk.. uhukk.."


"Pelan-pelan sayang!" Myra menghampiri suaminya dan menepuk-nepuk punggung suaminya.


__ADS_2