Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
49.Niat Baik


__ADS_3

"Tuan muda, kami masih belum bisa menemukan keberadaan Nona muda, kami mengecek semua keberangkatan di Bandara, stasiun, Terminal dan semua Armada transportasi tetapi tidak ada keberangkatan atas nama mereka. CCTV jalan pun sudah saya retas tapi tidak menemukan mobil yang mereka tumpangi, nomor Nona muda dan keluarganya juga sudah coba saya retas, untuk melihat panggilan, pesan apapun yang ada di ponsel mereka tapi hasilnya nihil. Sepertinya mereka dibantu seseorang yang memiliki kekuasaan untuk menghilang dari anda, jejaknya sangat susah dilacak," ucap Mark menjelaskan.


Barrack semakin frustasi, dia merasa kesempatan bertemu dengan istrinya sangat kecil, dia tidak tahu lagi harus mencarinya dimana. Dia terduduk lesu, pikirannya kosong. Sampai Tomy mendekat padanya.


"Boss, Jangan patah semangat! kami akan terus mencari Nona muda, Tuan Jason memerintahkan semua anak buahnya juga untuk mencari keberadaan istri anda, Saya tahu Tuan Besar tidak akan berhenti jadi anda jangan mengecewakan beliau," kata Tomy menyemangati.


"Aku beruntung memiliki papaku Tom, jika saja dia tidak peduli denganku, mungkin saat ini aku masih bersama wanita licik itu, aku tahu dibalik kemarahannya, dia sangat menyayangiku, tapi aku terus mengecewakannya Tom," ucap Barrack tertunduk lesu.


"Anda benar Boss, bahkan selama ini Tuan besar menyuruh anak buahnya untuk mengawasi anda dan Nona Jenny, Insting Tuan besar tidak pernah salah, dari awal beliau memang tidak menyukai nona Jenny karena kehidupannya yang terlalu bebas, tapi sayangnya anda tidak menyadari itu,"


Tomy dan Barrack sama-sama menghela nafasnya panjang.


"Tuan besar menyuruh saya dan Samuel untuk mengumpulkan bukti drama kebohongan Nona Jenny tanpa sepengetahuan anda, bahkan beliau tidak memikirkan sakitnya demi anda Boss," Tomy melanjutkan ceritanya.


"Apa papaku sakit Tom?" tanya Barrack dan Tomy Pun mengangguk, "Hmm! Anak macam apa aku ini, bahkan papaku sakit saja aku tidak tahu, malah mengecewakannya berkali-kali," Barrack tersenyum getir.


"Tuan Besar sedikit bermasalah dengan penyakit jantung dan tekanan darah beliau tinggi, tapi Sam merawat Tuan Besar dengan baik, memberikan obat dengan teratur dan mengingatkan agar Tuan besar tidak terlalu banyak pikiran," Tomy menjelaskan.


"Aku sangat berterimakasih pada Sam, bahkan jika papa lebih menyayangi Sam aku tidak akan iri, dia yang selalu mengerti dan mendampingi papa dalam keadaan apapun." Barrack terdiam sejenak memikirkan papanya," Aku akan berusaha menjadi lebih baik Tom, aku akan mengikuti apapun kemauan papa, bahkan aku ingin papa pensiun dan menikmati hidup bebasnya bersama mama, aku akan mengurus perusahaan dengan tanganku sendiri untuk keluargaku dan tentunya dibantu denganmu dan juga Sam, aku ingin papa dan mama menikmati masa tua mereka dengan bahagia," ucap Barrack dengan yakin dan Tomy tersenyum puas.


Jason pun ikut bahagia mendengar perkataan putranya yang sekarang memiliki pemikiran yang dewasa, dan ternyata semua pembicaraan Putranya dan Tomy dia telah dengarkan melalui sambungan ponsel Tomy diam-diam. Perlahan Jason memaafkan putranya walaupun dia belum ingin bertemu putranya, niat baik putranya adalah bukti putranya sangat menyayanginya.


"Saya dan Sam akan selalu mendampingi anda dalam memajukan perusahaan Boss," ujar Tomy.


"Terimakasih Tom.. Mark tolong kamu pantau terus siapa tahu ada sedikit petunjuk mengenai keberadaan istriku! Aku mau pergi dulu," ucap Barrack dan berlalu pergi.


"Baik Boss," ucap Mark dan Tomy sembari mengangguk sekilas.


***


Sementara di Kota London, Zain, Shafa dan Bu Farida berkeliling Kota London diantarkan supir Tuan Henry dan seorang Tour Guide. Pertama-tama mereka mengunjungi Istana Ratu Inggris di Buckingham palace, terlihat diluar istana sangatlah bagus dengan penjaga yang memakai seragam berwarna merah khas kerajaan dan berjejer dengan rapi. Tour guide itu membawa mereka pagi-pagi kesana agar bisa menyaksikan upacara pergantian penjaga yang selalu dinantikan para pengunjung.


source pict: By Google


Buckingham Palace




Mereka begitu takjub melihat istana yang besar dan megah itu, banyak para wisatawan yang ingin menyaksikan upacara itu juga. Setelah puas berfoto dan melihat kemegahan istana itu, Tour guide membawa mereka ke The Green Park yang tak jauh dari sana dan melihat keindahan taman yang didominasi warna hijau itu. Sangat indah dan menyejukkan mata.

__ADS_1


source pict : By Google



Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah museum terkenal disana "The British Museum", Tour guide menceritakan sejarah kebudayaan Inggris dan memperlihatkan barang-barang bersejarah disana. Dan lagi-lagi mereka semakin takjub dengan negara yang mereka tinggali saat ini. Mereka berkeliling Museum tanpa rasa lelah dan lapar sampai Shafa menyadari perutnya sudah berbunyi minta diisi.


source pict : By Google


The British Museum



"Ibu aku lapar," Shafa berbisik pada ibunya.


Zain dan Tour guide tersenyum mendengar ucapan Shafa walaupun terdengar pelan tapi perkataannya masih bisa didengar.


"Mari kita makan siang dulu Nona, anda ingin ke restoran mewah atau ke pusat street food di kota ini?" tanya Tour guide.


"Aku ingin pergi ke pusat street food saja, pasti ada beragam makanan disana, membayangkan saja aku sudah lapar," ucap Shafa antusias sembari mengigit jari telunjuknya.


"Baiklah nona, saya akan membawa anda ke Borough Market,"


"Baiklah ayo mari kita jalan sekarang, cacing diperutku terus berdemo daritadi," Shafa tersenyum nyengir sembari berjalan didepan mereka.


Setelah beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai di Borough Market yang terkenal dengan pasar tertua dan terbesar di Kota London, berbagai macam makanan jalanan yang lezat dan kerajinan ada disana.


Source pict : By Google



Shafa terlihat bahagia dan tak sabar ingin memakan semua makanan itu, segala macam makanan ingin dia beli dan dicicipi. Zain dan Bu Farida ikut bahagia melihat Shafa yang tersenyum bahagia.


Beberapa makanan telah Shafa coba sampai dia benar-benar kenyang Tapi sayangnya saat semua makanan sudah masuk ke perutnya hanya berakhir di kamar mandi. Shafa memuntahkan semuanya, Zain dan Bu Farida hanya bisa kasian sekaligus tertawa melihat kebiasaan ibu hamil itu.


"Sabar ya sayang, ini hanya terjadi di trimester pertama, kamu jangan terlalu kenyang makan, itu akan membuatmu semakin mual," kata Bu Farida yang memijat lembut tengkuk putrinya.


"Makanya makannya pelan-pelan kakak! Jangan serakah! Lihat akibatnya, semuanya pergi dari perut kakak," goda Zain dan Shafa hanya mengerucutkan bibirnya.


Setelah puas seharian jalan-jalan akhirnya mereka telah sampai di Mansion Tuan Henry dan kembali beristirahat.


***

__ADS_1


Mobil Barrack melaju di jalanannya, dia terus melaju jauh meninggalkan pusat kota. Sampai dia berhenti di sebuah Masjid yang sangat indah di tengah sebuah perkampungan dan disebelahnya berdiri sebuah pondok pesantren yang tidak begitu besar. Terlihat disana para santri dan masyarakat keluar dari Masjid setelah menunaikan ibadah mereka.


Hati Barrack begitu tenang melihat pemandangan yang ada didepannya. Dia ingin masuk untuk beribadah, tapi dia ragu. Entah kapan dia terakhir masuk ke sebuah masjid, diapun sampai lupa. Dia sadar selama ini dia jauh meninggalkan Tuhannya, dia beribadah jika saat istrinya menyuruhnya saja. Dia melihat dari luar Masjid seoarang Kyai memberikan tausyiah kepada muridnya dan para jemaah, Dia pun ikut mendengarkan.


Dan sesekali Sang Kyai itu melihat Laki-laki berparas bule sedang duduk melihatnya dari luar Masjid. Setelah Sang Kyai usai memberikan tausyiahnya, Dia berjalan menghampiri Barrack yang masih duduk dengan pandangan kosongnya.


"Assalamu'alaikum.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. " sapa Sang Kyai.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Pak Kyai maaf jika keberadaan saya menganggu aktivitas anda," ucap Barrack yang sedikit merasa tidak enak.


"Tidak sama sekali anak muda, Apakah kamu muslim nak?" tanya Sang Kyai yang memandang pria asing didepannya.


"Alhamdulillah saya muslim Pak Kyai," ucap Barrack dengan yakin.


"Kenapa tidak ikut masuk ke dalam Masjid?"


"Terus terang saya sudah lama tidak ke masjid Pak Kyai, saya bukan pria yang baik dan dosa saya begitu banyak, saya merasa tidak pantas masuk ke dalam rumah Allah ini,"


"Jangan berkata seperti itu nak, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Allah selalu membuka pintu Taubat kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin Bertaubat dan kembali ke jalan-Nya," Barrack mengangguk patuh dengan ucapan Sang Kyai, "Oh iya.. Panggil saya Abah Ali, semua orang disini memanggil saya begitu, Siapa namamu anak muda? Aku lihat kamu sepertinya bukan penduduk sini,"


"Nama saya Barrack, Abah.. Saya berasal dari ibu kota,"


"Sepertinya aku lihat kamu sedang membutuhkan teman curhat anak muda, Hmm.. Kamu belum Sholat kan?" tebak Abah Ali dan Barrack hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Mari masuk ke Masjid dan tunaikan ibadahmu dulu, nanti kita akan berbicara didalam rumahku,"


"Baik Abah," ucap Barrack mengangguk patuh.


Beberapa menit berlalu, kini Abah Ali membawa Barrack kedalam pondok pesantrennya dan mengajaknya masuk kerumah utama milik Abah. Melihat laki-laki bule masuk pondok pesantren, semua mata disitu tertuju pada wajah tampan Barrack. Beberapa santriwati hanya berani memandangnya sekilas dan ada juga yang tidak berhenti mengagumi Barrack. Hingga Abah Ali melewati beberapa dari mereka dan memperingatkan.


"Ehemmm.. " Abah berdehem sedikit keras dan sontak membuat para santriwati menundukkan kepala mereka.


Abah memperkenalkan Barrack pada istrinya dan menceritakan singkat awal mereka bertemu tadi.


"Perkenalkan Umi, saya Barrack.. Maaf jika kedatangan saya menganggu istirahat anda," Barrack tersenyum ramah.


"Tidak sama sekali nak, Umi malah senang saat ada tamu berkunjung disini, panggil saya Umi Ida, Silahkan duduk nak, Umi tinggal ke belakang dulu ya!?" ucap Umi Ida dan berjalan ke arah dapur.


Barrack duduk di sofa sembari melihat sekeliling rumah milik Abah Ali, rumah itu terlihat sederhana, terlihat bersih dan rapi walaupun rumahnya tidak terlalu besar.


"Bagaimana anak muda? Ada yang bisa saya bantu untuk meringankan beban pikiranmu?" Ucap Abah memulai pembicaraan.


"Jadi begini Abah.. "

__ADS_1


Barrack bercerita panjang lebar tentang masalahnya pada Abah Ali. Abah hanya manggut-manggut dan sesekali tersenyum mendengar cerita Barrack.


"Jadi kesedihan yang kamu alami karena istrimu pergi meninggalkanmu anak muda?" tanya Abah dan Barrack pun mengangguk.


__ADS_2