Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
16.Kucing Rumahan itu Ternyata..


__ADS_3

"Apa saja kerja kalian br*ngs*kkk!!! Membunuh satu orang saja kalian tidak becus, dasar b*jing*n tidak berguna kalian!!!" teriak laki-laki misterius itu dengan garang lalu mengambil p*stol dan men*mbak ketiga anak buah yang berada dihadapannya.


"Dor.. Dorr.. Dorr.."


"Bereskan mereka semua!" ucapnya dengan anak buahnya yang lain.


"Kali ini aku kirim kalian untuk memb*nuh laki-laki tua itu dan lakukan siasat yang seperti yang aku katakan! KALIAN MENGERTI!" teriaknya penuh amarah, kemudian anak buahnya menggangguk.


Hubungan Barrack dan Shafa semakin membaik selama beberapa bulan terakhir, mereka seperti layaknya teman, saling ngobrol, saling curhat dan sesekali bertengkar masalah kecil.


Jenny masih saja terus menempel pada Barrack saat ada kesempatan, dia tidak mau Barrack berpaling darinya.


Seperti biasa sepulang kuliah jika Shafa tidak ada kerjaan di cafe dia sering janjian dengan Jessie dan nonton di mall berdua atau kadang berlatih menembak dan beladiri dengan adik laki-lakinya.


Shafa mengendarai mobil putihnya, dia memutuskan datang terlebih dahulu ke mall karena Jessie akan ke mall diantarkan kekasihnya.


Saat Shafa mengantri untuk memarkirkan mobilnya dari kejauhan dia melihat mama mertuanya keluar dari mall, dia melihat seseorang mencurigakan menguntit mama mertuanya.


Shafa memundurkan mobilnya dan keluar dari mall itu, untung di belakangnya belum ada mobil datang lagi, karena akan sulit keluar dari antrian itu.


Shafa diam-diam mengikuti mobil mama mertuanya, dan benar saja terlihat di belakangnya ada mobil Range Rover hitam yang menyalip mobilnya dan membuntuti mobil mama mertuanya.


Dengan sigap dia menghubungi Barrack yang sedang berada dikantor.


"Halo.. Barrack.. "


"Iya Shafa.. Ada apa?"


"Barrack aku tak sengaja ke mall dan melihat mama disana, seseorang mencurigakan menguntitnya, saat mobil mama mulai jalan ada mobil Range Rover hitam yang membuntuti mobil mama, sekarang aku dibelakang mereka, aku akan berusaha mengalihkan mobil itu tolong kirim bantuan!" Ucap Shafa dengan perasaan khawatir.


"Baiklah kirim lokasimu sekarang aku segera menyusul dan jangan bertindak sesuatu yang membahayakan dirimu!"


Barrack mematikan ponselnya sepihak dan dengan cepat Shafa mengirimkan lokasinya.


Shafa mulai menyalip mobil hitam itu dan menghalangi pandangan mobil itu berharap mobil mamanya cepat melaju. Supir mamanya belum sadar juga kalau ada yang membuntuti, dia tidak tau harus melalukan apa agar mobil mamanya melaju dengan cepat.


Saat berada di jalan sepi mobil hitam itu menyalip mobilnya, menghadang mobil mamanya dari depan dan sontak mobil Shafa pun ikut berhenti.


Terlihat beberapa laki-laki berbaju hitam menodongkan pistol dan memaksa supir dan mamanya untuk keluar.


Shafa benar-benar kalut, dia tidak memiliki Senjata dan akan mudah mereka membunuhnya, tapi dia lebih khawatir keselamatan mertuanya. Dia berdoa dalam hati agar suaminya cepat datang membantu mereka.


Akhirnya Shafa memutuskan keluar mobilnya dan sekuat tenaga menyelamatkan mama mertuanya.


"Hai b*jing*n! Apa yang kau lakukan pada mamaku! Lepaskan mamaku! " teriak Shafa.


Sontak mamanya dan kedua preman bayaran itu menoleh ke sumber suara.


"Shafa.. " gumam Myra.


"Hei gadis cantik, sungguh besar sekali nyalimu menantang kami," kata satu orang preman itu dan menghampiri Shafa sambil menodongkan pistolnya.


"Ayo sini ikut kami, kami akan mem*askanmu manis! Hahaha!" ucap preman itu sembari sembari menarik tangan Shafa dengan kasar.


Mata Shafa berkedip seolah memberi kode kepada Myra, dalam hitungan beberapa detik kemudian...


"Aarrggghhhh... Br*ngs*kkk! "

__ADS_1


Myra mengigit tangan Preman yang memeganginya, dia mengigitnya dengan kuat sampai berd*rah dan p*stolnya jatuh ke tanah, dan terdengar raungan kesakitan preman itu.


Dengan sigap Shafa menendang k*maluan preman di belakangnya dengan kuat, dia mengaduh kesakitan dan Shafa merebut pistolnya.


"Dorr.. Dorrr..doorr.. "


Dia menembak dua preman dihadapannya.


" Mama!! Cepatlah masuk mobil!" teriak Shafa.


Myra berlari dan masuk mobil Shafa, empat preman lain keluar dari mobil Range Rover hitam itu dan mengarahkan tembakan ke Shafa.


"Dorr.. Doorr.. Doorr.."


Salah satu peluru mengenai perut preman itu, tapi preman itu masih bisa berdiri sempoyongan.


Beberapa kali tembakan lolos tidak mengenai Shafa, Shafa pun ikut menembak dan bersembunyi di balik mobil mamanya.


"Dorr.. Doorr.. Doorrr... "


"Arrghhhhh.."


Salah satu peluru mengenai bahu Shafa.


Keempat preman itu terlihat terus menembak dan berjalan menghampiri Shafa, mau tidak mau Shafa berjalan mundur memegangi bahunya yang berlumuran d*rah dan terus menembak.


Shafa terjepit pelurunya hanya tinggal satu, seketika terdengar suara banyak tembakan dari belakang. Anak buah Barrack dan Jason berjumlah 30 orang berpakaian serba hitam, dengan brutal menembaki empat preman itu. Mereka menyergap dari segala arah, satu orang preman dibiarkan hidup dan dibawa ke markas mereka.


Barrack lari memapah Shafa yang berlumuran d*rah, Myra juga berlari menghampiri mereka dan ikut memapah Shafa yang kesakitan. Barrack mengendarai mobil sportnya dengan kencang ke rumah sakit dan Shafa dibantu Myra di kursi belakang.


Mobil Barrack telah sampai ke UGD, dokter dan Tim medis segera mengeluarkan peluru dibahu Shafa.


Sementara Myra menghubungi Bu Farida memberitahu keadaan Shafa dan Bu Farida bergegas ke rumah sakit naik taksi. Dia benar-benar cemas dan khawatir karena lagi-lagi Shafa mendapat musibah.


Myra mondar-mandir di depan ruang UGD dia tidak menyangka menantu yang di bencinya itu telah menyelamatkannya, lagi-lagi mereka berhutang nyawa pada Shafa.


Dulu dia mengira keluarga Shafa yang pas-pas an hanya memanfaatkan kebaikan Jason, dia baru menyadari Shafa dan keluarganya adalah orang yang tulus dan baik. Dia merasa bersalah selalu bersikap buruk pada Shafa dan mengacuhkan keluarganya.


Sementara Barrack sudah berada di markas, Tomy menghampirinya.


"Tuan muda dia belum mengaku siapa yang menyuruhnya menculik Nyonya besar," ucap Tomy.


"Periksa semua ponsel yang mereka bawa Tom, kita akan melacak siapa boss mereka," kata Barrack.


"Tapi semua ponsel itu meledak saat mereka kehilangan nyawa, jadi kita kehilangan jejak mereka lagi tuan muda," ucap Tomy.


"S*al.. S*al! Br*ngsek mereka! Siapapun yang mengusik keluargaku, akan aku hancurkan tak bersisa!" teriak Barrack dengan kesalnya.


Lagi-lagi dia kehilangan jejak dalang percobaan pembunuhan keluarganya. Dia benar-benar frustasi, kemana lagi dia mendapatkan petunjuk.


"Berikan dia siksaan paling kejam Tom, buat dia mengaku siapa bossnya!" ucap Barrack dan berlalu pergi.


Barrack akan menuju rumah sakit lagi melihat keadaan Shafa, lalu deringan ponselnya menghentikan langkahnya.


"Drrrtttt... Drrtttt... Drtttt... "


"Halo pa.. "

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mamamu dan Shafa? Apakah mereka baik-baik saja?"


" Mama baik-baik saja pa, tapi Shafa tertembak di bahunya, kami kehilangan petunjuk lagi, sepertinya orang yang mengincar keluarga kita bukan orang sembarangan pa, "


" Apa?! S*al.. Benar-benar s*alan mereka, sungguh cari mati berurusan dengan kita!!Lagi-lagi keluarga Almarhum Pak Malik menyelamatkan keluarga kita Barra, aku akan menyusul Shafa ke rumah sakit melihat keadaannya."


"Baik pa."


Lalu Jason menutup panggilannya.


Mobil Barrack menuju rumah sakit lagi, Barrack menanyakan kepada Dokter dan Tim medis yang menangani Shafa tentang keadaannya.


Dokter itu mengatakan Shafa kehilangan banyak d*rah tetapi dia sudah melewati masa kritisnya dan dipindahkan ke ruang rawat VVIP.


Barrack menuju ruangan Shafa dirawat,


"Tokk.. Tokk.. "


Barrack mengetuk pintu dan membuka pintu ruangan itu, dia melihat Bu Farida dan Myra di sisi kanan dan kiri Shafa.


"Barrack sayang.. " Ucap Myra.


"Bagaimana keadaan Shafa ma?" Tanya Barrack dengan nada Khawatir.


"Keadaannya sudah stabil, dia tertidur karena pengaruh obat dari dokter, kamu jangan khawatir istrimu akan baik-baik saja, dia adalah wanita yang kuat," ucap Myra sambil menggenggam tangan menantunya.


Mata Bu Farida memanas mendengar kata-kata Myra, dia tidak menyangka Myra yang dulu tak pernah menganggap dia dan putrinya sekarang berubah perhatian.


"Istrimu?" gumam Barrack dalam hati.


Ada getaran aneh di dadanya, mendengar kata-kata "istrimu" dari bibir mamanya. Dia merasa mamanya sudah mulai menerima Shafa dan dia merasa sangat sedih melihat keadaan istri yang selama ini tak dianggapnya lagi-lagi berbaring lemah.


"Nak Barrack istirahat saja, biar Ibu dan Mama Myra menjaganya," ucap Bu Farida.


"Tidak bu ini masih pukul 07.00 malam, aku belum mengantuk," kata Barrack kemudian duduk di sofa dalam ruangan.


Beberapa menit kemudian Jason datang, dia menanyakan keadaan Shafa. Bu Farida dan Myra menjelaskan keadaan Shafa.


Jason dan Myra mengajak Bu Farida duduk di sofa.


Tiba-tiba Myra menggenggam tangan Bu Farida lalu berkata, "Bu Farida, maafkan keluarga kami, selalu melibatkan keluarga Bu Farida dalam masalah, dulu Almarhum Pak Malik telah berkorban nyawa untuk suami saya, sekarang putri anda menyelamatkan kami dua kali, saya tidak tau harus mengucapkan terimakasih seperti apa, saya minta maaf atas sikap saya selama ini," ucap Myra menitikan air mata.


Bu Farida ikut menangis dan memeluk Myra.


"Tidak Bu Myra, jangan berkata seperti itu, kita adalah keluarga, tugas keluarga itu saling melindungi, apapun yang telah kami korbankan, kami ikhlas karena semua yang terjadi di dunia adalah takdir Allah, kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, semua yang anda dan Pak Jason berikan pada keluarga kami adalah kebaikan yang luar biasa juga untuk kami, jadi anda jangan merasa sungkan," kata Bu Farida.


"Terimakasih Bu Farida" ucap Myra dan tersenyum haru dihadapan besannya.


Barrack dan Jason merasa lega dan senang akhirnya Myra sadar akan ketulusan keluarga Shafa.


Barrack menatap istrinya yang masih tertidur, dia sangat kagum melihat istri mungilnya itu ternyata pandai beladiri dan bisa menggunakan s*njata api. Ada rasa bangga di hatinya, istrinya adalah wanita yang tangguh dan luar biasa.


"*Hei.. Belajar darimana gadis mungil itu, bagaimana bisa tangannya yang kecil itu memegang s*njata? Apa aku terlalu sibuk kuliah dan mengurus perusahaan sampai aku tidak tau siapa gadis yang bersamaku ini, terlihat seperti kucing rumahan ternyata dia bisa berubah menjadi Macan Asia, sangat berbahaya.. Hehhmm mengagumkan*.. " gumam Barrack dalam hati dan tersenyum smirk.


Jason dan Myra pamit untuk pulang dan beristirahat. Bu Farida juga menyuruh Barrack pulang, Bu Farida tau kalau Barrack pasti capek. Awalnya Barrack menolak pulang karena ingin ikut menjaga Shafa tapi Bu Farida memaksa agar Barrack bisa beristirahat dengan nyenyak di Mansion.


"Baiklah Bu, saya akan pulang tapi besok sepulang kantor saya akan kesini, tadi sudah aku tempatkan enam bodyguard di luar," kata Barrack.

__ADS_1


"Terimakasih nak.. Hati-hati dijalan!" ucap Bu Farida.


Barrack tersenyum menggangguk, kemudian berlalu pergi menuju Mansionnya.


__ADS_2