Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
20.Bolehkah Aku Tidur..


__ADS_3

Keesokan paginya, Barrack yang masih menunggu Shafa di Rumah sakit dan tertidur di sofa ruangan. Dia terbangun saat mama dan papanya pagi-pagi berkunjung kesana.


"Tokk.. Tokk.. Tokk.."


Terdengar suara ketukan pintu dan diikuti pasangan suami istri itu masuk kedalam ruangan menantunya dirawat.


"Mama.. Papa.. Ini masih pagi.. Kenapa kalian sudah kesini?" tanya Barrack yang masih mengucek matanya.


"Mamamu ini sudah tidak sabar ingin melihat keadaan menantunya, kami tadi sampai tidak sarapan dulu," keluh Jason.


"Apa Shafa belum sadar Barrack? Bagaimana keadaannya sayang?" tanya Myra dengan cemas.


"Shafa kemarin sudah sadar ma, dia belum terbangun mungkin karena efek obatnya,"


Kemudian Myra mendekat ke ranjang Shafa dirawat dia mengelus pucuk kepala penuh sayang dan rasa bersalah. Sejak kejadian penembakan yang kemarin dia belum berbicara secara langsung dengan menantunya.


Shafa terbangun karena sentuhan mama mertuanya, dia membuka matanya pelan-pelan dan terkejut melihat mamanya memandangnya dengan tersenyum.


"Mama.. " ucap Shafa sedikit terkejut.


" Iya sayang! Bagaimana keadaanmu menantuku?" ucap Myra.


Ada rasa bahagia yg menggelitik dihati Shafa saat Myra mengakuinya sebagai menantu.


"Saya sudah lebih baik mama, tidak Ada masalah, putra anda menjaga saya dengan sangat baik," ucap Shafa tersenyum.


Myra membalas senyuman Shafa dan memegang tangannya.


"Sayang! Jangan terlalu formal berbicara dengan mama, aku ini juga mamamu, kamu bisa akrab dengan papa dan seharusnya denganku juga bisa," ujar Myra.


"Baik mama!" Shafa membalas genggaman tangan Myra.


"Maafkan mama sayang, selama ini mama bersikap buruk padamu bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai menantu, padahal sudah berkali-kali kamu menyelamatkan keluargaku," Myra tertunduk lesu dan menahan tangis.


"Tidak mama.. Mama jangan meminta maaf.. Mama tidak salah, keadaan yang membuat sikap mama menjadi seperti itu, aku mengerti mama, setiap ibu pasti menginginkan kebahagiaan putranya," jawab Shafa penuh ketulusan.


"Terimakasih sayang! Mama sangat beruntung memiliki menantu sepertimu, mulai sekarang mama akan selalu menyayangimu dan menerimamu sebagai menantu mama," Myra dan memeluk Shafa.


"Terimakasih mama," ucap Shafa yang terharu.


Barrack dan Jason terlihat bahagia dan merasa lega akhirnya Myra bisa melihat kebaikan Shafa.


Kemudian mereka berbincang ringan bersama, Myra dengan telaten membantu Shafa sarapan setelah bodyguard membawakan sarapan mereka. Tak disadari dari balik jendela ruangan Shafa dirawat terlihat wanita paruh baya melihat keakraban keempat orang itu, Dia adalah ibu Shafa yang begitu terharu melihat putri kesayangannya sudah diterima dengan baik oleh suami dan orangtuanya.


"Sayang.. Lihatlah putrimu.. Dia tersenyum bahagia.. Sekarang dia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, tak sia-sia segala pengorbanannya selama ini." gumam Bu Farida dalam hati seolah berbicara dengan mendiang suaminya.


Kemudian Bu Farida menghapus airmatanya dan masuk keruangan Shafa, keempat orang itu sontak menyambutnya dengan hangat.


"Selamat pagi Pak Jason.. Bu Myra.. Apakah putriku merepotkan anda?" tanya Bu Farida basa basi.


"Selamat pagi juga, Bu Farida! Tidak Bu Farida kami hanya membantunya sarapan saja, kami berharap Shafa segera sembuh kembali," jawab Myra sambil tersenyum.


"Terimakasih Bu Myra, anda repot-repot datang pagi-pagi hanya untuk membantu Shafa sarapan,"


"Ahhh tidak apa-apa, jangan merasa sungkan Bu Farida, Shafa juga anak kami, kami malah senang sekali bisa ikut merawat Shafa,"


Kemudian Bu Farida tersenyum menggangguk.


"Bu Farida jangan khawatir sebentar lagi pasti Shafa sembuh, dia bukan gadis manja, Shafa gadis yang luar biasa dan tangguh," ucap Jason yang memuji menantunya.


"Pak Jason benar putri Saya memang gadis yang luar biasa, Saya bangga memilikinya," ucap Bu Farida sambil mengelus kepala putrinya.


Barrack hanya melihat interaksi mereka dari sofa, entah apa yang dipikirkannya. Dia tidak melepaskan pandangannya melihat Shafa yang menunduk malu. Sampai Bu Farida memecahkan lamunannya.


"Sebaiknya nak Barrack pulang dulu beristirahat, pasti sangat lelah semalaman harus tidur di sofa yang kecil," ucap Bu Farida kepada menantunya.


"Aah tidak masalah bu, aku tidak merasa capek sama sekali, tapi mungkin aku harus pulang sebentar untuk mengurus beberapa hal di kantor. Nanti malam aku akan kesini menjaga Shafa lagi bu," ucap Barrack.


Bu Farida hanya tersenyum dan menggangguk, dia tau dia tidak bisa menentang kemauan menantunya itu walaupun dia juga khawatir kesehatan Barrack.


Kemudian Barack dan kedua orangtuanya pamit untuk pulang melanjutkan pekerjaan mereka.

__ADS_1


***


Beberapa hari sudah berlalu, kini Shafa sudah pulang ke Mansion lagi diantar ibu dan suaminya, Myra dan Jessie menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Jessie sangat merindukan kakak iparnya itu.


Setelah mengobrol sebentar bersama diruang tamu kemudian Bu Farida pamit pulang kerumahnya.


Barrack mengantar Shafa ke kamar tidur mereka, dan Barrack bersiap pergi ke kampusnya.


"Shafa! Aku mau ke kampus dulu lalu ke kantor, apa kamu tidak apa-apa dikamar sendirian?" tanya Barrack.


"Tidak apa-apa Barra, aku bukan anak kecil, biasanya juga begitu, lagi pula ada mama dan Jessie di rumah. Kalau aku bosan aku bisa nonton drakor sama Jessie," ucap Shafa antusias, dia sangat merindukan moment nonton drakor bareng adik iparnya yang manja.


"Baiklah,aku pergi dulu," ucap Barrack.


"Tunggu.."


"Apa? "


Kemudian Shafa mendekat dan mencium tangan Barrack kemudian berjinjit mengecup pipi suaminya.


Sontak Barrack terkejut dengan perlakuan Shafa. Dia tersenyum dan merasakan banyak bunga-bunga bermekaran dihatinya.


"Hei kucing kecilku! Sekarang kau semakin agresif ya!" ucap Barrack tersenyum nakal.


Shafa tersenyum mengejek dan menjulurkan lidahnya. Barrack semakin gemas dengan sikap Shafa, kemudian menarik dalam dekapannya dan menciumi rambut, telinga dan leher Shafa dengan gemas.


Shafa tertawa kegelian, dan sesekali meminta ampun agar suaminya berhenti menggodanya.


"Sudah Barra, kamu akan terlambat ke kampus!" seru Shafa.


"Biarkan saja, aku tidak jadi ke kampus," ucap Barrack kemudian berhenti menggoda istrinya.


"Apa? Jangan malas-malasan Barra, kapan kamu lulus kuliah kalau kamu sering bolos?!" ucap Shafa yang berkacak pinggang dan melihat Barrack duduk kembali di sofa kamarnya.


"Aku malas karena kamu, gara-gara kamu menggodaku aku jadi ingin di rumah saja,"


"Apa? Kenapa jadi aku! Aku tidak menggodamu Barrack!"


"Yang tadi apa kalau bukan menggoda? Kamu tiba-tiba mencium tanganku lalu mencium pipiku," ucap Barrack.


"Tenang saja sayang! Kita akan melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan setiap hari," ucap Barrack sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sontak Shafa kaget, mukanya merah bagai tomat dan tersenyum malu kemudian memukul lengan Barrack.


"Dasar Mesum! Berangkat sana!" teriak Shafa yang berpura-pura kesal.


"Iya.. Istriku aku akan berangkat,"


Barrack kemudian mengecup singkat dahi Shafa dan berlalu pergi.


Shafa tersenyum bahagia, hatinya berbunga-bunga, dia benar-benar merasakan bagaimana indah jatuh cinta itu dan akhirnya Barrack mau membuka hatinya untuk Shafa. Shafa sangat bersyukur tiada henti.


***


Barrack telah tiba ruangannya, Asisten Tomy memberikan jadwal meeting Barrack hari ini.


"Tuan muda, satu jam nanti kita ada meeting dengan Tuan besar dan Dewan Direksi, Tuan besar akan membahas tentang pembukaan cabang perusahaan di Inggris," ucap Asisten Tomy.


"Hhmmm.. Siapkan semuanya Tom!"


Barrack mulai membuka laptopnya dan sibuk melihat data-data perusahaan dengan serius.


"Kling.. Kling.. Kling.. "


Suara ponselnya memecahkan konsentrasi Barrack.


"Hallo..ada apa?" kata Barrack.


"Sayang, aku sangat merindukanmu, bisakah kita bertemu sayang? Kamu selalu saja sibuk, kapan waktu buat aku sayang?" ucap Jenny tiada henti.


"Tapi aku tidak bisa Jenny aku benar-benar sibuk, ini saja aku mau meeting sama papa, hari sabtu nanti kalau aku tidak sibuk, aku temui di Apartmentmu, oke!"

__ADS_1


"Ta.. "


" Tutt.. "


Belum Jenny menjawab, Barrack sudah mematikan ponselnya secara sepihak.


"Si*lll kau Barrack, b*debah! Dasar br*ngsek!! " Jenny mengumpati Barrack dan membanting semua alat make-upnya.


"Kau kira aku tidak tau!! Kau sekarang banyak menghabiskan waktumu dengan gadis culun tak tau diri itu! Berani sekali kau! Awas saja kau gadis br*ngsek! Aku akan merebut Barrack kembali darimu!" teriak Jenny penuh amarah.


Hari ini adalah Hari yang melelahkan untuk Barrack banyak kegiatan kampus dan kantor yang menyita tenaga dan otaknya.


Dia tiba dirumah pukul 08.00 malam dan Shafa tersenyum menyambutnya, dia mencium tangan Barrack dan mengambil tas kerja suaminya.


"Mandilah Barra, biar aku siapkan makan malammu," ucap Shafa dengan lembut.


"Hhmm.."


Barrack menggangguk dan menaiki tangga menuju kamarnya untuk mandi.


Setelah ritual mandinya selesai Barrack menuju ke bawah untuk makan bersama Shafa.


Shafa dengan telaten menuangkan nasi dan lauk pauk di piring Barrack seperti biasanya.


Perasaan Barrack begitu bahagia, melihat istri cantiknya itu melayaninya dengan baik.


Masih Ada rasa penyesalan di dadanya kenapa dulu dia begitu dingin dan selalu menghujani kata-kata tajam pada istrinya itu.


Padahal jika dilihat Shafa Adalah sosok wanita yang hampir sempurna. Dia wanita yang baik,cantik, tangguh dan berbakat dalam segala hal. Semua itu tidak begitu terlihat dimata Barrack karena Shafa hanya gadis dari kalangan orang biasa dan dulu penampilannya tidak menarik.


Barrack melahap masakan lezat Shafa dengan memandangi Shafa.


"Apa kamu tidak makan?" tanya Barrack.


"Aku tadi sudah makan Barra, sama mama dan Jessie, makanlah! aku akan menemanimu,"


"Boleh aku nambah lagi Shafa?"


"Wahh.. Apakah masakanku sangat enak, sampai Tuan muda mau nambah lagi?" ucap Shafa terkekeh.


"Tadi siang aku hanya makan roti karena jadwal di kantor sangat padat,"


"Lagipula, masakanmu selalu saja menyenangkan dilidah," puji Barrack lalu menyodorkan piringnya di depan Shafa.


"Tumben sekali kamu memuji masakanku Barra," cibir Shafa.


"Dulu aku terlalu gengsi untuk mengakuinya," ucap Barrack enteng.


Shafa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya, tapi ada rasa bahagia karena Barrack selama ini menyukai masakannya.


"Baiklah Tuan Arrogant! Makanlah yang banyak!" ucap Shafa tersenyum lalu menyodorkan piring yang diisi lauk dan nasi kembali.


Setelah Barrack menghabiskan makan malamnya Shafa dan Barrack pergi ke kamarnya.


Shafa tidur di ranjang milik Barrack dan seperti biasa Barrack juga tidur di sofa besar miliknya, selama 2 tahun belakangan mereka menikah. Mereka selalu tidur terpisah.


"Shafa.. "


"Iya Barra.. "


"Apa kamu sudah tidur?"


"Belum.. "


"Bolehkah aku tidur satu ranjang denganmu?"


"Hah?"


"Hmm.. Maksudku, kita kan sepakat akan memulai hubungan kita dari awal, apa tidak sebaiknya kita mulai tidur satu ranjang supaya kita lebih dekat lagi,"


"Aa.. "

__ADS_1


Belum Shafa menyelesaikan ucapannya Barrack sudah tidur di sebelah Shafa dan tersenyum memandang istrinya dengan ekspresi gugupnya.


Shafa merasa gugup bertatapan langsung dengan suaminya. Dan berpura-pura mencari ponselnya agar tidak menatap mata Barrack.


__ADS_2