
Mendengar ucapan Robert, sontak membuat Shafa tertawa terbahak.
"Hahaha!"
Sedangkan Robert malah mengernyit heran, bukannya menjawab pertanyaannya, Shafa malah menertawakannya, lalu dia mendengus kesal.
"Seharusnya aku tadi merekam ucapan kakak lalu mengirimnya pada Kak Angel," cibir Shafa.
"Eh jangan! Aku kan cuma bercanda, aku cuma ingin mencairkan suasana agar kamu tidak tegang terus. Tolong jangan buat Angel salah paham dengan hubungi kita."
Angel adalah kekasih Robert yang sudah dia pacari selama 3 tahun, dalam waktu dekat mereka akan bertunangan. Angel seorang model iklan dan majalah terkenal yang bekerja di perusahaan Robert dan keduanya terlibat cinta lokasi karena seringnya bertemu.
"Makanya jangan sok bikin baper cewek, untung aku udah anggep Kak Robert kakak sendiri! Coba tadi yang dibikin baper cewek lain pasti tuh udah dikejar-kejar tanpa ampun," Shafa terkekeh dan Robert hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dari awal keakraban mereka terjalin, Shafa sudah menganggap Robert adalah sahabat sekaligus kakaknya sendiri, bukan hanya karena Angel mereka memutuskan untuk menjadi sahabat tapi karena perbedaan agama dan hati Shafa pun masih terpaku pada laki-laki cinta pertamanya, yaitu Barrack sang suami.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya keduanya telah sampai di mansion milik Robert.
Baru saja mereka bicarakan, ternyata Angel sudah berada di mansion kekasihnya dan sedang bermain bersama Rey sembari berbincang dengan Bu Farida.
"Baby!" panggil Robert pada Angel.
"Kamu baru sampai sayang? Maaf aku tidak melihatmu, aku terlalu kagum sama bocah tampan ini," ucap Angel yang tersenyum dan membuat Robert ingin segera membawanya ke ranjang favorit mereka.
"Hallo Uncle Obe!" sapa Rey.
"Hallo jagoan kesayangan uncle! Apa kau senang bermain dengan Aunty Angel?" tanya Robert pada Rey, dan Rey membalas dengan senyuman dan anggukan.
"Kamu bikin gemes banget sih!" Angel mencubit gemas pipi Rey yang gembul dan kemerah-merahan.
Walaupun Robert dan Angel belum menikah, mereka sudah tinggal bersama layaknya kehidupan orang barat. Dan selama dua minggu belakangan ini, Angel berada di Jepang untuk mengikuti ajang kompetisi model Internasional. Sehingga membuat Robert begitu merindukan sentuhan nikmat wanitanya.
Angel mendekati Robert, memeluk dan mencium pria kesayangannya dengan penuh cinta dan kerinduan. Hingga mereka lupa dengan keberadaan ketika manusia yang masih bersama mereka.
Bu Farida memalingkan muka dan menutup tubuh Rey agar tidak melihat pemandangan tak lazim didepannya, dan Risty yang merasa diabaikan sontak berdehem untuk mengingatkan keduanya.
"Ehemm!"
"Ahh maaf aku lupa kalau masih ada kalian," ucap Angel merasa tidak enak sedangkan Robert malah biasa saja.
"Tidak masalah kak! Anggap aja kami adalah patung," sarkas Shafa.
"Hehehe, sorry! Tadi ibu bilang kamu pergi untuk mengisi acara, bagaimana acaranya? Berjalan sukses kah?"
"Alhamdulillah sukses kak! Kakak sendiri bagaimana kabarnya? Sudah dua hari ini aku menginap disini tapi baru melihat kakak datang."
"Kebetulan dua minggu kemarin aku berada di Jepang mengikuti acara kompetisi model." ucap Angel.
"Lalu apa Kak Angel memenangkan kompetisi itu?" tanya Shafa penasaran.
Sedangkan wajah Angel tiba-tiba menjadi muram hingga membuat Shafa merasa menyesal menanyakan itu. Harusnya dia tidak menanyakan hal itu.
"Maaf kak aku tidak.."
Belum Shafa menyelesaikan ucapannya Angel sudah menyela kalimatnya.
"Puji Tuhan aku dapet juara 2!"
__ADS_1
Angel melompat kegirangan memegang tangan Shafa dan Shafa pun ikut merasa bahagia Angel mendapatkan juara 2, padahal setahu Shafa yang ikut kompetisi itu model dari berbagai negara di dunia.
"Selamat Kak Angel! Kakak memang luar biasa!" Shafa memeluk Angel.
Robert menepuk bahu Shafa dan sontak dia menoleh ke arah Robert.
"Gantian donk peluknya! Aku kan juga ingin mengucapkan selamat pada kekasihku," ucap Robert berpura-pura sedih.
Shafa melepaskan pelukannya lalu terkekeh.
"Ucapan selamatnya di kamar aja, aku mau pergi mengajak Rey dan ibu ke makam ayah,"
"Hati-hati dijalan Shafa, biar nanti supirku yang akan mengantarkan kalian kemanapun."
"Baik kak Robert, terimakasih!"
Robert mengangguk lalu mengajak Angel untuk naik ke lantai atas ke kamar pribadinya.
"Ibu ayo kita bersiap-siap!"
"Baiklah sayang,"
Sepuluh menit berlalu akhirnya mereka sudah siap untuk berangkat ke mengunjungi makam almarhum Pak Malik Ahmad, dengan diantarkan oleh supir pribadi Robert.
***
Selang lima menit setelah kepergian Shafa, Barrack, Tomy dan beberapa anak buah mereka telah sampai di Mansion Robert.
Barrack meyakinkan anak buah Robert jika dia adalah teman bisnis Boss mereka, sehingga Barrack dengan mudah masuk ke dalam mansion itu.
"Boss, jangan sampai babak belur lagi! Memar yang ini aja belum sembuh, nanti wajahmu makin berantakan Boss!"
"Diam kau Tom! Kau kira aku selemah itu!" desis Barrack.
"Aku bukannya mengatakan anda lemah Boss, aku cuma mengingatkan agar anda melawan jika ada memukulmu lagi!"
"Ck! Aku tidak mengalah dengan siapapun Tom, Zain itu adikku jadi aku hanya mengalah padanya saja! Kau lihat nanti jika Robert masih menghalangiku, aku akan patahkan tangannya,"
"Eh liat Boss, Tuan Robert menuju kemari," ucap Tomy yang melihat Robert turun dari tangga mansionnya bersama seorang wanita cantik yang bertubuh tinggi langsing.
"Untuk apa kau kesini?" tanya Robert dengan ekspresi tidak senang.
"Tentu saja untuk menjemput Istri dan keluargaku!" jawab Barrack yang kini berdiri di hadapan Robert.
"Aku sudah peringatkan kau agar tidak menganggu Shafa lagi, apa kau tuli sampai tidak mengerti ucapanku!" Robert mulai tersulut emosi.
"Aku tidak peduli dengan ancamanmu! Aku masih suami sah Shafa, jadi aku berhak untuk menemuinya bahkan membawanya!" seru Barrack tak kalah emosi.
"Dasar bre***sek!"
Dan detik berikutnya Robert melayangkan bogem mentah pada Barrack tapi dengan cepat Barrack menangkis pukulan Robert.
"Aaaarrrgghhh! Hentikan!"
Teriakan Angel yang panik membuat keduanya menghentikan perseteruan mereka. Dia mendekati Robert dan memposisikan dirinya ditengah kedua laki-laki berparas bule itu.
"Sudah cukup! Aku tidak suka ada baku hantam disini! Dan kamu Tuan Muda Hansel, silahkan temui Shafa di makam ayahnya dan mereka baru saja pergi,"
__ADS_1
"Angel!" desis Robert sedangkan Angel malah menempelkan telunjuknya pada bibir Robert agar pria itu diam.
"Baik, terimakasih atas informasi anda Nona. Saya merasa berhutang budi!" ucap Barrack menyunggingkan senyumnya.
Angel mengangguk, "Tidak usah sungkan Tuan Barra!"
Kemudian Barrack pamit pada Tuan rumah dan segera mencari keberadaan Shafa.
Setelah kepergian Barrack, Robert memasang mode diamnya. Dia kesal bagaimana bisa wanitanya malah memberitahukan keberadaan Shafa pada Barrack, Robert takut terjadi apa-apa pada Shafa.
Terlihat Robert akan menghubungi seseorang tapi dengan cepat Angel merampas ponselnya.
"Tidak usah menghubungi siapapun! Apa kamu tidak bisa melihat kesungguhan Barrack pada Shafa, aku yakin jika Shafa akan lebih aman bersama suaminya. Sudah waktunya kamu memberikan kesempatan pada mereka untuk kembali bersama lagi, kau tahu aku tidak memiliki ayah sejak kecil dan aku tahu rasanya bagaimana rasanya jauh dari sosok ayah. Jadi jangan pernah memisahkan bocah lucu itu dengan ayah kandungnya. Kalau kamu masih bersikeras sok jadi pahlawan, aku akan pergi saja!" ucap Angel yang pura-pura merajuk.
"Eh! Tunggu sayang! Baiklah aku tidak akan menggangu mereka lagi, aku minta maaf! Lagipula benar katamu, kasian Rey jika dia tidak bisa bertemu dengan ayahnya," ucap Robert yang memeluk Angel dari belakang.
"Bagus, itu baru priaku!"
"Eh by the way, bagaimana kamu bisa mengenal Barrack Hansel?" tanya Robert penasaran.
"Aku pernah mengaguminya dulu sebelum aku bertemu denganmu, tapi aku urung mendekatinya karena ternyata dia sudah menikah," jawab Angel dengan entengnya sedangkan hati Robert mulai terbakar cemburu.
"Apa sampai sekarang kamu masih mengangumi laki-laki itu?"
Angel berpura-pura mengiyakan dengan mengangguk.
"Eh?!" Robert melotot tajam.
"Ampun sayang! Aku cuma bercanda!" ucap Angel yang menjulurkan lidahnya lalu berlari ke arah tangga.
"Awas! Aku tidak akan mengampunimu kali ini, aku akan menghukummu berhari-hari!" Robert tersenyum menyerangku lalu mengejar sang pujaan hati yang berlari kedalam kamar pribadinya.
***
Shafa dan Bu Farida mengatakan pada Rey jika ini adalah makam kakeknya, walaupun Rey belum terlalu mengerti, dia hanya mengangguk lalu mengikuti Shafa yang sedang membersihkan makam almarhum ayahnya. Sedangkan Bu Farida mengaji didekat makam sang suami.
"Apa kakek cekarang di curga mom?" tanya Rey dengan polosnya.
"Benar sayang, kakek berada di surga sekarang,"
"Apa aku bica ketemu kakek dicurga?" tanya bocah itu lagi.
"Suatu saat nanti kita akan bertemu kakek di surga sayang, tapi Rey harus rajin sholat dan mengaji biar kelak bisa bertemu kakek disana,"
"Baik mom!"
Shafa mengacak gemas rambut putranya, bocah tampan itu benar-benar polos, lucu dan menggemaskan.
Tak mereka sadari, seorang pria bersama sang asisten tengah bersembunyi dibalik pohon besar yang tak jauh dari makam almarhum Pak Malik. Matanya berkaca-kaca bisa melihat putranya secara langsung, ingin sekali dia segera mendekap sang putra kesayangan.
Tanpa perdebatan yang tidak penting, Tomy memberikan sapu tangannya agar Barrack menghapus airmatanya, dan Barrack pun menerimanya tanpa protes.
Dia tahu bagaimana perjuangan Bossnya dalam mencari sang istri selama ini, tidak ada kata lelah dan menyerah. Bossnya bahkan sekarang berubah lebih baik, tidak pernah pergi ke club lagi untuk mabuk-mabukan.
Saat Shafa dan Bu Farida telah menyelesaikan doanya dan bersiap akan pergi, Barrack menampakkan diri dihadapan mereka.
"Shafa, apa dia putra kita?" tanya Barrack.
__ADS_1