Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
61.Satu Kesempatan


__ADS_3

"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab Abah Ali dan Umi Ida bersamaan.


"Wah Nak Barrack, siapa anak tampan ini?" tanya Abah Ali mengelus kepala Rey sekilas.


"Ini putra saya Bah, namanya Reyhan. Ayo ucap salam lalu salim sama kakek dan nenek dulu,"


"Assalamualaikum kakek, nenek,"


Reyhan mencium tangan Abah Ali dan Umi Ida bergantian.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.." jawab Abah dan Umi bersamaan.


"MasyaAllah, Anak pintar!" Umi Ida juga mengelus pucuk kepala Rey sekilas.


Kemudian Barrack mengenalkan Shafa dan Ibu Farida pada Abah Ali dan Umi Ida.


"Saya senang akhirnya kalian bisa bertemu kembali, saya harap setelah ini kalian akan selalu bahagia," ucap Abah Ali tersenyum lembut pada Barrack lalu pada Shafa.


"Maaf Abah, tapi saya akan tetap dengan pendirian saya. Saya ingin berpisah,"


Akhirnya Shafa mengutarakan keinginannya didepan Abah.


Barrack dan Bu Farida tiba-tiba menjadi tegang, sedangkan Abah melirik istrinya seolah memberi kode.


"Rey, bagaimana kalau Nenek Ida ajak Rey berkeliling? nanti kita bermain dan kenalan dengan teman-teman baru," tanya Umi Ida pada Rey.


Rey masih terdiam, dia belum terbiasa dengan orang baru.


"Nenek juga akan ikut jalan-jalan, ayo Rey kita kedepan!" sahut Bu Farida.


Lalu Rey mengangguk, lalu Bu Farida menggendong Rey keluar bersama Umi Ida juga.


Abah tahu jika mereka berdua butuh bicara berdua dan menyelesaikan masalah mereka dengan hati dan kepala yang dingin.


"Nak Shafa, apa alasan kamu untuk meminta perpisahan dengan suami kamu? Padahal selama ini dia berusaha maksimal mencari keberadaanmu, tidakkah kau mempertimbangkan keputusanmu nak?" tanya Abah Ali memulai percakapan mereka lagi.


"Saya sudah dihianati Abah, dan saya tidak mau dimadu dengan perempuan lain," Shafa menunduk menahan kepedihan hatinya.


Selama ini dia berjuang agar suaminya mencintainya, tapi nyatanya Barrack terus menghianatinya. Dia terlalu kecewa dengan Barrack, sudah cukup baginya, dia sudah berdamai dengan hatinya untuk melepaskan Barrack dengan ikhlas, walau sangat berat.


"Tapi Nak Barrack tidak memiliki istri lain selain kamu," ucap Abah dan membuat Shafa terkejut.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Apa Barrack sudah bercerai dengan Jenny?


Atau Abah Ali yang tidak mengetahui kehidupan Barrack yang sebenarnya?! pikirnya dalam hati.


"Pikirkan baik-baik keputusanmu Nak, jangan sampai kalian menyesal dikemudian hari. Aku akan tinggalkan kalian berdua untuk berbicara karena aku akan ada tamu sebentar lagi. Aku permisi dulu," pamit Abah.


"Baik Abah," jawab Shafa dan Barrack bersamaan tanpa sengaja, hingga keduanya salah tingkah lalu sama-sama melemparkan pandangan ke arah yang berlawanan. Sedangkan Abah hanya tersenyum simpul, dia tahu jika pasangan suami istri itu masih sama-sama saling mencintai, terlihat dari tingkah dan binar matanya.


***


Setelah kepergian Abah, keduanya hanya terdiam. Terlalu banyak pertanyaan yang ada dalam benak mereka tapi binggung untuk memulainya.


"Bagaimana kabarmu baby?" akhirnya Barrack mengawali perbincangan mereka.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, bahkan lebih baik dari sebelumnya," sarkas Shafa.


"Maafkan aku, selama ini aku tidak bersama kalian. Aku seperti suami dan ayah yang tidak berguna, tapi aku lega ternyata kalian dikelilingi banyak orang baik yang melindungi kalian,"


"Hmm,"


"Bahkan sekarang kamu menjadi penyanyi terkenal di London, selamat untuk prestasimu, kamu luar biasa baby." puji Barrack.


"Terimakasih," jawab Shafa singkat.


"Baby, asal kamu tahu aku tidak pernah menikahi maupun menghamili Jenny. Aku dijebak dan difitnah selama ini dan papa yang sudah membongkar kebohongan Jenny." ucap Barrack yang akhirnya mengungkapkan kebenarannya, dia sudah capek mendapat perlakuan dingin dari istrinya.


"Apa? Kalian tidak menikah! Lalu bayi yang ada dikandung Jenny anak siapa?"


"Bayi yang ada diperut Jenny adalah anak Emir,"


"Emir?!" Shafa semakin terkejut.


"Iya, laki-laki yang pernah kita tolong dan kita bawa ke rumah sakit. Ternyata dia dibayar oleh Jenny untuk mendekatimu dan membuatmu jatuh cinta,"


"Oh ya ampun laki-laki itu! Ingin sekali aku hantam saja! Ular berbisa itu juga sangat licik!" Shafa mendengus kesal.


Barrack menunjukkan bukti rekaman CCTV saat hari pernikahannya dengan Jenny yang gagal karena Jason membongkar kejahatan Jenny. Tangan Shafa terkepal kuat menahan amarahnya, selama ini dia terpisah dengan suaminya karena obsesi Jenny.


"Aku minta maaf, seharusnya aku bisa terbuka padamu saat akan bertemu lawan jenis apalagi itu mantan. Entah saat itu, aku hanya merasa bersalah saja karena dia terlihat sangat menyedihkan gara-gara aku. Tapi ternyata itu siasatnya untuk menjebakku, aku sangat merasa bersalah setelah kejadian itu. Maafkan aku baby,"


Barrack menunduk penuh penyesalan.


"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf lagi aku sudah memaafkanmu Barra. Aku anggap semuanya telah selesai dan semua hanya masa lalu, saat ini aku ingin lebih fokus membesarkan Rey dan fokus dengan karirku," ucap Shafa dengan pandangan menerawang.


"Apa tidak ada kesempatan kita untuk kembali bersama lagi, baby?"


"A.. aku belum bisa memutuskan,"


Shafa begitu gugup, sekian lama tidak bertemu membuat Barrack seperti orang asing baginya.


"Jujur aku masih sangat mencintaimu baby, tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk membahagiakan kalian," ucap Barrack menatap matanya dengan sendu.


Shafa menghela nafasnya, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya tidak ingin sakit hati lagi, dia takut suatu hari nanti akan ada "Jenny-Jenny yang lain" yang akan mendekati Barrack, walau dalam lubuk hatinya juga berharap mereka kembali bersama.


"Baby, tolong pandang mataku! Apa kamu masih mencintaiku?"


Akhirnya Barrack memberanikan diri menggenggam tangan istrinya, yang entah dia tidak tahu bagaimana saat ini perasaannya, dia ingin dengar langsung perasaan istrinya kepadanya.


"A.. Aku.."


"Tolong jawab dengan jujur baby! Apa masih ada cinta untukku hatimu?"


Barrack mengangkat dagu Shafa agar menatap matanya, sedangkan Shafa menjadi salah tingkah dan jantungnya berdetak kencang.


Lidahnya kelu, dia masih malu mengungkapkan cinta secara gamblang, tapi jika tidak dijawab Barrack akan terus mengejar jawabannya.


"Aku masih mencintaimu," ucap Shafa yang memejamkan mata dengan pipinya merona.


Barrack tersenyum lucu, karena istrinya masih malu-malu untuk berterus terang.


Dan detik berikutnya, Barrack tiba-tiba memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku mohon berikan aku satu kesempatan lagi. Apa aku harus berlutut lagi agar kamu menerimaku kembali?"


Barrack melonggarkan pelukannya lalu berlutut didepan Shafa yang masih duduk di sofa.


"Eh Barra! Apa yang kau lakukan!" Shafa berseru kaget.


"Tolong beri aku kesempatan lagi sayang! Aku janji tidak akan pernah berselingkuh lagi, aku janji akan menyayangi kalian sepenuh hati dan akan membahagiakan kalian seumur hidupku," ucap Barrack dengan tulus sembari memandang wajah Shafa dan menggenggam kedua tangannya.


Shafa membalas tatapan Barrack mencari kesungguhan dari pancaran mata suaminya, tapi nyatanya tatapan itu begitu tulus.


Hatinya begitu bahagia dan lega mendengar ucapan sang suami, selama ini mereka terpisah karena kesalahpahaman, tidak pantas baginya untuk marah lagi pada suaminya. Dia mengerti jika selama ini mereka sama-sama menderita, sama-sama merindukan dan sama-sama merapalkan doa dari jauh. Kini takdir membawa mereka untuk kembali dan bersatu lagi, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Shafa berjongkok di lantai mensejajari sang suami lalu memeluknya.


"Aku akan menerimamu lagi sayang, maafkan aku sudah meninggalkanmu terlalu lama," bisik Shafa yang masih memeluk leher suaminya.


"Terimakasih baby! Aku sangat mencintaimu, aku begitu merindukanmu selama ini."


"Aku juga,"


Barrack melonggarkan pelukannya lalu mencium dahi istrinya, lalu turun ke hidung sejenak kemudian berhenti dibibir sang pujaan hati, menc**mnya dengan lembut dan dalam. Meluapkan segala kerinduan yang sudah menumpuk selama tiga tahun lebih.


"Eheemm!" deheman Myra membuat Barrack dan Shafa melepaskan tautan mereka.


Shafa yang begitu malu langsung membuang mukanya kemudian berdiri, sedangkan Barrack yang langsung menyadari suara mamanya sontak membuatnya sedikit kesal.


"Mama! Kapan mama datang?"


Barrack mendekati mamanya dan mencium tangannya dan diikuti oleh Shafa.


"Mama, bagaimana kabar mama?" tanya Shafa yang menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca.


Dia merindukan semua keluarganya, terutama Jessica adik iparnya yang selalu manja padanya.


"Alhamdulillah baik sayang, mama sangat merindukanmu sayang!" Myra memeluk menantu kesayangannya dengan penuh haru.


Walaupun Myra pernah dua kali datang ke London menemui Reyhan cucunya, tapi dia datang tanpa sepengetahuan Shafa. Jadi saat ini dia meluapkan segala kerinduannya pada sang menantu, memeluknya erat seperti tidak rela jika menantunya meninggalkan mereka lagi.


"Aku juga sangat merindukan mama,"


"Jangan pergi lagi sayang, jangan tinggalkan kami. Hidup kami hampa tanpamu, maafkan Barrack ataupun salah satu dari kami yang tak sengaja menyakitimu. Kami sungguh tidak ingin kamu pergi dari kehidupan kami, maafkan kami sayang!" Myra menggenggam tangan menantunya dengan airmatanya yang masih terjatuh.


"Mama, maafkan aku juga. Aku membuat kalian susah, meninggalkan kalian begitu lama. Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi, aku janji! Tapi ijinkan aku kembali sejenak untuk membereskan pekerjaanku disana, mama,"


"Baiklah sayang! Nanti kita bisa bicara soal ini nanti, ayo kita temui papamu dan Jessie diluar." ucap Myra yang menggandeng tangan menantunya dan Shafa membalas dengan anggukan.


Shafa, Barrack dan Myra berjalan ke arah taman bermain yang telah dibangun Barrack di pondok pesantren itu.


Jessie dan Jason menemani Rey bermain ayunan di taman bermain itu, terlihat ketiganya begitu bahagia dan tertawa lepas, sesekali Jessie dan Jason bergantian menciumi pipi gembul Rey yang kemerahan.


Sedangkan Abah Ali, Umi Ida dan Bu Farida sedang duduk mengobrol di meja kursi yang tak jauh dari taman itu sembari melihat tingkah lucu Rey.


Jessie yang melihat kedatangan kakaknya lalu berlari kearah Shafa lalu memeluknya dengan sangat bahagia.


"Kakak, aku kangen! Aku kangen banget!" Jessie memeluk kakaknya.


"Aku juga kangen banget gadis manjaku! Aku kangen nonton Drakor bareng sama kamu!" Shafa dan Jessie cekikikan.

__ADS_1


"Kakak apa kau tahu satu minggu lagi aku akan menikah!" ucap Jessie berbinar bahagia.


"APA?!!" teriak Barrack dan Shafa bersamaan.


__ADS_2