Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
15.Sebuah kemajuan


__ADS_3

"Ma.. Maaf Barra, aku hanya terlalu bersemangat makan saat melihat makanan favoritku, kamu tau makanan rumah sakit ini tidak cocok dilidahku," ucap Shafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Dia benar-benar malu, bisa-bisanya dia makan dengan rakusnya didepan Barrack, dia merutuki dirinya dalam hati.


"Aiihhh.. Jangan diambil hati, aku hanya bercanda Shafa, aku suka sekali melihatmu makan dengan lahap, kalau kau mau akan aku belikan 100 kedai pizza biar kamu bisa memakannya dimanapun dan setiap saat, " ujar Barrack penuh kesombongan.


"Apa.. 100 kedai pizza?! Sebentar.. " kata Shafa lalu memegang kening Barrack dengan tangannya.


"Tidak panas kok," Shafa menggodanya kemudian tertawa.


"Hei kau kira aku gila!" Barrack ikut tersenyum dan tak sengaja memegang tangan Shafa.


Pandangan mereka bertemu dan terdiam beberapa saat mereka saling memandang, entah apa yang mereka rasakan saat ini.


Kemudian suara panggilan seseorang membuyarkan mereka.


"Kakak ip... ar.. " Jessie kaget dan tersenyum melihat kedua kakaknya saling pandang dan berpegangan tangan.


Kemudian Barrack dan Shafa gelagapan melepaskan tangan mereka dan melemparkan pandangan mereka kesembarang arah.


"Sepertinya aku tidak datang di waktu yang tepat.. Apa aku mengganggu kalian berdua?" goda Jessie dengan senyum nakalnya lalu memandang kakak dan kakak iparnya bergantian.


"Ahhh.. Jessie sayang, kakak sangat senang kamu menjengukku, ayo kemarilah peluk kakak! Aku merindukanmu gadis manjaku," kata Shafa mengalihkan pembicaraan.


Jessie sangat senang melihat kakak iparnya sudah sehat dan dia membalas pelukan kakak iparnya.


"Kakak, aku bawakan salad buah untukmu.. Ini salad buah terenak yang pernah ada, aku yakin kakak pasti suka," kata Jessie sambil menyuapi kakak iparnya.


"Hmmm.. Hmmm.."


"Bagaimana rasanya kak?"


"Perfect and very delicious!" kata Shafa yang masih merasakan makanan yang berasa segar, manis,asin dan asem di mulutnya.


"Sini aku suapin lagi kak, kakak harus banyak makan biar cepat sembuh! Kakak tau aku sangat kesepian tidak ada kakak dirumah," ucap Jessie sedih.


"Oohh jadi sekarang Shafa doank yang di sayang, Shafa terus yang diperhatiin! Apa kamu sudah bosan dengan kakakmu yang tampan ini?" sahut Barrack.


"Mana salad buah untukku.. Aku juga mau!"


Kemudian Barrack merebut salad buah itu dari tangan Jessie, sontak Jessie dan Shafa melotot, Shafa tidak terima makanan pemberian adik iparnya itu direbut.


Dia kembali menarik kotak yang berisi salad buah itu, Barrack tak mau kalah dia juga menarik kotak itu lagi. Kemudian Jessie mengambilnya lagi dan menengahi mereka yang sedang berebut salad buah.


"Sudah kak! Jangan berebut begini! Kalian seperti anak kecil! Astaga tidak bisa dipercaya, sudah tua malah berebut makanan!"Jessie meninggikan suaranya.


"Itu kan milikku Jessie, kamu khusus membawakannya untukku, aku tidak rela Barrack merebutnya" ucap Shafa dengan cemberut.


"Lagian siapa suruh cuma bawa satu kotak, aku kan juga ingin makan itu juga," kata Barrack tak mau kalah.


Jessie menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia pusing melihat pasangan suami istri yang kenakak-kanakan itu.


"Begini ya kakak-kakakku sayang, salad buah ini memang cuma satu kotak tapi kotaknya kan besar dan isinya banyak, Bagaimana kalau Kak Barrack menyuapi Kak Shafa dan Kak Barrack bisa sekalian makan?!" kata Jessie sambil menyerahkan kotak itu pada Barrack.


"Tapi.. " ucap Barrack dan Shafa bersamaan.


"Sudah.. tidak ada tapi-tapian.. Ayo cepat suapin Kak Shafa! Aku mau duduk di sofa sebentar,"


Barrack dengan sedikit canggung menyuapi Shafa dan Shafa masih tampak malu-malu menerima suapan Barrack.

__ADS_1


Walaupun kemarin Barrack menyuapinya, tetap saja rasanya seperti aneh mendapatkan perhatian lebih dari orang yang diam-diam dia cintai.


Saat Jessie pamit pulang, Barrack menyuruh Shafa beristirahat dan Barrack tidur di sofa.


Seperti hari sebelumnya selama 3 hari Barrack dengan telaten menjaga dan merawat Shafa sepulang dari kantornya.


Jenny juga masih menghubungi Barrack Dan mengajaknya bertemu, tapi Barrack beralasan banyak pekerjaan di kantor. Jenny tak bisa berbuat nekad, dia bisa dengan mudah dihancurkan Jason kalau terlihat mendekati Barrack lagi.


Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, pagi itu Shafa sudah diperbolehkan pulang dan kembali ke Mansion diantar supir dan ibunya.


Jason yang sudah datang dari luar kota menyambut kedatangan menantu dan besannya.


"Shafa.. Maafkan papa tidak bisa menemanimu di rumah sakit, baru semalam papa datang dari luar kota," kata Jason.


"Tidak apa-apa pa, Alhamdulillah keadaanku sudah membaik, yang terpenting papa menjaga pola makan dan kesehatan papa, karena papa sangat sibuk pasti papa selalu telat makan," kata Shafa penuh perhatian.


"Tidak masalah Pak Jason.. Nak Barrack yang sudah menjaga Shafa dengan baik," ucap Bu Farida.


"Ahh benarkah.. Tumben bocah ingusan itu melakukan tugasnya dengan baik," kata Jason tersenyum senang.


"Terimakasih Shafa atas perhatianmu pada papa, papa pasti menjaga kesehatan papa untuk kalian smua."


Lalu Jason,shafa dan ibunya ngobrol ringan di ruang tamu, Jason mempersilahkan besannya untuk menginap tapi Bu Farida menolak halus tawaran Jason dan pamit pulang ke rumah.


Shafa memasuki kamarnya yang beberapa bulan terakhir dia tempati, Ada rasa rindu kamar itu walaupun dia hanya tidur di sofa. Kemudian dia terlelap dan beristirahat di sofa.


Barrack pulang kerja, dengan tergesa-gesa memasuki kamarnya, dia tahu Shafa sudah pulang. Ada rasa bahagia terselip mendengar Shafa sudah kembali ke Mansionnya.


Barrack menduga Shafa sedang tidur lalu membuka kamarnya pelan-pelan, dan benar saja dia melihat Shafa tertidur di sofa besar miliknya.


Ada perasaan kasian melihat Shafa yang tidur di sofa walaupun sofa itu besar dan lembut, sungguh tidak adil dia tidur di ranjang yang luas dan nyaman sedangkan Shafa yang pulang dari rumah sakit malah tidur di sofa, dia menganggkat tubuh Shafa pelan-pelan dan membaringkan di ranjangnya.


Kalau diingat-ingat Shafa selalu baik padanya, menyiapkan makannya, menyiapkan bajunya, segala keperluannya bahkan Shafa dengan telaten merawat Barrack yang beberapa kali terserang demam karena kecapekan.


Barrack baru menyadari hati wanita itu sangat baik dan tulus, bahkan dia tidak pernah lagi membalas kata-kata pedas yang selalu dia lontarkannya.


Tapi dia merasa apapun yang dilakukan Shafa padanya tidak mengurangi perasaan cintanya pada Jenny, dia masih memuja gadis model itu.


Lamunan Barrack terhenti karena suara khas bangun tidur keluar dari bibir mungil istrinya.


"Eeehhmmm.. Sekarang jam berapa ya? Kenapa aku sangat lapar? Apa aku tidur sangat lama?" ucap Shafa tak menyadari Barrack yang berada di sofa sambil melihatnya.


"Sekarang sudah hampir pukul 05.00 sore tukang tidur, bangun dan isi perutmu itu, agar cacing-cacing di dalamnya tidak meronta-ronta meminta jatah makan," Ucap Barrack yang menggoda Shafa.


"Hah?!" Shafa terkejut melihat Barrack yang sudah berada dikamarnya.


Dia kesal dengan Barrack, dia berjalan ke kamar mandi dengan muka yang cemberut dan tidak memperdulikan cibiran Barrack.


Barrack malah terkekeh melihat wajah cemberut Shafa, melihat Shafa cemberut membuatnya semakin gemas.


Shafa mengoceh dan bergumam dalam hati kenapa pria dingin dan arogan itu suka sekali menggodanya sekarang, dia kesal tapi dia sangat bahagia. Wajahnya bersemu merah membayangkan suami tampannya lebih sering tersenyum sekarang.


Setelah selesai makan malam dan bercanda dengan keluarganya, Shafa dan Barrack kembali ke kamarnya.


Barrack meminta Shafa agar tidur di ranjang dan Barrack mengalah tidur di sofa, tapi Shafa terlalu sungkan tidur di ranjang Barrack.


Dia tidak mau suaminya itu tidur di sofa dengan tidak nyaman, Barrack bersikukuh agar Shafa tidur di ranjangnya dan Shafa terus menolak nya.


"Baiklah jika kamu ingin aku tidur di ranjang juga, kita akan tidur bersama dalam satu ranjang, cukup adilkan?" ucap Barrack santai.

__ADS_1


Shafa melotot mendengar ucapan Barrack, dia pasti tidak akan bisa tidur tenang karena gugup kalau ada Barrack disampingnya.


Dan akhirnya Shafa mengalah untuk tidur di ranjang dan Barrack tidur di sofa, kata-kata Barrack membuatnya tak bisa membantah lagi.


Barrack menyuruh Shafa beristirahat sedangkan dia menemui papanya di ruang kerjanya.


"Tokk.. Tokk.."


"Papa.."


"Masuklah son.. "


Barrack masuk dan duduk di sofa di ruang kerja itu.


"Papa.. Bagaimana keempat preman itu, apa papa sudah membereskan mereka?" tanya Barrack.


"Aku sudah menebus mereka dari kantor p*lisi dan membawa mereka ke markas, bereskan sendiri mereka dengan tanganmu, semua ini juga karena kesalahanmu," kata Jason mengingatkan putranya.


"Iya aku tau,baku yang memancing kemarahan mereka pa, tapi tidak seharusnya mereka juga menyerang Shafa yang seorang perempuan, dasar preman banci! Bisa-bisanya mereka mengeroyok satu perempuan," ucap Barrack dengan kesal dan memukul-mukulkan tangannya ke sofa.


Jason tersenyum melihat kekesalan Barrack, bagaimana mungkin putranya yang datar dan dingin itu tiba-tiba sangat emosional dan expresif.


"Kenapa papa malah tersenyum?" tanya Barrack menaikkan alisnya dengan ekspresi heran.


"Ahh tidak.. Papa hanya merasa lucu melihatmu, kenapa kamu jadi sangat peduli dengan Shafa, sampai-sampai kamu memaki preman-preman itu karena menyakiti istrimu, Apakah ini bisa dibilang kemajuan hubungan kalian?" Jason menggoda Barrack.


Barrack menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tiba-tiba dia mati gaya karena godaan papanya.


"Jangan bilang kamu perhatian padanya karena ancaman papa kemarin soal warisan," kata Jason menyelidik.


"Apa yang papa katakan?! Itu tidak benar pa, Ini tidak Ada hubungannya dengan masalah itu, aku hanya merasa bersalah pada Shafa, dia banyak terluka karena menolongku," ucap Barrack mengelak.


"Kamu lihat kan.. Gadis yang papa pilihkan! Dia gadis yang baik dan sederhana, dia pekerja keras dan tidak suka menghambur-hamburkan uang, pikirkan baik-baik untuk membuka hatimu untuknya, papa tidak akan salah pilih untukmu," ujar Jason menepuk bahu putranya.


"Iya pa.." kata Barrack menggangguk.


"Kamu bereskan preman-preman itu, beri mereka pelajaran tapi jangan bunuh mereka, ancam mereka supaya tidak mendekati keluarga kita lagi." ucap Jason kemudian meninggalkan ruangan kerjanya.


***


Barrack melajukan mobilnya menuju markasnya untuk memberikan pelajaran untuk preman-preman itu.


Selama 3 jam disana Barrack meny*ksa dan mengh*jar para preman itu dengan br*nggas, entah setan apa yang merasukinya, dia benar-benar sakit hati mengingat preman-preman itu melukai Shafa.


"Bughhh.. Bughhh..bugghhh.."


"Aarggghhh... Arrrghhh.. Arghhhhhh.. "


Terdengar suara p*kulan, raungan kesakitan dan permohonan ampun di ruangan peny*ks*an itu.


"Tuan muda.. Tuan muda.. Kendalikan emosi anda! Tuan besar tak mengijinkan anda memb*nuh mereka," ucap Tomy asisten Barrack, yang menepuk bahunya.


Barrack seketika menghentikan aksi brut*lnya dan membersihkan sisa d*rah disekujur tangannya.


"Bereskan mereka tom!" kata Barrack dan berlalu pergi meninggalkan asistennya.


"Baik tuan muda." ucap Tomy dengan patuh.


Mobil Barrack melesat pada pukul satu dini hari menuju Mansionnya.

__ADS_1


Dia menuju kamarnya untuk mandi dan membersihkan diri, sungguh hari yang melelahkan baginya dia ingin segera beristirahat dan tidur seharian.


__ADS_2