
Jessie masih saja sendiri, mama papa serta kakak dan kakak iparnya sedang menghabiskan waktu liburan mereka masing-masing di tempat berbeda. Dia juga tidak ingin ikut dengan salah satu dari mereka karena tak ingin mengganggu liburan singkat mereka.
Akhirnya dia memutuskan untuk mengunjungi rumah Bu Farida, ibu dari Shafa, untuk membunuh kesepiannya dirumah.
Bukannya Jessie tidak memiliki besti tapi dia tau pasti sahabat-sahabatnya itu juga sedang menghabiskan waktu bersama kekasih mereka masing-masing.
Dia menaiki mobilnya menuju rumah Bu Farida, sedikit bertanya kesana kemari dan menelfon kakak iparnya akhirnya dia menemukan rumah Bu Farida.
Rumahnya bergaya minimalis ala orang kebanyakan dengan halaman yang luas dan kebun bunga berwarna-warni, terlihat bersih dan nyaman.
"Tokkk... Tokkk.. Tokkk"
"Assalamu'alaikum bu.." Jessie mengucapkan salam.
Kemudian Bu Farida membukakan pintunya dan sedikit kaget melihat Jessie pagi-pagi datang ke rumahnya.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Wah, anak gadisku yang cantik, ibu senang sekali melihatmu sayang," ucap Bu Farida dengan tersenyum bahagia.
"Apa hari ini aku tidak mengganggu ibu?" tanya Jessie.
"Tidak sama sekali sayang, ibu sangat senang kamu berkunjung kemari,"
"Ayo sini sayang, ibu sedang masak makanan yang enak, ayo kita sarapan bersama." ucap Bu Farida sambil memegang lengan Jessie dan membawanya ke dapur.
Terlihat Bu Farida belum menyelesaikan masaknya dan menyuruh Jessie duduk di meja makan untuk menunggu semuanya siap.
"Biar aku bantu ya bu?"
"Tidak usah sayang, ini bentar lagi juga selesai, kamu duduk saja dengan manis disitu."
"Tidak usah sungkan disini, kamu juga anak ibu." ucap Bu Farida penuh kelembutan kepada Jessie.
"Oia Kak Zain kemana bu?"
"Selepas sholat subuh tadi Zain tidur lagi, kegiatannya sangat banyak dihari biasa makanya saat liburan dia hanya tidur seharian."
Jessie hanya ber-oh ria mendengar ucapan Bu Farida karena dia tidak begitu mengenal dekat sosok Zain.
Setelah beberapa menit berlalu sarapan sudah siap di meja dan Bu Farida membangunkan Zain untuk sarapan bersama.
Terlihat Zain mengucek matanya dan menguap, Dia hanya memakai celana pendeknya dan bertelanjang dada berjalan ke arah meja makan. Saat dia membuka mata dia baru sadar kalau disitu tidak hanya ada Bu Farida tapi Jessie juga tersenyum lucu melihatnya.
"Arrrggghhh ibu! Kenapa ibu tidak ngomong kalau ada tamu dirumah."
Terlihat Zain berlari ke kamarnya lagi dan memakai kaosnya. Dan kembali menuju meja makan lagi dengan wajah memerah menahan malu. Dua wanita didepannya hanya tersenyum lucu melihat sikap Zain.
"Hai Kak Zain! Kenalkan namaku Jessica, kakak bisa memanggilku Jessie," sapa Jessie yang mengawali perkenalan mereka dan mengulurkan tangannya ke arah Zain.
"Hai Jessie! senang berjumpa denganmu, ibu dan kakakku sering membicarakanmu ternyata kamu itu orangnya sangat humble seperti yang mereka ceritakan." ucap Zain memuji Jessie.
"Terimakasih Kak, Kak Zain terlalu memuji padahal aku hanya bersikap semestinya saja, mari kita sarapan!"
Akhirnya mereka sarapan bersama , usai sarapan terlihat mereka ngobrol dan bercanda bertiga. Sikap Jessie yang manja dan ceria membuat anak dan ibu itu merasa bahagia seolah memiliki anggota keluarga baru.
***
__ADS_1
Dan di belahan bumi yang lain, Shafa dan Barrack menikmati sarapan pagi mereka di Pulau Bali yang terkenal keindahannya. Mereka mengunjungi beberapa wisata disana.
Mereka memutuskan liburan sembari bekerja, Barrack akan membuka cabang baru di Bali. Asisten Tomy menyusun jadwal meetingnya pada hari senin bersama para investor yang akan menanam modal di Cabang baru miliknya.
Asisten Tomy menelfon Bosnya untuk mengingatkan jadwal meetingnya besok pagi.
"Drrtttt.. Drrttt.."
Ponsel Barrack berbunyi.
"Hallo.. Ada apa Tom, Tumben kamu menelfon?"
"Boss , jangan lupa besok ada meeting dengan para investor."
"Iya aku ingat, kau kira aku kakek tua yang sudah pikun!"
"Bukan begitu Boss Muda, Saya takut boss keenakan liburan dengan nona muda sampai lupa jadwal meeting anda." Goda Tomy.
"Alasan saja kamu tom, bilang saja kamu iri ingin segera menyusulku kesini, tunggulah sampai hari senin." Cibir Barrack.
"Disaat senang saja boss muda tidak mengajakku, nanti giliran susah saja saya harus ada dalam hitungan detik, dikira saya ini jin apa cuma mengedipkan mata langsung sampai."
"Lagian kamu kan jomblo Tom, aku cuma takut kamu sakit kepala melihat aku dan istriku bermesraan."
"Terus saja mengataiku boss, doain kek saya juga punya istri yang baik dan cantik seperti nona muda, minimal dapet bule sepulang Bali nanti, hehehe.. "
"Masalahnya bule tidak ada yang mau denganmu Tom, kalau bunglon baru!" Barrack masih mengejek dan menertawakannya.
Terdengar dari seberang telfon Tom hanya menghela nafas panjang mendengar ejekan Bossnya.
"Wah serius ini boss!"
"Iyalah masa aku bohong, nanti semua biaya liburanmu biar kantor yang bayar."
"Wahhh terimakasih Boss muda, anda baik sekali, semoga sepulang dari Bali anda segera memiliki momongan."
"Amiiin.. Terimakasih doa tulusmu Tom."
Kemudian mereka mengakhiri perbincangan mereka ditelfon.
Hari senin pun tiba kini Barrack dan Tomy terlihat rapi memakai setelan jas mereka dan mulai meeting dengan para investor. Pengawal bayangan yang ikut hanya sedikit tapi mereka juga siaga menjaga Bossnya dari kejauhan. Sementara Shafa malah menghabiskan waktunya berjalan-jalan disekitar area hotel dan mengunjungi beberapa toko oleh-oleh.
Saat menjelang sore meeting telah usai, Barrack pamit kepada para investor untuk kembali ke Hotel tempatnya menginap. Tapi beberapa dari mereka mengajaknya pergi ke club nanti malam.
Awalnya barrack menolak, tapi mereka memaksa dan akhirnya dia menyanggupi untuk ikut. Dia harus pulang terlebih dahulu untuk ijin kepada istri tercintanya.
Beberapa jam telah berlalu, Barrack telah meminta ijin pada Shafa untuk pergi ke club malam, awalnya Shafa ragu untuk mengijinkan, tapi Shafa tidak bisa melarangnya karena berhubungan dengan rekan bisnisnya.
Shafa hanya berpesan kepada suaminya agar tidak terlalu mabuk, atau sebisa mungkin tidak minum alkohol. Barrack tidak berjanji tapi mengusahakan untuk tidak terlalu banyak minum.
Barrack akhirnya berangkat bersama Tomy. Mereka memasuki Club terkenal dan terbesar di Pulau indah itu dan menemui rekan bisnisnya. Disana terdengar suara alunan musik yang sangat keras dan penari-penari s*xy mulai beraksi dengan pertunjukannya.
Terlihat mata Tomy berbinar bahagia melihat banyak bule s*xy berjoged mengikuti alunan musik.
"Boss..Pemandangannya terlalu indah, saya takut tidak bisa mengendalikan diri Boss." ucap Tomy tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Dasar otak mesum, baru juga masuk sudah kebelet kau Tom, makanya jangan kelamaan sendiri! Lihat yang bening sedikit saja langsung tegang, payah kau Tom." cibir Barrack.
"Ahh Boss muda tidak bisa liat orang senang, mari Boss kita temui dulu Pak Denis lalu aku mau keliling cari bule-bule cantik." ucap Tomy yang tak sabar dan terburu-buru mencari rekan bisnis mereka.
"Dengar Tom! Urusan kesenanganmu di ranjang jangan kau masukkan tagihan kantor, bisa-bisa gulung tikar aku!" Barrack memperingatkan.
"Hehehe.. Hanya sekali saja Boss." ucap Tomy nyengir kuda.
"Tidak ada sekali! Enak saja kamu tom! Sekali disini, nanti sekali disana terus sekali lagi disana."
"Iya.. Iya Boss!"
Akhirnya mereka bertemu Pak Denis dan beberapa rekan yang lain di ruangan yang mereka pesan. Terlihat ada beberapa botol minuman beralkohol dan banyak snack di atas meja.
Beberapa wanita cantik nan s*xy berpakaian kurang bahan yang menonjolkan b*lahan d*danya berada di sebelah rekan bisnis mereka. Barrack menghela nafasnya panjang, dia membayangkan kalau Shafa tau situasi di ruangan ini bisa-bisa terjadi perang Dunia ketiga. Berbeda dengan Tomy yang tersenyum kegirangan.
"Selamat malam Pak Denis!" sapa Barrack.
"Selamat malam juga Tuan Muda, silahkan duduk dan mari kita minum sambil berbincang."
Mereka berbincang mengenai kehidupan dan pengalaman mereka sambil bersulang berkali-kali. Terlihat seorang wanita sewaan mereka menggoda Barrack yang sedikit mabuk. Barack yang setengah sadar beberapa kali menepis sentuhan wanita itu. Dia agak risih tapi dia tidak bisa terang-terangan berlaku kasar kepada wanita-wanita itu.
Berbeda dengan Tomy yang menikmati sentuhan wanita-wanita malam itu, dan dia sudah mulai mabuk berat.
"Drrrttttt.. Drrrttttt... "
Getar ponsel Tomy mengagetkannya,saat dia menjawab seseorang di seberang telfon itu ternyata Shafa.
"Iya Nona muda, apakah ada yang anda perlukan, sampai anda menelfon saya?" tanya Tomy.
"Hei kamu sudah mabuk ya Tom?"
"Hehehe, iya nona." Tomy tersenyum seperti tanpa dosa.
"Tadi aku nelfon Barrack tapi tidak diangkat, sepertinya dia tidak mendengar, coba aku mau lihat apa yang dilakukannya disana! Hidupkan kameramu! "
Shafa mengubah panggilan biasanya beralih ke panggilan video.
Kemudian tanpa berfikir panjang karena dia sedang mabuk berat Tomy langsung menurut ucapan Shafa, padahal terlihat Barrack disana sedang digoda beberapa wanita. Dia mengarahkan kamera ponselnya ke arah Barrack duduk dan tanpa sadar mengatakan sesuatu yang memancing istri bossnya marah.
"Boss muda sedang bersenang-senang nona, dia minum banyak vodka dengan kami, hehehe.. " kata tomy dengan suara khasnya orang sedang mabuk.
Shafa melotot melihat banyak wanita disana yang mencoba mendekati Barrack, walaupun Barrack beberapa kali menepis tangan mereka tapi Shafa takut Barrack akhirnya tergoda dengan mereka.
Dengan kemarahan di ubun-ubun, dia berteriak sangat kencang diseberang telfon.
"*Barrack! Dasar suami l*knat kau! Awas saja kau, aku hancurkan semua yang ada disitu*!"
Shafa Lalu menutup telfonnya dengan cepat.
Dan Tomy tiba-tiba mendapat kesadaran maksimal saat mendengar teriakan Shafa yang keras dan menakutkan itu. Dia baru sadar ternyata dia baru saja menggali kuburan Bossnya dan dirinya.
"Mampus.. Mampus.. Aduhh apa yang aku lakukan tadi! Bisa-bisa aku dibunuh sama Tuan Muda." gumam Tomy.
Tomy tiba-tiba sudah tidak bernafsu meminum Vodkanya dan akan menghampiri Bossnya untuk meminimalisir kemarahan istri Bossnya.
__ADS_1