Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
65.J&J part 7 (Perbincangan Dua Pria)


__ADS_3

"Kak James maafkan aku, aku janji tidak akan buat kesalahan lagi, please kasi aku kesempatan!" Jessie mengejar James yang berjalan meninggalkannya.


"Aku tidak peduli! Pergi kamu, jangan menampakkan wajahmu lagi didepanku!" seru James.


Tak disangka tiba-tiba Renata muncul diantara mereka.


"Sayang," panggil Renata.


"Rena sayang! Kamu kok disini?" James berbinar bahagia melihat sang kekasih.


"Aku akan menemani Bossku meeting disini sayang,"


Renata mencium lembut bibir James dan memeluknya dengan posesif.


Keduanya seolah tak peduli dengan keberadaan Jessica, sehingga Jessie harus memalingkan wajahnya agar tidak melihat adegan menyakitkan itu.


"Baiklah sayang, sepertinya Bossku sedang menungguku! Aku pergi dulu ya!" pamit Renata.


James seperti tak rela melepaskan sang kekasih dan dia menarik tangan Renata, "Sayang, nanti malam aku jemput dirumah ya! Sudah lama kita nggak dinner di luar,"


"Tapi aku nggak bisa sayang, pekerjaanku masih banyak. Mungkin hari ini aku akan lembur," ucap Renata merasa bersalah.


James terdiam dengan raut wajah kecewa, lagi-lagi Renata sibuk dengan pekerjaan sampai mereka jarang bertemu beberapa bulan belakangan.


"Sayang, tolong mengertilah! Aku butuh banyak uang untuk operasi jantung papaku, aku harus bekerja keras agar uangku cepat terkumpul."


"Rena kau tahu aku bisa membantumu, berapapun yang kamu mau! Tapi tolong jangan mengabaikanku!" pinta James.


"James, kau tahu aku tidak suka bantuan dari orang lain. Aku minta maaf James, aku janji saat pekerjaanku selesai kita bisa liburan lagi berdua. Jangan marah ya sayang, aku sangat mencintaimu James!" ucap Renata yang lagi-lagi mencium bibir James.


"Aku juga sangat mencintaimu sayang! Beberapa hari yang akan datang aku akan menagih janjimu, jaga diri baik-baik ya!" ucap James melepas kepergian Renata.


Setelah Renata menghilang dari pandangan matanya, dia kembali ke mobilnya kemudian duduk di kursi kemudi. Dia merasa ada sesuatu yang kurang, tapi dia binggung apa itu.


Saat tak sengaja dia menoleh ke kursi penumpang, dia melihat kacamata Jessie tertinggal di kursi mobilnya.


"Astaga! Dimana gadis itu, aku sampai melupakannya! Jangan sampai dia mengadu pada mamaku kalau aku tadi ketemu sama Renata. Aku harus cari dia," gumam James.


James melajukan mobilnya dan menyusuri jalan untuk mencari keberadaan Jessie.


Dan benar saja, gadis itu sedang duduk termenung di sebuah halte bis, dan James memberhentikan mobilnya tepat di depan Jessie.


"Jessie! Cepat masuk ke mobilku sekarang!" perintah James.


"Aku nggak mau! Aku mau pulang sendiri saja," Jessie tak peduli, hatinya sangat sakit melihat James dan Renata bermesraan didepannya.


"Ck! Cepat masuklah sekarang ini perintah seorang atasan, atau aku akan mengeluarkanmu dari perusahaanku!" seru James dengan kesal.


Jessie yang takut dikeluarkan dari perusahaan James, sontak segera masuk lagi ke dalam mobil James. Dia terlalu malas harus mencari perusahaan lagi dan yang terpenting adalah dia bisa terus dekat dengan pria yang dicintainya.


"Jessie!"


"Iya Kak James,"


"Jangan mengadu pada mamaku soal aku bertemu Renata tadi!"


"Memangnya aku anak kecil, suka ngadu!"


"Ya kan memang kamu tukang ngadu, kalau bukan karena kamu, orangtua kita nggak mungkin jodohin kita berdua!"


Jessie hanya terdiam dengan ucapan James, dia memang memaksakan perjodohan ini dan bersikeras ingin membuat James jatuh cinta padanya. Walau sepertinya sangat sulit, dia akan terus berusaha untuk cinta pertamanya sekaligus cinta masa kecilnya.


Dan selama tiga bulan berada di perusahaan James, Jessie terus menemani James saat berada di luar kantornya bersama Fino juga. Tak jarang juga dia mencari perhatian pada pria yang dicintainya itu.


Hingga sampai tiba satu tahun, Papa dan mama James menangih janji James, untuk menerima perjodohan ini dan James mau tidak mau harus menepati janjinya, karena dia tidak menemukan wanita lain lagi. Cinta dan hatinya hanya untuk Renata, untuk sekarang dia bersedia menikahi Jessie tapi setelahnya dia berencana akan menikahi Renata diam-diam.

__ADS_1


***


Di masa sekarang..


Di Mansion keluarga Hansel, Shafa, Bu Farida dan Reyhan akan bersiap kembali ke London. Karena kontrak kerja Shafa di perusahaan Robert belum berakhir, dan beberapa kontrak pembuatan iklan juga harus segera diselesaikan.


Dengan berat hati, Barrack dan keluarganya melepaskan kepergian Shafa, Rey dan Bu Farida ke bandara.


Barrack berjanji pada istrinya, secepatnya akan menyusulnya ke London jika pekerjaannya telah selesai.


Setelah mengantarkan istrinya ke Bandara, Barrack kembali ke kantornya dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Tom, tolong hubungi James. Bilang padanya nanti malam aku ingin bertemu dengannya di basecamp pukul 9 malam."


"Baik Boss!"


Malam pun tiba, kedua laki-laki yang telah lama bersahabat itu akhirnya bertemu setelah satu tahun lebih tidak bertemu karena kesibukan mereka masing-masing.


"James!" Barrack memeluk James dan menepuk bahunya sekilas.


"Bagaimana kabarmu Tuan Arogan! Apa istrimu sudah kau temukan?"


"Alhamdulillah istri dan putra kesayanganku telah kembali ke pelukanku,"


"Apa putra? Kamu sudah memiliki putra Barrack?"


"Hm, umurnya hampir 3 tahun. Dia pintar dan sangat lucu, wajahnya sangat mirip denganku sewaktu kecil." ucap Barrack dengan binar bahagia.


"Selamat atas kebahagiaanmu kawan! Aku turut bahagia setelah bertahun-tahun melalui kesulitan akhirnya kamu telah menemukan kebahagiaanmu yang sejati."


"Terimakasih James!"


James mengangguk.


"Aku tidak tahu apa keputusanku ini sudah benar atau tidak. Aku berjanji pada orangtuaku akan menerima perjodohan ini kalau aku tidak menemukan wanita lain selain Renata. Kau tahu sendiri sampai matipun orangtuaku tidak menyetujui hubunganku dengan Renata, entah karena perbedaan keyakinan kami atau karena ada alasan lain dibaliknya."


Wajah James terlihat frustasi.


"Apa kau masih mencintai Renata?" tanya Barrack.


"Itu sudah pasti,"


"Jika kau tidak mencintai adik kesayanganku, jangan sekali-kali kau sakiti dia!"


"Adikmu yang menyakiti dirinya sendiri! Dia sudah tahu aku tidak mencintainya tapi dia terus mengejarku! Bersyukurlah yang dikejar adikmu adalah aku, jika itu orang lain bisa saja dia dengan mudah dia dimanfaatkan," ujar James.


Barrack terdiam karena ucapan James ada benarnya, dia tidak bisa apa-apa kali ini, perjodohan ini adalah kesepakatan dua keluarga dan permintaan Jessie sendiri jadi James juga tidak bisa disalahkan disini.


"Jika kelak kalian tetap tidak bisa bersatu dan kalian sama-sama menyerah dengan pernikahan ini. Tolong kembalikan adikku baik-baik padaku, dia adikku satu-satunya dan kau tahu aku sangat menyayanginya. Aku hanya tidak ingin karena masalah ini nantinya kita berbalik menjadi musuh,"


"Aku tidak tahu harus berkata apa padamu dan aku pun tidak bisa menjanjikan apapun. Jadi biarkan pernikahan ini terjadi, karena aku yakin ini semua adalah jalan takdir. Kita lihat saja kemana takdir akan membawa hubungan kami," ucap James yang pasrah.


Barrack mengangguk dan mereka kini berbincang santai dan bercanda seperti biasanya.


Keesokan harinya keluarga James datang melamar Jessica secara resmi ke mansion Jason, dan pernikahannya akan di adakan selang beberapa hari lagi. Acara lamaran malam itu tidak mengundang banyak orang tapi hanya lingkup keluarga inti saja, James sangat tampan dengan jas hitamnya dan Jessie juga sangat cantik dengan dress cantiknya berwarna gold.


Binar bahagia terpancar di mata Jessie sedangkan James terlihat biasa saja, dia tersenyum untuk berpura-pura bahagia.


James menyematkan cincin berlian di jari manis Jessie dan kedua keluarga berseru bahagia.


Setelah prosesi lamaran telah selesai, kini kedua keluarga duduk bersantai bersama sembari menikmati hidangan yang disuguhkan.


James keluar rumah dan duduk di taman bunga sembari menyulut rokoknya, entah dia harus sedih atau bahagia saat ini. Renata sempat marah dan ngambek dengan keputusannya menikahi Jessie, tapi James berjanji akan menikahinya setelah semua keinginan keluarganya telah tercapai, Renata pun akhirnya bisa mengerti dan bersedia menunggu James.


"Ehemm!" Jessie berdehem saat menghampiri James dengan pandangan lurus

__ADS_1


James menoleh ke arah Jessie sekilas lalu menghisap rokoknya kembali.


"Apa Kak James marah dengan pernikahan ini?"


"Tidak, aku sendiri yang menyanggupi untuk menerima perjodohan ini. Tapi jangan berharap aku mencintaimu, karena kau tahu di hatiku hanya ada seorang saja."


"Iya aku tahu, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati kakak,"


"Terserah kamu saja, kamu sendiri yang memilih untuk menyakiti hatimu sendiri,"


"Aku masih bisa tahan,"


"Gadis manja sepertimu bisa kuat juga ternyata, kita lihat saja seberapa kuat kamu bisa bertahan hidup denganku," ucap James tersenyum sinis.


Sesaat setelah berbincang, mereka pun kembali ke dalam rumah dan keluarga James pun telah bersiap untuk pulang ke mansion mereka.


***


Dua hari setelah kembalinya Shafa ke London, Barrack begitu sangat merindukan istri dan putranya. Dia menggunakan jet pribadinya untuk menyusul istri dan putranya ke London ditemani oleh Tomy.


Setelah sampai di Kota London, dia membeli banyak mainan sebagai oleh-oleh untuk putra kesayangannya.


"Ting tong.. Ting tong!"


Barrack memencet bel kediaman keluarga Shafa.


Dan Bu Farida membukakan pagarnya.


"Assalamualaikum Bu,"


Barrack mencium tangan Ibu mertuanya dan Bu Farida pun menyambutnya.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. mari masuk Nak Barrack!" ajak Bu Farida.


"Baik Bu,"


Barrack masuk kedalam rumah Bu Farida dan segera menemui putra dan istrinya.


"Siapa Bu?" tanya Shafa yang sedang menemani Rey bermain.


"Surprise sayang!" Barrack tersenyum bahagia.


"Sayang!" Shafa berdiri dan langsung memeluk erat sang suami untuk mengobati rasa rindunya.


Dan Rey pun merangsek maju memeluk kedua orangtuanya.


"Mommy, Daddy.. kalian melupakan ku!" ucap Rey yang mendongkakkan keatas memandang wajah kedua orangtuanya.


"Mana ada daddy lupa putra kesayangan daddy yang tampan ini!" Barrack menggendong putranya dan mencium pipi gembulnya, "Daddy membelikanmu banyak mainan, lihatlah di belakang Daddy ini," Barrack menunjukkan setumpuk mainan yang ada di belakangnya.


"Teyimaacih mainannya daddy! Ley sayang daddy,"


"Cup!"


Rey mencium pipi ayahnya dengan bahagia.


"Oh sayang daddy aja nggak sayang mommy?" Shafa berpura-pura merajuk.


"Sayang mommy juga,"


"Cup!" Rey mencium mamanya juga.


Akhirnya Barrack dan Shafa bisa kembali bersama lagi, Barrack mengambil cuti kerja dan menemani sang istri dan putranya kemanapun mereka pergi selama beberapa hari ini.


Barrack juga menemani Shafa mengisi beberapa acara di televisi lokal, dia sangat bangga istrinya menjadi penyanyi pendatang baru yang paling digemari kalangan muda-mudi.

__ADS_1


__ADS_2