Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
8.Pernikahan


__ADS_3

"Ayo cepat tata bunga-bunga putih itu! Di Sana! Hhmmm.. di sana juga! Jangan lupa menambahkan lampu ini sebelah situ," Terlihat Jessica sibuk mengarahkan beberapa pelayan untuk mendekorasi mansionnya.


Walaupun pernikahan kakaknya hanya sederhana dan dihadiri kerabat dekat saja, dia ingin dirinya sendiri yang mempersiapkan keperluan acara pernikahan itu untuk kakak tercintanya besok. Hari yang sangat berarti bagi kakaknya menurut Jessica, walaupun bagi Barrack tidak berarti sama sekali.


Barrack tidak menginginkan pernikahan ini diketahui publik, sebenarnya dia belum siap melepas masa lajangnya karena dia masih kuliah dan masih sangat muda, semua dia lakukan hanya untuk berbakti kepada papanya.


Di mansion itu semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing, Myra hanya berdiam diri dikamar. Dia juga ikut sedih merasakan apa yang dialami putra tercintanya yang terpaksa menikah dengan orang yang tidak dicintai. Apalagi calon menantunya itu bukan dikalangan wanita kaya sepertinya, tapi Myra tak bisa berbuat apa-apa untuk putranya.


Barrack terlihat frustasi dan meninggalkan Mansionnya pagi-pagi. Dia ingin sekali bertemu Jenny dan meluapkan sedihnya, tapi wanita itu sedang bekerja di luar kota. Handphone wanitanya itu selalu dalam mode off saat sedang bekerja, ada sedikit curiga tapi selalu dia tepis dan berfikir positif dengan kekasih tercintanya itu.


"Kakak!" Jessie berteriak memanggil kakaknya.


"Kakak mau kemana? Besok pagi kan kakak menikah, tidak bisakah kakak sehari saja diam di rumah?" kata Jessie dengan bibir mengerucut.


Barrack menatap adiknya dengan gemas dan mencubit hidungnya, "Lihatlah kenapa hari ini adik kesayanganku cerewet sekali!"


"Kakak hanya ingin mencari udara segar sebentar.. Tenanglah kakak tidak akan kabur di acara pernikahanku besok, karena adik kesayanganku sendiri yang mempersiapkan semuanya," kata Barrack yang mengacak rambut adiknya dengan gemas dan berlalu pergi.


Barrack melajukan mobil sport hitamnya menuju basecamp, yang bisa menghiburnya saat ini hanyalah ketiga sahabat konyolnya itu.


"Lihatlah siapa yang datang.. Bukannya bersiap untuk acara besok sang pengantin pria malah keluyuran, " ucap James dengan nada mencibir.


"Sudah jangan bicara omong kosong! Aku sudah membeli banyak minuman dan snack, mari kita minum sampai pagi!" ucap Barrack bersemangat. Kemudian dia meletakkan semua barang bawaannya dimeja.


"Apa kau sudah gila Barrack? Kalau besok kamu tidak bisa mengucapkan ijab kabul dengan benar, kau akan ditertawakan banyak orang," Ken memperingatkan.


"Diam! Aku tak peduli dengan acara itu, jangan bahas lagi disini, hari ini aku hanya ingin bersenang-senang," kata Barrack menatap ketiga sahabatnya. Kata-kata mereka semakin merusak moodnya.


Kemudian Gery menghampiri dan memeluk bahu Barrack.


"Calm down bro.. Ayo kita temani kau bersenang-senang, kalau perlu aku akan membawakan wanita-wanita cantik supaya lebih menyenangkan."


"Dasar buaya kampus s*alan! Simpan saja wanita-wanita j*langmu itu," seru James sembari melempar bantal sofa ke muka Gery.


Lalu mereka mulai bercanda, ngobrol kesana kemari dan minum bersama sampai waktu begitu cepat berlalu dan menunjukan pukul 11.00 malam.


James menghampiri Barrack dan menepuk pundaknya saat Barrack meracau tak jelas kesana kemari.


"Barra.. Pulanglah! Ini sudah larut dan kau sudah sangat mabuk, terima atau tidak besok adalah hari pernikahanmu," ucap James dengan mode serius.


James tidak begitu suka meminum alkohol dia hanya minum sedikit untuk menghormati persahabatan mereka.


"Apa kamu ingin mengecewakan ayahmu yang begitu menyayangimu? Mari aku antar! Biarkan saja mobilmu disini," ajak James.

__ADS_1


Barrack tak menolak ajakan pulang James tapi dia masih meracau tak jelas saat James memapah tubuh Barrack dan memasukannya kedalam mobil James.


Mobil James melesat cepat menuju Mansion Barrack. Para penjaga gerbang sangat hafal mobil James dan langsung membukakan pintu gerbang. James masuk mansion dan memapah tubuh Barrack. Seketika Jason, Myra dan Jessie menghampiri James yang sedari tadi menunggu kedatangan Barrack.


Terlihat raut muka Jason merah padam menahan amarahnya, dia tidak pernah melihat Barrack semabuk itu sebelumnya. Ada sedikit rasa sedih menjalar dihatinya melihat putra kesayangannya sangat kacau.


"Darimana saja anak kurang ajar itu," teriak Jason.


"Om.. Kami hanya menghabiskan waktu di basecamp saja, tolong jangan memarahinya, om pasti tau kenapa dia seperti ini," ucap James.


"Baiklah, berikan dia padaku! Terimakasih sudah mengantarnya pulang dengan selamat, dan besok jangan lupa bawa temanmu yang lain kesini," ucap Jason melunak.


"Baik Om, tante dan Jessie.. Saya pamit pulang dulu." Angguk James dengan sopan dan Jason membalas anggukan itu.


***


Cahaya mentari mulai masuk melalui jendela yang perlahan dibuka oleh Myra, dia membangunkan putra kesayangannya itu untuk bersiap-siap.


"Barra sayang.. Bangunlah dear, ini sudah waktunya bersiap-siap," ucap Myra sambil menyibakkan selimut yang dipakai Barrack.


"eeeeghhhhh.. "


"Sebentar lagi ma.. Ini masih pagi.. Aku akan bangun sejam lagi," tawar Barrack dan kembali menutup kepalanya dengan bantal.


Myra melemparkan bantal yang berada diatas kepala Barrack ke sembarang arah.


Myra menarik tangan Barrack dan mengarahkannya ke kamar mandi.


Satu jam kemudian iring-iringan pengantin wanita sudah datang, terlihat di sana sang pengantin wanita keluar dari mobil yang ditumpanginya. Pengantin wanita itu begitu cantik memakai kebaya putih yang panjang, dihiasi banyak swarovski dan memakai mahkota cantik dikepalanya.


Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion dengan perasaan gugup yang menjalari tubuhnya. Dan seketika ibunya menggenggam tangannya yang dingin itu.


"Tersenyumlah sayang, ini adalah hari bahagiamu, yakinlah bahwa ayahmu sedang tersenyum melihatmu akan menikah hari ini," ucap Ibu penuh sayang.


Zain tak kalah bahagia juga melihat kakak kesayangannya akan menikah, bahkan di mobil Zain memegang tangan kakaknya untuk memberi semangat dan doa.


Saat sudah berada di dalam mansion, rombongannya sudah ditunggu oleh pengantin pria dan keluarganya. Dia menundukkan kepalanya dan tak berani menatap wajah pengantin prianya. Pak Jason dan Myra menyambut mereka dengan ramah dan mengantarkan Shafa bersanding disamping calon suaminya.


Barrack dan ketiga sahabatnya yang berada di belakang terkejut tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mereka. Ternyata Pengantin wanitanya adalah Shafa teman SMA-nya yang baru-baru ini selalu mereka bicarakan.


Barrack yang masih terdiam karena terkejut, tidak menyahut panggilan ayahnya dan tersadar sampai panggilan yang ketiga.


"Barra.. "

__ADS_1


"Barra.."


"Barra.."


Akhirnya papanya menyentuh bahu Barrack dan kemudian dia tersadar.


"Ahh iya papa.."


"Duduklah di depan penghulu bersama calon istrimu, " ucap papa. Lalu Barrack mengangguk dan prosesi ijab kabul pun terlaksana.


Semua berucap syukur dan bahagia saat penghulu memberikan doa penutupnya. Lalu dengan ragu Barrack mengulurkan tangannya untuk dicium istrinya. Dan Shafa mencium tangan kokoh itu dengan gugup.


Semua orang yang ada disana mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin. Ibu dan Zain juga memeluk Shafa dan mendoakan kebahagiaan orang tersayangnya.


Ketiga sahabat Barrack pun iku mengucapkan selamat dan menggodanya.


"Barra.. Bagaimana bisa kau malah menikahi wanita yang rencananya aku dekati, kau tau aku adalah fans barunya," goda Gery dengan memperlihatkan senyum manisnya di depan Shafa.


Shafa dan Barrack hanya memutar bola matanya malas mendengar gombalan Gery. Dan kedua sahabatnya yang lain melayangkan tinjunya di udara di belakang punggung Gery, ingin sekali mereka menghajarnya karena dia merayu diwaktu yang tidak tepat.


Kemudian James mendekat ke telinga Barrack dan berkata,


"Barra kau tau sebuah ungkapan lama, bahwa terkadang benci dan cinta itu bedanya tipis, bisa saja Kebencianmu itu suatu saat akan menjadi Kebucinanmu, " kata James menggoda Barrack. Sontak Barrack kaget dan melotot ke arah James.


"Tutup mulut b*sukmu itu, Itu tidak akan terjadi!"


James hanya mengulum senyum mendengar ucapan Barrack itu.


Tiba-tiba terdengar suara wanita di belakang mereka dan kemudian berjalan mendekat memeluk Barrack.


"Barra.. Selamat atas pernikahanmu, maaf aku datang terlambat, semoga kau bahagia," ucap Jenny berpura-pura manis.


"Je.. Jeny.. Kau datang?" ucap Barrack sedikit kaget saat Jenny tiba-tiba memeluknya.


"Bagaimana mungkin aku tidak datang di acara pentingmu ini, aku ingin melihat langsung wanita yang sudah merebutmu dariku," kata Jenny sambil memandang sinis pada Shafa.


Semua orang kaget mendengar omongan Jenny dan semua memandang kedua pengganti dan Jenny secara bergantian. Lalu Jason mendekat ke arah Jenny untuk memperingatkannya.


"Jenny.. Jaga ucapanmu! Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu di acara bahagia ini, kalau kau buat keributan, pergilah dari sini!"


"Maaf om.. Saya akan pergi." ucap Jenny sedikit gugup melihat tatapan tajam Jason. Kemudian dia mendekati Shafa dan berbisik di telinganya.


"Hei Pelayan miskin.. Jangan merasa bahagia dulu kau, aku akan merebut Barrack darimu!" ancam Jenny.

__ADS_1


"Coba saja jika mampu! aku akan membuatnya melupakanmu," ucap Shafa dengan santainya.


Jenny melotot mendengar jawaban Shafa. Dia tahu Shafa bukan wanita bodoh dan polos. Kemudian Jenny pergi dengan perasaan kesalnya.


__ADS_2