
"Ini juga udah pelan Boss! Boss aja yang sok jagoan, tadi dibantuin nggak mau. Sekarang baru tahu kan bonyok itu nggak enak!" cibir Tomy.
"Tutup mulutmu bo**h!" Barrack menatap tajam ke arah Tom.
"Inget kata Abah Ali Boss, jangan suka nyakitin hati orang, nanti dosa kena karma!"
"Hemmm!" Barrack menggeram kesal.
"Oke Boss aku tutup mulut," ucap Tomy yang panik sembari menggerakkan tangannya seolah seperti menutup resleting.
Sedangkan Zain hanya menghela nafasnya panjang melihat perdebatan tak penting kedua pria didepannya. Ternyata ada sisi lain, di balik Barrack yang terkenal dingin dan arogan, dia benar-benar kekanak-kanakan saat bertemu orang yang telah lama dikenalnya.
Setelah Tomy selesai membersihkan luka Barrack dan mengobatinya, akhirnya Barrack bercerita semua fitnah yang dia dapat dari Jenny. Semua dia ceritakan dari awal hingga akhir tanpa dia tutupi. Bahkan dia mengatakan jika Jenny dan keluarganya telah bangkrut dan pindah ke kampung halaman mereka. Barrack juga menunjukkan video rekaman CCTV yang ada di ruang tamu keluarganya, tentang terbongkarnya kebohongan Jenny dan laki-laki bernama Emir.
Mendengar semua cerita Barrack dan melihat rekaman video yang Barrack tunjukan secara langsung, hati Zain menjadi iba dan merasa bersalah telah memukuli kakak iparnya itu. Dan saat ini dia bertekad untuk mendukung kakak dan kakak iparnya bersatu kembali.
"Kak Barra, aku minta maaf sudah memukulimu sampai babak belur seperti ini. Seharusnya aku mendengarkan dulu semua penjelasanmu tapi hatiku sudah terlanjur terbakar emosi, maafkan aku!" ucap Zain dengan sungguh-sungguh.
Dia merasa sangat bersalah karena Barrack tidak membalas pukulannya satu kali pun, padahal Barrack juga pemegang sabuk hitam, kekuatan Barrack dengannya tentulah sepadan.
"Sudah jangan pikirkan lagi Zain! Beberapa hari lagi lukaku ini juga sembuh, anggap aja ini balasan buatku karena sudah menyakiti istri dan putraku. Selama ini aku tidak selalu ada disaat-saat tersulit dihidupnya,"
"Jangan menyalahkan dirimu terus kak! Yang penting kakak sudah berusaha dan berubah menjadi lebih baik,"
"Hmm, terimakasih sudah memberiku kesempatan."
"Sama-sama kak,"
"Kalo begitu aku pamit balik ke Indonesia lagi menemui kakakmu,"
"Baik kak, hati-hati dijalan!"
Barrack meninggalkan kediaman Shafa dan kembali ke negara asalnya.
***
Di Ibukota Jakarta, Shafa telah berada di ruang make up dan bersiap akan tampil di sebuah acara ulangtahun sebuah perusahaan ternama. Sebelumnya dia menemui pemilik perusahaan dan mengucapkan langsung karena telah sudi mengundangnya dalam acara spesial itu.
Di ruangan itu dia juga bertemu dengan beberapa artis ibukota, tiba-tiba ada rasa minder dihatinya. Tapi dia meyakinkan dirinya jika dia harus percaya diri dengan segala kemampuannya, para artis itu dengan dirinya sama-sama berbakat dan memiliki karakteristik masing-masing.
Beberapa teman artis yang akan mengisi di acara itu juga menyapanya dan mencoba akrab dengannya. Seketika rasa ketidak percaya dirinya hilang begitu saja, semua teman sesama penyanyi begitu baik dan malah menyapa dirinya yang notabenenya adalah penyanyi pendatang baru, apalagi dia bertempat tinggal di London.
Dan tiba gilirannya dipanggil oleh tim Event organizer karena sudah saatnya dia naik ke panggung menghibur tamu undangan yang datang.
Shafa naik ke atas panggung dan mulai menyapa tamu dan tak lupa mendoakan perusahaan dan pemilik perusahaan dengan tulus.
"Shafa, akhirnya aku menemukanmu!" gumam seorang laki-laki dari sebuah meja tamu undangan.
__ADS_1
Laki-laki yang telah lama mencarinya, kini memandang wajahnya dengan tatapan sendu. Laki-laki itu begitu merindukan wajahnya, suaranya dan senyuman cantiknya. Siapa lagi kalau bukan sang suami, Barrack John Hansel.
Awalnya Barrack begitu enggan menghadiri pesta seperti ini, tapi saat dia tiba di Indonesia, papanya memaksanya untuk menghadiri acara tersebut untuk menggantikannya karena papanya beralasan sedang meeting penting di luar kota dan tak bisa ia tinggalkan. Tapi kini dia sangat berterima kasih pada papanya karena telah memaksanya untuk datang.
"Boss, apa yang harus saya lakukan? Apa kita culik aja Nona muda, biar nggak lari-lari lagi?" saran Tomy tiba-tiba.
"Ck! Ide macam apa itu! Nanti kita datangi saja dia baik-baik di belakang panggung," sahut Barrack.
"Siap Boss! Semoga lancar tidak terjadi apa-apa,"
"Apa maksudmu?" Barrack melotot.
"Ya aku cuma takut nona muda tidak mau kita dekati Boss,"
"Kamu jangan khawatir Tom, aku rasa istriku juga sangat merindukanku," ucap Barrack penuh keyakinan.
Sedangkan Tomy hanya membalas anggukan, entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak, ada keraguan dihatinya, mendekati istri Bossnya yang sekarang.
Setelah Shafa sudah menyelesaikan lagunya semua penonton bertepuk tangan dengan antusias karena mengagumi suara Shafa yang merdu.
Shafa turun ke belakang panggung, ternyata Robert dan Barrack sudah menunggunya disana. Barrack berada sedikit jauh dibelakang Robert sehingga Robert tak menyadari keberadaannya.
Robert mendekati Shafa dan kemudian memuji penampilan Shafa di atas panggung, sedangkan Shafa sendiri juga belum menyadari keberadaan suaminya.
"Shafa!"
'Ba.. Barrack kamu?" Shafa terkejut luar biasa tiba-tiba bertemu Barrack disitu.
"Shafa, ikutlah denganku! Aku ingin kita bicara," pinta Barrack.
Sedangkan Robert menghalangi dia yang akan berjalan ke arah Shafa.
"Ada apa ini?" Barrack mengernyit heran.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Shafa, jangan pernah kamu menganggunya lagi! Silahkan nanti kalian bicara di pengadilan karena Shafa sudah mendaftar ulang gugatan cerai kalian," ucap Robert dengan dingin.
"Siapa kamu dan apa hakmu melarangku bertemu dengan istriku sendiri? Diakui atau tidak Shafa masih sah menjadi istriku!" ujar Barrack yang membalas tatapan Robert dengan tajam.
"Tapi aku memang tidak ingin bicara dan bertemu denganmu Barra!" sahut Shafa.
"Kamu dengar kan ucapan Shafa! Dia tidak ingin bicara denganmu jadi jangan memaksanya ikut denganmu! Kalau kamu berani mendekat aku tidak segan-segan menghajarmu!" ancam Robert.
"Tapi Shafa!"
"Ayo kita pergi dari sini Kak!" ajak Shafa pada Robert tanpa memandang wajah Barrack yang mulai memerah menahan segala amarahnya.
Barrack mengepal tangannya melihat Shafa yang sudah pergi menjauh bersama seorang laki-laki, ada rasa cemburu luar biasa di dadanya. Sungguh rasanya dia ingin menghantam laki-laki yang sudah membawa istrinya pergi.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu!" tanya Barrack pada Tomy.
"Robert Cristian Stewart, pemilik dari Stewart Music Productions, label musik terkenal, juga pemilik perusahaan iklan dan rumah produksi film Stewart group yang berpusat di Jakarta dan London. Dia dan ayahnya Tuan Henry Stewart yang selama ini membantu Nona muda melarikan diri dan menutup akses informasi mengenai nona."
"Br***sek! Kenapa kau tidak bilang dari awal! Pantas saja selama ini susah sekali melacak keberadaannya," Barrack semakin kesal.
"Aku kira laki-laki itu tidak bersama Nona muda karena menurut informasi selama ini Nona Shafa bekerja di perusahaan yang ada di London dan Tuan Robert sendiri berada di Jakarta. Tapi aku tidak menyangka jika hari ini dia terus menempel pada nona muda. Pantas saja perasaanku tidak enak, harusnya anda tadi mengikuti saranku Boss!"
"Aarrrrghhhhh! S14l!"
"Bughh!"
Barrack menghantam tembok dengan kuat hingga kepalan tanggannya memerah.
"Boss jangan menyakiti diri sendiri! Luka diwajah anda saja belum sembuh," ucap Tomy memperingatkan.
"Suruh Mark melacak alamat Robert! Kita akan menemui istriku disana dan sudah pasti putra dan ibu mertuaku juga berada disana," ucap Barrack yang berjalan tergesa-gesa meninggalkan Tomy.
"Baik Boss!"
Tomy sedikit berlari kecil mengikuti langkah lebar Tuan mudanya.
***
Selama di perjalanan ke arah Mansion Robert, Shafa hanya terdiam. Dia memikirkan Barrack yang tiba-tiba muncul didepan matanya, seketika membuat dadanya bergemuruh. Tidak bisa dipungkiri jauh didalam lubuk hatinya dia sangat merindukan suami yang sampai saat ini sangat dia cintai.
Dia melihat Barrack yang lebih kurus dari terakhir dia bertemu dan penampilan wajahnya tidak begitu rapi, ada kumis dan jambang halus di sekitar wajahnya. Dan beberapa memar yang dia tidak tahu karena apa, ingin sekali dia mengobati memar-memar itu diwajah tampan suaminya tapi tidak akan mungkin melakukan itu lagi pikirnya.
Entah dia hanya takut berharap lebih lagi dari Barrack, itu sebabnya dia lebih memilih menghindar dari Barrack. Jika mengingat Barrack bersama Jenny, hatinya terasa begitu sakit, sekuat mungkin dia melupakan segala perasaannya pada Barrack dan menguburnya dalam-dalam walaupun baginya begitu sulit.
"Shafa!"
"Shafa!"
Robert memanggilnya, tapi karena dia begitu fokus memikirkan Barrack, dia sampai tidak mendengar panggilan itu.
"Hei!"
Akhirnya Robert menyentuh bahu Shafa sekilas dan membuatnya sedikit terkejut.
"Ahh, maaf aku tidak mendengarmu kak! Ada apa?" tanya Shafa.
"Harusnya aku yang bertanya, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja? Aku lihat dari tadi kamu melamun menatap arah luar," Robert balik bertanya.
"Aku tidak apa-apa kak, jangan khawatir!" Shafa tersenyum manis.
"Pasti kamu sedang memikirkan laki-laki itu, apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku?" tanya Robert menatap sendu ke arah Shafa sekilas.
__ADS_1