
Di malam hari tampak mansion menjadi sepi kembali. Acara Pernikahan tadi telah usai, kini tinggal sepasang pengantin baru yang berada di kamar. Sang pengantin pria terlihat pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri, dan pengantin wanita menunggu gilirannya.
Barrack yang selesai dengan ritual mandinya, setelah setengah jam berendam dikamar mandi membuat badannya rileks dan nyaman. Lalu tanpa sadar keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya sembari mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah.
"Aarrggghhhh.. " Reflek Shafa berteriak dan menutup matanya saat tak sengaja melihat pemandangan yang tiba-tiba muncul didepan pintu kamar mandi.
Sontak Barrack juga kaget mendengar teriakan Shafa, dia benar-benar lupa kalau sekarang dia tidak sendiri di kamarnya.
"Isshhh.. Kau mengagetkanku saja, jangan berlagak sok polos di depanku, aku rasa tidak mungkin kamu tidak pernah melihat yang seperti ini.. Cepat masuklah kamar mandi!" Kata Barrack sedikit meninggikan suaranya.
Kemudian Shafa menunduk dan buru-buru berlari kecil ke kamar mandi. Di kamar mandi dia menggerutu, mengoceh kesana kemari mendengar kata-kata Barrack tadi.
Dia memang bukan gadis polos tapi bukan berarti dia sering melihat laki-laki bertelanjang dada. Mungkin selama ini hanya Zain laki-laki yang pernah dia liat bertelanjang dada, itupun dirumah dan dia hanya menggangap Zain bocah laki-laki kecilnya.
Setelah melakukan ritual mandinya Shafa telah lengkap dengan baju tidurnya, dia seperti orang linglung berdiri mematung di depan pintu. Dia binggung harus berada dimana. Di ranjang itu Barrack hanya memainkan ponselnya dan mendominasi ranjang miliknya kemudian menatap Shafa yang masih mematung.
"Kenapa masih disitu? Ambil bantal dan selimut ini dan tidurlah di sofa itu!" Ucap Barrack dengan sinis.
"Jangan berbesar kepala setelah keluarga dan sahabat-sahabatku bersikap manis padamu, lalu dengan mudah aku seperti mereka dan menerimamu, JANGAN MIMPI!" Kata-kata pedas itu akhirnya keluar dari mulut pria tampan itu.
Shafa kaget mendengar kata-kata pedas Barrack, tapi dia tidak bisa membalasnya dengan pedas pula, karena sekarang Barrack adalah suaminya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Barrack walaupun tidak diharapkan. Shafa hanya menggerutu dalam hati dan menyumpahi pria arogan itu.
"Ohh ya.. di depan mama papaku bersikaplah biasa dan seperti pasangan harmonis pada umumnya, aku hanya tak ingin mengecewakan papaku,"
"Diluar rumah kita hanya orang asing, jangan pernah ikut campur urusanku dan hidupku, aku juga takkan pernah peduli urusanmu," Barrack menambahkan.
Kemudian Shafa hanya menggangguk dengan patuh dan membaringkan tubuhnya di sofa. Dia benar-benar sudah lelah tak ingin menanggapi dan memikirkan kata-kata pria arogan itu.
***
Sudah sejak pagi Shafa berkutat di dapur, dia membantu pelayan memasak disitu untuk keluarga barunya, dia bahagia dan bersendau gurau dengan para pelayan.
Jessie yang baru bangun tidur mengambil air minum dan menghampiri kakak iparnya. Hatinya sangat senang karena dia punya teman baru dirumah, dia tidak kesepian lagi.
"Morning kakak iparku.. Sepertinya baunya sangat menggoda, aku ingin segera memakannya kak," Kata Jessie tersenyum sambil memeluk kakak iparnya dari samping.
Hatinya menghangat melihat perlakuan Jessie, dia bersyukur masih ada keluarga Barrack yang peduli dengannya selain Papa Barrack. Shafa begitu gemas melihat tingkah adik iparnya yang manja itu.
"Mandilah dulu putri manja.. Nanti aku siapkan sarapan terlezat untukmu," Ucap Shafa dengan lembut.
"Terimakasih kakak iparku sayang."
Kemudian Jessie mencium pipi Shafa dengan gemas. Shafa hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adik iparnya berlalu.
Beberapa saat kemudian Shafa sudah menata semua hidangan yang telah dia masak bersama pelayan. Lalu dia ke kamarnya untuk mandi dan setelah itu membangunkan Barrack.
"Barrack.. Bangunlah! Ini sudah siang, Apakah kamu tidak berangkat kuliah? Atau melakukan aktivitas lainnya? " Tanya Shafa sambil menggoyahkan tubuh suaminya.
"Eeeeghhhhh.."
"Apa yang kau lakukan?! Menganggu tidurku saja, pergi dari sini!" Suaranya terdengar berat dan serak.
"Tapi papa dan mama sudah menunggumu di bawah untuk sarapan, kalau kamu tidak bangun juga aku akan turun sendiri, aku masih ada kuliah pagi ini," Ucap Shafa sedikit malas, dia baru tau pria itu sangat susah dibangunkan.
__ADS_1
"Iya.. Iya.. Aku bangun.. Dasar menyebalkan! mengganggu orang tidur saja."
Kemudian Barrack berjalan ke kamar mandi dengan malas.
Shafa mendengkus kesal melihat tingkah Barrack yang menyebalkan, dia masih sama saat mereka masih sekolah dulu dan sekarang semakin sangat menyebalkan.
Kedua pengantin baru itu beriringan berjalan di tangga dan turun ke ruang makan. Jason sangat bahagia melihat mereka kompak, dan tersenyum ke arah anak dan menantunya tetapi Myra tak begitu menggubris, dia hanya memandang Ponselnya.
"Barrack kenapa kamu tidak menggandeng tangan istrimu? Ayolah bersikaplah manis padanya! Dia susah payah memasak makanan lezat ini khusus untukmu," Ucap Jason menggoda Barrack. Jessie tersenyum melihat papanya menggoda pengganti baru itu.
"Papa maaf.. Aku hanya belum terbiasa, aku masih muda dan belum tau kehidupan rumah tangga itu seperti apa,"
"Baiklah son.. Nikmati saja pendekatan kalian, nanti setelah makan kita akan bicara,"
Lalu mereka melanjutkan makan mereka, Shafa melayani Barrack dengan baik, dia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Barrack, dan suaminya berpura-pura tersenyum mengucapkan terimakasih.
Setelah selesai sarapan Jason mulai membicarakan beberapa hal kepada Barrack.
"Barrack.. Saat ini kamu sudah memiliki istri dan berkewajiban menafkahi istrimu, kurangi waktu bermainmu itu dan mulailah mengurusi perusahaan papa dengan benar, semua milik papa akan menjadi milikmu dan Jessie,"
"Aku yakin kamu pasti sanggup mengatur kuliah dan pekerjaanmu dengan baik," Kata Jason.
" Baik papa.. " Ucap Barrack dengan patuh.
"Oh ya.. Kalian kan satu kampus, mulailah terbiasa berangkat bersama-sama"
"Ahh tidak pa.. Saya biasa berangkat sendiri, karena jadwal kelas kami tidak sama lagipula sepulang kuliah saya juga harus bekerja, saya tidak mau merepotkan Barrack mengantarkan saya kesana kemari," Sahut Shafa sedikit gugup.
"Aku rasa kamu tidak perlu bekerja lagi nak, Barrack sudah ikut andil menjalankan perusahaan sejak dulu walaupun belum terlalu intens, aku yakin dia bisa menghidupimu dengan sangat layak." Jason meyakinkan.
"Saya tidak bisa meninggalkannya begitu saja pa, tolong beri saya waktu untuk bicara baik-baik kepadanya kalau nantinya saya berhenti bekerja," Ucap Shafa sedikit memelas.
"Saya janji tidak akan mengabaikan tugas saya sebagai istri,"
"Baiklah nak.. Buat dirimu senyaman mungkin, papa hanya tidak mau kamu kecapekan kuliah sambil bekerja terlalu keras,"
"Papa akan membelikan mobil baru untukmu agar memudahkan kamu kemana-mana, karena setelah ini Barrack akan sedikit sibuk juga," Ucap Jason.
Barrack dan Myra pun ikut kaget mendengar Jason akan membelikan mobil Shafa, bagaimana mungkin papanya secepat itu percaya kepada seseorang dan memberikan perhatian yang sama seperti mereka.
" A.. Apa.. Mobil baru pa?." Ucap Shafa tak kalah kaget.
"Tidak pa.. Itu terlalu berlebihan, saya akan memakai motor saya yang biasanya saja, motor saya masih bagus."
"Berikan motor itu pada adikmu, kasian dia harus naik angkutan umum tiap hari,"
Shafa sedikit kaget mendengar ucapan papa mertuanya bagaimana papanya tau adiknya itu setiap hari naik angkutan umum tapi dia tidak berani bertanya. Dia sebenarnya tidak heran, orang seperti Jason akan mengetahui hal sekecil apapun yang berhubungan dengan keluarganya.
"Tapi saya tidak bisa naik mobil pa," Shafa menunduk pasrah.
"Tidak apa-apa nak, kalau kuliahmu tidak ada kelas kamu bisa ikut kursus mengemudi,"
"Terimakasih banyak papa," Ucap Shafa tersenyum ke arah papa mertuanya.
__ADS_1
Jason tersenyum menggangguk dan mengusap pucuk kepala menantunya dengan sayang. Ntah kenapa dia menyukai menantunya itu, saat pertama kali melihat menantunya dia begitu sayang seperti kepada anak-anaknya sendiri. Mungkin karena sifat Shafa yang sopan, baik dan sederhana.
Lalu mereka pergi dengan aktivitas mereka masing-masing diluar rumah.
Dan mau tidak mau untuk sementara Barrack pergi semobil dengan Shafa ke kampus.
Hening
Hening
"Ehheemm.. " Barrack Berdehem memecah keheningan itu.
"Aku akan menurunkanmu sedikit jauh dari kampus, aku tidak ingin semua teman kampus tau kalau kita sudah menikah,"
"Terserah kau saja," Shafa menjawab datar.
Ada rasa nyeri dihatinya, dia sudah mengubah penampilannya dan banyak laki-laki diluar sana mengaguminya dan mendekatinya, tapi Barrack terang-terangan menolak dan tak mengakui hubungan mereka.
Sesaat mobil sport Barrack memasuki kampus, seperti biasa ketiga sahabatnya sudah menunggunya kemudian berjalan mendekat untuk menggodanya.
"Tumben sekali kalian menyambutku, perasaanku benar-benar tidak enak melihat muka b*suk kalian." Cibir Barrack.
" Barra.. Bagaimana malam pertamamu? Pasti sangat menyenangkan tidur dengan wanita polos seperti Shafa, terlihat malu-malu dan masih tersegel, " Ucap Gery tersenyum sendiri membayangkan Shafa.
Sontak ketiga laki-laki dihadapannya melotot dan melayangkan tamparan bertubi-tubi.
"Plaakkkk!"
"Plaakkkk!"
"Plaakkkk!"
"Auuuwwhh..."
"Br*ngsek kalian! Selalu menindasku! " Gerutu Gery sambil mengelus-elus kedua pipinya.
"Siapa suruh mulut dan ot*kmu yang tak berguna itu tak bisa dikontrol!" Kata James.
"Dasar buaya kampus s*alan, sekali-kali otakmu itu perlu diambil lalu dibersihkan dengan sikat kamar mandi!" Ken ikut mengumpatinya.
Gery tak peduli dengan teman-temannya, dia selalu bersikap apa adanya dan tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Perset*n dengan kalian! Daripada aku mati penasaran mending aku bertanya langsung," Kata Gery dan menjulurkan lidahnya.
Ketiga orang itu memutar bola matanya, selain seorang playboy sahabatnya itu juga laki-laki tukang gosip dan kepo akut.
Barrack tiba-tiba menjewer telinga Gery dan mendekatkan sedikit ke bibirnya dan berkata,
"Asal kau tau aku tidak mencintai Shafa sama sekali dan tidak akan pernah menyentuhnya sedikitpun."
Kemudian berlalu meninggalkan Gery yang berbinar mendengar ucapannya.
"Ohh ya ampun Barrack.. Kau baik sekali seperti malaikat, kau menjaga calon istriku dengan baik, kutunggu kau menceraikannya," Teriak Gery.
__ADS_1
Gery melihat Barrack dan kedua sahabatnya yang berjalan menjauh kemudian mengacungkan jari tengah mereka ke udara.