
Barrack memegang pergelangan tangan Shafa agar Shafa tidak berpaling dari tatapannya.
"Shafa.. Diamlah sebentar! Jangan bergerak terus,"
"Ahh itu.. Aku.. "
"Ssttttt.."
Barrack menempelkan telunjuknya didepan bibir Shafa sebagai isyarat agar Shafa diam kemudian menarik Shafa dalam pelukannya.
Tercium bau maskulin dari tubuh pria itu, aroma khas pria yang dicintainya. Aroma itu membuatnya tenang dan nyaman.
Hati keduanya berbunga-bunga, sambil memejamkan matanya Barrack menc*umi kepala istrinya dengan tersenyum bahagia.
"Ahhh kenapa senyaman ini, rasanya semua lelahku hari ini sudah hilang, tidurlah kucing kecilku, kalau kamu cepat sembuh nanti kamu bisa kuliah dan ke cafe lagi," kata Barrack.
Shafa menggangguk tersenyum, dia sebenarnya tidak begitu mengantuk tapi karena dekapan Barrack yang nyaman lama-lama dia juga tertidur.
***
Hari Sabtu pun tiba, Barrack sudah berjanji akan menemui kekasihnya untuk membahas hubungan mereka.
Setelah makan malam selesai, Barrack berganti baju dan pamit kepada Shafa untuk keluar ke basecamp bersama teman-temannya.
Dan seperti biasa Jessie dan Shafa menghabiskan waktu bersama. Jason dan Myra menghampiri Shafa dan Jessie di kamar Jessie.
"Tok.. Tok.. Tok.. "
"Jessie.. "
"Masuk lah papa.."
"Apa papa dan mama mengganggu kesenangan kalian?" tanya Jason menggoda.
"Tidak pa.. " jawab Shafa.
"Ada apa Pa.. Ma? Sampai kalian datang kesini?" tanya Jessie.
"Katakan ma.. " suruh Jason pada istrinya.
"Aku rasa kita sudah lama tidak liburan sayang, bagaimana kalau kita liburan ke Korea?" ucap Myra antusias.
"Ke Korea!" seru Shafa dan Jessie bersamaan dan mata mereka berbinar bahagia.
"Iya ke Korea, pasti menyenangkan berada disana, tempatnya sangat indah
dan kuliner disana sangat enak dan bermacam-macam, apa kalian mau?" tanya Myra.
"Mau.. Mau.. " Mereka berdua menggangguk bersama dan memeluk mama mereka bersamaan.
Myra sangat senang melihat menantu dan anak gadisnya yang manja, dia bergantian mencium pucuk kepala keduanya.
Jason hanya tersenyum melihat interaksi mereka.
"Apa papa tidak dipeluk juga? Kalian mengabaikan papa, kalau papa tidak ikut kalian tidak bisa liburan di negara favorit kalian!" ujar Jason yang dan merentangkan tangan.
Sontak ketiga wanita itu memeluk Jason bersamaan sampai Jason terhuyung hampir jatuh dan Mereka tertawa bersama.
"Bersiap-siaplah sayang, besok kita akan berangkat" suruh Myra kepada kedua wanita dihadapannya kemudian berlalu pergi bersama suaminya.
"Apa secepat itu?!" seru Shafa.
Shafa kaget tidak percaya dia kira mungkin masih rencana ternyata itu seperti liburan dadakan yang sepertinya menyenangkan dan Jessie tidak kaget dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kakak ipar tidak tau saja seperti apa mama papaku, kalau Mereka bilang akan pergi itu berarti sekarang atau besok," Kata Jessie.
"Ahh apa begitu, tapi bukankah papa itu pebisnis yang sibuk, mana mungkin papa Ada waktu untuk liburan?"
"Kan Ada kak Samuel Sama kak Tomy, mereka kepercayaan papa, saat papa pergi liburan atau pergi kemanapun, mereka bisa menghandle perusahaan dengan baik,"
Shafa hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan Jessie.
"Oh ya.. Nanti beri tahu Kak Barrack ya kak kalau kita besok ke Korea, dia jarang mau ikut dengan kami dulu, kali aja kalau ada Kak Shafa nanti Kak Barrack mau ikut, pasti menyenangkan kalau bersama kalian," kata Jessie membayangkan dengan bahagia.
"Iya putri manjaku.. Nanti aku akan bujuk kakakmu yang dingin itu agar mau ikut,"
Jessie terkekeh mendengar ucapan Shafa dan mereka melanjutkan acara nonton drakor mereka.
Di Apartmen Jenny, terlihat Barrack melihat ponselnya dengan serius dan duduk disamping Jenny, Jenny bergelayut manja dilengannya.
"Sayang tatap aku! Kenapa sikapmu jadi dingin begini? Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Jenny dengan nada manja.
Dia memegang dagu Barrack dan menolehkannya kesamping agar memandangnya.
"Jenny jangan begini! Aku rasa aku akan bicara denganmu tentang hubungan kita," Barrack menghela nafasnya panjang.
"Sebaiknya kita akhiri hubungan kita Jenny, papaku tau hubungan kita, Dia marah dan mengancam akan mencabut namaku dalam daftar warisannya." ucap Barrack beralasan.
Dia menjadikan papanya Alasan untuk menjauhi Jenny, dan Barrack tau betul papanya pasti masih terus mengawasi gerak-geriknya sekecil apapun.
"Apa?! Apa kau bercanda Barrack! Aku tidak mau kita putus!"
"Apa kamu mau hidup miskin kalau aku sudah tidak punya apa-apa? Papaku sangat menyayangi Shafa, dia rela mengganti namaku dengan nama Shafa pada daftar warisannya,"
"Kita bunuh saja gadis tidak tau diri itu, agar papamu tidak memberikan warisannya pada gadis itu!" ucap Jenny penuh amarah.
Sontak Barrack kaget dengan kata-kata Jenny, dia tidak percaya wanita yang dianggapnya baik dan lembut itu punya pikiran sejahat itu.
"HEII.. JAGA BICARAMU JENNY!" Teriak Barrack dengan lantang dan mencengkeram bahu Jenny dengan kuat.
" Aarrghhhh.. Sakit Barra! Lepaskan!" Jenny berteriak kesakitan. Kemudian Barrack tersadar dan melepaskan cengkramannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba kasar Barra? Kamu tidak pernah begini kepadaku," ucap Jenny yang pura-pura menangis.
"Kau tidak tau apa-apa tentang Shafa, bagaimana mungkin kamu berfikiran sejahat itu Jenny?! Aku memang tidak menyetujui pernikahan ini bukan berarti akan berbuat jahat padanya!" Barrack membentaknya penuh emosi.
"Kamu sekarang berubah karena wanita itu Barra.. Kamu mulai kasar dan membentakku! Mana janjimu akan menceraikannya! Aku tidak rela kamu membuangku begitu saja Barra!"
"Sudahlah Jenny aku ingin kita akhiri baik-baik, kita juga sudah jarang bertemu dan berkomunikasi, kamu selalu sibuk dengan duniamu dan aku juga disibukkan dengan kuliah dan pekerjaanku, saat aku senggang ingin menghabiskan waktu denganmu kamu tak pernah ada waktu,"
"Barrack jangan berkata seperti itu, aku janji akan mengurangi pekerjaanku, aku akan selalu menemanimu Barrack.. Tolong jangan tinggalkan aku!" ucap Jenny menahan tangisnya.
Dia benar-benar tidak menyangka Barrack serius mengakhiri hubungan mereka.
"Barrack aku mohon jangan akhiri hubungan kita, aku janji akan berubah seperti yang kamu mau, kamu kan sudah berjanji akan menceraikannya! Mana janjimu itu Barrack!"
"Maafkan aku tidak bisa memenuhi janjiku Jenny, kamu tau aku tidak bisa hidup miskin Jenny.. Aku tidak bisa hidup tanpa uang dan fasilitas milik papaku, kalau aku miskin apa kamu masih mau menikah denganku?" tanya Barrack berpura-pura.
Jenny terdiam tidak bisa menjawab, dia terlahir dari keluarga kaya dan sejak kecil hidupnya tidak pernah kesusahan. Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa uang.
"Kamu tidak bisa menjawab kan Jenny, aku tau kamu tidak akan bisa hidup susah juga, sudahlah aku pergi dulu," kata Barrack lalu berjalan meninggalkan Jenny yang masih terdiam.
"Tapi Barrack.. Banyak cara lain untuk memperjuangkan hubungan kita, aku bisa bicara dengan mama Myra agar membantu kita, " Jenny berusaha mengejar Barrack yang berjalan ke arah pintu.
"Sudah jangan buang waktumu, kamu tidak mengenal siapa papaku,"
"Tunggu Barrack! Aku tetap tidak mau kita putus! Aku akan terus mengejarmu kemanapun, aku sangat mencintaimu sayang," Jenny mulai menangis.
__ADS_1
"Terserah!"
Barrack berjalan menuju lift meninggalkan Jenny yang masih menangis, Jenny benar-benar sakit hati dan akan membalas dendam pada Shafa.
"AWAS SAJA KAU WANITA J*LANG!! AKU AKAN MENGHANCURKANMU!!" Teriak Jenny penuh amarah.
***
Mobil Barrack telah sampai di dalam mansionnya, dia tidak sabar bertemu istrinya. Ada perasaan bahagia dan lega saat dia memutuskan hubungannya dengan Jenny.
Dia tidak menyangka karena istri kecilnya itu, dia bisa melupakan perasaan cintanya yang dulu begitu besar pada Jenny, semua perhatian Shafa, kelembutan dan kebaikannya membuat Barrack jatuh hati padanya.
"Baru sampai?"
Shafa keluar dari kamar Jessie dan melihat Barrack akan masuk kamarnya.
"Iya baru saja sampai," jawab Barrack.
Kemudian keduanya masuk kamar mereka.
"Ada yang ingin aku katakan Barra, Ayo kita duduk di balkon," kata Shafa.
Mereka duduk bersantai di balkon rumah dan menyuruh pelayan pengantarkan kopi mereka. Terlihat Barrack menghisap cerutunya dan mereka memandangi langit yang bertaburan bintang-bintang.
"Indah sekali di atas sana Barra, aku rasa ayahku salah satu dari bintang yang indah itu," ucap Shafa menunjuk salah satu bintang diatas langit.
"Apa kamu merindukannya Shafa?"
"Hmmm.. Sangat rindu Barra! Ayahku adalah ayah yang luar biasa Barra, dia sangat perhatian dan sayang dengan kami, walaupun dia sakit dia tetap bekerja untuk kami," kata Shafa dengan wajah sendu.
"Aku tahu ayahmu sangat luar biasa, buktinya dia memiliki dua putra putri yang tangguh dan pekerja keras,"
"Terimakasih pujianmu Barra, maaf seharusnya aku tidak membahas kesedihanku disini,"
"Jangan berkata seperti itu Shafa, saat kamu sedang sedih atau sedang memiliki masalah, bahuku selalu siap untuk menjadi sandaranmu, mulai saat ini aku akan berusaha selalu ada untukmu,"
Mata Shafa memanas dia terharu dengan kata-kata Barrack, orang yang selama ini susah untuk dia gapai sekarang begitu perhatian padanya.
"Terimakasih Barra.. Kamu begitu perhatian padaku dan mau membuka hatimu untukku,"
"Aku yang terlalu bodoh mengabaikan orang sepertimu Shafa, aku baru menyadari selama ini kamu yang selalu ada untukku, memberi warna dan tawa dalam hari-hariku, terlalu banyak kebaikanmu yang belum aku balas, aku tidak tau dengan apa membalasnya, sebanyak apapun uang yang aku punya itu tidak sebanding dengan kebaikanmu," Kata Barrack dengan tulus.
"Jangan berkata itu Barra! Semua yang aku lakukan tulus ikhlas untukmu dan aku tak pernah berharap kamu membalasnya," Kata Shafa tersenyum tulus.
Kemudian Barrack menarik Shafa agar duduk dipangkuannya dan memeluknya dari belakang.
"Nyaman sekali berada didekatmu, aku menemukan sebuah kedamaian saat bersamamu, apakah ini yang dinamakan cinta sejati?" tanya Barrack.
"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu Barra.. Mungkin ini adalah awal dari perasaan kita, berawal dari perasaan saling nyaman dan ingin selalu dekat.. Dan biarkan saja berjalan mengalir apa adanya, biar waktu yang menjawabnya,"
Barrack menggangguk dan menc*umi tengkuk leher istrinya, menc*umi seluruh bagian belakang kepala sampai punggungnya, Shafa terlihat geli dan menikmati sentuhan suaminya.
Er*ngan-er*ngan kecil muncul dari bibir mungil itu dan membuat Barrack semakin gencar menc*umi istrinya, Dia membalikkan badan Shafa agar berhadapan dengannya.
Mereka saling menatap sejenak dan Barrack menc*um bibir tipis Shafa dengan penuh sayang dan Shafa pun membalas c*uman suaminya.
Ada bunga-bunga bermekaran di hati keduanya, mereka begitu bahagia dimabuk cinta, seolah tak ingin lepas satu sama lain.
Setelah beberapa menit berlalu, Barrack mengajak istrinya itu untuk masuk ke kamar, karena malam sudah semakin larut.
"Barra.. Kita masih ada tugas sebentar, jangan tidur dulu," kata Shafa yang berjalan dibelakang Barrack.
"Tugas apa?"
__ADS_1
"Besok pagi-pagi mama dan papa akan mengajak kita ke Korea dan kita harus bersiap-siap untuk keperluan kita disana,"
"Apa? Dasar orang tua itu! Mereka selalu saja semaunya, padahal hari minggu besok aku berencana akan tidur seharian," ucap Barrack yang kesal.