
Di suatu sore Zain dan Shafa pulang dari arena latihan menembaknya, Zain yang mengemudikan mobil Shafa. Mereka menuju mall untuk sekedar jalan-jalan dan makan.
Sepulang dari mall, Shafa mengantarkan adiknya untuk pulang ke rumahnya. Mereka melewati jalan raya yang sepi, berbeda dengan jalan yang biasa mereka lewati. Mereka hanya sekedar ingin mencoba jalan lain, untuk mencari suasana baru. Terlihat Shafa dan Zain tertawa dan bercanda di dalam mobilnya.
Zain memperlambat jalan mobilnya, tiba-tiba matanya menangkap hal yang buruk. Dia melihat seorang laki-laki berwajah bule sedang dikeroyok beberapa preman bersenjata dan memakai topeng hitam. Laki-laki bule itu terlihat meminta tolong, tapi hanya ada satu atau dua mobil lewat tidak ada yang berani menolong.
Shafa memperingatkan adiknya untuk tidak ikut campur, tapi Zain bersikeras ingin menolongnya.
"Kakak.. Kasihan sekali laki-laki tua itu, mungkin dia memang sedang membutuhkan bantuan kita," kata Zain.
"Zain, kakak takut ikut campur dalam hal-hal kriminal seperti itu, aku hanya takut berdampak pada keluarga kita,sebaiknya kita tidak ikut campur Zain,"
"Sudahlah kak, biar aku sendiri yang menghadapi mereka, kakak didalam mobil saja!"
"Tapi Zain.. "
"Kakak.. Apa kakak membawa senjata di mobil?" tanya Zain.
"Ada sepasang p*stol milikku dan milik Barrack di laci rahasia ini," ucap Shafa menunjukkan laci rahasianya di dalam mobilnya.
"Baiklah, aku akan putar balik dan menolong laki-laki itu, aku hanya mengingat Ayah saat aku melihatnya. Setidaknya dulu aku tidak bisa menyelamatkan ayah, tapi aku bisa menyelamatkan orang lain dengan kemampuanku," kata Zain menerawang dan mengingat sekilas kejadian tragis menimpa ayahnya.
Shafa seolah tersadar dengan ucapan Zain, dia sangat tau rasanya saat orang yang kita cintai membutuhkan bantuan kita tapi kita tidak ada disana. Itu rasanya sangat menyesakkan, seperti menjadi orang yang tidak berguna.
"Baiklah boy.. Aku akan membantumu menyelamatkan pak tua itu, let's go boy! " ucap Shafa bersemangat.
"Let's play the game!" Zain juga bersemangat.
Illustrasi Author: Zain Fariz Ahmad
Terlihat kakak beradik itu memarkirkan mobil agak jauh dari para preman tadi. Mereka bersembunyi di semak-semak dan berpencar.
Terdengar preman itu mengumpat dan mengancam Pak tua berparas bule itu. Saat akan memaksa pak tua itu untuk masuk ke mobil mereka. Zain menembaki kaki preman.
"Dorrr... Dorrrr.. Dorrrrr... "
"Doorrr.. Doorrr.. Dorrrr.. Dorrrr.. "
3 kaki preman telah dilumpuhkan, dan Shafa melumpuhkan tangan beberapa preman yang akan menembaki mereka. Zain maju dan memukul beberapa preman itu bergantian.
Shafa membantu Zain menghadapi keenam preman itu. Dengan kemampuan beladiri diatas rata-rata Zain dengan mudah melumpuhkan mereka, sampai mereka terkapar tak berdaya. Pak tua itu begitu takjub melihat sepasang anak muda yang kuat dan pemberani telah menolongnya.
Terlihat beberapa gerombolan orang berjas hitam berjalan ke arah mereka, dengan sigap Zain dan Shafa menodongkan pistol dan melindungi pak tua itu. Pak tua itu menepuk bahu Zain, sontak Zain menoleh kebelakang memandang pak tua itu.
"Tidak apa-apa anak muda, mereka orang-orangku," kata Pak tua itu.
__ADS_1
Zain dan Shafa hanya mengangguk dan memberikan jalan.
Terlihat Pak tua itu berjalan ke arah gerombolan laki-laki berjas hitam.
"Apa saja yang kalian lakukan daritadi?! Dasar br******k! Tidak becus!"
Terlihat Pak tua itu menampar beberapa anak buahnya.
"Kalau kedua anak muda itu telat menyelamatkanku pasti saat ini aku sudah dibawa penjahat itu! Cepat cari tau dalang dibalik ini semua, Tangkap semua preman-preman itu dan bawa semua ke markas!" teriak Pak tua itu penuh Amarah.
Kemudian dengan cepat pengawal milik Pak tua itu membereskan preman-preman yang sudah terkapar tadi dan membawanya ke markas mereka. Pak tua itu berjalan mendekat ke arah Zain dan Shafa.
"Kenalkan nama saya Henry, Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa saya, sebagai gantinya saya akan memberikan apapun yang kalian mau," Henry memperkenalkan diri dan menjabat tangan Zain dan Shafa.
"Tidak masalah Tuan Henry itu sudah kewajiban kami menolong orang yang membutuhkan, lagipula kami hanya kebetulan lewat dan berusaha menolong semampu kami. Perkenalkan nama saya Zain dan wanita disamping saya adalah kakak saya,"
"Selamat malam Tuan Henry! Saya Shafa, kami ikhlas menolong anda jadi anda tidak perlu memberikan apapun untuk kami," ucap Shafa.
"Ini ada cek untuk kalian berdua, tolong terimalah sebagai tanda terimakasih saya kepada kalian!" ucap Henry kemudian menyodorkan sebuah cek kepada kakak beradik didepannya.
"Terimakasih atas kebaikan ada Tuan, tapi kami benar-benar tulus membantu anda, maafkan saya harus menolak cek dari anda," tolak Zain secara halus.
"Tapi saya juga ikhlas memberikan hadiah ini untuk kalian anak muda, anggap saja ini hadiah dari teman baru kalian. Saya mohon jangan menolak!" Tuan Henry masih saja memaksa.
"Tapi pertemanan yang tulus tidak akan mengharapkan hadiah dari temannya Tuan," ucap Shafa.
Mereka enggan menerima cek dari pak tua itu tapi pak tua itu malah menyelipkan ceknya di Jaket milik Zain.
"Baiklah Tuan kali ini saya menerima memberian anda sebagai tanda pertemanan kita, dan sepertinya anda juga bukan orang yang mudah untuk ditolak," ucap Zain kepada teman barunya itu dan mereka terkekeh bersama.
"Tolong berikan kartu namamu anak muda, saya akan menghubungimu untuk membicarakan banyak hal, karena sepertinya b*d***h-b*d***h tadi minta segera saya bereskan." ucap Henry.
Terlihat Zain menyodorkan kartu namanya kepada Tuan Henry, kemudian Tuan Henry pamit pergi bersama segerombolan pengawalnya. Awalnya Tuan Henry menawarkan pengawalnya untuk mengantar Zain dan Shafa pulang, tapi kedua anak muda itu menolak secara halus. Akhirnya mereka pergi ke arah tujuan mereka masing-masing.
"Kak.. Tolong ambil cek ini di jaketku!" pinta Zain.
Shafa merogoh saku jaket Zain dan membuka kertas putih itu, alangkah terkejutnya dia melihat angka tertulis di lembar kertas itu.
"Wow.. Zain.. Lihatlah! Pasti kamu tidak akan percaya!"
"Berapa kak?"
"Lihatlah sendiri!"
"Wooowww amazing! I'm rich now!" Zain berteriak bahagia.
"Dasar mata duitan kamu Zain! Tadi saja menolak, sekarang malah heboh sendiri," cibir Shafa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kak ini rejeki yang tak terduga-duga, aku akan hamburkan uang satu milyar itu dan menjadi Sultan Dadakan. Aku akan membeli mobil, membeli gadget, membeli motor sport dan lainnya, hahaha!"
Zain membayangkan dengan hati berbunga-bunga.
Kemudian Shafa memukul kepala adiknya dengan bantal lehernya agar adiknya terbangun dari khayalan indahnya.
"Sudah cukup berkhayalnya bocah ingusan! Lebih baik kau tabung saja uangnya, kelak kita akan membutuhkan uang itu untuk hal yang lebih berguna, lagipula apa kamu ingin kita bergantung terus pada keluarga Hansel? Kita hanya seperti parasit untuk keluarga mereka,"
"Baiklah Kak, ambil dan kakak simpan saja cek itu,"
Zain memikirkan kata-kata kakaknya, selama ini Tuan Jason sangat baik pada keluarganya. Membelikan mereka rumah dan memenuhi kebutuhan ibunya, walaupun ibunya menolak tapi Tuan Jason selalu memaksanya dengan berbagai cara.
"Kita sudah sampai Zain, jangan kamu melamun terus! Ibu juga jangan sampai tau yang kita lakukan tadi, bisa-bisa ibu senam jantung mendengar kedua anaknya main tembak-tembakan," ucap Shafa menyelipkan candaannya.
"Sepertinya kakak harus menginap hari ini, aku takut anak buah preman yang tadi masih tersisa dan mengikuti kita, sangat bahaya kalau kakak harus pulang sendiri," ucap Bu Zain dengan perasaan cemas.
"Aku juga memikirkan hal yang sama Zain, tadi aku sudah menghubungi Barrack dan meminta ijin padanya untuk menginap sehari disini, untung saja dia tidak berfikir macam-macam dan langsung mengijinkan kakak,"
Lalu kedua kakak beradik itu masuk ke dalam rumah mereka dan disambut senyuman hangat dari ibu mereka. Mereka makan malam bersama dan tidur satu ranjang bertiga, saling berbagi cerita dan melepas kerinduan mereka. Sampai mereka lelah dan tidur memeluk ibu mereka dari samping kiri dan kanan.
***
Keesokan paginya Shafa sudah berada di mansion, tetapi suasana mansion sudah sepi dan suaminya juga sudah berangkat ke kampus satu jam sebelum dirinya sampai.
Shafa merasa sangat merindukan suaminya, tak melihat wajah suaminya sehari saja rasanya seperti sangat lama. Kemudian dia bergegas menyusul suaminya ke kampus mengunakan taksi online.
Shafa sampai di depan kelas suaminya, dia menunggu dan duduk disana. Setelah setengah jam menunggu akhirnya Barrack keluar kelas bersama ketiga sahabatnya. Terlihat Barrack tertawa dan bercanda dengan ketiga sahabatnya sampai tidak menyadari kehadiran istrinya.
"Aduhh Jantungku.. Tiba-tiba berdetak sangat kencang," ucap Gery yang pertama menyadari keberadaan Shafa.
Sontak ketiganya menoleh ke arah Gery memandang.
"Sayang.. Kamu disini?" tanya Barrack yang sedikit terkejut kemudian menghampiri Shafa dan mengecup singkat dahi istrinya.
Shafa tersenyum mengangguk melihat perlakuan Barrack. Dia tidak menyangka suaminya tidak malu lagi mengakui keberadaannya di depan teman-teman kampusnya.
"Aku sangat merindukanmu sayang, aku menyusulmu kesini untuk mengikutimu seharian," ucap Shafa dengan manja.
"Aku juga sangat merindukanmu baby, ayo kita ke kantin baby! Anggap saja jomblo-jomblo dibelakang kita tidak ada," cibir Barrack kepada ketiga temannya.
"Dasar bocah labil!" ejek Ken.
"Lihatlah boys.. Sekarang Si Tuan Arogan sekarang berubah menjadi prince bucin!" James mengejeknya juga.
Seketika Barrack hanya melayangkan jari tengahnya ke udara dan Shafa hanya terkekeh melihat mereka saling ejek.
Semua wanita disekitar kampus itu terlihat kecewa dan patah hati melihat Barrack mencium seorang wanita. Tak terkecuali Gery yang berpura-pura patah hati di depan Barrack dan teman-temannya.
__ADS_1