Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
17.Shafa Semoga Kamu


__ADS_3

"Jadi wanita itu lolos lagi, br*ngsekkk! Cari tau siapa wanita yang menolong j*lang itu!" ucap laki-laki misterius itu kepada anak buahnya.


"Yang menolong wanita itu adalah menantunya tuan, gadis itu adalah putri laki-laki yang menolong Tuan Jason saat penembakan di pabrik dulu," ucap anak buahnya.


"Ooohh ternyata hanya kucing kecil yang mencoba selalu ikut campur," kata laki-laki itu menyeringai.


Barrack berada dibalkon kamarnya walaupun dia sangat lelah dia tidak bisa memejamkan matanya.


Dia menghisap cerutunya dan memikirkan siapa orang yang selama ini berkali-kali mencoba membunuh keluarganya, otaknya benar-benar buntu dan berhenti ditempat.


"Drrttt.. Drrttt.. Drrttt.. "


Seketika deringan ponsel membuyarkan lamunannya.


"Halo sayang, aku sangat merindukanmu, bisakah kau keluar sekarang aku ingin bertemu," kata wanita itu diseberang telfon.


"Tapi hari ini aku sangat lelah Jenny, lain kali aku akan menemuimu," ucap Barrack.


" Apa kamu tidak merindukanku sayang? sudah dua minggu kita tidak bertemu, kamu selalu sibuk terus, lalu kapan waktu untukku sayang," ucap Jenny berpura-pura merajuk.


"Ada beberapa masalah di perusahaan Jenny dan kuliahku juga semakin banyak tugas, aku benar-benar tidak punya waktu untuk bersenang-senang sekarang, apa kau mau warisanku dicabut papa?"


"Papamu tidak akan tega membiarkanmu hidup susah sayang, ayolah kita bersenang-senang sebentar, aku tunggu di apartemenku sayang.. Awas kalau kamu tidak datang!"


" Tutt.. Tutt.. Tutt.. " Jenny menutup telfonnya sepihak.


Barrack benar-benar kesal kenapa wanita itu tidak mau mengerti keadaannya, saat ini Barrack ingin berbaring tapi mau tidak mau dia harus datang sebentar agar kekasihnya tidak marah dan terus mengganggunya.


Di rumah sakit setelah Barrack dan orangtuanya pergi Shafa sudah terbangun dari tidurnya dan dia memanggil ibunya.


"Ibu.."


Suara berat Shafa membuat Bu Farida yang sebentar lagi tertidur tidak jadi tidur.


"Iya sayang, Alhamdulillah kamu sudah bangun sayang.. Apa kamu mau minum?" tanya Bu Farida penuh sayang.


"Iya ibu, Shafa haus.."


Bu Farida dengan telaten memberikan minum Shafa dan menyuapi Shafa makan.


"Bu, bagaimana Mama Myra? Apa beliau baik-baik saja?" tanya Shafa.


"Alhamdulillah mama mertuamu baik-baik saja, tadi suamimu dan papa mertuamu menjagamu disini tapi ibu menyuruh mereka beristirahat, kasian pasti mereka lelah dengan kejadian hari ini," jawab Bu Farida.


"Tidurlah lagi sayang, kamu harus banyak beristirahat agar lukamu lekas sembuh," ucap Bu Farida sambil mengusap kepala putrinya penuh sayang.


"Sebentar lagi aku tidur bu, aku masih ingin melihat ponselku dulu, apa ibu bisa mengambilkannya untukku?" ucap Shafa memasang wajah imutnya.


"Iya putri mungilku!" Bu Farida mencubit gemas hidung Shafa yang mancung.


Bu Farida mengambilkan ponsel di dalam tas Shafa yang Barrack berikan tadi saat berada disana.


Shafa membuka ponselnya dan melihat isi ponselnya, dia membuka Whatsapp-nya dan melihat kontak Barrack yang sedang online. Dia mengingat kejadian tadi saat Barrack menolongnya dan begitu khawatir dengan keadaannya. Dia memandangi foto profil Barrack yang terpasang di kontaknya, ada rasa cinta, bahagia,dan rindu yang dia rasakan.


Ingin sekali Shafa menghubunginya tapi dia tidak berani melakukannya. Dia tau mungkin saat ini Barrack sedang chat mesra atau telfon dengan kekasihnya.


Ada rasa nyeri dihatinya tapi dia tak bisa marah atau berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdoa agar suatu saat nanti suaminya bisa mencintainya.


Bu Farida terlihat mengantuk dan lelah lalu Shafa menyuruhnya untuk tidur. Shafa pun sedikit mengantuk dia mulai memejamkan matanya dan menaruh ponselnya disisi ranjangnya.


Setelah beberapa menit terdengar suara seseorang dari luar ruangannya, dia mendengar samar-samar ada dokter dan perawat meminta ijin untuk masuk kepada dua bodyguard yang berjaga.

__ADS_1


Ada rasa curiga, bagaimana mungkin malam-malam begini ada dokter dan perawat akan memeriksa, sedangkan 2 jam lalu dokter dan perawat sudah memeriksanya.


Seketika Shafa mengirim pesan singkat kepada Barrack.


"HELP.. "


Dan dengan secepat kilat Shafa mengaktifkan mode hening dan memasukkan ponselnya kedalam bajunya.


Benar saja dokter dan satu perawat itu beralasan memeriksa luka dan akan mengganti perban Shafa kemudian masuk.


Seketika Bu Farida terbangun karena suara dua orang dari luar itu.


"Selamat malam nyonya.. maaf saya mengganggu istirahat anda, saya dokter jaga yang ditugaskan memantau keadaan nona Shafa," ucap Dokter itu.


"Selamat malam juga dokter, silahkan anda periksa, sepertinya putri saya sudah tertidur, apa saya perlu bangunkan?" ucap Bu Farida.


"Tidak usah nyonya, kami hanya mengganti perban nona, kami mau melihat apa ada pendarahan atau tidak," kata dokter itu.


"Tolong ganti perban nona Shafa sus!"


"Baik dokter.."


Shafa yang pura-pura tidur hanya mendengarkan dan sambil memejamkan mata.


Dia tidak tau kemungkinan terburuk apa yang terjadi selanjutnya, dia ingin memanggil bodyguard di depan ruangannya tapi dia berfikir sebaiknya dia mengikuti permainan mereka.


Dia menjadikan dirinya sebagai umpan agar dia tau siapa dalang dibalik ini semua, apapun resikonya dia tidak peduli. Dia juga ingin tau siapa yang telah membunuh ayahnya dulu.


Dan benar saja satu suntikan membuatnya tak sadarkan diri.


Dan perawat itu memberi cairan merah di atas luka Shafa seolah-olah lukanya berdarah.


"Apa? Bagaimana bisa sus, sebentar saya periksa dulu," kata dokter gadungan itu.


Kemudian dokter itu seolah-olah memeriksa keadaan Shafa sebentar lalu berbicara dengan nada khawatir pada Bu Farida.


"Nyonya, putri anda mengalami pendarahan pada lukanya, dia tidak sadarkan diri lagi, maaf kami harus membawa ke ruangan perawatan intensif lagi,"


"Baik dokter.. lakukan yang terbaik untuk putri saya," Bu Farida menangis kembali melihat kondisi anaknya.


"Shafa putriku.. Sadarlah nak!" Bu Farida mendekati ranjang putrinya.


Kemudian perawat dan dokter itu mendorong ranjang Shafa dan membawanya ke sebuah ruangan. Bu farida dan dua bodyguard itu mengikuti mereka dari belakang, lalu dokter dan suster itu menyuruh Bu Farida menunggu diluar.


Di dalam ruangan itu ternyata ada sebuah pintu lagi untuk keluar menuju tempat parkir. Dokter dan perawat itu menggangkat Shafa ke kursi roda dan mendorongnya ke mobil melalui pintu itu.


Mereka mengikat kaki dan tangan Shafa dan melajukan mobilnya menuju markas mereka.


Sementara di Apartment Jenny, Barrack dan Jenny pelepaskan kerinduan mereka. Dia hanyut dalam c*uman p*nas mereka sampai dia tidak begitu peduli dengan notifikasi ponselnya.


Saat Barrack akan hilang kendali, tiba-tiba dia teringat dengan wajah Shafa dan menghentikan aktivitasnya lalu meminta maaf pada Jenny.


"Ahh maaf Jenny, aku takut kita melakukan hal diluar batas, aku mau pamit pulang," kata Barrack.


Dia berdiri akan meninggalkan Jenny, Jenny tak rela ditinggalkan Barrack secepat itu, dia sudah memakai pakaian s*xy nya berharap Barrack dan dirinya bisa menghabiskan malam bersama, nyatanya Barrack masih menolak melakukan hal yang lebih.


"Sayang.. Kita baru setengah jam bertemu, aku masih kangen dan ingin kamu temani," ucap Jenny dengan nada menggoda dan menarik tangan Barrack.


"Maaf Jenny aku harus pergi, lain kali kita akan bertemu lagi, bye!" kata Barrack.


Kemudian mencium pucuk kepala Jenny dan berlalu meninggalkan Apartmentnya.

__ADS_1


Entah apa yang ada dibenak Barrack dia sudah lama tidak mengucapkan kata sayang pada kekasihnya itu. Dia merasa hubungannya itu lama-lama semakin hambar, hanya ada sedikit n*sfu sesaat saja saat Jenny menggodanya.


Barrack teringat ada pesan masuk di Whatsapp-nya, saat dia membuka pesan itu dia terkejut ternyata Shafa yang mengirimnya pesan minta tolong 20 menit yang lalu.


Barrack menelpon nomor Shafa berkali-kali, nomernya aktif tapi tak Ada jawaban.


"S*al.. S*al.. S*al.. Shafa semoga kamu tidak kenapa-napa." ucap Barrack yang berkali-kali memukul stir mobilnya. Lalu dia menelpon asistennya Tomy.


" Hallo tom, cepat lacak nomor Shafa, cari tau keberadaannya, cepat sekarang!" perintah Barrack.


" Baik tuan muda.." ucap Tomy yang masih berada di markas.


Dia lalu menyuruh hacker yang ada di markas Barrack untuk melacak keberadaan Shafa.


" Bagaimana Tom, kamu menemukannya?"


"Sebentar Tuan muda, Mark sedang berusaha, "


"Klik.. Klik.. Klik.. "


" Yes!" ucap Mark sang hacker itu.


"Sudah ketemu tuan muda, kami akan mengirimkan lokasinya,"


"*Baiklah siapkan semua s*njata dan kerahkan anak buah kita, kita akan menyergap tempat itu, sekarang*!"


"Baik tuan muda!"


Sementara di rumah sakit Bu Farida masih mondar-mandir di ruangan itu ditemani beberapa bodyguard.


"Kenapa mereka lama sekali memeriksa putri saya pak, tolong ketuk dan periksa sebentar," kata Bu Farida pada salah satu bodyguard itu.


"Tokk.. Tokkk.. "


Salah satu bodyguard itu mengetuk berkali-kali pintu itu dan tidak ada jawaban.


"Apa sebaiknya saya dobrak nyonya, saya khawatir dengan keadaan nona, " ucap bodyguard itu.


"Baiklah dobrak saja pak, kita tidak ada pilihan," kata Bu Farida.


"Brrraakkkkk... "


Suara pintu itu di dobrak dari luar oleh bodyguard suruhan Barrack dan benar saja ruangan itu sudah kosong dan terlihat pintu disisi lain ruangan itu terbuka.


"Ya Allah.. Shafa putriku! Kamu dimana nak?"


Bu Farida lemas seperti tak bertulang melihat putrinya sudah tidak disana. Semua bodyguard langsung lari berpencar mencari Shafa dan hasilnya nihil.


Salah satu bodyguard menghubungi Barrack tapi ponsel Barrack berada dipanggilan lain.


Kemudian mereka menelpon Jason untuk mengabari kejadian ini.


Seketika Jason dan Myra terduduk lemas mendengar Shafa telah diculik dalam keadaan terluka. Jason mencoba menghubungi asisten Tomy dan Tomy menjelaskan semua.


Barrack meminta Tomy menyiapkan pasukan milik papanya dan mengawasi penyergapan Barrack dari kejauhan. Dia meminta Tomy datang bersama pasukan saat tombol bahaya dia hidupkan.


Barrack telah sampai bersama pasukannya, dia mengendap-endap bersama pasukannya menyerbu markas itu.


Beberapa anak buah Barrack mulai menembaki para musuh mereka. Terdengar banyak suara tembakan disana, Barrack mulai memasuki markas itu bersama anak buah nya yang lain.


Dan benar saja didalam markas sudah terlihat banyak pasukan musuh menodongkan senjata, terlihat disana Shafa belum sadarkan diri dan diikat di sebuah kursi.

__ADS_1


__ADS_2