Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
40.Terkejut


__ADS_3

"Drttt.. Drtttt.. Drttt.. "


Dering ponsel Barrack membuat sesi curhat kedua laki-laki itu terhenti.


"Assalamu'alaikum sayang.. Lagi dimana hubby? Apa pekerjaanmu masih banyak? Tumben belum pulang?" kata wanita yang dicintainya dari seberang telpon.


"Wa'alaikumsalam baby.. Sebentar lagi aku pulang, banyak pekerjaan hari ini jadi agak telat pulang, maafkan aku baby," ucap Barrack pada istrinya.


"Baiklah tidak masalah sayang, cepatlah pulang! Aku sudah memasakkan makan malam untukmu,"


"Terimakasih baby, tunggu aku di rumah, ini aku sudah mau jalan,"


"Hati-hati di jalan hubby, Love You,"


"Yes baby, Love you too.. Assalamu'alaikum.. "


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. " Kemudian Shafa menutup panggilannya.


Beberapa saat kemudian Barrack telah sampai di Mansion nya. Shafa menyambutnya dengan senyum manisnya dan membawakan tas kerja suaminya. Dia terlihat semakin cantik dan dewasa, membuat Barrack semakin mencintainya. Setelah Barrack mandi dan berganti baju, mereka makan bersama.


Barrack berada di Balkon kamarnya, terlihat dia sangat gelisah dan menghabiskan beberapa cerutunya. Istrinya mendekati dan memeluknya dari belakang.


"Sayang, berhentilah merokok! Lihat berapa batang sudah kau habiskan, itu tidak baik untuk kesehatanmu hubby,"


Barrack hanya terdiam mendengar perkataan istrinya, dia merasa sangat nyaman dipeluk istrinya seperti itu seolah-olah bebannya hilang begitu saja.


"Andai aku bisa lari, aku ingin lari sejauh mungkin dan membawamu pergi sayang, aku hanya ingin bersamamu berdua denganmu saja di dunia ini, tapi mungkin setelah kau tahu kesalahanku belum tentu kau memaafkanku," kata Barrack dalam hati.


Dia benar-benar binggung bagaimana memulainya, bagaimana dia membuka mulutnya di hadapan istrinya dan membuat pengakuan atas kesalahannya. Dia terlalu pengecut, dia tidak siap jika perasaan istrinya berkurang untuknya atau bahkan istrinya memilih untuk berpisah, sungguh dia tidak sanggup.


"Hubby, kenapa diam saja? Apa ada masalah sayang?" ucap Shafa penuh kelembutan dan dia membalikkan tubuh suaminya agar berhadapan dengannya.


"Tidak ada baby, semuanya baik-baik saja! Ayo kita tidur, aku sangat lelah sekali sayang," ucap Barrack lalu menggendong istrinya ke dalam kamarnya.


Shafa kaget melihat tubuhnya yang tiba-tiba melayang,


"Eh?! Katanya capek malah aku digendong, turunkan aku sayang!"


Lalu Barrack menurunkan tubuh istrinya pada ranjang mereka.


"Sini sayang berbaringlah," ucap Shafa yang menepuk-nepuk sisi tempat tidurnya.


Barrack tersenyum mengangguk dan berbaring disebelah istrinya. Dia merebahkan badannya yang begitu lelah, memejamkan matanya sejenak, masalah yang dia hadapi membuatnya sangat lelah untuk berfikir.


Shafa duduk disebelah suaminya yang berbaring lalu dia mulai memijat kaki suaminya.


"Baby.. Apa yang kau lakukan?" Barrack membuka matanya dan terkejut saat tangan lembut dan halus milik istrinya menekan kakinya dengan perlahan.


"Apalagi sayang?! Aku sedang memijatmu agar kamu tidak lelah dan lebih rileks,"


"Aku tahu pekerjaanmu sangat banyak, kamu menghandle semua perusahaan milik papa sendirian, sebaiknya aku harus banyak mempelajari bisnis agar bisa membantumu di kantor sayang," ucap Shafa dengan tulus.


"Tidurlah sayang, pasti kamu juga lelah, aku tidak apa-apa, besok bangun tidur capek ku nanti juga hilang dan kamu tidak usah bekerja, aku suamimu aku yang berkewajiban mencari nafkah, melihatmu bahagia saja membuatku melupakan tumpukan pekerjaanku," ujar Barrack lalu merebahkan kepalanya di paha istrinya.

__ADS_1


Shafa berfikir apa sebaiknya memberitahukan kehamilannya pada suaminya sekarang, dia sangat bahagia saat dokter kandungan menyatakan kehamilannya memasuki usia 6minggu.


"Apa sebaiknya aku katakan pada Barrack ya?! Aahh jangan dululah besok saja, aku ingin membuat semuanya jadi berkesan, biar aku minta bantuan Hesti dan Kak Anggie untuk mempersiapkan kejutan untuknya," Kata Shafa dalam hati.


Shafa memijat lembut kepala suaminya, membuat Barrack merasa sangat nyaman.


"Sayang tolong jangan melarangku bekerja, aku ingin bekerja meniti karirku menjadi seseorang yang sukses, supaya almarhum ayahku dan ibu bangga denganku," tawar Shafa.


"Baiklah sayang, lakukan yang membuatmu bahagia! Aku akan selalu mendukungmu," ucap Barrack kemudian mengecup perut istrinya berkali-kali.


"Jangan seperti itu sayang, geli sekali!"


Barrack hanya terkekeh dan menghentikan ciumannya diperut Shafa.


"Aku berharap ada Barrack Junior didalam sini sayang, pasti kita akan sangat bahagia,"


Shafa hanya tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya karena keinginan mereka sekarang telah terwujud dan dia menahan agar tidak keceplosan berbicara. Barrack kemudian mencium singkat bibir istrinya dan mengajaknya istrinya beristirahat.


Shafa membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Dia tidak bisa tidur menanti hari esok, dia sangat penasaran bagaimana reaksi suaminya saat mengetahui kalau dirinya benar-benar hamil.


"Sayang.. Kenapa belum tidur?"


Suara Barrack yang berat mengagetkan Shafa.


"Tidak apa-apa sayang, mungkin tadi gara-gara minum kopi jadi susah tidur, kau tidurlah sayang! Sebentar lagi aku juga akan tidur,"


"Iya sayang.." Barrack melanjutkan tidurnya.


***


Saat telah sampai di Cafe, terlihat Hesti tersenyum menyambut Shafa yang telah tiba.


"Hallo cantik.. Lihatlah Wajahmu sayang, tersenyum manis dan terlihat cerah sekali, sampai-sampai mentari saja malu untuk menampakkan diri," ucapan Hesti membuat Shafa terkekeh geli.


"Apa Kak Anggie sudah datang?"


"Sudah tuh.. Barusan sampai!"


"Ayo sini! Aku punya tugas untuk kalian berdua," ucap Shafa kemudian menggandeng Hesti masuk ke ruangan Kak Anggie.


"Tokkk... Tokkk.. "


"Masuklah!"


Shafa pun dan Hesti masuk ke ruangan Kak Anggie.


"Selamat pagi kakakku yang cantik!"


"Pagi juga sayang.. Wahh tumben pagi-pagi sudah kesini?" tanya Kak Anggie.


Shafa tersenyum dan Hesti hanya mengedikkan bahunya ke atas.


"Tahu tuh Kak, katanya kita ada tugas dari dia,"

__ADS_1


Kak Anggie semakin penasaran dan memandang Shafa dengan tatapan bertanya.


Shafa hanya tersenyum dan dia menggerakkan tangannya ke dadanya dan melayangkan tangannya membentuk setengah bulat ke depan perutnya.


Hesti dan Kak Anggie melotot lalu menutup mulutnya yang mengaga tak percaya dan mereka tersenyum bahagia sembari mengibas-ibaskan tangannya.


"Ohh Tuhan Shafa.. Apa ini benar sayang? Kamu benar hamil?" tanya Kak Anggie memastikan dan Shafa tersenyum mengangguk.


"Dan aku akan punya keponakan bule yang lucu Shafa?" tanya Hesti juga dan Shafa pun mengangguk.


"Aaaaaahhhhhh!"


Hesti berteriak kegirangan dan mereka bertiga berpelukan.


"Selamat atas kehamilanmu ya sayang, semoga mama dan bayinya sehat selalu," ucap Kak Anggie dengan tulus.


"Amiinn.. Ya Robbala'lamiinnn.. Terimakasih kakakku sayang,"


"Sama-sama sayang,"


Kak Anggie kembali memeluk Shafa.


"Selamat ya Bestie! Akhirnya keinginan kalian berdua sudah terwujud, semoga kedepannya semuanya lancar," ucap Hesti. Doa tulus juga diucapkan dari sahabatnya itu.


"Amiinnn Ya Allah.. Terimakasih Bestie! Kalau aku lagi ngidam sesuatu saat berada disini kamu harus siaga untukku ya Bestie," goda Shafa pada sahabatnya.


"Lahh.. Kok jadi aku! Yang hamilin kamu kan si Bule kenapa harus aku yang repot? Dia donk yang kesini bawakan buat kamu," Hesti menjulurkan lidahnya.


"Tapi si Bule kan lagi kerja masa iya aku tega mengganggu kesibukannya? Apa kamu tidak kasihan pada adek bayi?" kata Shafa berpura-pura memelas sembari mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"Iya deh iya.. Apapun aku lakukan buat tuan putri dan calon adek bayi yang lucu," ucap Hesti dan mereka bertiga tertawa bersama.


"Ehh by the way.. Kamu tadi mau kasih tugas apa untuk kami?" tanya Hesti menghentikan tawa mereka.


"Oohh iya.. aku sampai lupa, aku mau memberikan kejutan untuk Barrack nanti malam, tolong bantu aku ya Kak, Hesti!"


"Jadi suamimu itu belum kamu beri tahu?" tanya Kak Anggie.


"Belum Kak, makanya aku mau berikan dia kejutan supaya kehamilan pertamaku ini membuat kami berkesan,"


"Baiklah Shafa, tenang saja itu tugas yang mudah, kami akan maksimal membantumu," ucap Hesti penuh semangat.


Kemudian mereka merancang kejutan untuk Barrack, mendekor meja di lantai atas untuk makan malam romantis mereka dan Kak Anggie melarang semua pengunjung untuk masuk ke lantai atas pada hari ini dengan alasan telah dibooking.


"Kakak apa ini tidak berlebihan? Kakak sampai melarang pengunjung naik ke atas," ujar Shafa.


"Tidak apa-apa sayang, lagipula kan tidak setiap hari, hari ini adalah hari spesial buat adik kesayanganku jadi anggap ini hadiah dari kakak," ucap Kak Anggie dengan tersenyum tulus.


"Terimakasih banyak kakak,"


Shafa mengeratkan pelukannya pada kakaknya dan Kak Anggie hanya mengangguk.


Setelah selesai mendekor meja Shafa baru teringat kalau testpack dan hasil USG-nya ketinggalan di Mansion lalu dia pamit kepada kedua wanita didepannya untuk pulang mengambilnya sebentar.

__ADS_1


***


Setiba di Mansion Shafa merasa heran kenapa mobil Barrack berada disana padahal tadi pagi dia sudah pamit untuk berangkat ke kantor. Dia melangkahkan kakinya masuk ke Mansion untuk mencari keberadaan suaminya. Saat dia melewati ruang kerja tak sengaja teriakan seseorang wanita membuatnya begitu terkejut.


__ADS_2