
Saat Tomy hendak berdiri akan menghampiri tempat duduk bossnya, dia malah ditarik dua wanita sewaan rekan bisnis bossnya. Tomy kembali duduk dan terlena dengan sentuhan mereka sampai dia melupakan tujuannya tadi.
Shafa terlihat sangat marah dan panik melihat suaminya di pegang-pegang wanita lain walaupun Barrack menepis sentuhan wanita-wanita itu.
Dia memikirkan untuk meredam amarahnya dan memikirkan ide agar bisa membawa suaminya pulang tanpa terlihat seperti wanita kampungan yang teriak-teriak tidak jelas. Dia tidak ingin dimata koleganya, Barrack yang terkenal dingin dan tegas malah terlihat lemah dan takut dengan istri.
Shafa menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan, dan dilakukan berulang-ulang agar amarahnya mereda.
Dia sudah memikirkan satu hal agar bisa membawa suaminya pulang dan dia bergegas memesan taksi online.
Setelah beberapa saat dia telah sampai di club malam itu, dia mondar-mandir mencari ruangan tempat suaminya berada. Dia sedikit binggung karena tidak terbiasa masuk di tempat seperti itu akhirnya dia meminta bantuan penjaga club malam disitu. Dengan berbekal nama besar Hansel Grup orang itu dibuat menurut dengan perintahnya dan tak lupa Shafa memberikan tips untuk penjaga club yang membantunya.
Shafa masuk di ruangan Barrack berada, dan menyapa rekan bisnis suaminya.
"Selamat malam Tuan, perkenalkan saya Shafa Hansel istri Barrack," Shafa tersenyum dan memperkenalkan diri.
Semua mata disana melihat wanita yang terlihat sedikit buncit sangat cantik dengan dress hitamnya dengan jaket kulit berwarna hitam dan sepatu bootnya, rambutnya coklatnya dibiarkan tergerai indah menghiasi wajahnya yang putih dan cantik.
"Sayang, mari kita pulang, aku tidak berani tidur di Hotel sendirian." rajuk Shafa.
Shafa terlihat manja dan menarik lembut tangan suaminya. Menjauhkan suaminya dari tangan wanita-wanita penggoda disebelahnya.
Barrack dan Tomy mengangkat satu alisnya ke atas melihat Shafa dari atas sampai bawah, kedua pria itu bertanya-tanya bagaimana mungkin Shafa tiba-tiba menjadi wanita hamil dalam satu malam. Dan lebih kagetnya lagi kenapa Shafa tiba-tiba datang menyusulnya ke Club. Perasaan Barrack mendadak tidak enak.
"Selamat malam Nyonya! Maaf kalau saya memaksa Tuan Muda ikut padahal anda sedang mengandung, saya jadi merasa tidak enak." Pak Denis membalas sapaan Shafa dan merasa bersalah karena memaksa Barrack ikut pergi ke Club.
"Ahhh tidak apa-apa Tuan, saya bisa memaklumi, suami saya hanya bersikap profesional saja, dan dia pasti lebih tau bagaimana bersikap diluar dan mengerti BATASANNYA." Shafa menekankan akhir kalimatnya dan melirik suaminya.
Barrack hanya tersenyum pasrah, dia tau pasti akan terjadi hal buruk padanya.
"Ehemm!" Barrack berdehem untuk memecah kecanggungan didepannya.
"Baiklah Pak Denis, saya Pamit kembali ke hotel dulu, karena besok kami juga harus kembali ke Ibukota lagi," pamit Barrack kepada koleganya.
"Ohh iya, biar Tomy yang akan tinggal disini menemani anda dan yang lainnnya."
"Baik Tuan Muda, terimakasih sudah memenuhi undangan minum saya, saya minta maaf kalau menganggu waktu Tuan dan Nyonya muda." ucap Pak Denis masih merasa tidak enak dan mengangguk pada Shafa dan Barrack.
"Ahh tidak masalah, jangan merasa sungkan Tuan." balas Shafa.
Lalu mereka membalas anggukan Pak Denis dan tersenyum. Mereka kemudian pergi meninggalkan Club Malam itu.
Mereka sudah berada didalam mobil tapi Shafa hanya terdiam. Dia masih marah dengan suaminya itu. Padahal Barrack mencoba mengajaknya berbicara dan meminta maaf.
__ADS_1
"Sayang.. Kenapa diam terus, aku sudah minta maaf berkali-kali tapi kamu tidak menjawab permintaan maafku." ucap Barrack dengan wajah memelas.
"Aku janji tidak akan ditempat itu lagi kalau ada wanita-wanita seperti itu."
Shafa hanya diam saja.
"Sayang, aku mohon jangan mendiamkanku seperti ini, lebih baik aku mendengarkan cerewetmu seharian daripada kamu diam terus begini."
"Sayang, bagaimana kamu punya ide pura-pura hamil seperti itu? tadi aku benar-benar ingin sekali tertawa tapi aku lebih takut dengan kemarahanmu." Barrack yang sedikit mabuk terus saja mengoceh dan berusaha meminta maaf pada istrinya.
"Sayang, aku berharap pura-pura hamilmu itu lagi akan jadi kenyataan, aku ingin sekali menggendong bayi yang lucu, kalau dia laki-laki pasti tampan sepertiku tapi kalau di wanita pasti akan cantik dan imut sepertimu."
"Aahhh.. Menyenangkan sekali mendengarkan bayi-bayi tertawa dan menangis."
Shafa tersentuh mendengar ucapan suaminya, dia tidak menyangka laki-laki seperti Barrack yang dingin dan arogan seperti itu ternyata sangat menyukai bayi. Sangat menyenangkan sekali kalau Dirinya bisa memiliki anak dari orang yang dia cintai.
Shafa dengan cepat mengambil bantal yang ada di perutnya dan memukul-mukulkan ke punggung suaminya.
"Dasar Suami kurang ajar, Suami l*knat, buaya darat, pergi sana ke wanita-wanita itu, MENYEBALKAN!"
"Sayang aku sedang menyetir, nanti bahaya kalau kamu terus memukulku." Barrack memperingatkan.
Shafa menghentikan pukulan bantalnya, lalu melipat tangannya didada dan wajahnya cemberut terlihat imut dan lucu.
Shafa melotot lalu membuang mukanya dan semakin kesal.
Setelah beberapa menit berlalu mereka telah sampai di Hotel mereka menginap. Shafa pergi ke kamar mandi dan mengganti dress hitamnya dengan piyama. Setelah dari kamar mandi, dia tidur di ranjangnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Barrack mencoba mendekati istrinya, duduk di tepi ranjang itu. Saat akan menyentuh istrinya yang tertutup selimut tiba-tiba..
"Jangan menyentuhku Barrack! Bersihkan dirimu dan ganti bajumu, aku tidak ingin mencium aroma alkohol dan aroma wanita lain ditubuhmu!" teriak Shafa yang masih sangat kesal.
Ntah kenapa hatinya masih sangat sakit mengingat suaminya dipegang wanita lain. Moodnya benar-benar hancur saat ini, sedih, kecewa dan terluka. Yang dibutuhkan Dia hanya tidur agar otaknya bisa dingin kembali dan kemarahannya bisa berkurang.
Barrack tidak bisa berbuat apa-apa, dia tahu dia memang salah, saat dia tau disitu banyak wanita, seharusnya dia lebih memilih pamit pergi. Dia menyesal tidak bisa menjaga kepercayaan yang diberikan istrinya.
Kini Barrack telah menyelesaikan ritual mandinya dan berganti piyama nya. Dia berbaring disamping istrinya, dia mencoba memanggil istrinya tapi tak ada jawaban. Sepertinya istrinya sudah tidur karena lelah, mau tidak mau akhirnya dia memilih untuk tidur juga dan memutuskan menyelesaikan masalahnya besok pagi.
***
Keesokan paginya Shafa dan Barrack akan bersiap-siap pulang ke rumah mereka. Shafa memang belum memaafkan suaminya tapi saat Barrack mengajaknya ngobrol, Shafa hanya menjawab seperlunya.
Beberapa jam telah berlalu, mereka telah sampai di Mansion besar mereka. Jessie yang sedang duduk bersama mamanya menyambut kedatangan kakak dan kakak ipar kesayangannya.
__ADS_1
"Kak Barrack! Kak Shafa! Aku sangat rindu kalian, rasanya seperti ditinggal setahun saja," Jessie berjalan ke arah Shafa dan memeluknya penuh kerinduan.
"Setahun apanya, cuma empat hari ini! Dasar bocah manja," cibir Barrack kepada adiknya dan mengacak gemas rambut Jessie.
"Jessie sayang.. Aku hanya meninggalkanmu 4 hari saja bukannya setahun, sayang!" Shafa tersenyum lucu. Dia jelas tau, adiknya itu tentu sangat butuh teman bicara karena masih berada difase patah hatinya.
"Apa ada oleh-oleh untukku kak?" tanya Jessie dengan matanya berbinar.
"Ada itu, oleh-oleh boneka annabele, biar kamu ada yang menemani nonton drakor di rumah," goda Barrack.
Barrack tau adiknya paling anti dengan hal-hal berbau horor karena dia sangat penakut.
"Iiihhh.. Kak Barrack.. Dasar kakak menyebalkan! Sebenarnya yang kakak kandungku ini siapa sih ma,"
Dan mereka tertawa melihat Jessie yang cemberut dan melipat tangannya.
"Sudah sayang, jangan cemberut begitu, Aku punya banyak oleh-oleh untuk gadis manjaku ini," kata Shafa sambil menyerahkan paperbag pada Jessie.
Terlihat Jessie tersenyum berbinar saat membukanya.
"Lalu oleh-oleh untuk mama mana sayang?" Myra menyahut.
"Mama tenang saja, oleh-oleh untuk mama di paperbag ini," ucap Shafa sambil memberikan sebuah paperbag untuk mamanya.
"Terimakasih menantuku sayang." ucap Myra.
"Terimakasih KAKAK KANDUNGKU sayang." Jessie menekankan kata-kata itu dan melirik ke arah Barrack. Tapi Barrack hanya menjulurkan lidahnya. Dan mereka pun kembali tertawa.
Shafa dan Barrack naik ke atas ke kamar mereka, saat berada di kamar Shafa kembali di mode diamnya. Tidak ada senyum lagi diwajah cantiknya.
Shafa mengeluarkan barang-barang dari kopernya, dan suaminya mendekat padanya, berusaha meminta maaf kembali.
"Sayang, apa kamu tidak capek kita bertengkar terus seperti ini? Aku sudah berkali-kali meminta maaf tapi aku masih saja diabaikanku. Aku sampai binggung harus melakukan apalagi agar kamu memaafkanku," Barrack mengacak rambutnya frustasi.
"Baiklah kalau kamu masih belum bisa memaafkanku, aku mau ke kantor saja, lebih baik aku menyibukkan diri daripada seharian di rumah tapi diabaikan olehmu." ucap Barrack kemudian berdiri akan menjauh dari Shafa. Tanpa diduga Shafa ikut berdiri dan memeluk suaminya dari belakang.
"Tunggu, jangan pergi suamiku! Baiklah aku memaafkanmu, tapi tolong jangan sekalipun mau disentuh wanita lain lagi, kamu tau aku sangat mencintaimu, hatiku sakit sekali melihatmu dipegang-pegang sama mereka,"
Barrack membalikkan badannya dia meng*cup dahi, b*bir dan kedua tangan istrinya penuh sayang.
"Sayang.. Dengarkan aku! Tidak ada wanita yang bisa membuatku bahagia selain kamu, tidak ada yang aku cintai selain kamu, kemarin hanya sebuah kesalahan dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku sangat mencintaimu istriku." Barrack mengucapkan kata-kata m*sranya dan Shafa tersenyum bahagia mendengar kata-kata indah dari suaminya.
Barrack menc*um lagi b*bir istrinya tanpa henti, merasakan manisnya b*bir sang istri dan sang istripun membalas c*umannya, sampai c*uman itu berubah menjadi n*fs* yang mengebu-gebu, mereka seperti dua insan yang sudah lama tidak bers*ntuhan padahal baru semalam saja mereka bertengkar.
__ADS_1
Barrack men*nggalkan pakaian istrinya dan pakaiannya, menggendong istrinya ke ranjang favorit mereka, dan Siang ini mereka melakukan penyatuan mereka dengan perasaan penuh cinta dan n*sf* yang tidak pernah ada habisnya. Terbang menggapai ken*kmatan berdua, sampai keduanya benar-benar lelah dan tidur dalam satu selimut bersama.