Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
52.Reyhan


__ADS_3

"Hai jagoan.. Akhirnya kita bertemu juga! Kamu tampan sekali sepertiku, ayo katakan siapa namamu?!" ucap Robert kepada bayi yang sedang di gendongnya.


Dan keempat orang didepannya hanya tersenyum mendengar ucapan Robert. Melihat Robert menggendong putranya mengingatkan Shafa pada Barrack. Dia sangat merindukan suaminya tapi dia berfikir mungkin saat ini Barrack sudah bahagia dengan istri barunya dan anak dari wanita itu. Shafa ingin menangis mengingat semua rasa sakitnya tapi dia hanya bisa menahan.


Tuan Henry dan Robert tiba tiga jam setelah persalinan Shafa berlangsung, tetapi sebelumnya Tuan Henry menghubungi Zain untuk menanyakan keadaan Shafa. Setelah mengetahui Shafa sudah melahirkan, Tuan Henry mengajak Robert putranya yang sedang berada di Inggris untuk menjenguk Shafa. Tentu saja Robert sangat bahagia dan bersemangat mendengar sahabatnya itu sudah melahirkan.


Hubungan Robert dan Shafa semakin dekat saat Tuan Henry menceritakan semua yang Shafa hadapi. Robert sangat prihatin melihat Shafa yang sedang hamil malah tidak didampingi suaminya. Semenjak Shafa berada di Inggris Robert sering mengunjunginya. Menjadi teman cerita untuk Shafa bahkan Robert menawarinya menjadi CEO di perusahaan musik miliknya yang berada di Inggris setelah melahirkan.


Setelah Shafa melahirkan dia juga ingin mengajukan gugatan cerai kepada suaminya dan dia meminta tolong pada Robert agar mengurusnya melalui pengacaranya tanpa mereka tahu keberadaan Shafa. Tentu hal itu mudah bagi Robert.


"Namaku "Reyhan Dave Hansel" Om Robert, Panggil aku Rey Om!" ucap Shafa seolah bersuara seperti anak kecil.


"Wahhh.. Nama yang bagus Jagoan! Cocok sekali denganmu yang tampan dan lucu," ucap Robert yang masih terlihat gemas dengan bayi yang masih merah itu.


"Robert, turunkan bayi kecil itu! Dia masih harus banyak istirahat, jangan ganggu dia terus!" Tuan Henry memperingatkan.


Robert tersenyum dan mengangguk, dia tidak berani membantah ucapan papanya lalu meletakkan baby Rey kedalam box lagi.


Setelah lama berbincang dan bercanda, Robert dan papanya pamit untuk pulang agar Shafa bisa beristirahat lebih lama. Sedangkan Zain masih menemani keluarganya di Rumah sakit.


***


Di sebuah taman dengan hamparan rumput yang hijau, terlihat Barrack memeluk seorang anak laki-laki berumur satu setengah tahun yang sedang berlari ke arahnya, anak laki-laki itu tampan seperti dirinya. Barrack memeluknya erat dan menciumi seluruh wajah anak laki-laki itu dibawah pohon yang rindang.


"Sini sayang peluk Daddy, Daddy sangat menyayangimu putraku, muuaacch.. muacchh.. muacchhh..."


Barrack menciumi anak laki-laki itu sampai anak itu tertawa geli dan menyuruh menghentikan aksi Barrack.


"Barra.. Barra.. Bangun sayang.. sudah waktunya sholat subuh!" Ucap Myra sembari menggoyang-goyangkan tubuh putranya.


Sontak suara mamanya membuat mimpi indahnya tiba-tiba berakhir begitu saja dan Barrack pun mulai membuka matanya. Dia beranjak ke kamar mandi dengan perasaan sedihnya karena kebahagiaan yang baru dia rasakan hanyalah sebuah mimpi.


Myra yang sempat mendengar Barrack mengigau, sangat sedih melihat putra kesayangannya hampir putus asa karena belum juga menemukan istri dan keluarganya. Dia hanya menghela nafasnya panjang dan segera turun kebawah menyiapkan keperluan suaminya.


Kini di meja makan Jason membaca koran, Jessie dan Myra sibuk dengan ponselnya. Mereka bertiga menunggu Barrack turun dari kamarnya.


"Pagi Papa.. Mama.." sapa Barrack kemudian mencium papa dan mamanya kemudian mengacak gemas rambut adiknya.


"Apaan sih kakak ini! Rambutku ini sudah rapi, jangan kebiasaan merusaknya kak! Huh menyebalkan!" Jessica mendengus kesal dan Barrack hanya tersenyum jahil.


"Barra.. Bagaimana pembangunan pondok pesantren Abah Ali? Apa semua berjalan dengan baik? Papa akan berkunjung kesana hari ini bersama mamamu,"


"Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar pa, Abah Ali sudah lama ingin bertemu dengan papa, karena pertemuan papa dengan Abah Ali dua bulan yang lalu hanya sebentar saja,"

__ADS_1


"Santri Abah sekarang juga semakin banyak karena Asrama dan sekolah sudah di bangun lebih besar, aku juga mengirim beberapa guru terbaik untuk mengajar disana pa, aku berharap mereka menjadi anak-anak yang pandai dan sukses nantinya,"


"Amiinnn.. Ya Robbala'laminn.." ucap ketiga orang didepannya bersamaan.


"Nanti mama akan membelikan mereka semua keperluan sekolah, seragam, baju dan banyak makanan untuk mereka sayang! Duuuhhh mama sudah tidak sabar bermain bersama anak-anak lucu itu," ucap Myra antusias.


Jason, Barrack dan Jessie tersenyum mengangguk mendengar ucapan mamanya. Semenjak Barrack sering mengunjungi Pondok pesantren, Myra dan Jessica juga sering ikut kesana belajar mendalami ilmu agama dibimbing Umi Ida dan menyempatkan bermain bersama para santri di Pondok pesantren.


***


Di Kantor milik Hansel grup, Barrack sudah berada di ruangan kerjanya. Dia memikirkan mimpinya, semua terasa seperti nyata. Barrack berdoa dalam hatinya, agar dipertemukan dengan Istri dan keluarganya.


"Pagi Boss.." Tomy membuyarkan lamunannya.


"Pagi-pagi jangan melamun Boss, nanti kalau tiba-tiba kesambet kan jadi repot," ucap Tomy bergidik ngeri.


"Hussttt.. Jangan bicara sembarangan kau Tom! Hari ini apa jadwalku?"


"Hari ini ada meeting dengan CEO Atmajaya Corp, Mereka mengajukan kerjasama dengan menyewa resort dan vila anda di kota Bandung Boss, untuk keperluan syuting sinetron terbaru mereka,"


"Kau saja yang menemui mereka Tom, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun,"


"Tapi Boss, pemilik rumah produksi film itu ingin sekali bertemu anda, dia sampai menawarkan iklan gratis untuk mempromosikan resort dan vila anda, dan untuk membicarakan konsep iklannya dia ingin bertemu anda langsung, ayolah boss semangat! Kapan lagi kita dapat promosi gratis," ucap Tomy penuh antusias.


"Aiiihhh Boss bukan begitu maksudku, kita tahu Atmajaya Corp seperti apa, rating sinetron ataupun iklan mereka selalu berada paling atas, coba anda pikirkan kalau vila dan resort anda diiklankan mereka, pasti semakin terkenal dan semakin banyak keuntungan kita Boss,"


Barrack terdiam memikirkan ucapan Tomy, tidak ada salahnya juga dia bertemu langsung dengan kliennya apalagi pertemuan ini menguntungkan bagi bisnisnya.


"Baiklah, kita akan meeting dengan Atmajaya Corp, siapkan saja semua yang dibutuhkan!" ucap Barrack.


"Baik Boss.. saya permisi dulu," pamit Tomy dan Barrack mengangguk sekilas.


***


Di sebuah restoran mewah Barrack dan Tomy duduk dihadapan seorang wanita cantik dan seksi bersama asisten laki-lakinya, walau dengan setelan jas dan rok pendeknya tubuh sintal wanita itu sangat menarik untuk dilihat. Tomy sampai berkali-kali menelan ludahnya melihat kecantikan Cheryl Reina Atmajaya, CEO dan pemilik Atmajaya Corp.


Barrack sama sekali tidak tertarik untuk mengagumi atau memandang wanita cantik didepannya, dia hanya menyibukan diri memandangi ponselnya. Kemudian mereka memulai berbicara mengenai kerjasama dan iklan gratis yang Cheryl tawarkan.


Cheryl tak melepas pandangannya sedikitpun kepada Barrack saat Barrack mulai menjelaskan konsep iklan yang akan dikerjakan anak buah Cheryl, dia terlalu terpesona dengan ketampanan Barrack. sampai kedua mata mereka tiba-tiba bertemu dan Barrack berdehem memecah lamunan wanita itu.


"Ehemmm.. Maaf Nona Cheryl apakah anda setuju dengan konsep iklan yang saya jabarkan?" Tanya Barrack.


"Ahhh.. iya Tuan Barrack, anda bisa membuat konsep sesuai keinginan anda, nanti asisten saya yang akan membantu anda berbicara dengan produser iklan saya," ucap Cheryl tersenyum kikuk untuk menutupi kegugupannya karena tidak fokus dengan penjelasan Barrack.

__ADS_1


"Duhhh jantungku.. kenapa berdetak kencang begini?! Tatapannya seperti menghipnotis mataku, dia sangat dingin dan cuek, membuatku sangat penasaran, lihat saja Barrack aku akan secepatnya mendapatkanmu! Siapa yang mampu menolak pesona seorang Cheryl Atmajaya?!" ucapnya dalam hati.


"Baiklah nona Cheryl, saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibahas, saya pamit undur diri dulu, terimakasih atas kerjasama dan bantuan anda," pamit Barrack sembari menjabat tangan Cheryl dan berlalu pergi bersama asistennya.


Cheryl adalah wanita yang cerdas, tegas dan disiplin, pekerjaan adalah hidupnya. Dia selalu serius dengan pekerjaannya, tidak ada kata kompromi saat ada yang membuat kesalahan tetapi hari ini seorang Barrack John Hansel membuatnya salah tingkah dan bersikap tidak professional.


Sementara Tomy mengantarkan Barrack pulang menuju Mansionnya, selama di dalam mobil Barrack hanya diam dengan pikirannya, dia terus memikirkan istrinya.


"Boss.. Nona Cheryl sangat cantik dan seksi, dari pandangannya kepada anda, saya rasa dia sangat menyukai anda Boss," ucap Tomy memecah keheningan.


"Apa kamu lupa aku sudah beristri Tom?! Aku tidak pernah peduli wanita lain, secantik apapun dia! Belum tentu yang terlihat indah dimata itu juga baik hati dan sifatnya, aku sudah pernah terperdaya dengan kecantikan Jenny dan berakhir seperti ini, penyesalan yang tidak berujung! Tidak ada wanita lain yang menarik untukku selain istriku, aku akan sabar menunggu dan mencarinya sampai sisa waktu yang aku punya di dunia,"


"Iya Boss maaf, saya hanya tidak ingin anda terus-menerus bersedih, saya akan terus membantu anda untuk menemukan nona muda secepatnya Boss," ucap Tomy merasa tidak enak dan Barrack pun mengangguk.


***


Satu tahun telah berlalu, kini putra tampan Shafa sudah berumur satu tahun. Bayi laki-laki itu sangat pintar dan sudah bisa berjalan pada usia 11 bulan.


"Rey.. sayang.. Habis dari mana?" sapa Bu Farida pada cucunya kemudian menggendongnya.


"Seperti biasa kami habis jalan-jalan pagi di taman bu," jawab Shafa.


"Sarapan sudah siap sayang, ayo kita sarapan dulu,"


Shafa mengangguk mendengar ajakan ibu dan duduk di meja makan. Zain yang sudah terlihat rapi dan tampan bergabung bersama mereka.


"Duduu.. dduuu.. jajaaa... "


Rey berceloteh seolah memanggil pamannya sembari mengangkat tangannya ke arah Zain.


"Good morning boy.. Apa kamu ingin paman suapi?" tanya Zain pada Rey.


Rey seolah mengerti yang diucapkan Zain, dia tersenyum menampilkan Giginya yang berjumlah empat itu. Dan seperti biasa bayi tampan itu membuat semua orang gemas melihatnya. Zain menciumi seluruh badan bayi itu bertubi-tubi sampai bayi itu tertawa keras. Zain sangat menyayangi keponakannya itu, semua kebutuhan Rey dan keluarganya Zain selalu penuhi.


"Sudah cukup boy.. Ayo kita sarapan! Sini aku suapi,"


Terlihat Zain mengambil sarapan milik Rey dan menyuapi bayi itu dengan penuh rasa sayang.


"Zain, sini biar kakak saja yang suapin, kamu sarapan sana! Jangan sampai kamu terlambat kerja!" Shafa akan mengambil sarapan milik Rey tapi Zain mencegahnya.


"Sudah tidak apa-apa kakak, aku tidak akan terlambat, kakak saja yang sarapan dulu! Lagipula Rey sangat senang kalau aku yang suapi,"


Setelah ritual sarapan mereka selesai Zain pamit ke kantor, Rey yang sudah sangat nempel padanya harus menangis dulu saat Zain meninggalkannya untuk bekerja. Tapi setelah dibujuk berbagai hal dan mainan akhirnya dia mau melepaskan kepergian Zain, dan drama itu selalu terjadi tiap pagi.

__ADS_1


__ADS_2