
Jason bersama asistennya Sam bersiap menuju kediaman Pak Malik, dia berencana berbicara langsung kepada istri dan anak-anak Pak Malik tentang kematian Pak Malik.
"Tok.. Tok.. Tok.."
Asisten Sam mengetuk pintu rumah itu dan ketika Ibu Farida membuka pintu, asisten Jason mengucapkan salam.
"Iya, ada yang bisa saya bantu pak? bapak mencari siapa? Oh ya.. Silahkan masuk dulu pak," kata Bu Farida dan mempersilahkan mereka duduk.
Jason dan Asistennya duduk di sofa dan mulai berbicara kepada Bu Farida.
"Saya adalah boss suami anda, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda saat ini," ucap Jason
Lidah Jason begitu berat untuk memberikan kabar buruk yang menimpa keluarga mereka. Ada perasaan tidak tega melihat istri Pak Malik.
Kemudian Jason meminta Ibu Farida memanggilkan anak-anaknya, Zain yang mendengar itu dari dalam langsung menghampiri dan menyalami kedua laki-laki yang tiba-tiba datang kerumahnya.
"Hmmm begini Bu Farida.. Saya ingin mengabarkan kalau Pak Malik telah meninggal dunia, dan sekarang jenazahnya berada di rumah sakit untuk dibersihkan," ucap Jason dengan perasaan hancur dan sedih.
"Apa?! Suami saya meninggal?" ucap Bu Farida sangat kaget dan seketika badannya lemas tak bertulang.
Zain yang tak kalah kaget menahan air matanya, dan menangkap ibunya yang akan pingsan. Dan ketiga laki-laki di ruangan itu sangat panik melihat Bu Farida pingsan.
Zain mencoba mengolesi minyak angin di wajah, hidung, telapak kaki dan tangan ibunya agar ibunya cepat siuman. Jason dan asistennya menghela nafas panjang dan berharap Bu Farida lekas siuman.
Selang beberapa menit kemudian Ibu Farida siuman dan berusaha tegar untuk mendengarkan rentetan kejadian nahas yang menimpa suaminya tadi siang.
Bu Farida menangis sejadi-jadinya mendengarkan cerita Jason, Zain yang mendengar semuanya tak bisa menahan air matanya yang mengalir begitu saja.
"Baiklah Bu Farida, anda tidak usah khawatir setelah ini jenazah Pak Malik akan tiba di rumah, jadi anda tidak perlu ke rumah sakit," ucap Asisten Jason.
Kemudian Bu Farida menyuruh Zain menghubungi kakaknya yang sedang bekerja, Shafa hanya di suruh pulang tanpa memberi tahu kejadian sebenarnya. Ibu Farida khawatir jika Shafa mendengar kabar buruk itu nanti malah dia tidak fokus di jalan dan malah membahayakan keselamatannya.
__ADS_1
Shafa tiba di rumah dan mengucapkan salam, keempat orang di ruang tamu itu sontak menoleh ke arah pintu. Shafa binggung dan heran melihat ibunya berada di dekapan adiknya dengan mata sembab.
"Ada apa ini ibu, kenapa ibu menangis?" Tanya Shafa dengan perasaan tak enak, dia merasa sesuatu buruk sedang terjadi.
Bu Farida menyuruh Shafa mendekat dan duduk di sampingnya, lalu Bu Farida memeluk erat Shafa dan mengatakan ayahnya telah meninggal.
"Apa?! Ayah meninggal? Apa ibu sedang bercanda? Ibu ini tidak lucu!" ucap Shafa menatap mata sembab ibunya. Dan ibu semakin menangis melihat reaksi Shafa yang terpukul dan frustasi.
Ibu menatap Shafa dan menganggukkan kepalanya, sontak Shafa menangis sejadi-jadinya mendengarkan kabar buruk itu.
Jenazah Pak Malik telah tiba di kediamannya, semua tetangga, teman-teman kerja Shafa dan pemilik cafe pun datang mengucapkan bela sungkawa.
Setelah rentetan proses pemakaman, rumah mereka pun kembali sepi. Mereka kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan sedih yang teramat dalam, ditinggalkan selama-lamanya oleh orang yang mereka sangat sayangi.
Di Kediaman Jason.. Sudah berkumpul Jason, Myra, Barrack dan Jessie di ruang kerja Jason. Mereka membicarakan kejadian yang menimpa Jason tadi siang, mereka begitu geram dan marah dengan seseorang yang mencoba membunuh Jason.
"Papa apa pelakunya sudah ditangkap? Kalau anak buah papa itu tidak becus biar aku yang menangani b***bah s*alan itu, " ucap Barrack penuh amarah.
"Pelakunya sudah tertangkap barra, tapi dia tidak mau mengaku dengan siapa dia bekerja, anak buah papa sudah menyiksa dia dengan kejam, tapi dia memilih untuk mati dengan racun yang berada disakunya," ucap Jason dengan serius.
"Saat aku periksa data laki-laki suruhannya itu, aku tak menemukan apa-apa karena dia pegawai baru, alamat dan data yang dia serahkan hanyalah data fiktif," kata Jason.
"Sepertinya Papa harus lebih selektif menerima karyawan baru, jangan sampai kecolongan seperti ini," Ucap jessie menambahkan.
"Aku benar-benar tidak bisa membayangkan kalau benar-benar kehilangan papa, aku sangat sayang papa," Jessie tak bisa menahan perasaan sedihnya dan menangis memeluk papanya. Myra juga menangis memeluk suaminya, dia bersyukur suaminya baik-baik saja.
"Papa benar-benar berhutang nyawa kepada keluarga Pak Malik, papa memiliki janji yang harus papa penuhi sebelum Pak Malik meninggal," kata Jason dan menatap ke arah Barrack.
"Barrack.. "
"Aku harap kamu tidak akan kecewa dengan keputusan papa," ucap Jason kepada anak laki-lakinya.
__ADS_1
"Apa maksud papa?" Barrack heran mendengar perkataan papanya.
"Barra.. Papa telah berjanji pada mendiang Pak Malik akan menikahkanmu dengan putrinya."
" Apa?!" Sontak ketiga pasang mata itu menatap Jason dengan rasa keterkejutannya.
"Barra kau tau, papa begitu merasa bersalah dengan kejadian ini, Pak Malik meminta papa menjaga keluarganya. Papa melihat Pak Malik begitu sedih meninggalkan keluarganya apalagi melihat anak gadisnya bekerja keras untuk kehidupan mereka,"
"Papa saat itu hanya ingin melihatnya meninggal dengan tenang, lalu papa berjanji untuk menikahkanmu dengan putrinya, papa tidak tau lagi bagaimana harus berterimakasih kepadanya, hanya itu yang membuatnya tersenyum saat dia menghembuskan nafas terakhirnya," Ucap Jason mengenang kejadian tadi.
" Pak Malik adalah karyawan lama kita, orangnya baik dan jujur, aku yakin putrinya juga sebaik dia, gadis itu rela kuliah sambil bekerja untuk membantu keluarganya," Jason menceritakan sedikit kehidupan Pak Malik dan keluarganya kepada mereka.
" Tapi papa tahu aku sedang menjalin hubungan dengan Jenny, aku sangat mencintainya pa.. Aku tidak mungkin meninggalkan Jenny," ucap Barrack mengungkapkan perasaannya.
"Papa tau, papa membuat keputusan sepihak dan mengecewakanmu son.. Tapi Apakah kamu rela jika pada saat itu papa yang terkena tembakan? Dan mungkin kalau bukan karena Pak Malik, papa sudah tidak bersama kalian lagi," kata Jason.
"Papa hanya minta itu darimu sebagai baktimu kepada papa, tinggalkan kekasihmu itu karena sebenarnya dari awal papa tidak menyukainya, gaya berpakaiannya papa tidak suka dan mungkin dia menjalani kehidupan bebas diluar sana, papa tidak ingin kamu kecewa nantinya," ucap Jason dengan serius.
Sebenarnya Jason diam-diam menyelidiki kehidupan Jenny, Jason tau kehidupan yang Jenny jalani begitu bebas. Dia sering mabuk di club dan berganti-ganti pacar. Jason ingin memisahkan Barrack dan Jenny sejak dulu tapi dia tidak tega menyakiti hati putranya, dan dengan kejadian ini Jason bersyukur Barrack akan terbebas dari wanita seperti Jenny.
"Dua bulan lagi.. Kamu dan gadis itu akan menikah, dan papa akan mempersiapkan semuanya," ucap Jason berlalu meninggalkan ruang kerjanya.
Myra dan Jessie tidak bisa melakukan apapun untuk Barrack, mereka hanya pasrah dengan keputusan kepala keluarga itu. Barrack juga tidak bisa menolak lagi karena dia tidak ingin menjadi anak durhaka kepada papanya.
Sejak kecil kebahagiaan Barrack dan Jessie selalu jadi prioritas papanya, walaupun papanya adalah pebisnis yang sibuk, tapi dia tak pernah melewatkan waktu untuk menyayangi dan merawat anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Itu yang membuat anak-anaknya sangat mencintai papanya.
Kini Barrack berada di balkon kamarnya dan menghisap cerutunya, dia benar-benar binggung memikirkan bagaimana mengatakan semua ini pada Jenny. Dia yakin Jenny tidak akan terima jika dia ditinggalkan begitu saja.
Barrack tidak menyangka akan berada diposisi sulit seperti ini, cinta yang dia bangun dua tahun belakang ini akan segera berakhir. Padahal dia masih memuja sang model cantik itu.
***
__ADS_1
"Br******k! b*doh sekali mereka, memb*nuh satu orang saja tidak becus!" kata Pria Misterius itu sambil melempar barang yang ada di ruang kerjanya dan menampar satu persatu anak buahnya.
"Jangan senang dulu kau tua b*ngka! Mungkin kali ini kau lolos dari kematianmu tapi tidak di lain waktu! Aku akan menghancurkan ku sampai berkeping-keping!" teriaknya dengan garang.