
"Menantu? Jadi perempuan yang dikeroyok preman tadi itu adalah menantu anda?" tanya Pak polisi.
"Benar Pak, Bagaimana kondisi menantu saya pak?"
"Nona masih di ruang ICU, sepertinya belum sadarkan diri, karena hantaman yang terlalu banyak."
"Apa! Shafa Anakku.. " Bu Farida menangis histeris dan Zain menenangkan ibunya.
"Tapi Putra anda.. "
Jason menyela, "Putraku? Apa putraku juga korban pengeroyokan preman itu?"
"Maaf saya baru menemukan identitas tuan muda disaku celananya, dan kami baru mau menghubungi anda tapi anda sudah tiba disini."
Semua syok semakin lemas dan pasrah mendengar anak dan menantu mereka sama-sama menjadi korban pengeroyokan preman.
"Tapi anda jangan khawatir Tuan Jason, luka Tuan muda Barrack tidak lebih parah, Tuan muda sudah sadar dan dipindahkan ke ruang perawatan VVIP," kata Polisi itu.
"Baik, ikuti aku.. Aku mau melihat keadaan anak dan menantuku dulu, nanti tolong ceritakan kronologi kejadiannya."
"Baik Tuan Jason,"
Kemudian mereka berlari kecil mencari ruang ICU untuk melihat keadaan Shafa, Bu Farida langsung menghampiri tim dokter disana.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Bu Farida bertanya dengan berderai airmata.
"Putri anda sudah melewati masa kritisnya nyonya, tapi dia belum sadarkan diri, dia terlalu banyak mengeluarkan darah, beruntung lukanya tidak sampai mengenai organ vitalnya."
"Terimakasih dokter.. " kata Bu Farida.
"Saya permisi dulu nyonya, jangan khawatir perawat akan menjaga dan akan melaporkan setiap perkembangan pasien, anda hanya perlu berdoa agar putri anda cepat sadar." ucap Dokter dan berlalu pergi.
Bu Farida mengangguk dan menatap kosong Shafa dari luar kaca jendela, dia tidak ingin kehilangan lagi. Dulu kehilangan suaminya adalah pukulan terberat baginya dan sekarang anak-anaknya adalah semangatnya untuk bangkit dari kesedihan.
Jason meyakinkan Bu Farida kalau menantunya itu gadis yang kuat dan akan segera sembuh, kemudian dia pamit mencari ruangan Barrack dirawat.
Jason dan Myra memasuki ruangan Barrack dirawat, mereka berlari kecil mendekati ranjang dan menanyakan keadaan putranya yang sudah tersadar.
"Barra.. Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" kata Myra sembari memegang dan meneliti tubuh putranya itu.
"Aku tidak apa-apa ma.. Hanya luka kecil saja.. Aku tidak ingat siapa yang telah menolongku dan membawaku kesini," ujar Barrack sembari mengingat-ingat kejadian itu.
"Waktu itu aku ingat kalau aku ke club malam dan mabuk,"
"Apa mabuk?!" sontak kedua orangtuanya berteriak kaget mendengar Barrack yang masih suka m*buk.
"Dasar anak kurang aj.. !" teriak Jason yang akan melayangkan pukulan ke arah putranya kemudian terhenti karena Myra menghalanginya.
"Sudahlah pa.. Jangan memukul putramu lagi dia sudah banyak mendapatkan luka, jangan menambah luka ditubuhnya lagi." Myra menenangkan suaminya.
"Apa kamu tau Shafa juga terluka sangat parah karena kecerobohanmu, bahkan sekarang dia di ruang ICU dan belum sadarkan diri." ujar Jason sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"A.. Apa.. Benarkah pa?" Barrack kaget mendengar perkataan ayahnya dan mencoba mengingat kepingan-kepingan kejadian nahas yang terjadi padanya.
Jason mengangguk sekilas dan berkata,
__ADS_1
"Biar aku menyuruh opsir polisi itu masuk agar menjelaskan kronologi kejadian tadi."
Kemudian opsir polisi itu masuk ke ruangan Barrack dirawat dan mulai menceritakan kronologi kejadian itu.
"Begini Tuan Jason, waktu itu seorang wanita yang mengaku bernama Shafa Adzania menghubungi kami."
"Dia melaporkan ada tindak pengeroyokan beberapa preman kepada seorang pemuda di jalan xx, dia berkata pemuda itu sudah tidak berdaya dan nona akan berusaha menolong pemuda itu semampunya," kata opsir itu sembari mengingat kata-kata Shafa yang telah dia sampaikan ditelfon.
"Saya rasa nona juga tidak tau kalau laki-laki yang ditolongnya adalah Tuan Muda Barrack, suaminya."
"Saat tim kami membawa Tuan Muda ke rumah sakit, ternyata Tuan Muda juga berada dalam pengaruh alkohol. Saat saya menanyai preman-preman itu,mereka berkata Tuan Muda yang sedang mabuk berat menghampiri mereka mencari gara-gara dan berkata kasar."
"Terimakasih pak atas info yang Anda sampaikan,nanti biar saya bicara dengan atasan anda." ucap Jason.
"Baiklah kalau sudah tidak ada yang Anda tanyakan saya permisi keluar Tuan." ucap opsir itu dengan sopan.
Kemudian Jason mempersilahkan opsir itu keluar dari ruangan Barrack.
"Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu Barra?" suara papanya itu menyadarkan keterkejutannya.
"Aku selalu mengawasimu, aku tau kalian terlihat baik-baik saja didepanku tapi nyatanya kalian hanya seperti orang asing yang tinggal satu atap,"
"Walaupun kamu tidak menerima perjodohan ini, bersikaplah baik kepada istrimu dan mulailah buka hatimu untuk menerimanya,"
"Sudah dua kali kita berhutang nyawa kepadanya dan Ayahnya, aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi,"
"Jika kamu memaksa berpisah dengannya, akan aku pastikan kamu tidak akan mendapat warisan dari papa sepeserpun dan akan kuberikan warisanmu kepada Shafa." ancam Jason kepada putranya dan berlalu pergi.
Sontak Myra dan Barrack kaget mendengar ancaman ayahnya, Barrack hanya terdiam menyesali yang telah dia perbuat.
Dia bertanya dalam hati apakah Shafa baik-baik saja, dia juga mengumpati kecerobohannya dalam hati.
Kemudian Myra menyuruh Barrack untuk beristirahat untuk memulihkan kondisinya.
Keesokan paginya Barrack terbangun, Myra yang menjaga putranya semalaman. Barrack menanyakan keadaan Shafa kepada Myra.
"Mama.. Bagaimana keadaan Shafa? Apa mama tau?" tanya Barrack.
"Nanti aku coba tanyakan kepada dokter, kamu harus pulih dulu, Tapi sejak kapan kamu peduli dengan wanita itu?" kata Myra balik bertanya.
"Seperti apapun hubungan kami, aku tetap khawatir padanya, karena ulahku dia jadi begini, " jawab Barrack dengan tatapan kosong dan perasaan menyesal.
Dia berjanji pada hatinya tak akan berbicara kasar lagi pada Shafa dan mulai memperhatikannya walaupun menganggapnya sebagai teman. Karena Barrack bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta.
Lalu sebuah suara yang tak asing ditelinganya membuyarkan lamunannya.
"Barrack sayang! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" tanya Jenny yang nyelonong memeluk Barrack.
Dengan tidak tau malunya Jenny datang ke rumah sakit saat dikabari Myra tentang kabar Barrack yang terluka. Myra memang masih berkomunikasi dengan Jenny karena Myra masih berharap Jenny menjadi menantunya.
"Je.. Jenny..Apa yang kau lakukan disini? Siapa yang memberitahukanmu kalau aku berada disini?" Barrack sedikit kaget melihat Jenny yang tiba-tiba muncul.
"Mama yang yang memberitahu sayang," ucap Jenny menampilkan senyum dan rasa bersalahnya.
"A.. Apa.. Mama? "
__ADS_1
Kemudian Barrack menoleh memandang mamanya. Dia tidak menyangka mamanya masih berhubungan dengan Jenny.
"Iya sayang, aku menyuruh Jenny kesini untuk menjagamu, mama akan pulang sebentar," ucap Myra tersenyum.
Dia mengira Barrack akan senang jika Jenny datang, padahal Barrack masih marah dengan Jenny, karena kesalahan Jenny, Barrack melakukan kecerobohan.
"Jangan kuatir papamu tidak akan tau hal ini karena papamu ada meeting penting diluar kota yang tidak bisa ditinggal,"
Kemudian Myra pamit pulang ke rumah sebentar kepada Barrack dan Jenny. Barrack masih marah dengan Jenny dan malas berbicara dengannya, Tapi Jenny berusaha merayu dan mendapatkan hati Barrack kembali.
"Sayang.. " Ucap Jenny yang membelai lengan Barrack, tapi Barrack tak bergeming malah memainkan ponselnya.
"Jangan mengabaikanku seperti itu sayang, aku minta maaf aku salah," Jenny memelas.
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi sayang, aku tidak akan ambil pekerjaan kalo diharuskan dengan laki-laki,"
"Sayang, beri aku kesempatan sekali saja aku masih sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan kamu sayang," ucap Jenny yang berpura-pura menangis.
Melihat kesungguhan Jenny meminta maaf Barrack memaafkan dan memeluk Jenny yg sedang berpura-pura menangis.
"Sudah-sudah jangan menangis, aku juga tidak ingin kita berpisah, aku harap kamu lebih mementingkan perasaanku daripada pekerjaanmu, " ucap Barrack.
Jenny mendongkak melihat mata Barrack.
"Benarkah sayang,kamu memaafkan ku?" ucap Jenny
Barrack tersenyum dan mengangguk, lalu Jenny kembali memeluk Barrack dan menc*iumi pipi dan bibirnya. Dari c*iuman ringan itu semakin lama Barrack memperdalam c*iumannya, menahan tengkuk belakang Jenny dan Mel*mat b*bir mereka satu sama lain.
Seakan itu adalah candu bagi mereka, lalu mereka berhenti saat sama-sama kehabisan nafas mereka.
Barrack membelai rambut Jenny penuh kelembutan dan menc*umi pucuk kepalanya, walaupun wanita itu kemarin telah menyakitinya tapi Barrack bukan tipe pria yang mudah berpaling.
"Sayang, kembalilah bekerja aku tidak apa-apa kalau sendiri disini, mungkin mamaku sebentar lagi akan tiba," ucap Barrack yang masih membelai rambut Jenny.
"Tapi sayang aku ingin menjagamu, aku tidak ingin jauh darimu," kata Jenny dengan nada manja.
"Memangnya kekasihku yang cantik ini tidak sibuk? Kalau tidak sibuk aku tidak keberatan kalau seharian bersamamu sayang,"
"Mmmm.. Sibuk dikit sayang, ada pembuatan video untuk endorse baju di butik temanku sayang,"
"Baiklah berangkatlah sayang, nanti kalau sudah tidak sibuk kamu bisa kesini lagi tapi hubungi mama dulu, aku tidak ingin papa tau kamu kesini,"
"Oke sayang,aku pergi dulu ya.. Bye!" Pamit Jenny dan menc*um Barrack kemudian berlalu pergi.
Sebenarnya dia masih ingin ditemani Jenny tapi dia penasaran dengan keadaan Shafa. Dia ingin menjaga perasaan Jenny, kalau Jenny tau Barrack mengkhawatirkan Shafa, Jenny akan cemburu dan hubungan mereka akan memburuk lagi.
Barrack berjalan keluar pintu kamarnya 2 bodyguard yang disuruh menjaganya mencegahnya keluar.
"Tuan muda mau kemana? Nyonya besar tidak memperbolehkan anda keluar tuan." tanya salah satu bodyguard.
" Aku sudah tidak apa-apa kalian tenang saja, aku hanya ingin melihat keadaan istriku."
"Baik tuan muda, tapi salah satu dari kami harus mengikuti anda kemanapun anda pergi, keselamatan anda adalah tugas kami."
"Terserah kalian saja." kata Barrack sambil mengibaskan tangannya agar bodyguard itu menyingkir dari pintu.
__ADS_1
Barrack berjalan menuju ruang ICU, dia bertanya pada dokter jaga disana,
"Dokter bagaimana keadaan pasien bernama Shafa?" tanya Barrack.