
Jenny menghubungi Barrack saat dia berada di kantornya.
"Ada apa kau menghubungiku Jenny?" tanya Barrack.
"Papaku ingin bertemu denganmu Barra!"
"Ada masalah apa sampai Om Adrian ingin bertemu denganku?"
Perasaan Barrack mendadak tidak enak, tidak biasanya Papa Jenny ingin berbicara dengannya. Dulu saat masih bersama Jenny, saat Barrack menjemput Jenny di Mansion nya mereka hanya bertegur sapa saja.
"Aku tidak tahu Barrack, papa hanya memintaku agar kau menemuinya," Jenny terpaksa menutupi dulu agar Barrack mau datang ke hadapan papanya.
"Baiklah nanti nanti sepulang kantor aku akan sempatkan mampir sebentar untuk menemui papamu,"
"Baiklah Barra, nanti aku sampaikan papaku, terimakasih." Jenny pun menutup sambungan teleponnya.
Selepas pulang kerja Barrack telah tiba di Mansion keluarga Jenny, dia ditemani Asisten Tomy datang kesana. Tomy juga sedikit heran, kenapa tiba-tiba papa Jenny ingin berbicara Bossnya. Dia merasa sepertinya ada masalah serius yang akan mereka bicarakan.
"Tokk.. Tokkk.. "
"Assalamu'alaikum.." Barrack mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh, masuklah anak muda!" ucap Adrian yang terlihat sudah menunggu kedatangan Barrack.
"Mari ikut denganku ke ruangan keluarga!"
Barrack dan Tomy mengerutkan keningnya, baru juga mereka tiba belum dipersilahkan duduk ataupun disuguhi minuman Tuan Adrian sudah mengajaknya ke ruang keluarganya. Barrack dan Tomy berjalan dibelakang mengikuti Adrian dan masuk kedalam ruangan keluarga milik mereka. Dan terlihat pula Jenny dan mamanya sudah berada didalam sana.
Adrian mempersilahkan Barrack dan Tomy untuk duduk, " Mari silahkan duduk!"
Adrian bersikap tenang dan ramah dihadapan Barrack, berbeda saat belum bertemu dengan Barrack Emosinya meledak-ledak. Tapi Kharisma dari Seorang Barrack membuat Adrian menjadi segan dengannya, walaupun laki-laki itu sudah merusak kehormatan putrinya. Baginya tidak masalah asalkan Barrack mau bertanggungjawab, menjadi besan keluarga Hansel merupakan impian semua kalangan pebisnis.
"Terimakasih Om Adrian," ucap Barrack dengan sopan sembari mendaratkan b*kongnya di sofa.
"Apa tidak sebaiknya asistenmu berada diluar saja, karena kita akan membicarakan hal yang serius," tanya Adrian.
"Tidak masalah Om, Tomy adalah asisten pribadiku, semua hal penting mengenaiku dia pun harus tahu," ujar Barrack dan Adrian pun mengangguk.
"Baiklah aku tidak akan basa-basi lagi berbicara denganmu," Adrian menatap serius wajah Barrack.
"Apakah kau tahu bahwa Jenny telah mengandung dari hasil perbuatan kalian?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Adrian membuat Barrack seperti disambar petir di siang bolong, dan Tomy pun tidak kalah terkejutnya.
"A.. Apa.. Hamil?" Barrack mencebik dan menatap Adrian dengan serius lalu beralih menatap Jenny yang masih menunduk dan mulai menangis.
"Ta.. Tapi Bagaimana bisa hamil?" Barrack berbicara seperti orang linglung.
"Kalian yang melakukannya! Kenapa kamu malah bertanya padaku?! Memangnya kamu merasa melakukannya dengan Jenny atau tidak!" Adrian meninggikan suaranya juga.
"Sepertinya kami hanya melakukannya sekali saja dan itu dalam keadaan kami tidak sadar Om, itu adalah sebuah kesalahan yang tidak kami sengaja," ucap Barrack yang mulai gelisah.
"Mau sengaja atau tidak lantas apa itu akan membuatmu lari dari tanggungjawab?! Kau sudah merusak anak gadisku dan menghamili nya dan kamu masih mengatakan semua itu tidak sengaja!"
"Tapi saya sudah menikah Om, saya tidak bisa menikahi Jenny,"
"Ceraikan saja istrimu itu! Lagipula kamu kan belum memiliki anak darinya! Jenny bilang kalian hanya dijodohkan dan tidak saling mencintai, lantas apa yang membuatmu mempertahankan istrimu itu!"
Barrack mengepalkan tangannya menahan emosi, bagaimana mungkin seseorang yang notabene nya bukan siapa-siapa menyuruh Barrack menceraikan istri yang sangat dia cintai.
"Saya tidak akan pernah menceraikan istri saya Om, saya sangat mencintainya! Lagipula papa saya tidak akan tinggal diam kalau saya menceraikan istri saya karena beliau yang memilihkan,"
Adrian semakin emosi dan menahan malu, bagaimana bisa ucapan putrinya dan ucapan Barrack berlawanan.
"Aku tidak peduli kalian mencintai atau tidak! Aku mau kamu menikahi putriku sekarang juga! Lagipula aku rasa Jenny tidak akan keberatan menjadi istri yang kedua!" Adrian mengalihkan pandangan dan memandang ke arah Jenny.
"Baiklah saya tunggu secepatnya! Kalau bisa tidak sampai satu minggu Jenny harus menjadi istrimu!" ucap Adrian dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Barrack berjalan mendekati Jenny dan mamanya.
"Tante.. Saya minta maaf," ucap Barrack merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Nak Barrack.. Mama memahami, bicaralah dengan calon istrimu dari hati ke hati, mama akan meninggalkan kalian berdua untuk berbicara," ucap Rossa kemudian meninggalkan Barrack dan Jenny. Dan Tomy pun ikut keluar ruangan itu.
"Jenny.. "
"Iya Barra.." jawab Jenny memandang wajah pria pujaaanya.
"Apakah benar yang ada di perutmu itu adalah putraku?"
"Apa kau berfikir aku berbohong Barra? Mana mungkin aku berbohong untuk hal sebesar ini, sedangkan kau tahu sendiri kita memang telah melakukannya,"
Barrack mengacak-acak rambutnya penuh frustasi, dia berfikir bagaimana bisa dia mengatakan semua pada istri dan keluarganya. Apakah istrinya mau menerima semua ini? Dan apa istrinya mau memaafkannya?. Semua pemikiran itu terus berputar di otaknya.
__ADS_1
"Jenny bagaimana mungkin bisa terjadi secepat itu, bahkan kita hanya melakukannya sekali itupun tanpa sadar! Sedangkan.. Ahhhh!" Barrack mengibaskan tangannya ke udara, dia tidak tau harus berkata apalagi.
Ada keraguan dihatinya, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi, tapi kenyataan semua memang terjadi. Jika benar bayi didalam perut Jenny adalah putranya, dia tidak ingin menyia-nyiakan bayi yang tidak berdosa itu.
"Aku tahu yang kamu pikirkan Barra, kamu berfikir bagaimana mungkin ini bisa terjadi, sedangkan kau dan istrimu sudah melakukannya berkali-kali tapi istrimu tak kunjung hamil," celetuk Jenny.
Barrack hanya terdiam, karena benar yang dikatakan Jenny sama seperti yang dia pikirkan.
"Apa kau sudah pernah memeriksakan kandungan istrimu Barra? Siapa tahu ternyata istrimu itu m*ndul," cibir Jenny.
Barrack melotot tak percaya mendengar ucapan Jenny, " Jaga mulutmu itu Jenny! Bukan berarti sebentar lagi kau menjadi istriku lantas kau seenaknya menghina istri yang paling aku cintai! Tidak akan aku biarkan kau menyakitinya sedikitpun JENNY!" Barrack meninggikan suaranya dan membuat Jenny terluka.
Dia tidak berani membuka mulutnya lagi. Dan Barrack pun berjalan meninggalkannya.
Barrack berpamitan kepada Mama Jenny, sedangkan Papa Jenny pergi untuk menenangkan pikirannya. Barrack pergi bersama Asisten Tomy meninggalkan Mansion keluarga Jenny.
Hati Jenny sangat hancur mendengar Barrack lebih mencintai dan membela istrinya. Dia berteriak dan membanting semua barang di ruang keluarganya.
"Praankkk.. Praannkkk.. Praannkkk.. "
"Arrrrghhhhn.. Br*****k kau Barra! Aku membencimu!" ucap Jenny penuh amarah sembari menangis. Dengan perasaan cemas Rossa menghampiri putrinya.
"Ada apa sayang? Tenangkan dirimu Jenny, Jangan terlalu stress dan banyak pikirkan! Itu tidak baik untuk kandunganmu sayang," Rossa mendekap erat putrinya yang sedang mengamuk dan menangis histeris.
Dia tahu pasti rasanya sangat menyakitkan akan menjadi istri kedua dan belum tentu keluarga Barrack juga mau menerima putrinya.
"Lihat saja Barra.. Sebentar lagi aku akan menghancurkan istri kesayanganmu itu, akan aku buat dia meninggalkanmu dengan sukarela, Tunggu aku datang pelayan rendahan! Nikmatilah kebahagiaanmu saat ini, karena sebentar lagi hari-harimu akan menjadi seperti berada di neraka!" Jenny berbicara dalam hatinya dengan penuh kemenangan.
Dia sudah membayangkan akan melakukan berbagai cara untuk membuat Shafa menderita dan tidak diinginkan lagi oleh Barrack dan keluarganya.
***
Barrack berada di mobilnya bersama Asistennya. Tatapannya kosong memandang Jalanan yang ramai dan Tomy membuyarkan lamunannya.
"Boss, Apa anda tidak apa-apa?" Tomy sangat khawatir melihat bossnya yang tak berbicara sama sekali dan terus melamun. Padahal hari-hari mereka selalu dipenuhi perdebatan.
"Tom, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan pada papa dan mamaku apalagi istriku, apakah mereka mau memaafkanku? Aku benar-benar putus asa! Aku takut istriku meninggalkanku,"
Akhirnya Barrack mengungkapkan isi hatinya pada Asistennya itu dan kali ini mereka berbicara seperti layaknya seorang sahabat.
"Saya hanya tidak habis pikir, kapan boss melakukan hal itu pada nona Jenny sedangkan kalian hampir tidak pernah bertemu, saya juga sangat terkejut tak percaya mendengar hal ini boss,"
__ADS_1
Kemudian Tomy melipirkan mobilnya ke sebuah Cafe, berharap Barrack leluasa bercerita dan Barrack mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir pada Tomy.