Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
44.Rencana Papa Jason


__ADS_3

Zain tahu, siapa lagi yang bisa membuat kakaknya menangis selain suaminya. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar kamar, Dia ingin mendengar sendiri permasalahan kakaknya tanpa kakaknya menyadari ada dirinya dirumah. Kakaknya selalu saja menyembunyikan masalah dihadapannya.


Kemudian Shafa mulai menceritakan permasalahannya dari awal sampai akhir. Seketika Bu Farida meneteskan airmata nya kembali dan memeluk putrinya dengan erat.


"Begitu berat hidup yang kamu jalani nak, maafkan ibu baru mengetahuinya, pasti sangat berat berada di posisimu saat ini," Bu Farida mengeratkan pelukannya kepada putrinya.


"Braakkkk..!!!"


Dengan kemarahan yang berada di ubun-ubun Zain keluar kamarnya dan membanting pintu dengan kasar. Sontak Shafa dan Bu Farida kaget melihat Zain muncul dengan kemarahannya. Shafa tidak menyangka ternyata adiknya belum berangkat ke kampus.


"Kakak, Biar aku habisi laki-laki br*****k itu! Aku tidak peduli kalau harus masuk bui setelah memb*nuh baj****n itu!" Zain meninggikan suaranya.


"Zain.. " panggil Shafa dengan lembut.


Shafa mendekati adik kesayangannya dan mencoba meredakan amarah adiknya.


"Kakak tidak apa-apa Zain, kakak akan mencoba menjalani semua ini, mungkin ini takdir yang sudah Allah gariskan untuk kakak, kakak yakin Allah lebih mengetahui mana yang terbaik untuk makhluk-Nya, Allah tidak akan menguji melebihi batas kemampuan makhluk-Nya, Allah tahu aku mampu Zain, percayalah kakak sudah lebih baik," ucap Shafa dengan lembut.


Zain masih belum bisa menerima kakaknya telah disakiti.


"Memang benar rumah kita pemberian dari mereka dan bahkan kebutuhan kita berasal dari kekayaan mereka tapi bukan berarti mereka seenaknya saja memperlakukan kakak seperti ini! Dasar keluarga Sombong! Tidak punya hati!" ucap Zain penuh amarah.


"Zain tenangkan dirimu nak, Tuan Jason, Bu Myra bahkan Jessie sangat baik pada kita selama ini , Kakak iparmu juga baik kepada kita, entah kenapa saat ibu mendengar cerita kakakmu, ibu agak tidak percaya Barrack sengaja melakukan semua ini, kita tidak tahu permasalahan yang sebenarnya. Kakakmu telah berjanji pada ibu, jika dia tidak mampu lagi untuk menjalani semua ini, dia akan kembali kepada kita. Yang kakakmu butuhkan saat ini hanyalah dukungan dari kita nak, ibu mohon mengertilah,"


Pedih sekali hati Zain tidak bisa berbuat apa-apa untuk kakak tercintanya. Dia meredam gejolak amarah dalam dadanya dan memeluk erat kakaknya. Sementara Bu Farida mengelus kepada Zain penuh sayang.


"Kakak sudah berjanji akan berkata jujur saat suami kakak menyakiti kakak, lalu kenapa kakak mengingkari janji kakak? Kakak anggap apa aku ini? Aku berhak tahu kesedihan yang kakak alami,"


Shafa hanya mengangguk pelan dan mengatakan kata maaf dengan lirih.


"Sekarang aku mohon berjanjilah lagi padaku kak, katakan padaku saat kakak tidak mampu lagi bersama mereka, aku akan membawa ibu dan kakak bersamaku dan jauh dari jangkauan keluarga Hansel. Apa kakak bisa berjanji untuk itu?"


Zain melepaskan pelukannya dan memandang mata kakaknya. Shafa hanya menunduk dan mengangguk pasrah.


"Baiklah kakak, ibu.. Aku mau berangkat ke kampus dulu,"


Zain akhirnya pamit pergi kepada kakak dan ibunya. Melihat dua orang kesayangannya menangis dihadapannya hanya membuat hati Zain terasa sesak. Saat sudah berada di luar rumah, Zain terlihat mengirimkan pesan pada seseorang.


***


Kini Shafa telah berada di Mansion keluarga Hansel. Dia hanya berdiam diri di kamar, Myra menyibukkan diri dan pergi ke butiknya, sementara Jessica lebih memilih berlama-lama berada di kampus. Kedua wanita itu tidak tega melihat kesedihan Shafa, Mereka tidak merasa antusias atau bahagia dengan acara pernikahan Barrack. Bahkan jika harus memilih, Jessie lebih memilih mengajak Shafa liburan atau jalan-jalan di luar rumah daripada menyaksikan Kakaknya menikah lagi.


Jessie dan Myra sangat tahu bagaimana rasa sakitnya dikhianati dan lebih parahnya malah dimadu. Saat ini para pelayan mulai menyiapkan dekorasi dan segala keperluan pernikahan untuk besok pagi.

__ADS_1


Sementara di belahan bumi yang lain terlihat Jason berbicara ditelpon dengan orang suruhannya.


"Bagaimana? Apa sudah kau dapatkan?" ucap Jason dengan gusar.


"Maaf Tuan Besar, negosiasi kami sangat alot, saya sudah mencoba tapi belum berhasil," ucap Anak buah Jason.


"Ck.. Mengurusi satu orang saja kalian tidak becus! Katakan padanya aku tidak akan segan lagi menghancurkannya kalau dia masih berani menolak! Tapi kalau dia sudah setuju berikan saja imbalan yang sesuai dengan kinerjanya kepada kita! Nanti biar Sam yang mengurus pembayarannya!"


"Baik Boss Besar.. Kami akan lebih tegas pada mereka, sebenarnya mereka hanya pesuruh Boss Besar, Boss mereka yang sebenarnya masih berada diluar kota, mereka hanya tidak berani berbuat di luar kuasa mereka,"


"Cari tahu dimana Boss mereka dan datangi dia, kalau perlu paksa saja sampai kalian dapat! Aku tidak mau tahu nanti malam kalian harus segera mendapatnya!"


"Siap Boss Besar, kami akan bertindak secepat mungkin,"


"Segera hubungi aku kalau kalian sudah mendapat informasi lengkapnya!"


"Baik Tuan Besar,"


Kemudian Jason menutup telponnya. Dia mondar-mandir di ruang kerjanya dengan perasaan gelisah dan Asisten Sam menghampirinya.


"Tuan Besar.. "


"Hmm.. "


"Aku sudah sehat Sam.. Jangan terlalu mengkhawatirkanku! Keluargaku lebih penting dari segalanya Sam, bahkan seandainya jika aku mati tiba-tiba aku tidak akan menyesal meninggalkan mereka, yang terpenting aku sudah melakukan yang terbaik," ucap Jason yang menerawang.


"Tuan Besar jangan berkata seperti itu, saya selalu berharap Tuan Besar selalu sehat dan saya yakin semua akan berjalan sesuai rencana kita Tuan, saya akan membantu semaksimal mungkin,"


"Terimakasih atas doamu Sam, aku tidak pernah meragukan hasil kerjamu," ucap Jason tersenyum menyeringai.


"Sama-sama Tuan Besar, Apapun saya akan lakukan untuk anda Tuan," Ucap Samuel sembari membungkuk sekilas dan dibarengi anggukan Jason.


***


Di Mansion keluarga Hansel, Terlihat sepasang suami-istri sedang berdebat di dalam kamar.


"Untuk sementara waktu biarkan aku tinggal di rumah ibuku Barra," Ucap Shafa dengan nada dingin.


"Tidak aku ijinkan," jawab Barrack singkat.


"Tolong mengertilah Barra.. Kamu jangan egois!" Shafa mulai tidak sabar.


"Aku sudah terbiasa bersamamu bagaimana mungkin aku membiarkanmu jauh dariku!"

__ADS_1


"Hanya sebentar saja Barra.. Sampai semua kembali baik seperti semula!"


" Aku sendiri tidak yakin apa sikap dinginmu itu bisa menghangat seperti dulu lagi walaupun setelah kamu memutuskan tinggal dirumah ibumu sementara waktu. Yang ada hubungan kita akan semakin menjauh,"


"Kenapa kamu hanya memikirkan perasaanmu saja Barra?! Lalu bagaimana dengan perasaanku?! Apa kamu ingin aku melihat kemesraanmu dengan istri barumu itu setiap hari?" Shafa hilang kesabaran dan meninggikan suaranya.


Barrack diam sejenak tak bisa berkata-kata.


"Jenny tidak akan tinggal di Mansion, aku sudah membelikannya Apartemen,"


Sontak membuat Shafa kaget sekaligus sakit hati yang luar biasa, bahkan selama menjadi istri Barrack, Shafa tidak pernah dibelikan Apartemen oleh suaminya. Padahal kenyataannya Tuan Jason tidak menginginkan Jenny tinggal di Mansion.


"Kamu sangat sayang sekali ya sama istri barumu sampai begitu royal padanya! Pasti sebentar lagi dia sangat bahagia karena bisa tinggal hanya berdua saja denganmu!" ucap Shafa dengan sinis.


"Apa yang kamu katakan baby?! Aku sudah bilang berkali-kali kalau aku tidak mencintainya! Jangan berfikir macam-macam tanpa kamu tahu kenyataannya! Dan tolong jangan memicu pertengkaran lagi! Aku hanya mencari solusi yang terbaik untuk kita bersama, tidak mungkin kalian bisa akur jika tinggal satu atap, " Barrack mulai hilang kesabaran dan Shafa membuang nafasnya dengan kasar.


"*Cihhhh.. Menyebalkan! Aku sudah muak sekali rasanya! Berbagi suami tidak ada dikamusku! S*al sekali nasibku," Shafa membatin*.


Shafa mencoba meredam amarahnya, membuang nafasnya berkali-kali. Dia tahu betul siapa suaminya, jika mereka berdebat sengit, Barrack tidak akan mau mengalah dengannya. Jadi lebih baik dia memintanya lebih lembut lagi agar suaminya bisa luluh.


"Apa besok kalian akan langsung ke Apartemen baru kalian setelah acara pernikahan?" tanya Shafa.


"Kalau besok belum bisa, karena renovasi apartemennya belum selesai,"


"Lalu apa alasanmu tidak mengijinkan aku kerumah ibuku Barra? Apa kamu tega melihatku menangis lagi saat melihat Jenny menempel terus padamu? Kamu pasti tahu, aku lebih memilih dipukuli preman sampai babak belur dari pada hatiku yang babak belur," Shafa memelas.


Barrack terdiam dan berfikir sejenak, Dia tahu Jenny adalah wanita yang agresif dan mendominasi. Mungkin saat dia berada disini dia akan melakukan berbagai cara untuk membuat Shafa merasa cemburu, dan itu akan semakin membuat hubungannya dengan Shafa lebih memburuk lagi. Dan pada akhirnya setelah dia menimbang baik buruknya, dia memberi ijin pada istrinya.


"Baiklah, aku ijinkan kerumah ibu sementara, sampai Jenny aku pindahkan ke Apartemen," Barrack berkata dengan sedikit berat hati.


"Ya sudahlah.. Biarkan dulu dia pergi, toh cuma dirumah ibu saja, aku juga ingin tahu seberapa besar aku merindukannya, seberapa besar aku menginginkannya berada disampingku, aku berharap setelah kamu kembali nanti, kamu membawa perasaan cinta yang lebih besar kepadaku baby," ucap Barrack dalam hati.


"Terimakasih sudah mengijinkanku Barra,"


Setelah beberapa saat, Barrack telah tertidur karena sudah terlalu capek fisik dan pikirannya. Sementara Shafa masih susah untuk memejamkan mata, dia terlihat chat dengan seseorang.


***


Keesokan paginya, Shafa sudah bangun sebelum subuh. Dia mandi dan bersiap-siap menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dan seperti biasa suaminya itu susah dibangunkan. Dia selalu menyepelekan kewajibannya.


Beberapa Jam kemudian..


Persiapan pernikahan pun telah selesai, Barrack Terlihat tampan dengan setelan jasnya. Dia berada diantara keluarga dan dikelilingi ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Barra.. Aku tidak menyangka akan hadir di acara pernikahanmu yang kedua, kami bahkan belum mendapatkan istri satupun," James menggoda Barrack.


__ADS_2