Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
66.Akhir Yang Manis


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu...


Hari ini adalah hari dimana Shafa akan kembali tinggal ke tanah kelahirannya, di negara yang sangat dicintainya. Hampir seluruh hidupnya dia habiskan disana, dia bahagia sekaligus terharu akhirnya bisa kembali berkumpul bersama suami dan keluarganya yang lain, dan dia pun tidak harus mencari-cari alasan lagi saat Reihan mencari keberadaan daddy-nya.


Barrack menjemputnya dengan jet pribadinya dan terlebih dulu mengantarkan istrinya untuk berpamitan dengan orang yang berjasa dalam hidup istrinya, Tuan Henry Stewart ayah Robert.


Tomy mengemudikan mobil mewah keluarga Hansel, membelah jalanan Kota London yang ramai dan padat. Melewati bangunan-bangunan yang menjulang tinggi hingga bangunan classic nan indah.


Sudah pasti Shafa akan sangat merindukan kota suatu saat nanti, dia mengamati semua pemandangan indah itu, mengingat dan mematri dalam otaknya. 3 tahun lebih bukan waktu yang singkat, baginya Kota indah itu sangat berarti dan memiliki banyak kenangan tersendiri baginya.


Dia menghela nafasnya, entah kenapa tiba-tiba dia begitu emosional. Barrack yang berada di kursi belakang bersamanya menggenggam tangannya erat seolah mengerti isi hatinya.


Dalam waktu lebih dari 30 menit, akhirnya mobil Barrack telah sampai di mansion Besar Tuan Henry, ayah Robert.


Mereka masuk ke dalam mansion besar itu dan ternyata Tuan Henry menyambutnya dengan senyuman ramahnya.


"Akhirnya kalian datang, mari silahkan duduk!"


Shafa, Barrack dan Bu Farida menyalami Tuan Henry.


"Selamat datang di kediaman saya Tuan Barrack," sapa Tuan Henry tersenyum.


"Terimakasih sambutan anda Tuan Henry, sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan anda selama ini pada istri saya, saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan anda," ucap Barrack dengan tulus.


"Cukup jaga mereka baik-baik, itu lebih dari cukup bagiku,"


"Saya kesini untuk berpamitan pada anda akan membawa istri dan keluarga saya pulang ke negara asal kami,"


"Saya doakan kalian dilimpahi kebahagiaan dan tidak akan terpisahkan lagi, jaga keluarga anda baik-baik! Jangan pernah menyakiti hati mereka lagi!" nasehat Tuan Henry.


"Itu pasti Tuan Henry, saya tidak akan mengulangi segala kesalahan saya dimasa lampau,"


Tuan Henry pun mengangguk tersenyum, dia tahu Barrack adalah tipe pria yang bertanggungjawab dan konsisten.


Selanjutnya Shafa dan Bu Farida juga berpamitan pada Tuan Robert dan mengucapkan banyak terimakasih karena selama ini Tuan Robert banyak membantu mereka.


Setelah semua selesai bicara, Tuan Henry memandang Reihan dengan senyum cerianya.


"Hei jagoan! Bagaimana kabarmu? Sudah lama kau tak menjenguk grandpa-mu ini, apa kau sudah melupakanku? Sini peluk grandpa!" ucap Tuan Henry pada Reihan dan dia merentang tangannya.


Rey berhambur ke pelukan Tuan Henry dan tersenyum manis padanya.


"I'm sorry grandpa, Rey bukannya melupakan grandpa, tapi Rey sangat sibuk bermain dengan daddy, Rey hanya takut daddy pergi lama lagi," ucap Rey dengan jujur.


Tuan Henry membawa bocah itu di pangkuannya.


Shafa menjadi tegang, ternyata putranya masih memiliki rasa ketakutan tersendiri saat sang ayah tak bersamanya, Reihan memang sering merasakan kecemasan yang berlebihan saat jauh dari ayahnya.


Sedangkan Barrack masih merasa bersalah karena selama ini tidak selalu ada untuk putranya itu, jadi selama tiga bulan ini Barrack harus bolak-balik ke London-Jakarta setiap weekend, hanya untuk menemani putra kesayangannya.


"Tenanglah Rey! Daddy-mu tidak akan meninggalkanmu lagi, kalian bahkan akan tinggal bersama di negara kalian lagi, apa kau senang pulang kesana?" tanya Tuan Henry memandang mata bulat kecoklatan milik Reihan.


"Senang sekali grandpa! Nanti kapan-kapan aku akan kesini lagi mengunjungi grandpa," Reihan mencium singkat pipi Tuan Henry dan membuat laki-laki paruh baya itu tersenyum senang.


"Tuan Henry, maaf jika saya meminta bantuan lagi. Saya titip putra saya Zain, dia juga harta kami yang paling berharga," ucap Bu Farida.


"Anda tidak perlu bicara seperti itu Bu Farida, saya sudah menganggap Zain putra saya sendiri jadi saya akan menjaganya dengan seluruh jiwa raga saya. Saya juga berencana akan membawa Zain tinggal disini bersama saya," ucap Tuan Henry.


"Terimakasih banyak Tuan Henry, saya sangat berhutang budi pada anda,"


Dan mereka pun akhirnya mereka pun pamit pergi kembali ke negara asal mereka kepada Tuan Henry.


***

__ADS_1


Saat telah tiba di Indonesia, Barrack mengajak Istri, anak dan Ibu mertuanya tinggal di mansion barunya, letak mansion itu tak jauh dari mansion keluarganya.


Sebenarnya Myra dan Jason mengajak Shafa dan Bu Farida tinggal bersama di mansionnya, tapi Barrack tahu jika Bu Farida pasti merasa tidak enak jika tinggal bersama sang besan. Karena Bu Farida sebenarnya bersikeras akan kembali ke rumah lama mereka tapi Shafa tak tega jika ibunya harus tinggal sendiri, jadi Barrack berinsiatif membuatkan mansion baru untuk mereka sejak tiga bulan lalu.


Mereka pun tinggal nyaman di mansion baru Barrack, Bu Farida menemani Rey sepanjang hari, tak jarang juga Myra dan Jason mengajak jalan-jalan Rey ke tempat yang dia inginkan, sedangkan Shafa sibuk meniti karirnya di dunia Entertainment dan Barrack sibuk di perusahaannya yang semakin lama semakin besar.


Selama satu tahun ini, Shafa menjadi penyanyi pendatang baru di negaranya, suara merdunya selalu menghipnotis para fans fanatiknya. Dan nama besar suaminya menjadikan semakin dikenal banyak orang.


Beberapa acara talkshow, acara musik dan iklan dia bintangi. Dia sangat puas dengan pencapaiannya saat ini, hingga dia memiliki target akan berhenti dari Dunia Entertainment dalam kurun waktu satu tahun mendatang.


Baginya hidupnya adalah keluarganya, dia tidak ingin melewatkan moment kebersamaannya bersama suami, putra dan keluarganya hanya untuk mengejar popularitasnya.


Siang itu Shafa sedang meeting bersama manager dan timnya untuk membicarakan road show-nya di tiga kota yang ada di pulau Jawa, dia telah meminta ijin suaminya akan pergi selama kurang lebih satu minggu. Dan Barrack membebaskan sang istri untuk mencapai puncak karirnya, asalkan Shafa mengerti kapan dia harus berhenti.


Setelah meeting dan semua persiapan telah selesai, Shafa kembali ke mansionnya pada pukul 8 malam.


"Assalamualaikum Bu," sapa Shafa pada yang Bu Farida yang sedang asik melihat sinetron kesayangannya.


"Wa'alaikumsalam.. Warahmatullahi.. Wabarakatuh.. Sudah makan malam sayang?" tanya Bu Farida yang melihat wajah lelah putrinya.


"Udah Bu, dimana Rey dan suamiku Bu?"


"Barra menemani putranya bermain di dalam kamar,"


"Baiklah aku akan menyusul mereka ke kamar Bu,"


Bu Farida mengangguk dan melanjutkan acara nonton televisinya.


Shafa masuk ke dalam kamar putranya, dia melihat suaminya yang ketiduran sembari memegang buku cerita dan Rey juga telah tertidur pulas. Ada rasa sedih saat dia pulang malam seperti ini, waktunya untuk keluarganya menjadi berkurang.


Shafa mengganti bajunya dengan piyama milknya dan tidur memeluk suaminya dari belakang.


"Uh, nyamannya!"


"Sayang kau sudah pulang?"


Suara berat dan dalam itu semakin membuatnya semakin nyaman.


.


Shafa mengangguk menanggapi pertanyaan sang suami.


Barrack membalikkan badannya dan mendekap tubuh kecil istrinya.


"Aku sangat merindukanmu baby, seharian aku tidak melihat senyummu,"


Barrack menciumi pucuk kepala istrinya penuh dengan kerinduan.


"Aku juga sangat merindukanmu sayang! Apa hari ini Rey berbuat ulah?"


"Dia mencarimu terus sayang, mama dan papa bahkan harus membatalkan acara mereka hanya untuk menemani Rey yang merajuk, karena Ibu tak berhasil membujuknya." ucap Barrack menceritakan kejadian tadi siang sesuai dengan info dari papanya.


"Baru ditinggal sehari aja sudah seperti itu, terus kalau aku keluar kota seminggu bisa-bisa dia ngambek nggak mau makan," ucap Shafa murung.


"Jangan khawatir, aku akan mengosongkan jadwalku dan menemanimu, itung-itung sambil jalan-jalan,"


"Kau serius sayang?" tanya Shafa memastikan.


"Kapan aku pernah bohong padamu sayang," Barrack tersenyum lembut pada istrinya.


"Terimakasih banyak suamiku sayang!"


Shafa memeluk erat tubuh suaminya lalu menc**m b***r suaminya dengan agresif dan semakin dalam, hingga membuat yang ada dibawah sana mendesak ingin keluar.

__ADS_1


"Apa kau sadar telah membangunkan singa yang sedang tertidur sayang?" ucap Barrack saat melepaskan tautan mereka.


Shafa hanya tersenyum jahil lalu berlari ke kamar pribadi mereka.


"Awas kamu sayang! Aku tidak akan melepasmu semalaman!"


Barrack masuk kedalam kamarnya dan menyusul Shafa yang sudah bergulung di bawah selimut.


Dan detik berikutnya mereka pun saling berc**man dan saling menyentuh satu sama lain untuk menjalankan hak dan kewajiban mereka.


Dan benar saja, selama satu minggu Shafa ke luar kota untuk road show di beberapa kota, Barrack dan Reihan dengan mengikuti semua kegiatan Shafa dan sesekali berwisata di tempat tujuannya.


Sedangkan Bu Farida memilih tinggal di mansionnya dan rutin mengikuti pengajian bersama ibu-ibu tetangga di rumah lamanya yang dulu.


**


Di suatu pagi, Shafa terlihat pucat, tubuhnya terasa lemah karena dia muntah dan pusing sejak pagi.


"Kenapa pucat begitu sayang?" tanya Bu Farida pada Shafa yang sedang duduk lemas di meja makan.


"Nggak tau Bu, sejak pagi aku pusing dan muntah-muntah terus, sepertinya aku masuk angin Bu,"


Bu Farida mengernyit heran, "Kapan kamu terakhir haid sayang?"


Seketika Shafa teringat jika dia terakhir mendapatkan haidnya awal bulan di bulan lalu tapi bulan ini sudah masuk minggu ke tiga. Seharusnya setelah menyelesaikan haid alarmnya akan berbunyi untuk mengingatkan jadwal program KB-nya tapi anehnya alarmnya tidak berbunyi sehingga dia terlupa.


"Sebentar Bu aku akan memeriksanya dulu,"


Shafa berjalan cepat ke kamarnya dan segera mengambil test kehamilannya dan pergi ke kamar mandi.


Sedangkan Barrack yang sedang bersiap-siap ke kantornya hanya mengernyit heran melihat sang istri dengan raut wajah khawatir.


"Ada apa sayang? Apa ada masalah?" tanya Barrack saat Shafa melewatinya.


Shafa tidak menjawab malah menutup pintu kamar mandi dengan sedikit terburu-buru.


Dan di menit berikutnya, terdengar suara Shafa yang menggelegar dari dalam kamar mandi.


"BARRACK JOHN HANSEL!!!" teriak Shafa dengan kencang.


Barrack yang panik melempar dasinya begitu saja dan mendesak ke dalam kamar mandi.


"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?" tanya Barrack dengan cemas.


Shafa menunjukkan alat tes kehamilannya di depan suaminya dengan wajah muram.


"Kamu hamil lagi sayang! Alhamdulilah, Terimakasih Ya Allah!" ucap Barrack penuh syukur, "Aku sangat bahagia, aku mencintaimu istriku!" Barrack menggendong Shafa dan mencium istrinya dengan bahagia.


Shafa turun dari gendongan suaminya dan berkacak pinggang didepannya, "Kamu kan menghapus alarm pengingatku agar aku melupakan program KB-ku?" seru Shafa memicingkan mata menatap suaminya yang senyum-senyum tanpa rasa bersalah.


"Dasar menyebalkan! Tuan muda arogan, kurang ajar!" Shafa memukul-mukul ringan dada suaminya dan membuat Barrack malah tertawa kegirangan lalu menggendongku istrinya lagi.


"Apa kau tidak senang memiliki anak lagi dariku sayang?"


"Sudah pasti aku sangat senang! Tapi aku kan belum siap hamil lagi, masih ada beberapa kontrak iklan dan acara yang harus diselesaikan! Kalau hamil begini mana bisa aku fokus bekerja!"


"Aku tidak peduli sayang! Kalau perlu semua kontrak yang sudah kamu tandatangani aku akan batalkan semua dan aku yang akan bayar semua penaltinya!" ucap Barrack tersenyum sombong.


"Nanti malam tidak usah tidur kamar! Tidur sana di kamar Rey!"


Brraakkk!


Shafa meninggalkan suaminya yang masih tersenyum bahagia dan berkali-kali berucap syukur dalam hatinya.

__ADS_1


END


__ADS_2