Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
38.Hamil??


__ADS_3

Sebulan telah berlalu hubungan Shafa dan Barrack sudah membaik dan harmonis kembali. Barrack memutuskan memaafkan istrinya dan melupakan foto yang dikirim dari orang tidak dikenal itu. Awalnya Barrack ingin melacak dan ingin tahu siapa yang mengirimkan foto itu tapi ternyata nomor itu sudah tidak bisa dilacak lagi oleh Mark. Si pengirim sangat pandai menghilangkan jejaknya.


Seperti biasa Barrack sibuk berada di kantornya. Sejak kuliahnya telah selesai dia lebih fokus mengatur perusahaannya, sedangkan Shafa menghabiskan waktunya berada di Cafe menghibur para pengunjung disana setiap harinya. Dia menyibukkan dirinya sembari menunggu sampai hari kelulusannya tiba.


Siang itu Shafa bernyanyi dan bercengkrama bersama para pengunjung di Cafe. Pelanggan Cafe semakin banyak dan semakin banyak pula penggemar Shafa. Tak jarang para pengunjung dari yang muda sampai tua datang hanya untuk ngopi dan mendengarkan Shafa bernyanyi.


Saat Shafa melakukan break dan turun dari panggung, pandang matanya mulai kabur, tubuhnya limbung, pandangannya semakin lama semakin menggelap dan tiba-tiba...


"Brakkkkk... "


Shafa jatuh pingsan. Semua pengunjung dan karyawan cafe itu berteriak histeris. Dan beberapa temannya segera membawa Shafa ke ruangan Kak Anggie. Hesti langsung berlari dan sangat panik melihat sahabatnya pingsan, dia bersama satu karyawan wanita lain dan Kak Anggie membantu agar Shafa lekas siuman.


Setelah beberapa menit berlalu Shafa sudah sadarkan diri, Kak Anggie menanyakan keadaan Shafa dan akan membawa Shafa ke Rumah sakit tapi Shafa menolaknya.


"Aku sangat khawatir kamu pingsan, takutnya ada sesuatu yang serius, ayolah Shafa biar aku antarkan ke rumah sakit," tawar Kak Anggie.


"Tidak usah Kak, aku sudah lebih baik kok, mungkin karena tadi pagi belum sarapan saja makanya sampai aku pingsan begini,"


"Apa belum sarapan?! Ini sudah pukul 01.00 siang Shafa, bagaimana bisa kamu belum sarapan?!" omel Kak Anggie.


"Hehehe.. " Shafa hanya nyengir kuda.


"Dasar bandel! Fia tolong ambilkan Shafa makanan di pantry ya, kalau bisa yang berkuah,"


"Tumben kamu tidak sarapan Shafa?" Hesti bertanya.


"Sebenarnya aku sarapan, cuma aku tidak tahu kenapa dua hari ini aku merasa mual-mual dan setengah jam setelah aku makan, aku memuntahkan semua makananku," ucap Shafa dengan ekspresi sedihnya.


Dan kedua wanita di depannya malah saling pandang dan tersenyum cerah seperti mentari.


"Shafa kapan terakhir kamu datang bulan?" Hesti bertanya.


"Sebentar aku ingat-ingat.. Hhmmm.. Sepertinya bulan kemarin tanggal 5,"


"Sekarang tanggal berapa?" Tanya Hesti lagi.


"Sepertinya sudah tanggal 20, memangnya kenapa?" tanya Shafa dengan polosnya.


"Memangnya bulan ini kamu sudah mendapatkan datang bulanmu?" Kak Anggie ganti bertanya.


"Belum kak, Ehh iya.. Kenapa aku belum datang bulan ya? Biasanya datangnya malah maju, ini kok malah belum dapat," Shafa masih belum sadar juga.

__ADS_1


"Ya ampuuunnn.. Dia itu polos apa b*doh sih.. Ya Tuhan Shafa!" Hesti mulai hilang kesabaran dan Kak Anggie hanya tersenyum lucu.


"Sayang, Apa kamu sudah coba test kehamilan?" tanya Kak Anggie yang masih tersenyum.


"Test kehamilan? Buat apa Kak? Siapa yang hamil?" Shafa belum mengerti juga.


"Yang hamil itu kucing tetanggaku Shafa, dia itu sudah ada tanda-tanda kehamilan tapi dia belum sadar juga makanya mau aku suruh test kehamilan! Kalau benar hamil, nanti lakinya itu kucing aku cari, aku suruh tanggung jawab!" Hesti sudah kesal dengan keb*dohan temannya entah atau memang Shafa yang kelewat polos. Shafa malah tersenyum dan menjulurkan lidahnya melihat Hesti yang sudah emosi.


"Jadi kalian mengira aku ini hamil?" tanya Shafa dengan rasa penasaran juga.


"Lalu kamu kira?" Hesti malas meladeni pertanyaan Shafa.


"Belilah testpack di apotik sepulang dari cafe nanti sayang, orang hamil itu sangat rentan, tidak boleh terlalu capek atau stres, mengetahui lebih awal itu lebih baik adikku," ucap Anggie penuh kelembutan.


"Baiklah Kak, nanti aku coba beli testpack di apotik, terimakasih sudah perhatian Kakak," ucap Shafa memeluk sayang pada kakak angkatnya itu.


"Lalu aku tidak dipeluk?" ucap Hesti tak mau kalah. Lalu Shafa pun tersenyum dan memeluk Hesti dan Hesti menyuapi Shafa makanan yang telah diantarkan oleh Fia temannya.


Shafa telah sampai di Mansion Keluarga Hansel, tadi dia menyempatkan mampir ke apotik membeli testpack.


Keesokan paginya Shafa mencoba memakai testpack yang dia beli dari apotik. Pada percobaan pertama ternyata menunjukkan garis dua, dia menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Bahagia dan terharu jadi satu, kemudian dia mencobanya sampai tiga kali dan hasilnya tetap sama, garis dua juga. Dia terus berucap syukur kepada Allah atas anugrah yang Allah berikan.


Anugrah yang telah lama dia dan suaminya nantikan telah dia dapatkan saat ini. Dia ingin sekali memberi tahu suaminya. Tapi dia akan pergi ke dokter kandungan terlebih dahulu untuk memastikan kehamilannya. Dia berencana menyiapkan sebuah kejutan untuk suaminya agar di kehamilan pertamanya ini menjadi berkesan dan tidak akan pernah terlupakan, Jika nanti buah hatinya sudah terlahir mereka bisa terus mengenang moment-moment indah itu.


"Sayang.. Apa kamu bahagia hadir diantara mommy dan daddy? Semoga sehat selalu diperut mommy ya sayang, mommy sangat mencintaimu." Shafa bergumam sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Seperti biasa dia akan memasak dan menyiapkan keperluan suaminya sebelum berangkat kerja, dia melayani suaminya dengan terus memasang senyumannya sampai suaminya sedikit heran dengan tingkahnya.


"Ada apa baby? Apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia? Apa kamu sedang memenangkan give away baby?" Barrack menggoda istrinya.


"Tidak ada sayang, hanya sedang merasa bahagia saja, sepertinya nanti aku mau jalan-jalan ke mall dan ke salon bentar, boleh ya sayang?" ucap Shafa yang terpaksa berbohong padahal dia akan pergi ke dokter.


"Apapun yang kamu mau baby lakukan saja, yang terpenting tidak lupa waktu dan tidak melupakan suamimu yang tampan ini,"


Setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka bersama, Barrack mencium singkat istrinya dan pamit berangkat kerja. Jenny berangkat kuliah dan Myra pergi ke butiknya yang baru, sementara Jason masih sibuk pulang pergi untuk urusan bisnisnya di luar negeri.


***


Di Mansion keluarga Jenny, Terlihat Jenny berkali-kali keluar masuk kamar mandi dan muntah-muntah setelah makan bersama keluarganya. Papa Jenny bernama Adrian putra Angkasa dan mama Jenny bernama Rossa meldiana, Mereka mengerutkan keningnya, mereka merasa heran melihat Jenny seperti itu, dia sudah jarang pulang dan sekalinya pulang malah sakit.


"Ada apa sayang?" Rossa mendekatinya dan bertanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa mama, mungkin hanya masuk angin," ucap Jenny dengan wajah pucatnya.


"Baiklah sayang, ayo kita ke kamarmu, biar mama panggilkan dokter pribadi kita," Rossa menuntun putrinya untuk ke kamar.


Sesaat kemudian dokter pribadi mereka datang dan memeriksa keadaan Jenny. Dokter itu membetulkan kacamatanya dan mengecek keadaan Jenny kembali.


"Selamat nona Jennifer, anda akan menjadi ibu muda, morning sickness memang sangat menganggu dan itu sangat wajar terjadi pada trimester pertama, jadi anda tidak usah khawatir, untuk lebih jelasnya anda bisa datang ke Rumah sakit dan menemui dokter Obgyn," ucap Dokter Vera dengan senyuman terbaiknya. Dan Jenny hanya tersenyum getir mendengar ucapan dokter cantik itu.


Berbeda dengan kedua orang tua Jenny, mereka melotot tidak percaya mendengar ucapan dokter itu, anak gadisnya itu jarang di rumah karena alasan pekerjaan dan saat pulang tiba-tiba memberikan mereka kabar mengejutkan. Mereka menahan amarah dan penasaran mereka sampai dokter Vera meninggal rumah mereka.


"Jenny! Katakan siapa ayah dari bayimu itu?! Aku sudah memberikanmu ijin menjadi model tapi bukan berarti kamu bisa melakukan s*x bebas diluar sana! Kamu sungguh mempermalukanku!! Dasar anak kurang aj..!" teriak Adrian penuh amarah dan melayangkan tamparan pada putrinya tapi Rossa menghalangi tangan suaminya.


"Sudah pah.. Jangan emosi! Ingatlah putri kita sedang hamil! Jangan membuatnya malah setres, Nanti akan berdampak pada bayinya," ucap Rossa yang memeluk putrinya yang sedang menangis dipelukannya.


"Kamu selalu saja memanjakan putrimu itu! Lihat sekarang karena ulahnya itu Dia membuat malu keluarga! Katakan siapa ayah bayi itu biar aku memb*nuhnya! Berani-beraninya dia merusak anak gadisku! B******k!"


"Tolong papa jangan b*nuh ayah bayi ini, aku sangat mencintainya papa! Maafkan aku papa, maafkan kesalahan kami!" ucap Jenny yang menangis tersedu-sedu sambil bersujud memeluk kaki papanya.


Rossa menghampiri Jenny dan memeluknya, "Katakan pada mama sayang siapa laki-laki yang menghamilimu?"


"Barrack John Hansel mah!" ucap Jenny dengan gemetaran. Dan membuat kedua orang tuanya melotot tak percaya lagi.


"Bagaimana mungkin laki-laki terpandang seperti Barrack tega berbuat hal keji seperti itu? Apa kau bercanda Jenny?! Jangan membuat masalah dengan keluarga mereka! Bisa-bisa kita yang akan hancur," Adrian memperingatkan.


"Papa.. Aku tidak bercanda, ini semua benar dan kami melakukannya karena kami memang saling mencintai pa, papa tahu hubunganku dengan Barrack sudah terjalin lama, wajar kalau kami tidak bisa menahan n*sfu kami," ucap Jenny mengarang cerita.


"Lalu kalau kalian saling mencintai kenapa kalian tidak menikah saja dari dulu? Malah membuat malu keluarga saja! Apalagi keluarga Hansel adalah keluarga paling ditakuti dan disegani di kalangan para pebisnis," ujar Adrian.


"Barrack sudah menikah pa.. " ucap Jenny kemudian berpura-pura menangis lagi.


"Apa?!" teriak Adrian dan Rossa bersamaan.


"Kalau dia sudah menikah kenapa kalian masih berhubungan sayang? Apa kalian berhubungan dibelakang istri Barrack?," tanya Rossa.


"Iya mama, Barrack terpaksa menikah karena dijodohkan papanya padahal kami masih saling mencintai,"


"Apa Barrack tahu kamu sedang mengandung putranya?" tanya Adrian.


"Belum pa.. "


"Hubungi dia dan suruh dia kesini!" ucap Adrian dan berlalu meninggalkan istri dan putrinya.

__ADS_1


__ADS_2