Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
22. Aku Mencintaimu


__ADS_3

Shafa memutar malas bola matanya, dia jengkel dengan Barrack yang lebih suka tidur daripada harus quality time bersama keluarganya.


"Iiisshh.. Kamu kan harusnya senang bisa liburan bersama, apalagi ini ke Korea pasti sangat menyenangkan," kata Shafa antusias.


"Apa kamu senang?"


Shafa menggangguk kegirangan.


"Baiklah aku akan ikut demi kamu, walaupun sebenarnya aku sudah bosan ke luar negeri,"


Shafa memanyunkan bibirnya, dia merasa Barrack hanya terpaksa ikut, dia sudah membayangkan Barrack akan terus mengeluh saat Shafa memintanya menemani jalan-jalan.


"Iya.. Iya istriku yang cantik! Aku akan dengan senang hati ikut dan mengajakmu berkeliling ke semua tempat indah disana," kata Barrack seolah mengerti jalan pikiran istrinya.


"Kamu serius Barra?"


Barrack menggangguk tersenyum dan Shafa berhambur memeluknya.


"Baiklah kamu hanya perlu berbaring di ranjang dan mengatakan apa saja yang kamu bawa, lalu aku yang akan menyiapkan semuanya, oke!" kata Shafa.


"Tidak apa-apa aku akan menyiapkan keperluanku sendiri sayang," kata Barrack.


" Sudah berbaring saja di ranjang, biar aku yang bergerak, lagipula beberapa hari ini kerjaanku hanya tiduran, aku ingin sedikit beraktivitas agar berkeringat," ucap Shafa lalu mendorong Barrack sampai terduduk di ranjangnya.


Sontak Barrack menarik tangan Shafa dan lagi-lagi Shafa jatuh dipangkuan suaminya.


"Ayo kita berkeringat bersama pasti akan lebih menyenangkan!"


" Haaaahh?"


Shafa kaget dengan ucapan Barrack, Seketika otaknya traveling kemana-mana, dia gugup dan tiba-tiba keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Jangan macam-macam Barra! Dasar mesum!"


Shafa beranjak pergi dari pangkuan Barrack dan mulai menyiapkan keperluan mereka.


Dia takut membayangkan malam pertamanya, dia belum siap untuk melakukannya. Sedangkan Barrack hanya tertawa kencang melihat tingkah istrinya yang polos itu.


"Apa yang kamu tertawakan? Dasar tuan muda mesum!" cibir Shafa.


"Kamu bilang mau menjadi istri yang baik, tapi kewajibanmu saja belum kamu lakukan, apa kamu tidak takut dosa istriku?" Barrack masih terus menggodanya.


"Aiihhh.. Jangan bicara seperti itu Barra! Aku mohon beri aku waktu, aku belum siap," ucap Shafa memelas.


Barrack tersenyum senang melihat ekspresi istrinya, semua wanita disekelilingnya berusaha mendekati dan ingin tidur dengannya, tapi berbeda dengannya istrinya itu. Dia terlihat malu-malu dan menggemaskan.


"Baiklah aku tidak akan memaksa, lagipula kita sudah sepakat akan membiarkan hubungan ini berjalan apa adanya," ucap Barrack.


Kemudian Barrack turun dari ranjangnya untuk membantu Shafa menyiapkan keperluannya agar cepat selesai.


***


Pagi hari pun menjelang mereka sudah berada di bandara dan bersiap pergi ke Korea. Bu Farida juga ikut dengan mereka berlibur tapi Zain tidak ikut.


Setelah kurang lebih 7 jam berada di Pesawat akhirnya mereka sampai di Bandara Incheon, Seoul. Shafa begitu takjub saat menapaki kakinya di negeri gingseng itu. Baru berada di bandara saja dia sangat gembira dan merasa semua hanya mimpi, dulu pergi ke Korea baginya hanyalah angan, tapi sekarang semua menjadi kenyataan.


Dia tidak bisa berkedip melihat orang-orang Korea itu berlalu lalang. Senyum lebarnya terus terpasang di bibirnya dan kepalanya menoleh kesana kemari. Barrack yang melihat istrinya itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana sayang? Apa kau senang? Sampai-sampai aku diabaikan dari tadi," goda Barrack.


Shafa hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan semua orang disitu tersenyum melihat tingkah Shafa.


Kemudian mereka mencari hotel berbintang Lima untuk beristirahat. Selama di perjalanan menuju hotel, Shafa terus bergumam dalam hatinya, memuji keindahan negara gingseng itu.


Sesampai di Hotel mereka memesan 3 kamar, Barrack dengan Shafa, Jason dengan Myra, dan Jessica memilih dengan Bu Farida.


Jessie anak yang manja dia tidak mau tidur sendirian, walaupun bersama Bu Farida dia terlihat akrab dan manja seperti sama mamanya sendiri tapi sikapnya membuat Bu Farida malah menyukainya.


Mereka beristirahat di kamar mereka masing-masing sebelum melanjutkan aktivitas mereka.


Di kamar Barrack, Shafa terlihat melihat gedung-gedung tinggi dan Jalanan kota Seoul dari jendela kamarnya.


"Beristirahatlah Shafa! Nanti kita akan jalan-jalan ketempat-tempat indah lainnya, kumpulkan tenagamu dulu sekarang," kata Barrack.


"MasyaAllah.. Indah sekali kota ini! Ini semua seperti mimpi, apa benar ini kenyataan? Aku masih belum percaya Barra, aku tidak menyangka bisa kesini," ucap Shafa yang masih takjub.


Dia terlihat meneteskan air matanya karena bahagia. Kemudian Barrack mendekatinya dan menggigit pipinya.


"Auwwwhhh.. Sakit Barra!" teriak Shafa yang mengelus-elus pipinya sembari mengerucutkan bibirnya.


"Bukan mimpi kan?"


"Iya.. Benar-benar bukan mimpi, Terimakasih suamiku," ucap Shafa kemudian mengecup singkat pipi suaminya.


Barrack memeluk Shafa dari belakang dan menaruh dagunya di bahu istrinya.


"Ini baru permulaan sayang, nanti aku akan mengajakmu berkeliling dunia, ketempat-tempat yang indah yang belum kamu kunjungi,"


"Ayo kita istirahat dulu," ajak Barrack kemudian menggendong istrinya ala bridal style, dan Shafa hanya tersenyum malu-malu. Mereka pun tidur berpelukan dengan hati yang bahagia.


Setelah 3 jam berlalu akhirnya mereka bersiap-siap menunju ke beberapa destinasi wisata di Seoul ditemani dua pemandu wisata dan beberapa bodyguard bayangan, mereka menaiki mobil dan menuju ke perumahan tradisional Korea "Bukchon Hanok Village" disana mereka memakai pakaian tradisional Korea dan berfoto bersama.


Shafa terlihat sangat cantik dan menarik memakai pakaian tradisional korea dan Barrack pun tak kalah tampan, pakaian itu sangat kontras dengan wajahnya yang blasteran tapi malah membuatnya lebih menarik.


pict : by google



Setelah puas berfoto dan bercanda bersama, mereka menuju ke Namsan Tower. Lagi-lagi Shafa dan Bu Farida terlihat takjub dan tak mengedipkan mata melihat pemandangan indah itu.


Dia melihat banyak gembok berwarna-warni tergantung dengan nama-nama dipermukaan gembok itu. Tak disangka Barrack sudah membeli satu gembok dan menyematkan namanya dan nama istrinya disana.


"Liat.. Aku bawa apa?"


Barrack menunjukan sesuatu digenggamannya dan membukanya di depan Shafa.


Seketika Shafa mengaga tak percaya, dia melihat gembok itu sudah bertuliskan namanya dan nama suaminya. Dia tidak menyangka laki-laki dingin dan arogan yang selama ini dikenalnya begitu manis sekarang.


"Barra.. Uuhhh so sweet sekali kamu! Terimakasih banyak suamiku," Shafa memeluk suaminya.


Kemudian mereka menggantungkan gembok mereka disana. Shafa dan Barrack berharap hubungan mereka akan semakin erat dan tak pernah terpisahkan.


pict: by google


__ADS_1


Jason dan Myra juga melakukan hal yang sama dengan putra dan menantunya. Bu Farida dan Jessi terlihat bahagia dan terharu melihat dua pasangan didepannya.


"Ibu.. Aku sudah membelikan ibu gembok juga, ayo tulis nama ibu disini!" ucap Jessie kepada Bu Farida.


"Ahhh tidak sayang, ibu kan tidak punya pasangan, ibu malu melakukan itu," ucap Bu Farida.


"Tidak apa-apa ibu, biar kelak kalau ibu kesini lagi ibu mengingat perjalanan kita dan gembok ini. Ayo tulis nama Almarhum ayah dan nama ibu, biar ayah disana tau kalau ibu sangat merindukannya," bujuk Jessie.


Bu Farida kemudian tersenyum menggangguk, dia tidak menyangka Jessie yang tidak pernah bertemu atau mengenal suaminya bisa sangat peduli dengannya. Dia gadis manja dan sangat perhatian.


"Terimakasih sayang," ucap Bu Farida memeluk dan mengecup singkat kepala Jessie.


***


Saat malam menjelang mereka menuju ke Myeongdong Night Market, Pusat berbelanja fashion dan kosmetik di Seoul. Mereka juga berwisata kuliner disana.


pict :by google



Shafa, Jessie dan Myra terlihat ingin membeli semua makanan disana, keempat wanita itu sangat antusias mencicipi berbagai kuliner disana, sesekali mereka saling menyuapi.


Shafa menyuapi ibu dan suaminya, Jessie tak mau kalah, dia menyuapi papa dan mamanya. Dan Jessie juga menyuapi Bu Farida sampai Bu Farida kekenyangan. Kemudian mereka melanjutkan belanja mereka sampai tengah malam.


Mereka tiba di hotel tengah malam dengan perut kenyang, lelah dan bahagia. Barrack memeluk Shafa dari belakang dan menciumi semua belakang tubuhnya.


Terlihat Shafa kegelian dan menyuruh Barrack menghentikan aktivitas nya.


"Sudah Barra, Hentikan! Geli sekali rasanya," Shafa memohon.


"Apa kamu bahagia sayang?"


"Sangat bahagia suamiku,"


"Apa kita bisa melakukannya sekarang?" tanya Barrack tersenyum.


Seketika Shafa menjadi tegang dan menoleh memandang mata suaminya.


"Aaah itu.. A.. aku.. "


Shafa benar-benar gugup mendengar permintaan suaminya.


"Sudah jangan dipikirkan! Aku hanya bercanda, lagipula hari ini sangat melelahkan aku juga ingin cepat tidur," ucap Barrack dan mencubit gemas hidung Shafa.


"Barra, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Shafa.


"Hmmm.. Katakan sayang!"


"Apakah kamu mencintaiku?"


"Iya, aku sangat mencintaimu, lebih dari yang kamu kira,"


"Hah? Benarkah? Sejak kapan kamu mencintaiku sebanyak itu? Bukankah kamu sangat mencintai kekasihmu Jenny?" Shafa bertanya tanpa jeda.


"Aku mau bilang sama kamu kalau hubunganku dengan Jenny sudah berakhir, aku baru menyadari hubungan kami semakin renggang, kami jarang berkomunikasi lagi, jarang bertemu dan Jenny tak pernah Ada saat aku membutuhkannya. Dia Terlalu sibuk dengan dunianya dan aku orang yang tak bisa diabaikan terus-menerus."


Shafa hanya manggut-manggut mendengar ucapan Barrack.

__ADS_1


__ADS_2