Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
62.Bersatu Kembali


__ADS_3

"Iya serius! Tanya aja sama mama!" Jessie menunjuk mamanya yang saat ini bersama papanya menemani Rey di taman bermain, dengan dagunya.


"Memangnya siapa yang mau menikahi putri manja dan kekanak-kanakannya seperti kamu!" cibir Barrack.


"Kak Shafa!" Jessie merajuk.


"Sayang, jangan menggoda adikmu!" Shafa memicingkan mata.


"Iya! Lalu sekarang katakan siapa calon suamimu?"


"Sudahlah kak, aku malu! Nanti kakak akan tahu sendiri." ucap Jessie tersipu malu.


"Ck! Dasar bocah!"


"Enak aja ngatain bocah! Aku tuh udah lulus kuliah Kak! Sebentar lagi aku juga akan bekerja di perusahaan papa," ucap Jessica dengan bangga.


Sesaat kemudian, Abah Ali menghampiri Shafa dan Barrack, meminta keduanya untuk berbicara serius.


Setelah keduanya duduk didepan Abah, dia menyarankan akan menikahkan Barrack dan Shafa lagi secara agama kembali agar tidak ada keraguan dihati mereka saat mereka ingin saling menyentuh satu sama lain.


Walau bagaimanapun, keduanya telah berpisah selama 3 tahun lebih tanpa nafkah lahir maupun batin, padahal didalam buku nikah mereka telah tertulis jika hak dan kewajiban tidak terpenuhi selama 3 bulan berturut-turut, maka otomatis akan jatuh talak satu, tapi jika istri ridho tidak akan ada masalah, pernikahan masih bisa dilanjut.


Tapi kali ini ada pemicu lain juga, karena Barrack sendiri pernah berucap akan menceraikan Shafa didepan Jenny kekasihnya dulu, jadi untuk membuat pernikahan mereka lebih sempurna, Abah menyarankan untuk mengikrarkan janji suci mereka lagi sebagai bekal untuk mengarungi kehidupan baru mereka. Dan keluarga pun menyetujui saran Abah.


Beberapa persiapan dilakukan dengan singkat, akhirnya saat menjelang malam hari setelah melaksanakan ibadah bersama, Barrack dan Shafa telah duduk di depan Abah untuk melakukan ijab qobul kembali, Shafa memakai gamis dan hijab cantik pemberian mama mertuanya. Terlihat cantik dan teduh saat dipandang dan Barrack sampai tak ingin mengalihkan pandangannya pada sang istri.


Setelah prosesi ijab qobul telah terlaksana dengan disaksikan keluarga dan beberapa saksi serta Zain sebagai wali pengganti ayahnya melalui sambungan telepon, akhirnya mereka berpamitan pada Abah untuk kembali ke ibukota malam itu juga.


"Terimakasih atas bimbingan anda pada putra-putri kami Bah, kami berharap kedepannya tidak akan ada perpisahan lagi," ucap Jason pada Abah Ali.


"Amin Ya Robbala'laminn.. Sama-sama Pak Jason, bantuan saya tidak berarti dibandingkan dengan kebaikan anda dan Nak Barrack untuk pesantren ini. Saya doakan semoga Nak Barrack dan Nak Shafa bahagia dunia akhirat, sakinah, mawadah dan warahmah.”


"Amin Ya Robbala'laminn.." ucap semua orang bersamaan.


***


Setelah dua jam lebih berada di jalan, akhirnya mereka telah sampai di mansion keluarga Barrack.


Saat memasuki gerbang besar mansion keluarga Barrack, Rey begitu antusias melihat mansion besar yang ada dihadapannya itu.


"Apa ini yumah Daddy Bala?" tanya Rey yang saat ini berada dipangkuan Barrack.


"Iya sayang, rumah semuanya, apa Rey senang pulang kerumah Rey sendiri?"


"Cenang dad, Ley cenang kalau daddy dan mommy tinggal belcama Ley,"

__ADS_1


"Daddy janji tidak akan meninggalkan Rey dan mommy lagi ya sayang! Daddy sayang kalian berdua," ucap Barrack yang mencium pucuk kepala Rey kemudian Shafa, sang istri.


Myra menunjukkan kamar khusus yang dia dan suaminya desain untuk Rey sejak mereka bertemu Rey satu bulan lalu tanpa sepengetahuan Barrack.


"Apa Rey suka kamar ini sayang?" tanya Myra pada Rey yang saat ini digendong oleh Jason.


Lagi-lagi Rey berbinar bahagia melihat kamar luas bercat biru muda yang sudah tersedia berbagai macam mainan baru dan mewah di kamar itu.


"Cuka nenek! kamalnya bajus, banyak mainannya uga, telimaacih nenek!" Rey mencium pipi neneknya.


"Lha terimakasih buat kakek mana? Mainan itu kan yang beliin kakek,"


"Telimaacih kakek!" Rey mencium Jason lalu berlari dengan tak sabar ingin segera membuka mainan-mainan baru yang ada dikamar itu.


Semua tersenyum gemas melihat tingkah Rey yang lucu.


"Sejak kapan mama dan papa merenovasi kamar ini?" tanya Barrack penasaran.


"Sejak satu bulan lalu, setelah papamu menemui Rey. Kami begitu antusias mendesain kamar ini, agar Rey menyukai kamar barunya." ucap Myra berbinar bahagia.


"Apa! Papa sudah bertemu Rey satu bulan lalu? Kenapa mama papa tidak bilang? Susah payah aku mencari mereka, jika bukan berkat Gery yang menunjukkan padaku video klip Shafa, mungkin saat ini aku belum bertemu istriku. Papa mama senang sekali melihat putranya kesusahan," keluh Barrack.


"Kata siapa kami senang melihatmu kesusahan? Apa kamu tahu, kalau bukan berkat kami, kamu tidak akan bisa bertemu istrimu di acara ulangtahun perusahaan teman papa," ucap Jason tersenyum penuh arti.


Pada kenyataannya Jason sendirilah yang mengundang Shafa di acara ulangtahun perusahaan temannya. Jason berdalih itu sebagai kado untuk memeriahkan acara temannya, jika saat itu perusahaan Jason sendiri yang mengundang Shafa, belum tentu Shafa akan bersedia memenuhi undangan dari perusahaan Jason, sebesar apapun bayaran yang akan dia terima.


”Ya sudah kalian istirahat sana! Biar kami tidur di kamar Rey, menemani Rey tidur malam ini," ucap Myra pada Shafa dan Barrack.


"Bu Farida pasti anda capek, pelayan sudah menyiapkan kamar untuk anda, Bu Farida bisa beristirahat sekarang," ucap Myra pada besannya.


"Baik Bu Myra, Pak Jason saya pamit beristirahat dulu." ucap Bu Farida.


***


Setelah semua memasuki kamar mereka masing-masing, Barrack segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Shafa melihat-lihat kamar lamanya bersama Barrack dulu. Semua masih sama, tidak ada perubahan, dia merindukan kamar kesayangannya bersama sang suami.


Baju-bajunya yang dulu juga masih tersimpan di walk in closet yang ada di kamar mereka, masih rapi dan wangi.


Saat Barrack masuk kedalam walk in closet, dia melihat Shafa yang memperhatikan barang-barang lama miliknya tanpa menyadari keberadaannya.


"Apa kau merindukan semua milikmu baby?" goda Barrack yang tiba-tiba memeluk Shafa dari belakang.


Dan seketika membuat Shafa tegang luar biasa, jantungnya pun berdegup kencang. Bagaimana tidak tegang sudah lama dia tidak disentuh oleh laki-laki, kini Barrack malah memeluknya dengan hanya berbalut handuk putih dipinggangnya.


Barrack mulai menc**mi leher istrinya, lalu membalikan tubuh istrinya agar berhadapan dengannya. Dia menc**m dahi istrinya kemudian turun ke hidung dan berhenti pada bibir tipis yang selalu dia rindukan dan menjadi candunya. Mengesapnya dan menikmati dengan lembut dan dalam untuk meluapkan segala kerinduan mereka yang sudah bertumpuk selama bertahun-tahun.

__ADS_1


Barrack sempat pesimis tidak akan bisa bertemu dengan istrinya, tapi ternyata takdir berpihak padanya. Karena kebaikannya yang begitu tulus pada semua orang, Shafa dengan mudah kembali lagi padanya tanpa banyak penolakan lagi, dan dia sangat bersyukur.


Setelah berbalas c**man dan saling menyentuh selama beberapa menit, kini keduanya sudah berada di atas ranjang favorit mereka, Barrack membantu istrinya untuk melepaskan semua penutup yang ada ditubuhnya, dan kembali menc**mi seluruhnya tanpa ada yang terlewati.


Sesuatu keras dan panas telah masuk ke dalam surga dunia miliknya, sungguh sempit seperti diawal dan keduanya pun begitu menikmatinya, dengan dibanjiri peluh dan de***an memenuhi seluruh ruang kamar mereka, hingga keduanya mencapai puncak kenik***matan berkali-kali.


Setelah beberapa saat berlalu akhirnya keduanya terlelap dalam satu selimut bersama, Shafa membenamkan wajahnya di dada suaminya, aroma tubuh yang begitu khas, aroma yang selalu dia sukai.


Hingga pagi pun tiba, pasangan itu pun melakukan penyatuan mereka kembali sebelum melaksanakan ibadah bersama. Perasaan cinta keduanya semakin besar dan kuat, rasanya seperti tidak ingin berpisah lagi barang sedetikpun.


"Baby, apa hari ini kamu jadi balik ke London?" tanya Barrack yang masih bermalas-malasan diatas tempat tidur.


Sedangkan Shafa sudah berada didepan kaca riasnya untuk mengoles bedak dan lipstik tipis di wajahnya.


"Aku ambil cuti 2 hari sayang, jadi lusa aku baru kembali."


"Tidak bisakah kamu tinggal selamanya disini baby? Atau aku saja yang bilang ke Robert kalau kamu resign dari perusahaannya,"


"Tidak bisa seperti itu sayang! Aku terikat kontrak selama 2 tahun di Perusahaan Kak Robert, dan ini sudah berjalan 2 tahun kurang 3 bulan. Jadi kita harus sabar dulu 3 bulan, baru aku benar-benar bisa kembali kesini lagi,"


"Terlalu lama baby, apa aku bayar saja penalti kontraknya, biar secepatnya kita bisa bersama lagi."


"Sayang, ini bukan pekara soal kontrak maupun uang. Tapi Kak Robert dan papanya sudah banyak membantuku jadi tidak mungkin tiba-tiba aku tak menganggap keberadaan mereka setelah hubungan kita membaik lagi. Rasa-rasanya aku seperti orang yang tidak tahu diri, tolong mengertilah suamiku!" Shafa duduk disebelah Barrack dan mengusap lembut pipi suaminya.


"Baiklah sayang, aku akan sabar menunggu kepulanganmu lagi. I love you!"


"Cup.."


Barrack menc**m bibir istrinya sekilas dan mengajak Shafa turun untuk sarapan.


Dan pagi itu mereka pun berkumpul bersama di mansion keluarga Hansel, menghabiskan waktu untuk sekedar bercerita dan menemani Rey seharian sebelum melepas kepergian Rey bersama Shafa dan Bu Farida kembali ke London lagi.


"Sayang, saat hari pernikahan adikmu nanti, Barrack yang akan menjemput kalian kesini," ucap Myra pada Shafa dan Shafa pun membalas dengan anggukan.


"Ah iya aku sampai lupa ingin menanyakan sama mama. Memangnya siapa yang mau menikahi putri mama yang manja itu?" tanya Barrack dengan penasaran.


"Jessie mau menikah dengan James," sahut Jason.


"Hah?! James? James sahabatku?" Barrack terkejut luar biasa sama halnya dengan Shafa yang juga terkejut.


"Iya! James yang mana lagi!" sahut Myra.


"Eh tunggu konspirasi apa lagi ini? Apa aku banyak melewatkan banyak hal selama ini? Jessie jelaskan sama kakak, aku sangat tahu James itu seperti apa!"


Barrack sangat tahu jika James sudah memiliki kekasih bernama Renata, dan James sangat mencintai kekasihnya. lalu bagaimana bisa kini adik kesayangannya malah akan menikah dengan James, sahabat baiknya. perasaan Barrack menjadi tidak enak, apa pernikahan ini sebuah paksaan atau keinginan keduanya, pikir Barrack penasaran.

__ADS_1


__ADS_2