Suami Aroganku Cinta Pertamaku

Suami Aroganku Cinta Pertamaku
42.Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

"Ibu hari ini aku mau menginap disini," ucap Shafa pada ibunya.


"Apa kamu sudah meminta ijin pada suamimu nak?" tanya Bu Farida.


"Belum bu," jawab Shafa ragu-ragu.


"Mintalah ijin dulu pada suamimu! Apa kalian ada masalah sayang?" Bu Farida sedikit curiga.


"Aahh tidak bu, nanti aku telpon Barrack dan minta ijin padanya,"


"Baiklah sayang, beristirahatlah! Ibu akan memasakkan makanan kesukaanmu,"


Lalu Shafa pun mengangguk dan Bu Farida pergi ke dapur.


"Drrrtttt.. Drrrtttt.. Drttttt.. "


Ponsel Shafa berdering, Shafa enggan menerima telpon itu. Dengan malas dia terpaksa mengangkat panggilan dari ponselnya.


"Wa'alaikumsalam.. Iya ada apa Barra?"


"Baby, kenapa kamu belum pulang ini sudah pukul 04.00 sore? Daritadi siang aku menunggumu dirumah karena aku tidak kembali ke kantor, aku sangat merindukanmu baby," ucap Barrack penuh kelembutan.


Dulu saat Barrack mengucapkan perasaan rindunya Shafa sangat bahagia dan merasakan hal yang sama, tapi sekarang semua sudah berbeda. Shafa terlalu malas berdebat dan bertemu suami yang membuatnya sangat kecewa itu.


"Maaf Barra.. Aku tidak mengabarimu, aku sedang berada dirumah ibuku, ijinkan aku menginap disini ya Barra?"


Shafa sudah tidak lagi memanggil suaminya dengan kata sayang lagi. Hanya rasa marah saja dihatinya saat berhadapan dengan suaminya tapi dia mencoba menekan gejolak kemarahan dihatinya. Semua sudah terjadi, lalu apa yang bisa diharapkan lagi? Mau terus marah pikirnya juga percuma. Dia mencoba berdamai dengan keadaan.


"Aku mohon untuk saat ini jangan menghindariku terus baby, aku membutuhkanmu, aku akan menjemputmu kerumah ibu ya?"


Barrack bersiap pergi menjemput istrinya. Shafa ingin sekali membantah tapi pasti akan percuma. Siapa yang bisa menentang kemauan suaminya itu. Barrack pasti memaksa datang kalau dirinya bersikeras untuk menginap.


"Tidak usah jemput Barra, sebentar lagi aku akan pulang," nada ucapan Shafa terdengar dingin.


"Baiklah sayang, aku menunggumu dirumah," ucap Barrack dengan bahagia.


Dia lega, wanita yang sudah dinantinya beberapa jam lalu akan datang juga.


Shafa menghampiri ibunya yang tengah menyiapkan makanan untuknya.


"Ibu, aku akan makan sebentar lalu aku akan pulang," ucap Shafa sambil memeluk ibunya dan bersandar dipunggung ibunya.


"Berarti tidak jadi menginap Sayang? Apa suamimu tidak mengijinkan?" tanya Bu Farida.


"Hhmmm.. Tidak jadi Bu, lain kali saja ya ibu,"

__ADS_1


"Iya sayang, tidak masalah.. Makanlah dulu lalu pulanglah pada suamimu,"


Shafa mengangguk dan makan ditemani ibunya.


***


Shafa telah sampai di Mansion dan naik ke kamarnya. Barrack yang berada di Balkon seketika menoleh saat pintu kamarnya dibuka dari luar. Ada rasa bahagia yang luar biasa saat melihat wajah wanita yang dirindukannya. Baru beberapa jam tidak bertemu saja serasa sangat lama bagi Barrack.


"Baby.." Barrack berjalan mendekati istrinya.


Sontak Shafa menoleh saat meletakkan tasnya di meja kamar. Dan tiba-tiba Barrack memeluknya sangat erat, Shafa hanya diam terpaku ditempatnya. Dia tidak membalas pelukan suaminya. Dia ingin sekali melepaskan pelukan itu, dia tidak bisa bersikap biasa saja setelah semuanya terjadi. Shafa masih terdiam dan mendengar Barrack yang terus mengucapkan kata maaf.


Tiba-tiba bahunya terasa basah, Sontak Shafa kaget merasakan airmata suaminya membasahi bajunya. Selama dia hidup dengan Barrack, dia tidak pernah melihat Barrack sangat frustasi seperti itu dan menangis.


Ada rasa kasihan melihat suaminya menangis, tiba-tiba hatinya terasa sakit dan pedih seolah dihujam belati tak kasat mata. Dia menguatkan dirinya, mencoba menerima kesalahan suaminya dan mulai membalas pelukan suaminya.


"Jangan menangis lagi Barra.. Aku akan mencoba menerima keadaan ini dan memaafkanmu," Shafa menenangkan suaminya.


"Apa kamu serius sayang?" Barrack memandang istrinya dengan berbinar.


Shafa mengangguk dan memaksa tersenyum.


"Apa kau bisa berjanji tidak meninggalkanku baby?"


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu Barra, Jangan memaksaku berjanji tentang apapun!" Shafa memperingatkan. Kemudian berjalan ke kamar mandi.


"Baby, aku akan kebawah menyiapkan makan malam kita, mumpung hari ini aku tidak ke kantor, Yahh.. Sekali-kali aku yang memasak untukmu," ucap Barrack tersenyum memandang istrinya.


"Hhmmm, lakukan saja asal kamu tidak keberatan,"


Kemudian Shafa menutup pintu kamar mandinya, dia berendam setengah jam di bathup. Rasanya sangat nyaman dan rileks. Dia mengelus lembut perutnya yang masih rata dan mengajak bicara calon bayinya.


Sementara itu di dapur Barrack sedang memasak dengan sedikit kesusahan, ada beberapa makanan yang gosong lalu dibuang dan berkali-kali minyak panas mengenai kulitnya tapi dia tidak peduli. Dia ingin memasak dengan tangannya sendiri untuk istrinya dan Chef hanya mengarahkan saja. Semua pelayanan, Chef yang berada di dapur hanya terheran-heran melihat Tuan mudanya itu memasak didapur. Selama hidup Barrack dia tidak pernah memasak di dapur. Jessica dan mamanya hanya tersenyum lucu memperhatikan Barrack dari meja makan.


Kemudian salah satu pelayan menghampiri Myra yang sedang fokus memperhatikan putranya.


"Nyonya Besar, ada tamu yang sedang mencari anda," ucap pelayan itu.


"Baiklah, aku kesana," ucap Myra dan berjalan ke arah ruang tamu. Jessie yang penasaran mengekor dibelakang mamanya.


Saat sampai di ruang tamu, Myra sedikit terkejut melihat tiga orang duduk di kursi tamunya.


"Selamat malam Nyonya Myra, bagaimana kabar anda?" ucap laki-laki didepannya itu dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Selamat malam juga Tuan Adrian, Alhamdulillah kabar saya dan keluarga baik-baik saja," ucap Myra Menyambut uluran tangan Adrian

__ADS_1


Kemudian Rossa dan Jenny tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Myra juga.


"Baiklah Nyonya, saya tidak suka basa-basi, saya ingin membicarakan soal pernikahan anak kita besok lusa, saya rasa Barrack sudah bercerita kepada anda kan?" Adrian memastikan.


"Sudah Tuan Adrian, tolong anda atur saja baiknya bagaimana, kami akan ikuti yang Anda dan Jenny inginkan, anda sendiri pasti sudah tahu kan kalau putra saya telah memiliki istri?" ucapan Myra terkesan dingin.


"Saya rasa Jenny juga tidak masalah menjadi istri kedua, asal mereka bisa akur dan bahagia saja,"


"Bahagia kepalamu, Huh.. Dasar tidak punya hati!" Jessie mengumpati dalam hati.


Kemudian Barrack menemui Jenny dan keluarganya, sebenarnya dia enggan tapi mamanya memaksa.


"Pak Adrian, Bu Rossa.. " Barrack menghampiri mereka dan menyalami mereka.


Jenny sangat bahagia melihat laki-laki yang cintainya di depan matanya. Dia beranjak dari duduknya dan duduk di sebelah Barrack. Jessie semakin geram melihat tingkah genit Jenny.


"Dasar wanita tidak tahu malu! Wanita seperti ini tidak pantas menjadi kakak iparku!" sungut Jessie dalam hati.


"Mama Myra, maaf saya ingin mengajak Barrack sebentar di luar," Jenny beranjak dari duduknya dan menarik tangan Barrack. Barrack sontak kaget dan perlahan melepaskan tangan Jenny.


Myra masih dalam mode datar dan mengangguk sekilas.


"Lihatlah Nyonya Myra putra-putri kita sudah tidak sabar ingin segera tinggal bersama," Rossa memecah keheningan.


"Aahh iya.. Nyonya Rossa," ucap Myra memaksakan tersenyum.


"Iyuuhhhh.. Kepedean banget itu Mamanya Jenny! Yang nggak sabar dan kegenitan itu anaknya saja, bukan kakakku! Menyebalkan!" Jessie masih terus mengumpat dalam hati.


Shafa sebenarnya tahu Jenny dan keluarganya datang, dia turun ke bawah dan duduk di samping luar dapur. Dia tidak ingin berada diantara mereka. Semua pelayan hanya melihat Shafa dengan rasa prihatin. Semua juga mendengar teriakan Myra dan Shafa saat di ruang kerja tadi siang.


Sementara Barrack dan Jenny duduk di taman sebelah samping Mansionnya. Tepat di depan Shafa yang sedang duduk juga. Mereka tidak menyadari keberadaan Shafa karena posisi mereka terhalang daun yang berbentuk seperti tembok.


"Barra sayang! Aku sangat merindukanmu!" ucap Jenny dan mencoba memeluk Barrack tapi Barrack seketika memberi jarak untuk mereka.


"Tolong jangan memelukku Jenny, aku tidak ingin istriku melihat dan sakit hati lagi gara-gara kamu!" ucap Barrack dengan dingin.


"Tapi Barrack aku ini juga akan menjadi istrimu! Kamu sungguh tidak adil kalau lebih mementingkan perasaan istrimu yang lain! Dalam poligami suami itu harus adil Barra!" Jenny menahan kekesalannya.


"Aku tidak peduli! Aku sudah peringatkan! Aku tidak mencintaimu lagi Jenny! Dan jangan berharap perhatian lebih dariku! Aku menikahimu hanya sebagian bentuk tanggungjawabku pada calon bayimu itu, Jangan merasa menang karena kamu sudah berhasil membuatku menikahimu!" Barrack berbicara tegas dan memperlihatkan wajah arogan nya.


Hati Jenny begitu sakit mendengar ucapan tajam Barrack, Barrack masih saja tak menganggapnya walaupun dia telah mengandung putra Barrack. Dia menarik nafasnya dalam dan meredam amarahnya. Dia bertekad menyingkirkan Shafa dan membuat Barrack jatuh cinta padanya lagi.


"Sayang, coba sentuhlah perutku.. Ini putra kita, tinggal menunggu beberapa bulan saja dia akan lahir dan menghiasi hari kita dengan tawa dan tangisnya," ucap Jenny dengan lembut dan seketika Barrack tersentuh dengan ucapan Jenny.


Tiba-tiba Dia menyadari yang melakukan kesalahan dia dan Jenny, calon bayinya tidak bersalah. Tidak seharusnya dia terus berucap kata-kata kasar dan membuat Jenny menjadi stress. Itu akan berpengaruh pada tumbuh kembang calon bayinya. Barrack mulai melunak dan memandang ke arah Jenny.

__ADS_1


"Maafkan kata-kataku yang keterlaluan Jenny, aku hanya belum bisa menerima keadaan ini,"


"Tidak masalah sayang, aku mengerti suasana hatimu seperti apa saat ini, aku akan sabar menunggu sampai kamu menerima kami di hatimu," ucap Jenny kemudian mengarahkan tangan Barrack di perutnya.


__ADS_2