Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)

Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)
SK Part 15


__ADS_3

~Mencari Celah~


Pras yang ditemani Jessica makan siang bersama disebuah cafe yang biasa mereka datangi, Pras memesan beberapa menu dan beberapa cemilan.


"Katanya hanya sebentar, tapi kenapa memesan begitu banyak makanan?" tanya Jessica.


"Ini, hadiah ucapan perpisahan kita, karena kita akan berpisah cukup lama, sebagai sahabat aku merasa harus memberikan sesuatu yang berkesan," kata Pras.


"Okey, aku terima alasanmu," Jesika mulai mengulas senyumnya lagi, meski berat untuknya berpisah dari Pras.


Jessica dan Pras sambil menunggu menu makan siang datang, keduanya saling membahas beberapa projek yang akan mereka selesaikan dalam waktu dua hari, karena Pras berencana hanya empat hari menepat di Australia, mereka sangat fokus, terlebih lagi Pras, dia bahkan tidak sempat melirik ke arah Jessica, seperti biasa penglihatannya tetap terpaku di layar laptopnya.


"Bagaimana? Apa menurutmu cocok dengan konsep rumah mereka?" tanya Pras namun tak melihat ke arah Jessica.


"Bagus, sangat cocok, designnya juga sangat pas dengan rumah minimalis mereka." Jesica memberikan pendapatnya.


"Okeh kalau begitu aku akan mengirim designnya kepada team Faster," ujarnya


Team faster adalah team yang mengerjakan pembuatan furniture, mereka di berikan nama faster karena dituntut cepat dalam mengerjakan pekerjaan mereka, seluruh nama team di perusahaan Pras memiliki makna tersendiri, selain itu, nama identik sebagai ungkapan doa dan harapan Pras untuk seluruh pekerjanya.


"Permisi pak, ini makanannya." Pelayan membawa makanann untuk mereka berdua dan menyajikannya di atas meja makan mereka.

__ADS_1


Pras terpaksa harus menutup Laptopnya dan harus merapihkannya, mereka harus makan terlebih dahulu dan Pras juga harus bicara hal penting kepada Jessica.


"Kita makan dulu, setelah itu aku ada hal yang harus dibicarakan dengan mu," kata Pras sambil mengambil piring yang berisikan makanan yang dipesan olehnya.


Menyantap masakan yang merupakan makanan favorit mereka berdua merupakan hal yang inda, jessica dan Pras memiliki kesamaan tentang selera makan, itu membuat Pras merasa mereka sangat cocok, sehingga Pras terus mempertahankan Jessica di sisinya, bukan hanya tentang menu makanan mereka yang satu selera, tapi juga mereka kerap kali sering sekali memakai baju couple warna tanpa di sengaja, Pras terkadang aneh mengapa dia bisa memakai baju yang berwarna sama dengan Jessica, situasi itu terkadang orang berfikir jika mereka adalah sepasang kekasih ketika ada meeting di luar bersama dengan calon customer.


"Hari ini kita memakai baju, dengan warna yang sama lagi," kata Pras.


"Hmmm ... Mungkin memang kita takdir," ucap Jessica dengan nada seakan memberi kode kepada Pras.


"Hmmm ... Kamu benar kita adalah takdir, jika bukan, mungkin persahabatan kita tidak akan bertahan selama ini," Pras bicara sambil mengunyah makanannya.


Jessica menahan sendoknya di udara, dia melihat kearah Pras, tidak dia sangka, pria yang begitu pintar dengan kemampuan dan mampu membangun perusahaan, bisa tidak peka terhadap perasaan wanita yang sudah bertahun-tahun berada di sampingnya tanpa ada pria lain lagi di hidupnya.


Pras bukanlah pria yang tak peka, tapi dia tidak mau melukai lebih dalam hati Jessica, dia sebenarnya sudah tau jika adiknya dan Cyra tidak akan mungkin pernikahannya bertahan lebih lama lagi, dan seharusnya juga Pras, lah yang menikahi Cyra saat itu, tapi ternyata Ryan lah yang ditakdirkan lebih dulu menerima cinta Cyra, dan Ryan juga banyak sekali bercerita tentang Cyra, sehingga dia melihat wanita itu unik dan sebuah tantangan untuk bisa merebut hatinya yang sudah penuh dengan cinta untuk Ryan.


*****


Cyra, mulai membuka emailnya dan ternyata ada sebuah notifikasi masuk dua hari lalu, dia segera membuka notif itu dan membacanya, Crya membaca dengan seksama lalu dia berfikir sejenak, wajahnya terlihat seperti orang yang sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Aku tidak mungkin bisa bekerja keluar dan memberikan pelatihan untuk mereka semua secara tatap muka, mertuaku yang kuno itu tidak akan pernah menyetujuinya, tapi ini adalah tawaran yang sangat bagus untukku mengembangkan bakatku." Cyra mondar mandir di kamarnya sendiri seperti gosokan.

__ADS_1


Selama satu jam Cyra terus mondar mandir, berdiri, duduk, berdiri lagi dan duduk lagi di kursi yang sepaket dengan meja rias. Tak lama dia menopang dagunya dengan kesua tangannya, dia mengangguk-angguk dan terkadang menggelengkan kepalanya, sungguh pemandangan yang membingungkan, enbtah apa yang sedang Cyra fikirkan saat ini, sebuah penawaran apa yang dia dapatakan dan apa isi dari email yang masuk ke dalam inboxnya.


"Aku akan mencoba meneleponnya terlebih dahulu, aku berharap dia menerima ideku." Cyra mulai meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang memberikan penawaran untuknya.


Mereka tengah berbincang berdua melalui sambungan telepon, Cyra tampak sedang meyakinkan orang tersebut, dia terkadang memasukkan satu jari ke mulutnya dan menggigit kuku jarinya sangking gugupnya menunggu keputusan dari orang tersebut.


"Baiklah, saya akan berusaha yang terbaik, berikan saya waktu satu bulan untuk melakukannya lewat online, jika berhasil, kita akan teruskan kerja sama ini, tapi jika tidak bisa, semua keputusan saya serahkan kepada anda." Dengan nada meyakinkan Cyra menutup teleponnya dan berharap hal baik kali ini berpihak kepada dirinya.


"Semangat Cyra! Ini adalah kesempatan yang langka, kamu harus berusaha sebaik mungkin." Cyra menyemangati dirinya sendiri, jika bukan dia yang menyemangati siapa lagi.


Cyra membuka nakas di samping kasurnya, dia mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya, Cyra mengeluarkan beberapa uang lembaran dan mulai menghitungnya dengan berharap ini akan cukup untuk modalnya berlatih kembali membuat Kue.


******


"Jess, kamu tidak keberatan kan, untuk menjadi kepala cabang di sini?" tanta Pras setelah mereka selesai makan siang.


"Yah, aku akan menerimanya demi dirimu, aku juga akan menjada perusahaan ini seperti aku menjaga hati ku," kata Jessica.


"Aku mungkin kembali ke sini, hanya untuk singgah jika ada hal yang mendesak saja, karena sepulangnya aku ke Indonesia, aku harus menikahi seorang gadis yang menjadi pilihan kedua orang tuaku, dan anehnya aku sejak dulu menyukainya meski hanya sekali bertemu dengan dirinya." Mata Pras menunjukkan seseriusannya dalam berbicara tentang rasa sukanya.


Mendengar dan melihat pancaran mata Pras membuat Jessica sangat patah hati, kini dia tau, mengapa Pras begitu tak menganggap dirinya sebagai seorang wanita dan hanya menganggapnya sebagai sahabat saja, semua itu dikarenakan, Pras sudah menyimpan wanita lain di hatinya, dan itu terlihat jelas dari sorot mata Pras ketika berbicara tentang wanita itu.

__ADS_1


"Bahkan di Zaman Modern seperti ini, kamu masih menyetujui perjodohan keluarga?" tanya Jessica berusaha mencari celah lain, mungkin saja Pras keberatan dengan perjodohan ini, meski dia sudah dnegar bahawa Pras myukai wanita itu.


"Aku sangat tidak keberatan, dia adalah takdir cintaku sejak awal!" tegas Pras dengan tatapan menerawang jauh seakan sedang memandang wajah wanita yang disukainya.


__ADS_2