
~Bunga Tidur~
Cyra masih terus mengurung diri di kamarnya, cyra tak ingin menemui siapapun saat ini, baginya semua orang yang ada dirumah ini adalah manusia-manusia yang begitu kejam.
"Aku sangat ingin pergi dari rumah ini"bisiknya
Tok Tok Tok
"Mba Cyra ... boleh aku masuk?" tanya Jasmine setelah mengetuk pintu kamar Cyra.
Ceklek Ceklek
Cyra memutar kunci pintu dan membukanya.
"Masuk" kata Cyra sambil bermalas-malasan dan kembali menaiki tempat tidurnya.
"Mba, makanlah, Ibu sangat khawatir kepadamu, bahkan saat dia makan terlihat sangat tidak berselera" jelas Jasmine yang sedang berusaha membujuk Cyra.
"Kamu yakin ... Ibumu mengkhawatirkanku? bukan mengkhawatirkan tentang tradisi keluarga ini?" Cyra tidak percaya dengan kata-kata Jasmine, yang menurutnya hanya sebuah bualan saja.
"Aku sangat yakin, aku tau sekali sifat Ibuku, meski terlihat sangat cuek, tapi sebenarnya dia sangat perduli." Jasmine menekankan bahwa ibunya adalah wanita yang sangat pengertian sambil sedikit menggerakkan kepalanya naik turun.
Jasmine terus meyakinkan Cyra, dia ingin keluarganya kembali seperti semula, tidak bertengkar hanya karena saling egois.
"Nanti, kalau aku ingin, baru aku akan keluar dari kamar ini," ujar Cyra yang kembali meringkuk di atas tempat tidur.
"Aku menunggumu, kita makan siang bersama." Jasmine turun dari tempat tidur Cyra dan pergi meninggalkan Cyra.
"Haiiisssh ... anak itu, selalu bisa membuat hatiku menciut karena keta-katanya." kesal Cyra karena yang sebenarnya tersentuh dengan kata-kata Jasmine.
.
.
.
.
"Kalian sudah, memeriksa kembali semua design ini?" tanya Pras yang sedang bekerja di balik meja kerjanya sambil menelepon seseorang.
"Kalian seharusnya tau, kalau semua design ini tidak cocok untuk sebuah rumah, buat design rumah yang bisa membuat penghuninya menrasa sangat nyaman!" kata Pras sambil mengakhiri panggilan suara.
Pras memijat-mijat dahinya yang terasa pening karena harus mengurus semua pekerjaannya secara online. Dia terbiasa terjun langsung kelapangan melihat situasi rumah baru merancang design yang cocok.
"Aku tidak bisa kembali ke Australia, urusanku di sini belum selesai!" Pras melihat jam yang berada tepat di atas meja kerjanya.
"Sudah jam dua belas siang, Ibu pasti sedang menyiapkan makan siang," kata Pras.
"Apa Cyra akan bergabung?" Pras masih mengkhawatirkan wanita yang nantinya akan menjadi istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Panggil Kakakmu," kata Lasmi sambil duduk di kursinya.
Setiap anggota keluarga memiliki kursi masing-masing, Lasmi dan Bayu sengaja melakukan itu sejak anak-anak mereka masih kecil, semua bertujuan agar anak-anaknya mengerti mana yang miliknya dan mana yang bukan, itu juga mengajarkan nilai disiplin dan saling menghargai.
Jasmine yang hendak bangun dari kursinya, mengurungkan niatnya, karena saat itu Pras muncul di ruang makan.
"Itu Kak Pras," kata Jasmine sambil duduk kembali.
"Cyra masih belum mau keluar kamar?" tanya bayu.
"Belum." Lasmi menuangkan nasi dan lauk untuk suaminya
"Aku di sini." Cyra tia di ruang makan dan menarik kursinya untuk bergabung makan siang bersama.
Pras melihat ke arah Cyra dan tersenyum tipis.
.
.
.
.
.
"Mba Cyra, temenin aku pergi yuk," ajak Jasmine sambil bergelendot di tubuh Cyra dengan manja.
Jasmine yang usianya tidak terlalu jauh dari Cyra, membuat mereka berdua cukup akrab, mereka dulu sering pergi keluar bertiga hanya untuk menghirup udara segar dan menjernihkan fikiran.
"Aku tunggu sore ini," teriaknya.
Cyra terus berjalan dan tak menghiraukan teriakan adik iparnya yang di tujukan kepadanya.
Setelah masuk kembali ke dalam kmarnya, Cyra kembvali merebahkan tubuhnya dan tertidur seketika. Sejak kecil Cyra dikenal ***** alias nempel langsung molor atau tidur.
.
.
.
.
.
"Cyra." Panggil seseorang.
Cyra menoleh ke arah suara dan melihat orang yang telah memanggil namanya.
"Mas!" Crya mengembangkan senyumnya ketika melihat Ryan.
Ryan membuka tangannya lebar-lebar, Cyra yang melihat suaminya, langsung berlari menuju tempat di mana Ryan berdiri. Cyra memeluk erat suaminya, rindu yang sangat teramat besar sudah bersarang di hatinya.
"Aku merindukanmu!" Cyra mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Aku juga, sangat merindukanmu!" Ryan mengecup pipi Cyra yang masih di dalam dekapannya.
"Jaga dirimu baik-baik, mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita." Ryan melepaskan pelukannya dan berganti memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya.
"apa maksudmu? aku tidak mau berpisah denganmu, bawa aku bersamamu" Cyra terus menangis.
"Bawa aku bersamamu ...." Cyra menitikkan air matanya
Lima menit kemudian Cyrabangun dari tidurnya, mimpi yang indah karena sedikit mengobati kerinduannya kepada Ryan, tapi sekaligus menyesakkan baginya.
Cyra kembali menangisi semuanya, dia kembali teringat suami yang sangat dia cintai dan sangat mencintainya, perpisahan yang tidak terduga membuatnya harus menanggung kesedihan yang mendalam.
"Aku sepertinya harus mencari udara segar, dadaku terasa sangat sesak" Cyra turun dari tempat tidur dan langsung mengganti pakaiannya.
Setelah dua puluh menit dia selesai bersiap, Cyra meraih tas yang sudah dia siapkan di kasurnya.
"Huuuuuft" Cyra menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Cyra keluar dari kamarnya dan pergi diam-diam agar tidak ada yang melihatnya.
.
.
.
.
.
Cyra menaiki sebuah mobil taksi online yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Ke cafe Tef-Lon ya pak." kata Cyra.
Mobil melaju ke arah jalan menuju cafe Tef-Lon, di mana sebuah tempat yang dulu biasa dia datangi bersama teman-temannya.
Cyra yang notabenenya berasal dari keluarga kaya, harus jatuh miskin dikarenakan hutang-hutang ayahnya, perusahaan ayahnya bangkrut dan mereka harus hidup serba kekurangan demi membayar cicilan hutang.
"Terima kasih pak, pembayarannya sudah melalui aplikasi" kata Cyra dan kemudian turun dari mobil.
Cyra terdiam sejenak di depan cafe, dia memandangi cafe yang sudah dua tahun tidak dia kunjungi, setahun karena orang tuanya bangkrut dan setahun karena menjadi seorang istri dan harus merawat suaminya. Masa muda yang cukup singkat baginya dan sangat berat menjalaninya.
"Cyra."
"Mas Pras?!" Cyra mebulatkan matanya karena terkejut melihat Pras berada di cafe ini juga.
"Masuklah, aku akan menemanimu, jika kamu pulang dan ketahuan orang tuaku, pasti kamu akan terkena hukuman." pras berjalan menaiki tangga dan Cyra sangat kesal ternyata dia kepergok pergi dari rumah oleh Pras.
Mereka duduk disatu meja yang sama, Cyra memesan minuman begitu juga dengan Pras, keadaan menjadi tidak seru bagi Cyra lantaran ada pria yang tidak dia harapkan.
"Kamu masih marah?" tanya Pras.
"kenapa aku harus marah? dan kepasa siapa?" tanya Cyra tanpa perduli.
"Dengan keputusan dan tradisi keluarga kami"
"Tradisi yang sangat konyol! aku tidak percaya ada wanita yang rela menjadi istri kakak iparnya, sedangkan mereka tidak saling mengenal."
__ADS_1
Cyra kembali menyeruput minumannya agar kemarahnnya mereda.