
~ Kritikan Pedas ~
Cyra, George dan juga Alex, selesai berkeliling area hotel, Cyra juga ingin segera pulang ke rumah untuk mempersiapkan diri besok bekerja.
"Terima kasih, atas bantuannya, saya sangat bersyukur bisa bekerja di hotel semewah ini." Cyra menunjukkan ketertarikannya terhadap hotel.
"Santai saja, Cyra! semua ini berkat kerja kerasmu, mereka senang, kamu bekerja langsung dan bergabung dengan mereka," kata George yang melihat sendiri ekspresi koki, kepala koki dan koki magang, yang senang dengan kunjungan Cyra tadi ke dapur.
"Semoga, aku tidak mengecewakan kalian semua, aku pamit pulang dulu!" Cyra berpamitan.
George tampak tersenyum tipis, Alex mulai punya ide licik di benaknya.
"Aku sepertinya harus bertindak! agar temanku ini, tidak terlalu lama menjomblo, dan segera menyusul ke pelaminan" batin Alex.
Alex sudah memiliki seorang istri, bahkan istrinya sekarang sedang mengandung buah cinta mereka, Alex adalah pria yang sangat bertanggungjawab, dia begitu mencintai istrinya.
"Aku, pulang dulu ya George!" pamit Alex.
"Kok, cepet banget sih?" tanyanya.
"Udah kangen sama istri, enggak bisa jauh-jauh terlalu lama!" jawab Alex sambil bersiap pergi.
"Ah ... bilang ajah emang doyan!" ledek George.
"Makanya, cari pacar, nikah deh! biar bisa tau seenak apa itu nikah!" Alex melambaikan tangannya sambil berjalan.
George tertawa melihat kelakuan temannya, Alex memang selalu pulang cepat ketika tidak ada pekerjaan di kantornya, karena memang semua sudah di handle oleh pekerja, perusahaan packaging menang sudah memiliki pelanggan tetap, jadi tinggal membuat sesuai orderan saja, berbeda dengan hotel, yang setiap harinya, berbeda pengunjung dan berbeda masalah.
*****
Aku sudah di taksi menuju rumah.
Cyra mengirim pesan singkat kepada Pras.
"Aku bersyukur, bisa bekerja di hotel sehebat itu!" ucap Cyra sambil melihat pemandangan diluar jendela.
*****
Cling
Satu pesan masuk ke ponsel Pras, dia langsung melihat ponselnya dan membaca pesan masuk itu.
"Dia sudah pulang," kata Pras sambil membereskan mejanya.
Pras langsung berdiri, dan keluar dari ruangan kerja yang kini sudah dia tempati, ruangan yang sudah di dekorasi oleh Jessica.
"Pak, Bapak mau kemana?" tanya Bagas yang akan menjadi asistennya.
__ADS_1
"Saya ada urusan di rumah! kamu bekerjalah seperti biasa, besok pagi kita akan rapat karyawan, jadi saya harap kamu mempersiapkan notulennya, dan kirimkan via email kepada saya!" perintah Pras sebelum pergi meninggalkan kantor barunya.
Jessica mencari tempat untuk kantor Pras, tempat strategis, dan juga mereka membeli area perkantoran yang cukup bagus model bangunannya, sehingga cocok untuk menjadi kantor furniture yang unik.
Prada berjalan keluar kantor, dia melewati Jessica, tanpa menyapanya.
"Aku mau kamu menata hatimu dan pikiranmu lagi Jess, maaf jika aku menjaga jarak darimu saat ini!" Pras dan Jess berpapasan.
Jessica menoleh ke arah Pras, namun pria itu sama sekali tidak menatapnya dan hanya berjalan lurus ke depan dengan mata yang tak berkedip sedikitpun.
"Jadi, kamu sudah membuat keputusan Pras? inikah keputusanmu? menjauhiku?" Jessica mengerti sikap Pras, dia sudah hampir lebih dari lima tahun bekerja dengan Pras, jadi dia sangat tahu betul sikap dan maksud dari Pras menunjukkan sikapnya.
"Aku tidak mudah menyerah! kamu pasti tau itu! sebelum cinta hadir di hati Cyra, aku akan merebutmu terlebih dahulu, aku akan membuatmu lebih memperhatikan diriku!" Jessica bicara dengan berbisik kepada dirinya sendiri.
*****
"Cyra!" Pras langsung masuk ke dalam kamarnya.
Cyra yang sedang berdiri di depan lemari terkejut dengan kedatangan Pras.
Pras langsung membalikkan badannya dan menutup matanya.
"Aku akan keluar, maaf aku tidak tau, kamu sedang berganti pakaian, aku ingin bicara denganmu, beri tahu aku jika sudah selesai." Pras keluar dari kamarnya.
Cyra masih syok dengan kedatangan Pras yang tiba-tiba, membuat Cyra masih mematung tak bergerak sedikitpun.
"Tangan ini! kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu? kenapa harus langsung membuka pintu!" Pras memaki tangan kanannya sendiri yang dia gunakan untuk membuka pintu kamar.
"Pasti dia akan memarahiku!" Pras mengetuk dahinya dengan satu tangannya.
setelah Pras selesai merutuki dirinya sendiri, Cyra keluar kamar.
"Mau bicara apa?" tanya Cyra dengan pandangan ketusnya.
"Bisa bicara di belakang sebentar?" tanya Pras.
"Belakang mana?" tanya Cyra.
Mereka saling menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga.
"Ikuti aku!" Pras melangkah diikuti Cyra.
Pras dan Cyra sampai di ruangan yang dulu menjadi tempatnya dan Ryan sering merenung.
"Duduklah, dan baca ini!"
Pras memberikan sebuah map kepada Cyra.
__ADS_1
"Map, apa ini? aku seharian ini sudah terus membaca kertas yang ada di dalam map, mataku sudah sangat lelah!" batin Cyra sambil meraih map yang diberikan oleh Pras.
Dia membaca tulisan yang ada di dalam lembaran-lembaran kertas, dia membaca dengan menunjukkan begitu banyak ekspresi, dari terkejut, mengerucutkan bibir, menaik turunkan alisnya, membelalakkan matanya.
melihat begitu banyak ekspresi seperti tidak terima, membuat Pras menggigit ujung bibir bawahnya, dia sudah menduga, istrinya tidak menerima semua yang ada di dalam map.
Pras membuat sebuah perjanjian, perjanjian yang kemarin saat di hotel sudah dia dan Cyra sepakati bersama, setelah Pras mendapatkan persetujuan Cyra untuk bekerja.
Pras mulai harap-harap cemas, dia takut akan terkena semprotan kemarahan dari bibir Cyra yang tipis dan sexy itu, bibir yang membuatnya terpikat.
Cyra menutup map-nya, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan tapi seakan sedang mengendalikan amarahnya.
"Aku harus bersiap mendapatkan ocehan yang panjang lebar dari Cyra, seharusnya aku tidak menuliskan perjanjian yang cukup konyol seperti itu!" Pras menyesali perjanjian yang telah dia buat sendiri.
Cyra kemudian mengambil sebuah pulpen yang terletak di atas meja.
"Apa dia setuju dengan perjanjian yang aku buat?" pras mulai ingin menyalakan sedikit api harapan di dalam hatinya.
"Apa mungkin? aku rasa tidak! tapi dia menyentuh pulpen itu! benar! pasti dia menyetujuinya!" Pras banyak memunculkan prasangka di benaknya, kadang dia mengelak, kadang bertanya-tanya dan kadang dia meyakininya.
Cyra mulai mengangkat pulpen, membuka map perlahan, membuka lembaran pertama dan kemudian dia menuju ke lembaran berikutnya yang berisi poin-poin perjanjian, Cyra juga hendak membuka lembaran ke tiga, namun diurungkan olehnya.
Pras sudah harap-harap cemas, dia bahkan mengucurkan keringat dingin, suasana seperti ini membuat dirinya ngeri.
"Dari pada menunggumu seperti ini, aku lebih baik mendengar ocehanmu, Cyra! seperti ini membuatku menjadi semakin berdebar!" Pras menyeka keringat di wajahnya.
Brak!
Cyra menggebrak meja, membuat Pras terkejut dan semakin menciut.
jika berhadapan dengan wanita yang ketus dan judes membuat Pras tak berkutik tapi tetap merasa tertantang.
Cyra mulai membuka mulutnya, dia bersiap untuk mengeluarkan suaranya ...
.
.
.
..Hai readers, baca terus kelanjutan Cyra dan Pras ya, banyak kisah menarik di dalam perjalanan Pras untuk mendapatkan cinta dari Cyra. nantikan bab berikutnya tentang perjanjian mereka.
.
.
Hai readers, baca juga novel karya temanku,,, seru seru seru
__ADS_1
.