
~Aku tidak mau~
"Kamulah kekasihku satu-satunya, hati ini sudah terpaut olehmu, aku tidak bisa lagi merubahnya, aku tidak bisa lagi meletakkan orang lain di dalam hatiku" Cyra kembali menatap foto pernikahannya.
Tok Tok Tok
Cyra, menghapus air matanya ketika mendengar suara ketukan pintu, dia kemudian membukakan pintu, Ibu mertuanya yang mengetuk pintu, kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf Bu, aku sedang tidak ingin bicara," Cyra memalingkan wajahnya dan bicara sedikit tidak sopan kepada ibu mertuanya.
"Ibu, bukan mau bicara, Ibu hanya ingin memberitahukan kepadamu, bahwa kamu dan Pras akan menjalani proses adat dua hari lagi." Lasmi lantas keluar dari kamar Cyra.
setelah mendengar ucapan dari ibu mertuanya, Cyra semakin merasa dirinya tidak ada harganya dimata keluarga suaminya, Cyra merasa hanya sebagai wanita yang menjadi alat pembayaran hutang orang tuanya saja.
"Apa arti diriku untuk kalia? apa aku hanya alat saja? apa aku hanya dianggap sebagai wanita cadangan yang bisa dinikahi bergiliran? aku tidak mau!!!" Cyra berteriah kencang sambil melempar barang-barang yang ada di atas nakas.
Nafas Cyra kini tersengal-sengal karena amarah yang diluapkannya sambil dia menangis.
Hidup ini sangat tidak adil baginya, berawal menjadi pengantin dari pria yang sedang sakit parah, lalu akhirnya menjadi janda cerai mati, masih juga harus menikahi pria yang sama sekali tidak dia cintai karena sebuah tradisi yang tidak masuk diakal.
"Haruskan aku menjadi istrinya? kapan aku bisa meraih kebahagiaanku sendiri? aku juga ingin bahagia, aku ingin bebas menjalani hidupku dengan jalan pilahanku sendiri!" Cyra kembali berteriak disela nafasnya yang sudah naik turun.
.
.
.
Pras keluar dari ruangan khusus dan berjalan menyusuri sebuah lorong yang dibuat untuk menuju sebuah halaman belakang rumahnya. Dalam perjalanannya keluar lorong dia teringat sebuah kamar yang biasa dia dan Ryan datangi ketika merasa suntuk atau mereka sedang ingin menenangkan diri.
Pras membuka pintu ruangan itu, dia masuk ke dalam dan melihat sekeliling, sudah sedikit berdebu, beberapa buku-buku yang tersimpan nampak sedikit usang padahal bukan buku lama.
"Ruangan ini sudah tidak terurus, sepulangnya aku dari Australia, aku akan merapihkannya dan membuat ruangan ini sebagai ruangan rahasiaku, aku sangat merindukanmu Ryan, tempat ini begitu banyak kenangan kita berdua" gumam Pras sambil terus mengelilingi sudut ruangan.
.
.
.
.
"Mas Pras di mana?" tanya Jasmine kepada Mbok Tar.
Mata Jasmine menjelajah ke sekeliling ruangan yang ada di rumahnya, dia tidak menemukan kakaknya.
"Sepertinya, tadi pergi dengan Bapak untuk bicara berdua" jawab Mbo Tar.
"Pasti mereka keruangan rahasia" Jasmine langsung meninggalkan Mbok Tar dan berlari menuju lorong.
Sesampainya Jasmine kelorong, dia melihat kakaknya keluar dari dalam ruangan.
"Mas" panggil Jasmine.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Pras sambil menutup pintu ruangan.
"Aku ada sebuah ide untukmu, ide yang tadi kan gagal" kata Jasmine.
"Nanti saja kita bicarakan, Mas, ada pekerjaan yang harus dilanjutkan segera, oh ya, bantu saja carikan cincin untuk Cyra, dua hari lagi acara adatnya" Pras meminta bantuan kepada Jasmine.
"Asyiiaaap, dengan senang hati, aku akan melaksanakan perintah kapten" kata jasmin dengan tangan hormat didahinya.
"Dasar, kamu!" Pras mengacak-acak rambut Jasmine dan adiknya tersenyum.
"Teruslah berusaha Mas, aku akan membantumu mendapatkan hati Mba Cyra" batin Jasmine sambil menatap punggung kakaknya.
.
.
.
.
Hari berganti, Lasmi sibuk mempersiapkan untuk acara adat besok, dia menghubungi beberapa sanak saudara, tetangga dan teman-temannya.
"Mbok Tar, nanti kamu dan Junet pergi ke toko kue, pesan beberapa kue yang sudah saya catat di kertas ini." Lasmi memberikan secarik kertas kepada asisten rumah tangganya.
"Baik, Bu," Timpalnya.
"Sudah sebarkan undangan kepada tamu yang kita undang?" tanya Bayu kepada istrinya.
"Apa kamu juga mengundang mereka?" tanya Bayu lagi.
"Iyah, mau bagaimanapun, kan, dia keluarganya," jawab Lasmi.
"Apa tidak masalah? tadinya kan kita akan menjodohkan Pras dengan anak mereka," Bayu ada perasaan tidak enak.
"Mereka seharusnya paham, kita melakukan ini karena memang sudah menjadi Tradisi keluarga"
"Aku sebenarnya juga merasa tidak enak hati, tapi mau bagaimana lagi, lagipula, aku lebih setuju Pras dengan Cyra, Hatiku sejak awal kurang sreg dengan putri mereka" Lasmi menyembunyikan kecemasannya di dalam hati.
"Bu, Pak, aku pergi dulu ya"
Jasmine berpamitan kepada kedua orang tuanya, untuk mejalankan misi dari kakaknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Lasmi.
"Aku mau membeli cincin untuk Mba Cyra, atas permintaan Mas Pras" jawabnya dengan jujur.
"Tidak perlu, Ibu dan Bapak sudah mempersiapkannya" kata Lasmi yang mematahkan semangat Jamine.
"Tapi, kan, Mas Pras mau yang cantik agar Mba Cyra suka, belum tentu pilihan Ibu dan Bapak disukai Mba Cyra," bantahnya.
"Tidak perduli dia suka atau tidak suka, dia harus menerimanya, seperti halnya pernikahan ini!" Kata Bayu dengan tegas.
Seketika Jasmine langsung tidak bisa berkata apa-apa lagi, benar kata Bapaknya, mau tak mau Cyra memang harus menerima semua yang sudah ditentuka oleh keluarganya.
__ADS_1
"Kasihan sekali nasibmu Mba" bisiknya miris.
Lasmi yang sedikit mendengar suara bisikan anak gadisnya merasa kasihan dengan anaknya.
"Ibu, tahu maksud kalian, tapi sayangnya Bapak kalian sudah mengatur semuanya" Batin Lasmi.
.
.
.
.
Cyra di kamarnya sedang memikirkan sesuatu.
"Aku harus kabur dari rumah ini, aku tidak mau menikah lagi" ujarnya
Cyra membayangkan bagaimana caranya dia bisa kabur dari rumah keluaga yang tak berperasan ini, menurut dirinya.
"Lihat saja, aku akan menggagalkan acara adat ini! aku akan menghilang diacara itu dan kalian akan menanggung rasa malu" kata Cyra yang bertekad ingin kabur.
Cyra mulai merapihkan beberapa bajunya, tidak begitu banyak barangnya di kamar ini, selama dia menikah satu tahun, Cyra sama sekali jarang membeli barang, semua barang yang dia miliki adlaah pemberian dari mendiang suaminya.
"Semua ini adalah hadih darimu, aku akan membawanya untuk mengenangmu selalu" kata Cyra sambil memasukkan baju ke dalam ransel yang dulu dia bawa saat awal menbginjakkan kaki di rumah keluarga Prawiro.
Cyra diam-diam mencari celah untuk membawa ranselnya ke tempat yang aman, dia kan mengambilnya saat nanti kabur.
Crya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menyelinap keluar rumah, jika dia ketahuan membawa ransel keluar dari rumah, maka rencananya akan gagal total.
"Sepertinya mereka sedang sibuk" gumamnya sambiul terus memantau sekitar.
Cyra kembali berjalan, setelah melewati beberapa ruangan, ibu mertuanya muncul bersama bapak mertuanya yang keluar dari kamar utama, Cyra langsung bersembunyi.
"Kita sepertinya harus ke Mall dulu, ada beberapa yang Ibu harus beli" ujar Lasmi sambil berjalan menuju keluar rumah.
Cyra kembali mengintip, dia melihat kedua mertuanya sudah masuk ke dalam mobil dan mobil mereka kemudian keluar dari pintu pagar.
"Ini kesempatan yang sangat bagus"
Cyra kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat persembunyian yang tepat untuk tas ranselnya.
"Haah ... selesai" Cyra lega sudah menyembunyikan ranselnya.
Cyra kembali berjalan ke dalam ruamah dan menuju ke dapur.
"Aku harus membatu Mbok Taar untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku kabur dari rumah ini" ujar Cyra sambil melangkah berirama.
Cyra sudah memikirkan matang-matang tentang keputusannya untuk keluar dari rumah ini dan meninggalkan keluarga yang menurutnya tidak menganggap kehadirannya sama sekali.
"Mbok, ada yang bisa aku bantu?" tanya Cyra saat dia tiba di dapur.
"Tidak perlu Non, semua sudah selesai, Mbok juga sudah mau pergi untuk memesan kue, untuk acara adat Non dan Den Pras" kata Mbok Tar dengan wajah yang sumringah.
__ADS_1