
~Buku Harian~
Pras mengantar Cyra tepat di depan Hotel, tempat Cyra bekerja. Pras akan selalu menunggu hingga Cyra masuk ke dalam hotel, baru dia kembali melakukan mobilnya.
"Siapa yang mengantarnya? terlihat dari mobilnya, dia orang punya," kata George yang melihat dari jendela ruangannya yang langsung bisa melihat ke arah jalan.
Pras selalu menurunkan Cyra tepat di parkiran yang tidak jauh dari pintu lobby hotel, sehingga bisa membuat George melihat mereka.
"Apa kakaknya? atau kekasihnya?" George menduga-duga.
Karena penasaran, George segera keluar ruangannya dan berjalan menuju dapur hotel.
Tapi sayangnya dia harus mengurungkan niatnya, karena kakeknya meneleponnya dan memintanya untuk pulang segera, George langsung beralih, dia menuju parkiran khusus pejabat hotel, dia menyalakan mobilnya dan melaju cepat agar bisa sampai tepat waktu.
"Apa yang akan kakek bicarakan denganku? apa dia sakit? atau aku melakukan kesalahan?" George mulai memberikan rentetan pertanyaan kepada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hai! Cyra!" panggil salah satu staff yang usianya lebih tua dari Cyra.
"Hai! Mba." Cyra melambaikan tangannya dan mereka mengganti baju, dengan seragam kebesaran seorang koki.
Hotel TB membuat seragam khusus, seragam yang menurut Cyra adalah perpaduan warna kesukaannya, yaitu abu-abu.
"Cyra! kamu tahu tidak?! kalau warna seragam kita, adalah warna kesukaan dari wanita yang di sukai oleh Pak George?" tanyanya.
"Tidak, Mba! masa Iyah sampai segitunya?" Cyra membalas bertanya.
"Iyah, benar sekali, aku mendengarnya dari pada senior di sini, mereka dulu memakai serba hitam, tapi kalau tidak salah sekitar lima tahun lalu, pak George meminta kakeknya untuk menggantinya dengan warna abu-abu, sebelum dirinya resmi menjabat sebagai CEO di hotel ini!" ceritanya.
"Sungguh, wanita yang beruntung, di cintai sebegitunya, oleh pria tampan dan juga sangat mapan." Cyra merasa iri terhadap wanita itu. tanpa sadar kalau saat ini di sisinya juga ada pria tampan dan mapan yaitu Pras.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
George menemui kakeknya di rumah, tak menyangka tidak hanya kakeknya yang ada di dalam rumah besar dengan gaya Eropa klasik.
"Kek! ada apa ini?" tanya George.
"Duduklah!" perintah pria yang sudah mulai menggunakan tongkat untuk membantunya berdiri dan berjalan.
"George! kakek yakin kalian saling mengenal satu sama lain, kakek ingin kalian lebih mengenal lagi, dengan cara bertunangan dan melalui pernikahan, kita bisa mempererat persaudaraan, benar bukan?" pria itu melempar pandangannya ke arah pria yang bertubuh kekar dan seorang istri yang memiliki senyuman yang ramah.
__ADS_1
George terkejut, apa yang dia takutkan terjadi, dijodohkan seperti beberapa temannya, demi sebuah bisnis agar tetap terjaga dan membuat bisnis keluarga semakin sukses.
George mengeratkan tangannya, dia melihat ke arah pria muda yang sedari tadi menatap dirinya juga, pria yang tak pernah dia sangka, salah satu anggota keluarganya yang dipilih sebagai calon istri dirinya.
"Kek! aku rasa, pertunangan terlalu cepat, dan semua rencana ini tidak pernah aku ketahui, jadi aku rasa kita harus bicara secara pribadi dahulu." George menentang perjodohan ini.
"Maafkan perkataan cucuku yang tidak tahu etika ini, aku harap pertemuan kedua kita, sudah mendapat titik terang untuk masalah pertunangan." pria itu bangkit dari duduknya, dan bersalaman dengan pria kekar itu.
Pria kekar itu melempar senyuman ke arah George dan George membalas senyumannya dengan sopan, bagaimanpun hubungan mereka sangat baik, jadi tidak mungkin George menunjukkan ketidak sopanannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiiin Tiiin
Klakson mobil terdengar merdu di telinga Lasmi, dia sangat hafal bunyi klakson tersebut, Lasmi langsung keluar kamar dan menemui orang yang membawa mobil itu.
"Prasss!" Lasmi langsung mengecup kening putra sulungnya.
"Kalau, Mas Pras yang pulang ajah, selalu dapat kecupan Santang dari Ibu, kalau aku boro-boro!" sewot Jasmine sambil meneguk coklat panas dan pergi ke ruang televisi begitu saja, tanpa menyambut Pras.
"Aku ke sana dulu, Bu!" kata Pras dan di mengerti oleh Lasmi.
Pras berjalan dan menghampiri adik bungsunya yang sedang menyalakan televisi dan mengambil ponselnya.
"Hmmmm ... mulai deketin adeknya, kalau adeknya mulai sewot ajah, baru di baik-baikin," kata Jasmine sambil mengerutkan dahi dan mengembang kempiskan cuping hidungnya.
Pras langsung merangkul adiknya sambil duduk disampingnya.
"Dek, kamu kalau lagi marah, pasti semakin cantik, you are so beautiful, you know?" tanya Pras.
"Yes! I know!" jawabnya kini sambil melipat kedua tangannya di dada, menunjukkan kemarahannya yang semakin menjadi.
"Dek, Mas tau, kamu hanya berpura-pura merajuk dan marah, kamu adik Mas, jadi tidak bisa berbohong." Pras menggelitik Jasmine, membuat ekspresi marah itu berubah menjadi tawa, karena memang Jasmine hanya berpura-pura.
Setelah selesai membuat Jasmine menyerah, Pras mengacak-acak rambut Jasmine dan meninggalkannya.
"Jangan lupa! aku menunggu keponakan ku!" teriak Jasmine yang membuat Pras tersenyum lebar mendengar perkataan adik bungsunya.
Pras berjalan menuju ruangan yang dulu menjadi basecamp mereka bertiga.
Pras mencari-cari sesuatu di kamar itu.
__ADS_1
"Di mana buku itu, aku yakin, ingat pesan Ryan, kalau dia menyimpan sebuah buku di ruangan ini, buku yang dia tulis untukku." Pras terus membongkar beberapa buku-buku yang masih ada di dalam kardus, sambil menyusunnya kembali di rak buku.
setelah beberapa menit mencari dan membongkar buku-buku, Pras menemukan sebuah buku diary berwana hitam, dengan tulisan 'Cyra untuk Pras'.
Pras langsung menjatuhkan air matanya sambil membersihkan sampul buku diary. dia tidak menyangka, adiknya sudah sangat mempersiapkan istrinya untuk dirinya.
"Sesiap inikah kamu untuk pergi selamanya?" tanya Pras sambil membaca setiap lembaran buku.
Banyak cerita yang dituangkan di dalam setiap lembarannya, mulai dari hari pertama Cyra datang kerumah sebagai menantu dan istrinya yang sah, bagaimana sikap awal Cyra yang acuh kepadanya, sikap Cyra yang sering membangkang kepada Ibu dan Bapak, tapi terlihat Cyra menyayangi mereka lambat laun.
"Aku yakin, jika kamu dalam keadaan sehat, kamu tidak akan pernah merelakan dia dimiliki oleh siapapun, sama halnya dengan apa yang aku rasakan saat ini." Pras menyeka air matanya.
Pras menutup buku diary Ryan dan membawanya keluar dari ruangan itu.
"Kamu sudah mau pergi?" tanya Lasmi yang melihat mata Pras basah.
"Iyah, Bu, ada pekerjaan menanti ku, nanti, aku akan mampir lagi bersama Cyra." Pras berpamitan.
"Hati-hati dan tetaplah menjadi pribadimu sendiri, Ibu yakin Cyra akan mencintaimu, karena kepribadianmu, dan akan menyayangimu karena ketulusan mu!" perkataan Lasmi menggambarkan dia mengetahui perasaan yang sedang di rasakan oleh Pras saat ini.
Pras langsung melanjutkan langkahnya, Lasmi hanya bisa melihat kepergian putranya.
"Ibu tahu, Nak!" lirihnya
Lasmi melihat Pras memasuki ruangan yang menjadi basecamp, ketiga anaknya saat masih remaja, mereka tumbuh bersama dan sangat saling menyayangi, keberadaan Jasmine ditengah-tengah mereka, membuat mereka menjadi sosok pria yang semakin kuat agar bisa melindungi adik perempuan mereka.
Lasmi mengenang saat-saat indah itu, dan dia mulai ikhlas dengan kepergian Ryan.
Lasmi sadar, kesedihannya akan memberangkatkan langkah Ryan, dan dialah yang sekarang dibutuhkan Ryan sebagai tanda kasih sayang kedua orang tuanya.
.
.
.
baca terus kisahnya, ada give away menarik, jangan lupa no baca scrol atau baca cepat, karena jika baca cepat tidak dinilai NT dan membuat gugur mendapatkan giveaway... happy reading all... i love u more...
baca juga novel karya teman ku, pastinya seru...
.
__ADS_1