Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)

Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)
SK Part 60


__ADS_3

~Kedatangan Tamu~


Cyra dan Pras hari ini sudah berbaikan, hubungan mereka kembali menyenangkan seperti sebelumnya.


"Mas, kita mau masak apa untuk makan siang nanti?" tanya Cyra sambil mencuci piring.


"Makan apa saja yang penting sama kamu." Pras memberikan jawaban yang sangat ngambang.


"Bener ya?" tanya Cyra.


"Iyah bener sayang." Pras spontan bicara begitu.


"Apa Mas?" Cyra ingin memastikan apa yang dia dengar tadi.


"Emang enggak boleh suami panggil istrinya sayang?" tanya Pras.


Cyra menghela napas dan mengeluarkannya cepat. Dia belum bisa menerima panggilan mesra apapun. Dia rasa panggilan itu bisa diucapkan jika mereka sudah saling mencintai.


"Kamu mau ke pasar?" tanya Pras.


"Enggak usah," jawabnya cepat.


"Kalau enggak belanja, gimana kita mau makan? tanya Pras lagi.


"Tenang ajah." Cyra menjawab dengan enteng.


Pras pasrah saja dengan apa yang akan di lakukan istrinya. Dia percaya kalau Cyra tidak akan membuatnya kelaparan.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan pintu, Cyra langsung berlari untuk membukakan pintu rumahnya.


"Dia kenapa sangat bersemangat?" Heran Pras.


Pras langsung beranjak meninggalkan ruang makan dan pergi menuju ruang tamu.


"Kamu?" Pras kaget wanita yang kemarin memaki istrinya datang ke rumah mereka dengan plastik belanjaan yang banyak.


"Maaf, Mas. Aku lupa memberitahumu, Mulai Minggu ini Alexa akan belajar masak di rumah kita," jelas Cyra.


"Dia? kenapa bisa?" tanya Pras.

__ADS_1


"Mas, nanti aku ceritakan detailnya. Sekarang kami akan memasak, kalau tidak nanti kita telat makan siangnya."


Sekarang Pras mengerti kenapa istrinya tidak pergi berbelanja. Ternyata Alexa sudah membawa bahan masakan dan akan belajar memasak di rumah mereka.


Pras hanya bisa menyaksikan kedua wanita muda itu menguasai dapur. Pras memperhatikan mereka dari meja makan sambil mengerjakan beberapa design untuk model furniture baru perusahaannya.


Cyra terlihat begitu mahir dalam mengajarkan langkah-langkah dalam memasak. Istrinya juga sangat nampak sabar mengajarkan seorang yang benar-benar belum pernah masuk dapur sekalipun, itu terlihat jelas saat Alexa tidak menguasai alat-alat dapur dan bumbu dapur.


"Aku rasa, dia juga tidak bisa membedakan mana garam dan mana gula," gumam Pras.


.


.


"Pisau untuk memotong, sedangkan yang ini untuk mengupas kulit, ini spatula untuk menggoreng, ini talenan untuk alas memotong,"


Cyra terus menjelaskan satu persatu kegunaan dan nama alat-alat dapur.


"Ini namanya Lengkuas, bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, karena kita mau masak menu sederhana seperti sayur asam, sambal dan ayam goreng. Aku akan memberikan bahan-bahannya, setelah itu kamu bisa mengupasnya lalu menghaluskannya dengan blander." Cyra terus mengoceh tanpa henti demi mengajarkan memasak Alexa.


"Cyra, apa memasak sesulit ini?" tanya Alexa yang terlihat putus asa.


"Memasak adalah seni. Banyak aneka bumbu di dalamnya itu akan membuat masakan semakin terasa enak. Sama dengan lukisan, semakin banyak warna yang sesuai maka gambarnya akan semakin enak dipandang. Aku dengar kamu suka melukis." Cyra berusaha bicara dengan menyesuaikan cara berpikir Alexa.


Cyra menggerakkan kelapanya naik turun, untuk membenarkan perkataan Alexa.


Cyra sekarang melihat cara Alexa membuat masakan, dia akan sedikit mengarahkan saja sekarang.


Cyra melihat suaminya sedang sibuk di meja makan sambil mengawasinya.


"Diminum dulu kopinya." Cyra menyodorkan secangkir kopi.


"Terima kasih." Pras tersenyum.


Alexa melihat suasana Pras dan Cyra.


"Kalian pengantin baru kan?" tanya Alexa.


"Benar," jawab Cyra.


"Tapi, kenapa kalian tidak terlihat seperti pengantin baru umumnya?" tanya Alexa yang mulai kepo.

__ADS_1


"Banyak alasannya." Cyra enggan membahas tentang rumah tangganya.


Cyra dan Alexa selesai dengan belajar masaknya. Cyra menghidangkan masakan hasil Alexa tanpa menyicipinya dulu. Alexa melarangnya, dia mau Cyra dan Pras memberikan penilaian langsung.


Mereka bertiga duduk di satu meja makan yang sama. Cyra menyiapkan sayur di mangkok, nasi di piring beserta ayam dan sambalnya.


"Di cicipi." Alexa menawarkan dengan ragu.


Pras dan Cyra juga ragu mencicipinya, tapi mau bagaimana lagi mereka harus memberikan penilaian agar Alexa bisa berkembang.


"Rasanya lumayan, hanya saja terlalu banyak garam dan gula jadi terlalu gurih." Nilai Cyra.


"Aku sama," kata Pras ketika dia wanita itu menatap dirinya.


Selesai makan bersama Alexa izin pamit pulang kerumahnya.


"Uuuweeek." Pras seperti orang yang ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.


"Kenapa sih Mas?" tanya Cyra.


Pras bergidik. "Rasanya sangat hancur sekali. Aku tidak mau mencicipi masakan buatannya."


Cyra tertawa melihat reaksi suaminya. "Tadi pas aku tanya mau makan apa, kamu jawab makan apa saja yang penting makan bareng aku. Ya sudah terima apa adanya." Cyra masuk ke dalam kamarnya.


Pras langsung mengekori istrinya masuk ke dalam kamar.


"Besok-besok kalau dia mau masak lagi, sebelumnya kamu harus memasak dulu untukku. Aku tidak mau mati karena masakan yang rasanya aneh itu."


Cyra langsung berhenti berjalan dan membalikkan badannya sehingga mereka berdua berada pandang.


"Tidak mau, kamu harus makan masakan buatan Alexa, agar dia mendapatkan penilaian yang jujur." Paksa Cyra.


Pras langsung lemas, dia terduduk di sisi ranjang dan merebahkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar.


"Mungkin aku akan pingsan jika makan masakan buatan wanita itu."


Cyra tertawa melihat ekspresi suaminya saat ini.


Kejadian hari ini membuat Cyra senang, dia juga merasa Pras pria yang menyenangkan. Cyra juga merasa jadi bisa menjahili Pras dengan memakan masakan Alexa.


.

__ADS_1


.



__ADS_2