
~Lampu Hijau~
pras dan Cyra sampai di kediaman Lasmi dan Bayu.
Mereka berdua di sambut oleh anggota keluarga dan juga oleh beberapa asisten rumah tangga.
Pras dan Cyra masuk kerumah dan koper keduanya, dibawa masuk oleh para penjaga rumah.
Lasmi merentangkan tangannya siap memeluk putra sulungnya yang kini sudah berstatus sebagai kepala rumah tangga.
"Sayang! akhirnya kamu datang juga." Lasmi memeluk Pras.
Pelukan hangat yang selalu di rindukan oleh Pras, pelukan yang membuat dirinya selalu merasa nyaman dan semua pikiran yang ruwet menghilang.
"Kamu sehat, Nak?" tanya Lasmi setelah melepaskan pelukannya.
"Kami berdua sehat, Bu." Meski Lasmi hanya bertanya keadaannya, Pras tetap menyertakan Cyra dalam jawabannya.
Pras tahu, ibunya juga ingin mengetahui kondisi Cyra, hanya saja, Lasmi masih menunjukkan sikap pura-puranya.
Lasmi tersenyum mendengar jawaban Pras yang sangat dewasa dan mengerti perasaan ibunya.
"Aku izin ke kamarku dulu!" Cyra yang merasa tidak di anggap berpamitan.
"Tunggu Cyra!" cegah Lasmi.
"Kamarmu bukan lagi di sana, kamarmu bersama Pras sekarang!" kata Lasmi dengan suara lantang.
"Tapi, aku harus membereskan barang-barangku dulu." Cyra membalikkan badannya menatap punggung Lasmi.
"Kamu tidak perlu melakukannya, karena Ibu dan asisten rumah tangga kita, sudah melakukannya untukmu!" jelas Lasmi dengan menatap Cyra.
kini pandangan mata Cyra dan Lasmi saling bertemu, dari kedua mata mereka, terpancar dua makna, Cyra dengan kemarahannya karena tidak terima dengan tindakan mertuanya, sedangkan Lasmi, perasaan yang sedih namun harus dia sembunyikan.
"Maksudnya?! Ibu masuk ke dalam kamarku dan menyentuh barang-barangku?" Cyra mulai berkaca-kaca.
"Kenapa? lagi pula semua barangmu tidak ada perhiasan berharga atau benda berharga apapun!" Lasmi bicara dengan sangat menusuk.
Lasmi menarik nafasnya, mencoba mengendalikan perasannya.
"Tapi, tidak seharusnya Ibu masuk ke dalam kamar ku, di saat aku tidak ada!" Cyra mulai memberontak.
__ADS_1
"Itu bukanlah kamarmu! itu kamar Ryan yang kamu tempati selama menjadi istrinya! sekarang kamu adalah istri dari Pras, jadi kamu menempati kamarnya!" Lasmi pergi meninggalkan mereka semua, setelah membuat Cyra tak mengerti dengan tindakan Lasmi.
"Kenapa dia seperti ini! jika dia tidak suka denganku! seharusnya dia mengusirku! bukan membiarkan aku tinggal dan menikahi anak sulungnya, yang merupakan anak emas baginya!" Cyra semakin tidak habis pikir dengan jalan pikiran keluarga mertuanya.
"Ayo, kita masuk ke dalam, kamar!" Pras mengajak istrinya masuk, Cyra mengikuti perintah Pras.
Air mata Cyra jatuh, dia memandangi pintu kamar Ryan dan dirinya, begitu banyak kenangan, begitu banyak duka, dan kamar itu menjadi saksi bisu bagaimana Cyra menangis karena luka yang terus digoreskan di hatinya.
Pras melihat ke arah Cyra, saat ini dia tidak bisa berkata apapun, dia hanya bisa diam berusaha mencari solusi, Pras tidak mau ibunya menyiksa perasannya sendiri, Pras tidak tega melihat ibunya yang berpura-pura menjadi mertua yang seperti ibu tiri, jahat, kejam, ditaktor dan tak berperasaan.
Cyra dan Pras masuk, kamar Pras yang lebih besar dari kamar Ryan, karena di dalam kamar Pras terdapat satu ruangan yang di buat khusus untuk Pras bekerja.
"Istirahatlah, aku ada sesuatu yang harus dilakukan." Pras membantu Cyra yang masih terdiam dan menangis untuk rebahan di tempat tidur.
Pras menyapu rambut Cyra dan menghapus air mata yang membasahi pipi chubby istrinya.
Pras keluar dari kamarnya.
*****
Lasmi duduk di tepi kasurnya sambil memegang dadanya dengan satu tangannya, dia menarik nafasnya berniat untuk melonggarkan sesak di dadanya, tapi ternyata air mata yang muncul.
Lasmi terisak mengingat semua perbuatan dan perkataannya kepada Cyra yang sangat keterlaluan.
Tok Tok Tok...
suara pintu kamar Lasmi terketuk.
"Masuk!" Lasmi mempersilahkan masuk kepada orang yang mengetuk pintu kamarnya.
Lasmi menghapus jejak air mata di wajahnya.
"Bu!" Pras menutup pintu dan menghampiri ibunya.
"Bu! berhentilah! ini semua akan menyiksa dirimu! berdamailah dengan hatimu sendiri, aku yakin Ibu bisa!" Pras menghapus sisa-sisa bekas air mata di wajah Lasmi.
"Aku harus melakukan ini! aku harus membuatnya menjadi wanita kuat!" kata Lasmi dengan wajah tertunduk.
"Bu, untuk apa Ibu melakukan hal ini?" tanya Pras yang tidak mengerti kenapa ibunya bersikap kejam terhadap Cyra.
Lasmi terdiam, dia bingung harus bicara dari mana, tapi dia pikir ini waktunya Pras tau maksudnya, agar tidak salah Faham dalam mengartikan sikapnya.
__ADS_1
"Aku harus melakukannya, agar dia bisa menjadi wanita kuat, mandiri, berusaha, dan tidak mudah terjebak!" jelas Lasmi dengan pandangan mata menerawang.
"Kenapa Bu? Cyra bisa menjadi wanita seperti itu, tanpa Ibu bersikap acuh kepadanya!" papar Pras.
"Tidak!" bantah Lasmi.
"Dia tidak akan sekuat sekarang, jika aku bersikap lunak kepada dirinya!" lanjut Lasmi.
"Dia tidak boleh lengah, jika dia lengah! maka orang akan mudah menindas dirinya! seperti Ibu dulu, saat terlena dengan sikap baik keluarga, Ibu bahkan tidak bisa melihat perbedaan salah dan benar lagi, hingga suatu kejadian menimpa dan membuat hati ini hancur! " Lasmi terus bercerita dan membuat Pras kini mengerti, maksud dan tujuan dari ibunya.
"Bu! aku sudah memutuskan untuk tinggal di rumah yang sudah aku beli satu tahun lalu, Ibu ingat kan?" tanya Pras.
"Tidak, Nak! kamu harus tinggal dengan Ibu di sini, ini rumah mu!" Lasmi tidak mau berpisah dari Pras lagi.
"Bu! jika terus begini, aku tidak bisa mewujudkan harapan Ibu yang lainnya, yaitu memberikan cucu untukmu!" ujar Pras sambil mengecup kedua tangan ibunya bergantian.
"Tapi ...," Lasmi menjeda kata-katanya.
"Ibu tidak perlu khawatir, apalagi soal urusan perdapuran, Ibu pasti tahu! Cyra sangat ahli di bidangnya." Pras memegang kedua bahu ibunya, agar ibunya bisa menyetujui tindakannya.
"Aku juga akan memberikan kesempatan kepada Cyra untuk mengembangkan dirinya di bidangnya, yaitu perhotelan, dia saat ini bekerja online melalui Boom, untuk mengajarkan dan melatih para asisten baru untuk koki," Cerita Pras.
Lasmi tidak menyangka Cyra bahkan bisa bekerja meski hanya berada di dalam rumah saja selama ini.
"Izinkan aku Bu! kami sudah membuat kesepakatan, jika ibu mau mengizinkan, maka dia akan menerima pernikahan ini dan belajar mencintaiku!" Pras memberitahukan ibunya tentang pembicaraannya dengan Cyra saat di restoran.
Lasmi terdiam, dia sangat tahu, kalau bakar memasak Cyra, adalah keturunan dari ibunya Cyra, wanita yang keras kepala dan selalu mengandalkan hidangannya untuk meluluhkan hati orang yang menyantap makanannya.
Lasmi mengangguk, dia memberikan izin kepada putra dan menantunya untuk tinggal di rumah terpisah dan mengizinkan Cyra untuk bekerja secara offline di sebuah restoran yang berada di dalam hotel bintang lima.
Pras bersyukur, karena rencananya berjalan lancar, dia sangat berharap Cyra senang mendengar berita yang akan dia sampaikan, Pras berharap perjanjian diantara mereka tidak akan pernah rusak, dia ingin membina rumah tangga yang baik dan penuh cinta.
.
.
.
.
.yuhuuu baca juga novel karya temanku... pastinya seru...
__ADS_1