
~Mengubah Rencana~
Cyra yang kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur untuk menikmati hari terakhirnya bermalam di rumah ini.
sikap Cyra seringkali membuat geleng-geleng kepala ibu mertuanya, tapi sejujurnya Cyra tidak ingin membangkang, dia hanya ingin keluarga suaminya menerima dirinya, dan kini dia ingin keluarga suaminya memberi kebebasan untuknya memilih jalan hidupnya sendiri. jika ada sedikit kebebasan, mungkin dia tidak akan merencanakan kabur dari rumah ini.
"Maafkan aku, aku harus pergi dari rumah keluargamu," Cyra menatap langit-langit kamarnya.
Setiap manusia memiliki kebebasannya sendiri, jika mereka kau kungkung maka akan memberontak, bedahalnya jika kau memberikan mereka sedikit kebebasan, ada rasa segan ketika melakukan kesalahan, ada rasa hormat dan ada rasa ingin tinggal jika nyaman.
Jiwa muda Cyra terenggut, seharusnya dulu dia masih punya kesempatan untuk mengkreasikan diri, menggapai cita-cita yang selama ini menjadi impiannya, namun semua itu sirna, kehidupannya seratus delapan puluh derajat berubah total, ditambah tak berapa lama setelah dia menikah, kedua orang tuanya meninggal dunia akibat sebuah kecelakaan mobil tunggal.
kehidupan yang Cyra jalani begitu getir terasa, segala perjalanan yang dia hadapi setelah pernikahan bagai berjalan diatas batu krikil, namun untungnya pria yang menikahinya adalah sosok yang baik, bersahaja, dan mau membantu Cyra melewati hari-hari yang membosankan. Cyra tidak diperbolehkan pergi keluar rumah tanpa suaminya, Jasmine dan ditambah beberapa pengawal pribadi keluarga Bayu untuk menjaga mereka.
"Bu, kini anakmu sudah menjadi seorang janda, inikah yang kalian mau ketika menikahkanku dengan Ryan, mungkin memang sekarang aku mencintainya, tapi dulu? tidakkah kalian memikirkan bagaimana perasaanku? seberapa hancurnya aku? ditambah aku harus tinggal jauh dari kalian, dan tiba-tiba, kalian meninggalkanku untuk selamanya" airmata Cyra berlinang, matanya kini sudah sembab.
Jalan kehidupan memang tidak ada yang sempurna, seperti apa yang kita khayalkan, kehidupan di drama-drama saja tidak ada yang menayangkan cerita yang hanya ada manisnya saja, pasti akan ada Lika liku kehidupan, apalagi kehidupan nyata, banyak sekali cobaan dan ujian namun semua itu pasti ada hikmahnya.
*****
Hari dimana Cyra akan kabur tiba, jam menunjukkan pukul lima tepat, Cyra Bagun setelah mendengar suara yang memanggilnya.
"Cyra" teriak wanita yang bukan lain adalah ibu mertuanya.
Cyra beranjak dari tempat tidurnya, membuka pintu kamarnya dan menyapa ibu mertuanya.
"Iyah, Bu" sahutnya.
"bersiap, nanti akan ada orang yang meriasmu, ini gaun yang harus kamu kenakan." Lasmi memberikan sebuah gaun untuk dipakai Cyra dalam acara adat keluarga.
Cyra menerima gaunnya dan Lasmi langsung pergi.
"Bu!" panggil Cyra dan membuat langkah Lasmi tertahan.
"ada apa?" Lasmi membalikkan badannya.
"Terima kasih" kata Cyra sambil menatap gaunnya dan tidak berani menatap wajah Lasmi.
"Hmmm" Lasmi hanya menjawab dengan berdehem.
mereka sama-sama kembali ke tempatnya masing-masing, Cyra menyandarkan tubuhnya di pintu kamar dan perlahan merendahkan posisinya sampai terduduk dilantai kamar.
__ADS_1
"maafkan aku,"lirihnya.
Cyra sebenarnya menyayangi Lasmi dan Bayu, mereka bagaikan pengganti kedua orang tuanya, namun sayang sikap mereka terlalu acuh, bahkan disaat dia kehilangan suaminya, mereka seakan tak menghiraukan perasaan Cyra yang begitu hancur dan semakin merasa sebatang kara.
****
Acara sudah dimulai, semua berkumpul di sebuah aula yang sengaja dibuat untuk sebuah acara yang akan mereka gelar.
"Selamat loh jeng, anaknya mau nikah ya, Pras pasti sekarang sudah menjadi pria yang gagah" kata seorang tetangga yang cukup mengenal keluarga mereka.
"Sama-sama, saja juga terima kasih, Jeng udah sempatkan waktu untuk hadir" kata Lasmi membalas kata-kata tetangganya itu.
Lasmi dan Bayu menyambut para tamu yang datang.
keluarga Cyra tepatnya paman, bude dan sepupunya datang ke acara adat, mereka diundang sebagai perwakilan keluarga Cyra.
"Selamat datang, Mas, Mba, eh Kinan juga ikut, apa kabar?" tanya Lasmi basa basi sedikit.
Kinan melihat ekspresi Lasmi yang terlihat tidak begitu menyukai kedatangannya, Lasmi juga sangat terdengar basa basi ketika menyapa keluarganya.
"Baik, Tante" jawabnya sambil mencari sesuatu.
"Kamu, cari siapa?" tanya Bayu yang melihat Kinan celingukan.
"Sebenarnya, aku mencari Mas Pras, bukan mencari si Cyra, cewek ngeselin itu!" gumamnya dalam hati.
mereka sekeluarga, masuk kedalam aula, Kinan sangat terpesona dengan kemegahan dan kemewahan aula yang berada dirumah keluarga Bayu. tak hentinya dia memperhatikan dekorasi tanpa sadar dia menabrak seseorang.
Brugh
sebuah tangan langsung menahannya, sehingga dia tidak terjatuh, Kinan membenarkan kembali cara berdirinya dan merapihkan pakaiannya.
"Kalo jalan yang bener dong!" Kinan bicara sewot.
"Maaf, aku terburu-buru!" kata Pras.
Suara Pras terdengar familiar ditelinga Kinan, dia mengangkat wajahnya dan melihat pria yang dia ajak bicara. Kinan benar-benar terpesona dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna, hidung yang mancung, mata yang indah, bibir tipis menggemaskan dan tinggi badan yang begitu ideal.
Prasetyo berdiri dihadapan Kinan, pria itu ternyata yang bertabrakan dengannya, Kinan langsung menyadarkan dirinya, berhenti terpesona dan dia berpikir ini waktunya untuk memikat hati pria yang sudah dia incar sejak lama.
"Maaf, Mas Pras, kan? aku Kinan!" Kinan mengulurkan tangannya dan mereka saling berkenalan.
__ADS_1
"Aku, Prasetyo, maaf, aku tidak bisa lama-lama, ada yang harus aku urus" kata Pras dan melanjutkan pencariannya.
Pras mencari keberadaan Cyra, dia cemas jika gadis itu benar-benar pergi dari rumahnya.
Flashback on
Pras berjalan kedepan rumah sambil membawa kopi yang dia buat sendiri, saat dia sedang menikmati kopi dan melihat halaman depan rumah, tak sengaja dia melihat Cyra mengendap-ngendap keluar rumah, namun kini bedanya dia membawa sebuah ransel yang cukup besar ditangannya.
"Untuk apa, dia membawa ransel?" tanya Pras kepada dirinya sendiri.
Pras memperhatikan tingkah Cyra, dan kini dia tau jawabannya.
"Dasar anak nakal!" Pras mengulum senyum.
Flashback off.
Pras berlari dan mencari sesuatu disemak-semak, dia menemukan yang dia cari.
"Untung saja, di mana dia sekarang? tas ranselnya masih ada disini" kata Pras.
*****
"Cyra!" Panggil Budenya dan menghampiri.
"Bude" panggil Cyra dan langsung memeluknya penuh kerinduan.
Hampir satu tahun juga dia tidak bertemu dengan keluarganya, mertuanya, melarang Cyra berhubungan dengan keluarganya sendiri.
Budenya menarik Cyra untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Cyra, apa kamu benar-benar ingin menikah dengan Pras?" tanyanya.
Cyra menggeleng.
"dengar! kamu tidak akan bisa keluar dari rumah ini, kamu harus tetap menikah dengan Pras, tapi kamu bisa keluar dari rumah ini ketika Pras atau kedua orang tua Pras memutuskan untuk menceraikan mu!" kata Budenya.
"maksud bude?" tanya Cyra.
"jadi kamu setelah menikah, buatlah Pras membencimu dan ketika kamu diceraikan, maka kamu bisa terbebas dari keluarga ini!"
Cyra merenungkan kata-kata budenya, dan perkataan itu dibenarkan olehnya, meski dia sudah bersiap untuk kabur, pasti tidak akan berhasil, karena dia lihat beberapa penjaga menjaga pagar rumah mertuanya.
__ADS_1
"baiklah, aku akan menuruti apa kata bude" Cyra sepakat dengan budenya.
Cyra mengurungkan niatnya untuk kabur dari rumah, dan berusaha bersabar sambil menyusun rencana.