
~Demi dirimu~
Pras yang merasa Cyra sudah ada yang menemani yaitu kedua orang tuanya dan adiknya. Pras izin kepada kedua orang tuanya untuk keluar sebentar.
Pras mencari keberadaan sahabat sekaligus rekan kerjanya yang membawa Cyra ke klinik.
"Dimana dia?" Pras berkeliling.
"Kamu mencari ku?" Jessica muncul.
"Jess." Pras langsung memeluk sahabatnya itu.
"Terima kasih. Kamu sudah menyelamatkan istriku. Wanita yang begitu aku cintai."
Mendengar pernyataan Pras. Jessica menitikkan air matanya.
Dia kini semakin yakin kalau Pras tidak akan pernah bisa dia miliki selamanya. Dia hanya akan bisa menjadi seorang sahabat tidak lebih.
"Jess, tolong ceritakan kenapa bisa kamu bersama Cyra?" tanya Pras.
"Aku yakin, kamu akan bertanya soal ini." Jessica menghapus air matanya.
__ADS_1
"Maafin aku Jess. Kamu pasti tahu betul kalau Cyra adalah seseorang yang berharga dalam hidupku."
"Aku paham. Kita duduk dulu. Aku akan ceritakan semuanya."
Pras dan Jessica duduk di bangku yang tersedia di rumah sakit untuk menunggu.
"Aku tadi izin denganmu untuk keluar kantor'kan?" tanya Jessica.
Pras ingat dan dia mengangguk.
"Saat aku keluar cafe, Aku lihat Cyra keluar dari sebuah taksi online. Saat aku hendak memanggilnya, ternyata sebuah mobil menghampiri. Aku lihat Cyra masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Kinan." Cerita Jessica.
"Iyah benar. Dia pergi dengan Kinan. Karena aku curiga dengan wanita itu. aku mengikuti mobilnya. Maaf sebelumnya aku sempat mendengar Kinan dan mamanya berbincang tentang cyra. Aku tahu kalau Kinan menyukaimu dan mereka memiliki rencana agar kalian terpisah."
"Kenapa kamu tidak bicara sejak awal?" tanya Pras.
"Pras, apa kamu lupa? Aku juga wanita yang menyukaimu. Saat itu aku merasa berada di pihak yang diuntungkan, tapi sekarang aku sadar kamu bukan untukku."
"Maafkan aku Jess." Pras tertunduk.
"Sudah, santai saja. Aku teruskan bercerita ya ya." Jessica tersenyum.
__ADS_1
"Saat aku mengikutinya. Dia mengarahkan mobilnya ke sebuah pergudangan. Hanya saja aku sempat terhalang sebuah mobil, sehingga aku kehilangan jejak mereka. Aku tidak menyerah. Aku terus mencari hingga aku melihat mobil yang dikendarai Kinan. Aku sempat memotretnya. Lihat ini." Jessica memperlihatkan gambar yang dia tangkap melalui kamera ponsel.
"Saat aku hendak mencari. Aku melihat Kinan berjalan keluar dari salah satu gang pabrik kosong. Dia kembali ke dalam mobilnya hanya seorang diri. Aku kemudian berjalan ingin memanggilnya saat aku sampai di gang itu mobil sudah melesat cepat. Namun, yang aku terkejut adalah, aku melihat Cyra keluar dari gudang dengan tubuh yang sudah bersimbah darah."
Jessica selesai dengan ceritanya.
"Apa ada wanita yang sejahat itu? Hanya karena cinta dia bisa menyakiti bahkan hampir membunuh sepupunya sendiri."
Amarah Pras berkumpul sampai di satu titik. Rasanya amarah itu tak bisa lagi dia tahan. Pras bangkit dan akan pergi, tapi sahabatnya menahan.
"Kamu mau kemana?" tanya Jessica.
"Aku harus menemui wanita itu. Aku harus membuat perhitungan dan memenjarakannya." Pras mengepal kedua tangannya sambil mengeraskan rahangnya.
"Dengar, jangan pergi. Cyra membutuhkan dirimu. Di sini sampai istrimu baik-baik saja."
Pras terdiam ketika mendengar nasihat dari sahabatnya. Dia menangis sambil terduduk.
"Pras. Jangan menangis." Jessica menenangkan sahabatnya.
"Ini salahku. Aku tidak bisa menjaganya. Seharusnya saat dia tidak bisa di hubungi. Aku langsung mencarinya
__ADS_1