Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)

Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)
SK Part 45


__ADS_3

~Jangan memaksa untuk melupakan~


Cyra masih terus mengingat tentang Ryan, saat ia berada di dalam kamar mandi, ia menangis sepuasnya, dengan cara inilah, Cyra bisa melepaskan perasaan rindunya terhadap Ryan, meski dia tahu meratapi semuanya tidaklah akan bisa memutarbalikkan waktu, dia harus tetap menatap masa depan dan menjalani hari-hari.


Memang sudah menjadi fitrah seorang manusia untuk saling mencintai dan dicintai, tetapi kisah cinta tidak akan pernah bisa berjalan semulus yang kita bayangkan, setiap perjalanan cinta pasti akan ada ujiannya, setiap orang memiliki perjalanan cinta yang berbeda-beda, setiap kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang juga berbeda, tergantung, bagaimana kita menciptakan kebahagiaan itu.


Meski cinta Cyra berakhir karena terpisahkan oleh maut, tapi tetap menyisakan luka di hatinya, luka karena ditinggal oleh kekasih hatinya, yang sangat cintai dan ia yakini bisa bahagia bersamanya, selamanya.


Pras yang mendengar jeritan-jeritan kecil dari dalam kamar mandi, dan mendengar isak tangis dari wanita yang ia cintai, begitu menyayat hatinya, ia tidak menyangka sampai detik ini Cyra tidak pernah bisa melupakan Ryan, dia tidak bisa menggantikan Ryan di hati Cyra.


"Ryan, Aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu, apakah kamu di atas sana bisa melihatku, melihat air mata yang mengalir deras dari mataku? Ryan aku ingin memelukmu sekali lagi." lirih Cyra dalam tangisannya.


Setelah tiga puluh menit lamanya, Cyra berada di dalam kamar mandi, ia bersiap melangkahkan kakinya untuk keluar, tapi sebelum itu, dia menghapus semua jejak tangisannya dan menenangkan dirinya, sebelum bertemu Pras di luar sana, sebenarnya Cyra juga tidak ingin menyakiti Pras, tapi mau bagaimana lagi hatinya tidak bisa menyimpan nama Pras.


Melihat istrinya keluar dari kamar mandi, Pras memutuskan untuk menemui Cyra, dia berusaha ingin mendekatkan, diri kepada Cyra meski belum bisa diterima.

__ADS_1


"Jika kamu ingin menangis,.menangislah denganku, dia adikku, akupun kehilangannya, bukan hanya dirimu Cyra, jadi menangislah denganku, kita ungkapkan kerinduan kita bersama untuknya," kata Pras kepada Cyra yang sudah terlihat matanya sangat sembab karena habis menangis.


Mendengar perkataan Pras membuat Cyra kembali menangis, dia berjongkok sambil terisak-isak, Pras lalu membantunya untuk bangun, dan mereka duduk di tepi kasur, Pras memeluk Cyra untuk pertama kalinya, mereka menangis bersama mengenang mendiang Ryan yang begitu mereka sayang.


"Aku merindukannya," kata Cyra di tengah tangisannya.


"Aku sangat mengerti Cyra, tapi dia sudah tidak ada, lebih baik kita mendoakannya, bukan menangisi seperti ini, aku pun kehilangannya, aku kakaknya, yang selalu bersamanya sejak kecil, yang memiliki begitu kenangan indah bersamanya, itu sangat menyakitkan bagiku, Cyra. Bahkan ketika aku tahu adikku mengalami sakit yang tidak mungkin disembuhkan itu, rasanya membuat duniaku runtuh, membuat aku merasa gagal menjadi seorang kakak," kata Pras kepada cyra.


Cyra memandang ke arah Pras, dia melihat sorot mata Pras yang sedih, dia melihat ketulusan di hati Pras, dan juga dia melihat sosok seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya.


"Kamu tahu, Mas, ini foto yang ku ambil saat-saat terakhir dengannya, aku benar-benar tidak bisa melepaskan dirinya begitu saja, foto ini diambil beberapa detik sebelum kepergiannya dalam hidupku, untuk selamanya." derai air mata Cyra, semakin deras, Pras mengerti apa yang dirasakan Cyra saat ini.


"Berhentilah menangis, aku menikahimu, bukan untuk memaksamu melupakannya, aku tidak memaksamu untuk menghilangkan rasa cintamu untuknya, tapi aku memintamu untuk sedikit saja memberi aku kesempatan, memberikan ruang di hatiku untukmu, karena kita sekarang adalah seorang suami dan istri, sudah selayaknya dalam rumah tangga, di dalam pernikahan ada cinta," kata Pras kepada Cyra, dengan menatap wajahnya dan mengapit wajah Cyra dengan kedua tangannya.


Cyra menggangguk mengerti, maksud dari perkataan Pras.

__ADS_1


"Aku akan berusaha membuka hatiku, tapi aku tidak bisa memastikan, apakah ada cinta untukmu, apakah ada kesempatan untuk kita membina rumah tangga lebih lama lagi," kata Cyra sambil menggenggam kedua tangan Pras.


Pras mengangguk mengerti, air mata kembali menetes, karena dia akan pasrah kali ini dengan apa yang nanti menjadi keputusan Cyra untuknya, dan untuk rumah tangga mereka.


Menikah adalah sebuah niat yang baik, menikah bukan untuk melampiaskan sebuah nafsu, menikah bukan untuk mengekang seseorang.


Cinta adalah sebuah karunia jadi ketika pernikahan belum dibubuhi oleh rasa cinta, maka jangan pernah menyerah karena seiring waktu, cinta akan datang dengan sendirinya.


Pras membawa Cyra naik ke atas ranjang, mereka berdua tertidur bersama di atas ranjang yang sama setiap malam, tanpa rasa cinta di hati Cyra, dan hanya ada rasa cinta di hati Pras. cinta yang bertepuk sebelah tangan itu terasa berat tetapi tetap dijalani oleh Pras, karena dia yakin suatu saat Cyra akan mencintainya.


.


.


.nantikan bab berikutnya yaa readers.

__ADS_1


__ADS_2