
~Hadiah Pernikahan~
Cyra terkejut melihat foto yang tergantung di atas dinding ruang keluarga, Cyra menunjuk kearah foto.
"I-Itu?! bukan kah itu?! foto itu?" Cyra menunjuk ke arah foto dan dia tak bisa berkata-kata.
"Itu foto pernikahan, yang pengantin wanitanya terus menerus cemberut, tidak menunjukkan raut wajah bahagianya!" Pras datang dan mengejutkan Cyra.
Cyra membalikkan tubuhnya dan sekarang dia saling bertatapan dengan Pras yang berdiri dihadapannya.
"Rumah ini?!" Cyra ragu melanjutkan kata-katanya.
"Benar ... ini rumah kita, aku membelinya untuk kita tinggal, agar kamu bisa melakukan hal apapun sesuai keinginanmu, tanpa ada yang menghalangi, tapi tetap pada aturan!" jelas Pras panjang lebar.
Cyra ingin mengembangkan senyumannya tapi dia urungkan, dia tidak mau Pras melihat raut bahagianya.
"Nanti, kalau aku kesenangan dia bakalan ke geeran lagi! enggak mau banget dia merasa menang!" Cyra bicara dalam hatinya, sambil mengeraskan rahangnya menahan senyumnya.
"Kalau senang, tidak usah di tahan, nanti malahan sakit perut loh!" ujar Pras sambil membenarkan posisi foto mereka.
"Apa hubungannya, senang dengan sakit perut!" kesalnya.
"Ada dong! karena menahan senyum!" ujar Pras yang tidak nyambung.
Pras tau Cyra senang dengan rumah yang dia beli untuk mereka tinggal, mungkin mimik wajahnya bisa ditahan, tapi sorot matanya tetap bicara.
Pras berjalan ke dapur, dia mengeluarkan beberapa bahan masakan dan menyalakan kompor untuk mengolahnya.
Cyra memperhatikan cara Pras menggunakan peralatan dapur, dia terpana melihat kelihaian tangan Pras memotong, mencincang dan mengiris.
"Pria ini?! kenapa dia sangat lihai? apa dia sekolah koki?" bisik Cyra yang mengagumi Pras dari jauh.
Pras mulai menumis beberapa bahan, memasak saja dia sangat terlihat keren di mata Cyra.
"Cyra! ingat! kamu mencintai Ryan! kamu tidak boleh mengkhianatinya! meski dia sudah tiada, dia tetap suami yang kamu akui!" Cyra berusaha menetralkan perasaannya dan kembali menjadi normal seperti biasa.
Pras selesai dengan pergulatannya di dapur, dia lalu menyiapkan piring, menuang masakannya dan meletakkannya di atas meja bar yang berada di dapur.
"Jangan hanya diam di situ! cepat makan! nanti keburu dingin, aku sudah memasaknya, jadi kita makan malam bersama di sini!" ajak Pras sambil menyiapkan kursi untuk Cyra duduk.
Pria yang sangat sempurna untuk menjadi seorang suami ideal, idaman semua wanita.
Cyra duduk di kursi yang sudah di sediakan Pras, mereka makan bersama hanya berdua malam ini.
"Setelah makan malam, kita pulang, kita bicarakan rencana kita untuk hidup bersama berdua saja dengan Ibu dan Bapak." Pras bicara sambil menyendok nasi di piringnya.
__ADS_1
"Kalau Bapak dan Ibu tidak setuju?" tanya Cyra.
"Kita lihat saja nanti! kalau mereka setuju, perjanjian pertama kita harus kamu tepati, melayaniku sebagai suami, dan menerima pernikahan kita, selanjutnya jalankan perjanjian pernikahan yang kemarin sudah kamu tanda tangani!" kata Pras.
Cyra hanya bisa diam saja kali ini, terakhir kali Pras berhasil membujuk orang tuanya untuk mengizinkan Cyra bekerja, setelah itu, sekarang hidup berdua, sesuai keinginan Cyra dan mereka juga sudah sepakat saat makan malam di hotel, jadi Cyra tidak bisa menolak.
"Jangan bengong, teruskan makannya." perintah Pras.
"Darimana kamu belajar memasak?" tanya Cyra penasaran.
"Aku hidup jauh dari orang tua, sekitar delapan tahun lalu, jadi aku harus terbiasa hidup mandiri, makanya aku bisa melakukan pekerjaan rumah, dari hal kecil hingga hal besar." jelas Pras.
Cyra semakin kagum, tapi seperti biasa dia hanya menanggapi dengan ekspresi datar.
"Kenapa? kamu terkesima dengan kemampuan memasak ku?! ini belum seberapa, aku akan tunjukkan nanti setelah kita tinggal di sini!" ujar Pras dengan nada yang terdengar sedang menyombongkan dirinya.
"Biasa saja!" jawab Cyra sedikit nyeleneh.
"Aku tidak percaya!" celetuk Pras sambil menatap Cyra.
Cyra mulai terlihat canggung saat Pras melihat ke arahnya, dia berusaha menutupi ekspresi nya, dia masih enggan mengakui kehebatan Pras.
Pras hanya tersenyum tipis, dia tidak menyangka, ternyata Cyra mulai terpesona dengan dirinya.
Pras semakin yakin, lambat laun Cyra akan mencintai dirinya seperti dia dulu yang perlahan mulai mencintai Ryan.
"Ayo kita pulang!" ajak Pras.
Cyra seperti enggan keluar dari rumah baru mereka, Pras melihat hal itu.
Pras mendekat. "Kita pulang dulu, setelah itu kita bersiap untuk pindah kemari! aku berjanji!"
Cyra melihat kedua manik mata Pras, dia melihat kesungguhan dan juga keyakinan Pras.
Cyra mengangguk dan mengikuti langkah Pras keluar dari rumah yang akan mereka tempati nanti.
******
Alexa sampai di rumah orang tuanya, karena dia masih remaja, membuatnya harus tinggal di rumah kedua orang tuanya, tidak seperti Alex, kakaknya yang sudah tinggal terpisah dari keluarga.
Alexa menghentakkan kakinya saat berjalan menaiki anak tangga untuk menuju kamar tidurnya.
"Kenapa kamu begitu kesal?" tanya seorang pria dengan suara beratnya.
"Tidak apa!" jawabnya asal tanpa perduli dengan kehadiran ayahnya.
__ADS_1
"Papi, tanya! kenapa kamu kesal?!" Henri menaikkan nada bicaranya, membuat putri kesayangannya berhenti melangkah dan menuruni tangga dengan cepat.
Alexa langsung memeluk tubuh kekar ayahnya, tubuh yang selalu di latih otot-ototnya setiap hari.
"Pih!" nada merajuk mulai terdengar.
"Kenapa?" tanya Henri.
"Kak George! dia menyukai wanita!" kata Alexa.
"Loh! bagus dong, berarti dia pria yang normal." celetuk Henri pura-pura tidak tahu perasaan Alexa terhadap George.
"Xa, suka kak George Pih!" Alexa mulai meneruskan rajukannya.
"Papih sudah tahu, sayang!" Henri melepas pelukan Alexa.
"Bagaimana Papih tahu? Xa, belum pernah cerita!" ujarnya.
"Xa, kamu anak Papih, sudah pasti Papih dan Mamih tahu perasaanmu!" seorang wanita muncul dengan membawa nampan ditangannya.
"Mamih?! Mamih juga tahu?" Alexa semakin tidak percaya.
"Xa, Mamih yang melahirkan dan membesarkan mu! sudah sepatutnya kami mengerti perasaan ku, seperti tadi contohnya, Papih bisa merasakan kekesalan yang kamu rasakan, hanya dengan hentakan keras dari kakimu!" jelas Marry.
Henri dan Marry, memiliki dua orang anak, Alex anak pertama dan Alexa anak kedua mereka, dulu mereka berencana memiliki satu anak lagi, tapi menghadapi polah tingkah laku Alexa membuat mereka mengurungkannya.
Henri yang mantan pegulat hebat, pensiun dan memilih untuk mengurus usahanya saja di bidang seni olah raga, tubuhnya yang kekar, membuat orang yang melihatnya menjadi takut saat berhadapan dengan dirinya, tapi Marry sangat terpesona dengan bentuk tubuh suaminya itu.
"Tenang saja, Papih sudah merencanakan sesuatu untukmu dan George!" kata Henri sambil tersenyum misterius.
Alexa percaya dengan kata-kata Henri, Henri adalah cinta pertamanya, dia bahkan sangat mengagumi Papih nya.
Alexa memeluk Henri dan mengecup salah satu pipinya.
"Xa, percaya sama Papih dan Mamih!" ujar Alexa.
.
.
.
. happy reading semuanya... semoga karyaku menghibur kalian semuaš„°
baca juga karya temanku yang tidak kalah seru.
__ADS_1